Ratu Clorris tampak syok melihat Delvin yang baru datang ke ruang pengadilan dengan tangan di pasang penyangga. Ia digiring masuk oleh para pengawal melewati Milano yang berdiri di tengah-tengah ruangan.
Tatapan sinis Delvin melirik tajam Milano yang begitu tenang tanpa emosi apapun.
"Yang Mulia!"
Sapanya pada Raja Barack yang mempersilahkan Delvin duduk di kursinya. Di hadapan Dewan pengadilan kerajaan dan Mentri Human, Milano seperti di tekan karna inilah yang Raja Barack mau.
Dengan menekan Milano, ia akan melihat apa pria itu memang menyembunyikan sesuatu selama ini atau tidak?!
"Milano! Apa yang kau lakukan pada adikmu hingga lengannya bisa patah seperti itu?" Tegas Raja Barack menyelidik.
Panglima Ottmar yang ada di belakang Milano cukup heran. Tak biasanya Milano bisa seceroboh ini, biasanya ia tak akan mengusik Delvin terang-terangan begitu.
"Prince Milano! Tindakan sewenang-wenangmu di kerajaan ini telah di toleransi berulang kali. Tapi, kau berusaha menyakiti Pangeran Delvin, apa kau berniat untuk membunuhnya?" Tanya Mentri Human tegas.
Ratu Clorris sudah tampak cemas duduk di dekat Delvin memeriksa tangan pria itu.
"Yang Mulia! Pergelangan tangan Delvin terluka parah. Bagaimana kalau orang luar tahu? Kerajaan bisa di olok-olok karna memiliki penerus yang cacat!"
"Apa yang di katakan ratu itu benar. Prince Milano sudah keterlaluan!" Timpal petinggi yang lain memberatkan Milano.
Delvin menyeringai licik. Ia memandang puas Milano yang masih diam sedia dengan wajah datarnya.
"Milano! Kau tak ingin membuat pembelaan?"
"Aku tak merasa bersalah!" Tegas Milano membuat semua orang terkejut. Delvin mengepal dengan marah ia berdiri dengan tatapan yang berapi-api pada Milano.
"Jelas-jelas kau yang mematahkan tanganku!"
"Apa aku menyuruhmu memukul pelayanku?!" Dingin Milano dan semua orang langsung mematung.
Raja Barack terdiam sejenak. Ia menatap Delvin yang terlihat masih mendidih dengan deru nafas memburu tak terbantahkan.
"Yang Mulia! Aku berusaha mendidik Latizia karna dia istriku. Dia.."
"Dia sudah resmi menjadi pelayanku!" Sela Milano tegas dan angkuh. Raja Barack benar-benar tak bisa lagi mengulik apapun dari Milano karna putra bodohnya satu ini merusak semua harapannya.
"Kau mematahkan tanganku hanya demi seorang pelayan?" Hardik Delvin jijik.
"Tak hanya mematahkan, aku bisa membunuhmu!"
"Milanoo!!" Cegat Ratu Clorris terlihat emosi. Ia berdiri menghadap Raja Barack dengan mata berkaca-kaca.
"Yang Mulia! Milano putraku dan begitu juga Delvin. Tapi, kali ini perbuatan Milano tak bisa lagi di toleransi. Aku ingin keadilan untuk putra keduaku!"
Milano mengepal. Air mata yang di keluarkan Ratu Clorris begitu membuatnya jijik. Wanita ini sangat pandai bersandiwara dihadapan semua orang.
Walau-pun, disini memang tak ada keadilan. Sidang sekedar formalitas kerajaan padahal kepetusannya sudah di ambil lebih dulu.
"Aku tak ingin Milano jadi semakin tidak disiplin. Aku ingin dia bisa menghargai saudaranya."
"Duduklah!" Pinta Raja Barack hingga Ratu Clorris kembali ke kursinya.
Semua petinggi kerajaan disini saling pandang. Mereka penasaran dengan keputusan raja kali ini. Apa putra brandalnya itu akan di hukum berat karna telah melukai calon putra mahkota kerajaan?!
"Milano! Kesalahanmu kali ini tak bisa lagi di toleran. Aku putuskan kau tak lagi berhak menjadi calon pewaris tahtaku dan mulai saat ini, kau tak dibolehkan menggunakan kemewahan apapun di kerajaan ini!"
Hal itu membuat Delvin tersenyum puas begitu juga Ratu Clorris. Dengan menghilangkan nama Milano dalam list pewaris tahta maka, Delvin bisa naik secepatnya.
Jika kau lebih penurut dan tak keras kepala, mungkin aku akan setuju jika kau naik di tahta itu.
Batin Ratu Clorris menyayangkan sikap brandal Milano. Hanya Delvin yang bisa ia atur-atur dan jika sampai Milano mewarisi tahta itu maka, dia tak akan mempedulikan suaranya.
"Hukuman itu terlalu berat bagi Prince Milano."
"Siapa suruh dia begitu arogan?!"
Desas-desus mereka begitu senang dengan hukuman itu. Milano tak begitu peduli, tanpa memberi hormat atau salam apapun ia berbalik pergi begitu saja.
"Milanoo!!" Emosi Raja Barack tapi Milano acuh.
Panglima Ottmar hanya bisa menghela nafas. Jelas-jelas dulu rencananya tak begini.
"Anak itu memang benar-benar."
"Suamiku! Untung saja kita sadar yang terbaik bagi kerajaan," Ucap Ratu Clorris memeggang lengan Raja Barack yang naik darah.
Sementara Milano yang berjalan menuju teras atas di dekat kubah besar kerajaan, langkahnya di cengkal oleh putri Veronica yang terlihat emosi.
"Lihat! Karena wanita itu namamu jadi di hapuskan oleh Raja! Dia membuatmu rugi besar!!"
"Kau bisa diam?!" Dingin Milano tak mau di ganggu. Putri Veronica gemetar, ia tadi terlalu emosi sampai berani membentak seperti itu.
"Sayang! Aku hanya tak ingin kau dikalahkan oleh Delvin. Tahta itu milikmu! Kau.."
"Kau pasti tahu batasanmu!" Tekan Milano melewati putri Veronica.
Yah, sebelum menikah Milano sudah menekankan satu hal. Putri Veronica tak akan ikut campur dalam urusan pribadi Milano dan setiap apa yang Milano katakan maka, putri Veronica harus memenuhinya.
Karena pesona dan daya pikat pria itu, Putri Veronica mau menelan mentah aturan Milano asal kebutuhan sosial dan batinnya bisa terpenuhi.
"Siall!! Sampai kapan dia akan seperti ini?! Aku tak tahu apa isi kepalanya," Umpat Putri Veronica berjalan pergi.
Ia tak sadar jika sedari tadi Latizia mengintip. Ia tadi penasaran apa yang terjadi pada Milano setalah keluar dari ruang pengadilan tapi, tak di sangka hukumannya sampai seperti itu.
"Kenapa aku jadi kasihan?!" Gumam Latizia merasa bersalah.
Ia perlahan naik ke tangga atas menuju teras yang paling tinggi. Istana ini banyak pilar dan terdiri satu kubah yang meneduhi lantai atas istana.
Latizia dengan hati-hati berjalan masuk ke pintu yang terhubung langsung ke area luar. Dari atas sini Latizia bisa melihat seluruh sudut kerajaan, pemandangannya begitu indah apalagi berhadapan langsung dengan labirin bunga yang ada di bawah.
"Pantas dia sering kesini," Batin Latizia memaklumi.
Ia berpeggangan ke pagar pembatas yang ada di kiri kanan teras lalu menatap Milano yang berdiri di ujung sana dengan merokok tenang.
Agak kaku memang. Tapi, Latizia tak mau merasa bersalah terus jika tak minta maaf.
"Ehmm!"
Latizia berdehem perlahan mendekati Milano hanya meliriknya datar lalu kembali fokus ke depan.
"Pemandangannya cukup indah!" Puji Latizia pura-pura membicarakan alam secara berdiri di samping Milano.
"Pergilah!" Tegas Milano karna ia sedang tak ingin bicara.
Latizia diam sejenak. Ia tak tahu, kenapa Raja Barack dan Ratu Clorris sampai tak adil seperti ini pada Milano?! Jelas-jelas Delvin-lah yang selama ini mengotori nama kerajaan.
"Ibuku pernah mengatakan satu hal setiap aku merasa sedih." Gumam Latizia menatap jauh ke arah labirin sana.
Milano diam tak menyela apapun. Dari tatapan Latizia tampak jelas jika wanita itu sangat merindukan ibunya.
"Saat kau ingin menangis cobalah berteriak. Tak peduli suara apapun yang keluar pasti akan jadi ringan."
"Itu hanya hal konyol," Acuh Milano meniupkan asap rokoknya ke udara.
Latizia tersenyum kecil. Ia selalu melakukan itu ketika menangis di ruang tertutup. Rasanya lebih lega walau terlihat seperti orang bodoh berteriak tanpa alasan jelas.
"Ayo berteriak sama-sama!"
"Aku tak ingin menangis," Jengkel Milano ingin pergi tapi tiba-tiba saja Latizia berteriak di sebelah telinganya dengan keras.
"BRANDAAAL!!!"
"Kauuu.."
"Daaaa!! Semoga kita tak bertemu lagi!" Teriak Latizia berlari pergi. Milano hanya memandangi kepergian wanita konyol itu lalu menatap ke sembarang arah.
Ia tak berharap menjadi penerus kerajaan ini karna ada satu orang yang pantas. Ia akan melakukan apapun agar kerajaan ini kembali pada orang yang tepat.
"Kau tenang saja! Tahta itu milikmu. Aku akan memperjuangkannya!" Gumam Milano membuang puntung rokoknya lalu ia pergi.
....
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rabiah Windi
bikin penasaran aja thor
2023-11-11
0
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
makin seru dan penuh misteri
2023-08-22
1
Vanny Candra
up thor
2023-08-17
0