Pagi ini Latizia baru ingin kembali ke dalam kamarnya. Semalaman ia tidur di kamar belakang menghindari tontonan dewasa yang hanya akan membuatnya terluka berulang kali.
Namun, niat hati tak ingin menyaksikan momen panas itu berulang kali tapi tetap saja ia akan bisa menolak.
Latizia hanya mematung diam berdiri di depan pintu dengan mata terpaku ke arah ranjang kamar dimana Delvin masih bergumal dengan wanita yang berbeda lagi.
Sungguh, Latizia sudah hafal bagaimana pose-pose bercinta Delvin yang kerap kali ia saksikan berkuda sepanas itu. Lulungan nikmat dari wanita yang ia gagahi-pun membuat Latizia mengecil.
"Apa aku tak semenarik mereka?!" Batin Latizia meremas dadanya sendiri. Matanya memanas tapi tubuhnya lebih panas dari itu.
Antara sakit hati dan sakit menahan lonjakan hasrat yang juga ikut terbangun di dalam dirinya karna menyaksikan semua ini.
Tak tahan terus melihat adegan dewasa itu, Latizia segera berjalan cepat menuju kamar belakang paviliun ini. Tak ada satu-pun pelayan yang Latizia temui karna memang Paviliun ini hanya ia yang bersihkan.
Setelah sampai di kamar belakang. Ia dorong pintu itu kuat lalu segera ia tutup rapat.
Mata Latizia terpejam dengan nafas cukup tak stabil. Matanya perlahan terbuka dan berjalan ke arah kaca yang tak jauh dari ranjang.
"Apa yang mereka miliki tapi tak kau punya?!" Tanya Latizia pada dirinya sendiri. Antara marah, bingung dan tak mengerti terjabar dari tatapannya di depan cermin.
Ia buka simpulan tali dress di lehernya lalu ia turunkan pakaian itu sampai ke pinggulnya.
Latizia mengamati setiap sudut wajahnya. Mata violet ungu mistis, cantik dan memikat sangat lekat di iris Latizia. Di negara ini hanya ia yang memiliki mata seperti ini dari sejak kecil.
Ayah pernah mengatakan jika, mataku adalah karunia dan berkat. Tapi, kenapa ini sama sekali tak memberkatiku?!
Kiranya itu pertanyaan yang muncul di benaknya. Jika di telisik lebih jauh, mata ungu mistik yang Latizia punya itu sebuah kelainan iris karna kekurangan melanin.
Latiza juga tahu, kulitnya yang begitu putih bahkan sering merah saat terkena sentuhan kasar ini juga kelainan albino yang di turunkan ibunya.
Luka yang semalam Latizia alami masih membekas di wajahnya. Kedua pipi Latizia sudah bengkak dan merah meradang. Tamparan Delvin semalam memang benar-benar menyisakan banyak luka di sekujur kulitnya yang spesial.
"Mereka bilang kau cantik. Tapi, mungkin setelah melihat kelainanmu mereka akan pergi," Gumam Latizia tersenyum miris.
Dadanya yang berisi dan masih terbungkus rapi di dalam bra itu Latizia acuhkan. Ia tak berharap lagi akan di perlakukan baik oleh Delvin apalagi sampai di pandang seperti manusia.
"Latiziaaa!!!"
Suara Delvin dari arah luar membuat Latizia segera merapikan pakaiannya. Ia mengambil nafas dalam agar responnya lebih rileks nanti.
Brakkk..
Latizia merubah pandangannya datar saat pintu di buka kasar oleh Delvin yang tampak berdiri dengan pandangan jijik padanya.
"Bersihkan kamarku! Jangan ada satupun barang-barang atau aroma lain yang tercium di dalamnya!"
Latizia hanya diam. Tanpa memandang Delvin sama sekali ia berlalu pergi ke luar kamar.
Kondisi wajah Latizia yang merah meradang karna luka semalam membuat Delvin tersenyum puas.
"Cih, penyakitan!" Hardik Delvin menatap kepergian Latizia dengan sinis. Ia yang sudah rapi dibaluti jas formal itu segera pergi ke Istana utama karna akan ada penyambutan untuk Ibunya yang baru pulang setelah melakukan kunjungan ke beberapa kerajaan tetangga.
Latizia yang tadi masih berjalan ke arah kamarnya itu sadar jika hari ini Ibu Ratu Madison akan pulang. Wanita itu juga membencinya dan lengkap sudah penderitaan Latizia sekarang.
"Lebih baik aku tak berurusan dengan wanita itu," Gumam Latizia bergegas ke kamarnya.
Setibanya di ruangan luas nan megah itu. Latizia menutup hidung akan aroma cairan pria yang kental dan banyak pakaian Delvin yang berserakan di lantai. Kondisi ranjang sudah penuh dengan bekas percintaan pria bajingan itu dan tentu Latizia jijik.
"Kau yang berpesta dan aku yang membersihkan semua ini," Geram Latizia mengepal tapi jika tidak begitu maka akan ada masalah besar yang terjadi.
Delvin memiliki kekuasaan disini dan ia yang tak mungkin bisa melawan pria itu akan terkena imbas.
Akhirnya, Latizia segera membereskan semuanya bahkan dengan sangat telaten. Walau dulu ia seorang putri Raja tapi Latizia sudah biasa melakukan semua ini.
Setelah melakukan semuanya dengan benar barulah Latizia mandi. Ia membutuhkan 30 menit untuk ritual satu itu karna Latizia sangat hati-hati menggosok tubuhnya kalau tidak ia akan seperti kepiting rebus.
.......
Sementara di depan Istana utama Madison. Seluruh prajurit kerajaan bahkan petinggi-petinggi di tempat ini berkumpul menyambut seorang wanita yang tampak anggun dengan balutan gaun panjang berwarna brown dengan bagian bahu di tutupi semacam mantel bulu yang hangat.
Ia di giring oleh para prajurit kerajaan bersama pengawal yang siap siaga berjalan di kiri-kanan wanita itu.
"SELAMAT DATANG YANG MULIA RATU!"
Sapa mereka penuh hormat diiringi sambutan kerajaan. Rakyat Madison yang ada di luar gerbang hanya bisa melihat dari jauh karna terhalang banyak media yang hampir memenuhi seluk-beluk karpet merah yang dipijaki anggun Ratu Clorris.
Delvin yang ada di samping Raja Barack tersenyum melihat Ratu Clorris. Tapi, senyumnya seketika berubah saat mendapati ada sesosok pria yang ternyata juga kembali kesini.
"Bukankah itu Prince Milano?"
"Dia datang dengan Princess Veronica!"
Desas-desus rakyat Madison yang tak menyangka jika putra pertama Raja Barack yang terkenal tak berguna itu juga hadir disini bersama istrinya.
Banyak orang yang mengagumi ketampanan pria itu apalagi, postur tubuhnya yang gagah dengan hawa tubuh sangat angkuh dan mendominasi membuatnya selalu menjadi bualan para wanita tapi juga sebuah penghinaan.
"Memang tampan dan berkharisma! Tapi, dia tak pernah bisa membantu kerajaan. Dia sangat angkuh dan punya otak kosong."
"Jika bukan karna menikah dengan Princess Veronica. Pasti, dia akan di lupakan di kerajaan ini."
Gunjingan semua rakyat dan media di sekitarnya. Pria dengan wajah tegas dan tatapan datar itu hanya diam. Tak ada guratan risih di pahatan tajamnya melainkan hanya acuh.
"Sayang! Kau dengar mereka bicara apa?!" Bisik Veronica yang mengandeng angkuh lengan kekar Milano.
"Dengar!"
"Dan itu semua benar," Jawab Veronica tersenyum penuh keangkuhan. Milano mengangguk membenarkan hal itu. Ia tak banyak bicara dan terkenal dungu hanya di berkati ketampanan yang paripurna hingga bisa menjerat putri kerajaan besar seperti Veronica.
Saat tiba di depan semua petinggi kerajaan dan Raja Barack. Milano memberi salam hormat seperti biasa.
Dari tatapan semua orang. Mereka seperti mengolok-ngolok Milano yang tak pantas berdampingan dengan putri Veronica.
"Yang Mulia!"
"Aku senang kalian bisa kembali ke kerajaan!" Ucap Raja Barack pada putri Veronica yang tersenyum anggun.
Ia yang memiliki watak begitu angkuh dan sangat suka menjadi sorotan tentu saja tak segan untuk menunjukan pamornya di hadapan semua orang.
"Terimakasih Yang Mulia! Putri juga senang bisa kembali ke Madison. Benarkan?" Tanya Putri Veronica pada Milano yang hanya mengangguk.
Tak ada senyum di bibirnya atau sekedar bicara manis. Ia memang di juluki pangeran terbuang Madison.
"Milano! Aku harap, kau tak menyusahkan Putri Veronica!" Tegas Raja Barack dan Milano hanya mengangguk saja.
Delvin menatap miris Milano yang seperti peliharaan penurut bagi Putri Veronica yang arogan. Saat pria yang lebih tinggi dan jauh lebih tampan darinya itu berdiri di sampingnya tentu Delvin tak ingin kalah dalam segi pesona.
"Walau kau tak bisa melakukan apapun setidaknya kau bisa menjadi budak paling baik bagi istrimu."
Kelakar Delvin tapi Milano hanya setia dengan wajah dinginnya. Ucapan Delvin dapat di dengar Ratu Clorris yang juga tersenyum simpul diikuti banyak orang disini.
........
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Denzo_sian_alfoenzo
jgn2 milano cuma pura2 dungu sprt axton yg pura2 autis
2023-09-13
2
Vanny Candra
up thor
2023-08-17
0
Dena Regar
menarik
2023-07-24
0