Masalah pemberontak harmonika itu belum juga selesai. Tetapi, penawaran yang di sebar oleh Raja Barack membuat siapa saja di kerajaan tergiur bahkan dari luar wilayah Madison-pun ikut tergerak untuk mengikuti penawaran itu.
Banyak diantara mereka saling mencurigai dan membuat ulah hanya untuk mendapatkan nama karna satu-pun dari mereka tak pernah melihat atau menemukan jejak sang pemberontak.
Bahkan, masalah baru tercipta dan seperti rantai yang sulit di putus. Itu karnanya sekarang Raja Barack tengah berdiskusi dengan Mentri Human dan Panglima Ottmar atas kekacauan yang telah di sebabkan karena penawaran itu.
"Yang Mulia! Aksi saling curiga dan tuduh diantara masyarakat sudah begitu pekat. Mereka bahkan tak segan untuk saling baku hantam dan membunuh hanya untuk mendapatkan siapa sosok di balik lantunan harmonika itu," Jelas Panglima Ottmar yang sudah pergi mengunjungi beberapa wilayah kerajaan.
Banyak kasus seperti ini terjadi bahkan tak khayal anak dan ibu hamil-pun menjadi korban.
Namun, Raja Barack tampak biasa saja. Yang ia utamakan sekarang adalah sosok pemberontak dan bukan masalah lainnya.
"Yang Mulia! Bagaimana jika kita hentikan saja a.."
"Tidak bisa!" Bantah Raja Barack kekeh. Wajah sangarnya begitu berambisi untuk mendapatkan tikus kecil yang belum pernah tertangkap itu.
"Jika ini di hentikan sudah terlalu lambat. Tujuan utamaku hanya untuk mendapatkan pemberontak ini."
"Tapi.."
"Apa yang dikatakan Yang Mulia benar!" Sela Mentri Human mendukung. Panglima Ottmar tampak tak suka dengan pria berkumis tebal di depannya tapi ia tetap menunjukan ketegasan.
"Jika sosok pemberontak itu berhasil di tangkap maka, Yang Mulia Raja bisa menekannya untuk mengabdi ke kerajaan. Dengan begitu, siapa lagi yang bisa mengalahkan kerajaan Madison kita?!"
Imbuh Mentri Human membuat batin Raja Barack puas. Ia memang begitu licik dan ambisius dalam hal ini.
"Sudah-ku putuskan. Aku ingin sosok itu segera di tangkap dan masalah yang berkaitan biarkan saja. Itu konsekuensi bagi yang tak bisa bertahan, bukan?!"
"Dimengerti, Yang Mulia!" Jawab mereka berdua patuh.
Keduanya pamit mundur dari kursi rapat pertemuan tertutup ini lalu keluar dari ruangan.
Sebelum sama-sama pergi berbeda arah, Panglima Ottmar melempar pandangan tajamnya pada Mentri Human yang hanya memberi senyum remeh.
"Mau bagaimanapun, aku penasehat Yang Mulia! Posisiku lebih tinggi darimu!"
Panglima Ottmar tak menanggapi hal itu. Ia memilih pergi membawa kekesalan sekaligus ketidakpuasan.
"Andai saja Raja Facsionus tak turun tahta. Mungkin kerajaan tak seperti ini," Gumam Panglima Ottmar sebelum benar-benar meninggalkan istana utama.
Kalimat yang tadi ia lontarkan masih terdengar oleh sesosok pria yang berdiri di tempat paling gelap tapi hawa keberadaanya sangat mendominasi. Matanya menyala bak serigala jantan memantau mangsa tapi juga redup dikala melihat ada pajangan foto Raja Facsionus pertama Madison yang terpampang gagah di dinding sakral Istana.
"Kau akan mendapat keadilan!" Tegasnya dengan suara dalam yang penuh persiapan.
Namun, lirikan netra coklat pekat itu merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arahnya. Bagai kibasan sayap elang ia cepat berbalik mencekik sosok ini dan..
"Ehmm!!! L..lepass!!"
Latizia yang kehabisan nafas dan memukul-mukul lengan kekar Milano yang menajamkan matanya.
"Nona Depresi!"
"A..aku..l..lepass.. uhukkk!!"
Latizia akhirnya terbatuk-batuk saat Milano sudah melepaskan cekikan mautnya. Tubuh jenjang itu luruh ke lantai memegangi lehernya yang begitu sakit seakan mau patah.
Milano menaikan satu alisnya sinis menatap Latizia yang tiba-tiba menyelinap ke sini.
"Kau hampir saja membunuhku!"
"Matipun tak ada yang rugi," Dingin Milano acuh ingin pergi tapi Latizia dengan cepat mencengkal lengannya.
Lirikan netra elang Milano menusuk tangan Latizia yang berani mencengkram lengannya. Tentu, Latizia menyadari hal itu hingga segera menarik tangannya dan berdiri.
"Masalah tadi siang! Aku ingin bertanya padamu!"
Milano tak peduli. Ia sedang ada urusan penting yang harus di selesaikan. Melihat keangkuhan pria ini masih belum sirna dan berkurang, tentu saja Latizia tak cukup sabar.
"Berhenti sebentar!!" Paksa Latizia berdiri di hadapan Milano bahkan jarak diantara mereka begitu tipis.
Tinggi Latizia hanya sebatas dada bidang Milano hingga wajah cantik natural wanita ini mendongak padanya.
"Aku hanya ingin bertanya soal, apa yang kau katakan tadi siang? Hanya itu!" Ucap Latizia kekeh. Ia tak sadar jika Milano bisa merasakan dua gundukan sintalnya yang terbungkus rapi di dalam terusan sederhana menempel ke dada bidang miliknya.
Sudut bibir tipis tapi sensual Milano terangkat. Latizia bingung, apa yang selalu membuat pria tergelitik mengerikan seperti ini?!
"Aku serius! Tak ada yang lucu disini."
"Kau tahu?" Tanya Milano dengan seringaian iblis cukup pekat di bibirnya. Latizia mulai merasa kaku bahkan ia tak bisa bergerak di posisi ini.
"K..kau .."
Dengan ringan satu tangan Milano yang tadi ada di sakunya terulur bebas menarik pinggang seksi Latizia hingga tubuh wanita itu menempel padat padanya.
Dalam posisi ini, Milano bisa mengukur berapa besar aset yang dimiliki Latizia dan seberapa padat bokong wanita itu.
"Kau..."
"Kau tak pernah di pakai, hm?!"
Ucapan sarkas dan mesum Milano cukup bisa diartikan sebagai penghinaan oleh Latizia. Dengan emosi dan rasa tak terima yang ada, ia dorong dada bidang Milano kuat tapi tubuhnya-lah yang terhuyung kebelakang.
Sungguh, pertahanan pria ini begitu kokoh dan kuat.
"Jaga bicaramu!"
Milano tersenyum tipis dengan ketenangan menyelimuti wajahnya.
"Seberapa bodoh suamimu hingga, barang bagus milikmu tak di pakai?!"
"K..kau..aku tak sedang bicara itu! Kau jawab saja pertanyaan yang tadi aku berikan!" Gugup Latizia merasa pandangan Milano padanya terlalu mematikan dan penuh hasrat licik.
"Kenapa dia bisa tahu kalau Delvin tak pernah menyentuhku?! Pria brandal ini benar-benar tak sederhana." Batin Latizia meningkatkan kewaspadaannya.
Milano tahu apa yang dipikirkan Latizia. Ia tak sulit membaca guratan wajah cantik wanita ini bahkan cukup jelas terlihat.
"Berat dan tekstur kepadatannya sangat baik." Berjalan mendekat.
"Kauu.." Latizia segera menyilangkan kedua lengannya di depan dada seraya berjalan mundur.
"Kencang dan bersemangat. Tubuhmu, terlalu awam menerima.."
Milano menjeda kalimatnya saat Latizia sudah terdesak ke dinding. Wajah wanita itu pucat pasih bahkan tubuhnya menguarkan rasa tak nyaman.
"T..tidak. Aku tak bisa terus disini."
Batin Latizia ketakutan. Ia segera ingin pergi tapi kedua tangan kekar Milano sudah mengurungnya ke dinding.
"K..kau. kau jangan macam-macam. Kau.."
"Jangan terlalu na'if!" Desis Milano terus menempel bahkan Latizia sulit bernafas. Keringat dingin di pelipis wanita ini dengan jelas bisa Milano lihat dan sangat menyenangkan.
"Kau jangan mencoba mengusikku! A..aku..aku bisa .."
"Bisa mengerang di bawah Kungkungan ku," Bisik Milano ingin menyambar bibir merah segar Latizia yang dengan cepat berjongkok dan lari sekuat mungkin di bawah lengan Milano.
Tatapan elang pria itu membidik Latizia yang bak di kejar setan pergi menjauh bahkan menghilang. Seringaian iblisnya kembali tertarik karna tahu Latizia juga haus akan belaian.
"Ku pastikan kau datang sendiri padaku!" Gumam Milano menetapkan takdir wanita itu harus jatuh ke atas ranjangnya.
"Milano!"
Ekspresi wajah bengisnya tadi berubah dingin tanpa emosi. Ia berbalik menatap datar Raja Barack yang baru saja keluar dari ruang pertemuan dan melihat putra tak bergunanya ini juga hadir.
"Kenapa kau disini?" Tanya Raja Barack curiga jika Milano berbuat ulah lagi.
Milano dengan santai mengeluarkan bungkusan rokok dari dalam saku celananya. Sungguh, Raja Barack sangat marah tapi ia tak bisa mengendalikan Milano.
"Berjalan dan merokok!"
"Yah, itu keahlianmu," Geram Raja Barack tampak emosi. Milano hanya mengangguk penuh ketenangan yang sulit di ganggu.
Ia menyalakan rokoknya di hadapan Raja Barack padahal, sudah ada larangan keras jika ia tak boleh merokok sembarangan.
"Kerajaan tengah ada masalah dan kau hanya bisa berkeliaran dengan rokok, minuman dan wanita mu itu. Sangat menyedihkan."
"Hm, itu tujuanku dilahirkan," Jawab Milano tegas dan pergi begitu saja. Ia menebar asap rokoknya sembarangan dan sesuka hati berkeliaran tanpa tahu aturan.
Tatapan Raja Barack terlihat malas. Milano yang punya tampang sempurna dan emosi yang stabil tapi dia sama sekali tak bisa di andalkan.
Harapan satu-satunya hanya pada Delvin yang syukurlah mau di arahkan olehnya.
"Untung saja dia tak meminta banyak dari kerajaan ini," Gumam Raja Barack pusing mengurusi Milano. Ia lebih baik pergi bersenang-senang bersama para Selirnya yang lain.
....
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Nur Yanti
astaga... letizia kamu terancam.. terancam hilang keperawanan 😁
2023-09-07
0
Vanny Candra
up thor
2023-08-17
1
Nazwaputri Salmani
Thor mau rekues dong jgan sampai letizia yang mendatangi milano ya thor milano aja yang ngejar letizia
2023-07-19
0