Karena permintaan Milano di setujui oleh Raja Barack, jadilah Latizia di paksa mengikuti pria brandal itu.
Mau bagaimana lagi?! Latizia tak punya tempat untuk mengadu bahkan, Delvin suaminya-pun tampak acuh saat tahu Latizia akan jadi pelayan pribadi Milano.
Semua orang memusuhi Latizia. Ia dianggap wanita penggoda bahkan, kabar keputusan raja itu sudah tersebar ke seluruh kerajaan.
"Tak di sangka putri Latizia melakukan hal serendah itu."
"Yah. Tapi, pantas jika prince Milano menginginkannya. Dia lebih cantik dari putri Veronica."
Desas-desus mereka semua saat melihat Latizia keluar dari dapur utama kerajaan membawa sejumlah makanan dan tentunya wine.
Latizia hanya memasang wajah datar. Ia buru-buru pergi ke lantai atas karna tak nyaman berkeliaran di istana utama.
Saat ingin sampai ke kamar pria itu, Latizia berpapasan dengan panglima Ottmar. Pria paruh baya itu menatap datar Latizia seakan-akan ia memandang pelayan sesungguhnya.
"Pria ini memang cukup sangar. Jika di lihat-lihat dia begitu setia pada kerajaan," Gumam Latizia memandang kepergian panglima Ottmar.
Tak mau berlama-lama lagi menenteng nampan itu, Latizia langsung menyelonong masuk ke dalam kamar.
Pemandangan pertama yang sudah jadi kebiasaan adalah melihat putri Veronica yang tampak kelelahan di atas ranjang sementara sosok pria brandal itu belum terlihat.
"Mereka sudah sering kali melakukan itu, tapi kenapa putri Veronica tak hamil-hamil?!" Batin Latizia jadi bingung.
Ia meletakan nampan itu di atas meja sofa lalu berniat pergi.
"Bereskan kamar ini!"
Suara dingin dan berat khas Milano yang baru keluar dari kamar mandi. Tanpa ada rasa malu, ia duduk di atas sofa hanya menggunakan handuk sepinggang kokohnya.
Tubuh kekar dan dada bidang itu memang sangat sempurna di wajah Milano yang tergolong tampan. Ntah kenapa Latizia justru tak tertarik melihatnya.
"Apa yang kau tunggu?!" Sarkasnya memerintah.
Latizia acuh. Ia memungut semua pakaian yang berserakan disini bahkan membelo jengah saat seprei itu basah kuyup, padahal tidak hujan.
"Lain kali! Kau yang harus membersihkan jejak bercinta-mu. Suami mana yang rela tubuh istrinya di lihat orang lain," Gerutu Latizia dengan cekatan bergerak kesana-kemari.
Ia seperti sudah biasa melakukan hal ini hingga Milano tersenyum licik. Ia menunggu Latizia selesai mondar-mandir karna lekuk tubuh wanita yang memakai terusan biru paut itu tampak sangat indah di pandang. Lumayan, pikir Milano.
Merasa tak nyaman dipandangi seperti itu, Latizia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas pergi.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar?!"
Langkah Latizia langsung terhenti. Wajahnya terlihat kesal dengan manik ungu mistik itu terlihat tak suka.
"Lalu kau mau apa?" Ketus Latizia menatap datar Milano yang duduk di sofa dengan keangkuhan berputar mengelilinginya
"Tugasmu belum selesai!"
"Kau ini sebenarnya kenapa, ha?! Apa fungsi istrimu itu?! Jadi pajangan kamar?!" Tanya Latizia menyelipkan nada emosi.
Milano diam. Tatapan datarnya terlalu mendominasi hingga mau tak mau Latizia langsung mendekat.
"Apa? Perlu-ku tuangkan wine ini ke gelas-mu?" Tawar Latizia bernada sopan tapi jengkel.
Milano salut dengan keberanian wanita ini. Belum pernah ada yang bersikap seenaknya di hadapan prince Milano Dylan Madison Altariz si elang Madison.
"Nyalakan rokokku!"
Latizia segera mengambil bungkusan rokok yang ia lihat di atas sofa. Ia mengeluarkan satu batang rokok dan menyalakannya.
"Ini!"
Milano tak mengambil rokok yang di sodorkan Latizia. Ia memilih untuk melakukannya sendiri hingga dahi wanita itu mengkerut.
"Kauu.."
"Untukmu!" Titah Milano tapi Latizia langsung melempar benda itu ke lantai. Wajahnya kelap dan tentu saja tak suka.
"Aku tak mau!"
"Itu perintah! Bukan tawaran," Santai Milano merokok di samping Latizia. Ia ingin lihat, apa yang akan di lakukan wanita ini sekarang?!
"Aku tak sepertimu. Bergaya hidup tak sehat seperti ini!" Ketusnya ingin pergi tapi Milano langsung mencengkal lengannya dengan genggaman sangat kuat.
Latizia berusaha melepaskan ini karna cengkraman Milano akan membuat tubuhnya memar.
"Lepasss!!"
"Lakukan!" Tegas Milano menekan ucapannya. Saat Latizia begitu kesakitan, barulah ia melepas cengkraman itu hingga pergelangan tangan Latizia terlihat meradang merah dan biru.
Ia memang punya penyakit seperti ini. Tak boleh di pukul atau di kasari maka, tubuhnya akan merespon dengan cepat.
"Penyakitan," Gumam Milano tanpa perasaan. Latizia diam, ia sudah sering menerima hinaan seperti itu hanya karna tubuhnya yang spesial.
"Jika aku memang penyakitan. Sebaiknya kau tak perlu dekat-dekat denganku!" Desis Latizia tak peduli lagi. Ia ingin pergi tapi ucapan Milano menghentikannya.
"Jika ingin tahu tentang kerajaanmu. Patuhlah padaku!"
Latizia diam. Ia memang tak bisa mencari tahu hal itu karna tak ada seorang-pun yang berani mengungkitnya. Keluar dari istana ini juga tidak mungkin karna ia sudah ia sudah di tandai.
"Keluar dari pintu itu, kau akan menerima akibatnya!"
"Sampai kapan kau akan jadikan aku pelayan?" Tanya Latizia berbalik.
Milano tak langsung menjawab. Semuanya sudah ia atur dan Latizia adalah pion yang paling pas untuk dijadikan alat permainannya.
"Apa seumur hidup? Satu tahun, berapa?! Kau kekurangan seorang pelayan disini?!"
"Aku kekurangan budak," Jawab Milano seketika langsung menusuk batin Latizia. Apa ia serendah itu?! Dari mulai Delvin dan sekarang kakak iparnya sendiri. Apa mereka sama sekali tak punya hati nurani?!
"Jika kau bersedia, aku bisa mengantarmu ke kerajaan Garalden!"
Penawaran Milano sangat menggiurkan. Tak hanya mendapat informasi, ia juga bisa keluar melihat secara langsung apa yang terjadi disana.
"Setelah dia mengantarku keluar dari sini. Aku bisa lari dan tak perlu kembali," Batin Latizia juga punya rencana.
Milano tahu, isi pikiran Latizia yang tak akan semudah itu tunduk padanya. Tapi, demi melancarkan serangan baru ia bisa memupuk dendam diantara kerajaan Garalden dan Madison. Saat Latizia sudah tahu segalanya, pasti dia akan melawan kerajaan ini secara terang-terangan dan ia hanya perlu mengarahkan wanita itu dari belakang.
"Kapan kau akan membawa keluar?"
"Tergantung pelayananmu!" Jawab Milano menarik sudut bibirnya sarkas. Latizia berpikir panjang, ia bisa menyanggupi tawaran Milano tanpa harus mengorbankan kehormatannya.
"Pria ini tak sederhana. Tak mungkin hanya ingin aku patuh dia bisa menentang kerajaan dalam diam. Pasti ada sesuatu yang ingin dia lakukan!" Batin Latizia tak menunjukan jika ia curiga.
Ia kembali duduk di samping Milano yang gilanya menyuruh Latizia minum. Padahal, Latizia tak pernah minum anggur atau wine tapi, karna Milano mendesaknya mau tak mau Latizia lakukan.
"Jangan mabuk!" Batin Latizia menghabiskan gelas terakhir. Dari wajah merah dan panas Latizia, Milano tahu wanita ini tak pernah minum.
Ntah bagaimana bisa begitu membosankan hidup diantara aturan kerajaan. Sangat dungu dan idiot.
"Ja..jangan mabuk!" Gumam Latizia bersandar ke sofa ini. Nafasnya sudah terengah-engah menatap gelas yang kosong di tangannya.
Pandangan Latizia kabur padahal ia hanya minum sedikit. Gilanya, Milano menyodorkan botol itu agar di habiskan.
"C..cukup! Aku..aku.."
Latizia menepis botol itu. Lalu menatap sayu Milano yang terlihat mempermainkannya.
"Kau brandal mesum! Jangan coba-coba menyentuhku. Paham?"
Milano diam. Ia membuka seluruh pakaian Latizia yang memberontak tapi wanita itu tak cukup kuat dan sadar.
Dengan gamblang Milano merekam semua ini karna akan berguna suatu saat.
"Tak hanya idiot, kau juga pandai menyembunyikan keindahan tubuhmu," Gumam Milano menahan kedua tangan Latizia ke atas kepala lalu kembali memakaikan pakaiannya.
Milano memanggil panglima Ottmar yang segera datang. Pria paruh baya itu terhenyak melihat keadaan Latizia tapi tak berani membantah.
"Siapkan kamar di samping!"
"Aku mengerti, Prince!" Jawab Panglima Ottmar patuh.
.....
Vote and like sayang
Maaf ya say semalam ndak up.. author lagi demam. Sekarang juga di usahain up ya 🥺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Denzo_sian_alfoenzo
visual mana visual 🥵🥵🥵
2023-09-13
1
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
wah diam2 menghanyutkan si Milanoo, awas kamu jatuh cinta pada Latizia
2023-08-22
1
Vanny Candra
up thor
2023-08-17
0