Semua pengawal yang tadi ada di luar langsung menunggu di belakang pintu. Mereka enggan masuk karna mengingat ini kamar Putri Veronica walau wanita itu berteriak sedari tadi seperti memaki seseorang.
Putri Veronica segera menutup tubuhnya dengan selimut lalu berdiri dengan kaki lemah mendekati Latizia.
"Kau masuk ke kamarku. Memang wanita ular!" Hardiknya tapi Latizia justru memandang murka Milano yang berlalu pergi ke kamar mandi.
"Tangkap ja**lang ini!!" Teriaknya hebat dan pintu di belakang Latizia terbuka lebar.
Para pengawal itu sempat syok melihat penampilan Latizia yang sangat berbeda malam ini. Mereka terkesima sesaat tapi segera sadar saat suara melengking Putri Veronica kembali menguar.
"APA YANG KALIAN TUNGGU, HAA??!!"
"B..BAIK!"
Jawab mereka segera menarik lengan Latizia kasar keluar dari kamar. Latizia yang tak bisa memberontak hanya pasrah.
Ia sudah tertangkap basah karna kelicikan pria brandal itu. Kali ini, akan ia buat nama Milano terseret dalam kasusnya.
Latizia di bawa ke ruang pengadilan Raja. Panglima Ottmar yang melihat Latizia di seret paksa itu hanya diam mengiring dari depan.
"Masuuk!!"
Latizia di lempar masuk dengan kasar hingga tersungkur di hadapan seluruh petinggi kerajaan.
"Yang Mulia!" Salam mereka penuh hormat.
"Apa lagi yang dia lakukan?" Tanya Raja Barack dengan intonasi sarkasnya.
"Dia menyelinap masuk ke dalam kamar Putri Veronica dan Pangeran Milano!"
"Apaa???"
Syok mereka semua kecuali Panglima Ottmar yang hanya diam dengan wajah tegasnya.
"Yang Mulia! Wanita ini memang sudah sangat keterlaluan."
"Yah, dengan menganggu Putri Veronica, maka ia juga menyinggung kerajaan!"
Desas-desus para Mentri mengadili Latizia. Wanita cantik dengan manik ungu mistik itu di tekan oleh para pengawal hingga ia hanya bisa menegaskan wajahnya tak ada guratan takut sama sekali.
"Aku masuk ke sana bukan tanpa alasan! Putramu mengatakan jika kerajaanku telah hancur. Aku ingin bertanya padanya tapi, malah seperti ini!!"
Semua orang terdiam. Raja Barack tampak berpikir keras akan kebenaran yang Latizia katakan. Benarkah Milano mengatakan itu? Tapi, tak mungkin. Milano tak pernah tertarik akan urusan kerajaan.
"Milano mengatakan hal seperti itu?"
"Yah! Dia juga yang telah menggodaku! Aku tak pernah sudi di sentuh olehnya!!" Bantah Latizia masih kekeh tak ingin di salahkan.
Melihat Raja Barack mulai bimbang, Panglima Ottmar langsung mohon izin untuk menimpali.
"Izinkan aku bicara Yang Mulia!"
"Silahkan!" Ucap Raja Barack memikirkan dengan cermat.
"Jika memang Pangeran Milano mengatakan itu pada Putri Latizia, apakah ada buktinya? Jelas-jelas saat itu Putri Latizia-lah yang ada di kamar pangeran Milano."
"Aku sudah mengatakan sebelumnya jika aku hanya ingin bertanya!!"
"Apa harus masuk ke kamar? Tak bisa kau menunggu di luar?"
Latizia langsung bungkam. Jika ia mengatakan hal yang sebenarnya maka kasus ini bahkan lebih berat. Ia akan dianggap sebagai penghianat di kerajaan Madison.
Saat Latizia membisu maka setiap orang langsung mengambil kesempatan untuk menghakiminya.
"Benar yang di katakan Panglima Ottmar! Jika dia ingin bertanya, kenapa harus masuk ke kamar?! Bukankah dia bisa menunggu di luar?!"
"Aku setuju!"
Jawab yang lain menegaskan pernyataan itu. Dalam situasi ini, mau bagaimanapun ia mengatakan kebenaran maka akan tetap salah.
Sekarang, Latizia hanya berpikir keras bagaimana cara untuk menyeret Milano dalam hal ini.
"Buktikan jika Milano memang melakukan itu!!" Titah Raja Barack anarkis.
"Kau bisa periksa cctv! Dia ada bicara denganku di paviliun belakang istana!"
"Periksa cctv!" Titah Raja Barack pada Panglima Ottmar yang segera pergi ke ruang pemantauan.
Di luar sana sudah ada Milano dan Putri Veronica yang masuk dengan wajah kelam menghadap Raja Barack.
"Yang Mulia! Aku ingin dia di hukum seberat-beratnya bahkan, hukuman gantung!"
"Buktikan dulu, siapa yang benar dan salah disini!" Tegas Raja Barack membuat Milano jijik.
Pasti Raja Barack hanya ingin membuktikan apa benar ia mengatakan hal itu?! Jika Latizia berhasil mengungkapnya maka, ada keuntungan baru bagi kerajaan. Raja Barack mempedulikan benar dan salah?! Cih, itu hanya tipu muslihat.
"Milano!"
Panggil pria itu menyeru pada Milano yang hanya diam sedia dengan wajah datarnya. Ia melirik santai Latizia yang tampak sangat ingin menyeretnya dalam hal ini.
"Apa kau mengatakan kerajaan Latizia sudah hancur padanya?"
"Apa menurutmu aku sesantai itu untuk berurusan dengan pelayan?" Tanya Milano datar dan sontak semua orang membisu.
Latizia sangat mendidih karna apapun yang terjadi, topeng pria ini masih lekat di sudut gelapnya.
"Kau benar-benar pandai memainkan sandiwara!"
"Aku tak tertarik dengan wanita depresi sepertimu," Tegas Milano seakan-akan benar adanya.
Putri Veronica percaya pada Milano. Mana mungkin pria idiot ini bisa ikut campur urusan kerajaan bahkan, masalah tahta saja Milano tak mau bergerak.
"Yang Mulia!"
Panglima Ottmar datang membawa laptop dan sejumlah alat pendeteksi. Ia membawa peralatan itu mendekati Raja Barack yang segera melihatnya.
"Disini terlihat jika Putri Latizia ingin keluar melalui gerbang belakang kerajaan. Jadi, dialah yang tadi di cari oleh prajurit sebagai penyusup."
Degg..
Latiza tercengang. Jelas-jelas tadi ia memilih jalan di luar jalur cctv tapi bagaimana bisa ini terjadi?!
"Wanita ini memang tak sederhana!! Dia sengaja masuk ke dalam kamar Pangeran Milano dan Putri Veronica hanya untuk bersembunyi. Di tambah lagi, Pangeran tak pernah bertemu dengan Putri Latizia di sekitar paviliun kecuali saat Putri Veronica datang saat itu."
Jelas Panglima Ottmar dan tentu saja Latizia mati kutu. Apa yang di jelaskan itu benar tapi ada juga yang di sembunyikan.
"Kau menutupi kejadian yang lain. Beberapa hari yang lalu, dialah yang ada di paviliun belakang!!" Bantah Latizia tegas tak ingin salah sendiri.
Milano hanya diam. Dari balik tatapan datar itu ada raut puas melihat Latizia menjadi target utama.
"Kau ingin melawanku?! Jangan bermimpi," Batin Milano. latizia tak cukup pintar untuk membongkar semuanya disini.
Karna semuanya sudah jelas, Latizia akhirnya di hukum dengan kurungan di ruang bawah tanah selama 20 tahun.
Jelas putri Veronica senang bukan main karna tak akan ada lagi semut nakal yang akan mengerumuni gula batu ini.
Di tengah kegembiraan itu Milano menyela. Ia seperti punya saran untuk ini.
"Aku ingin dia menjadi pelayanku!"
"Milano!!" Bantah Putri Veronica tapi Milano tak bergeming. Rautnya masih saja begitu dingin dan tegas seakan-akan apapun yang ia mau harus di dapatkan.
"Namaku sudah lama tercemar dan sekarang juga menjadi bahan olokan wanita ini. Biarkan aku bersenang-senang sedikit," Licik Milano melirik iblis Latizia yang sungguh tak sudi.
"Dari pada aku tunduk padanya! Lebih baik aku membusuk di penjara!!"
"Kau juga akan busuk berada di bawah kakiku," Tegas Milano lalu pergi sesuka hati.
Raja Barack diam sejenak. Dari pada membuat Milano bersikap seenaknya di kerajaan, lebih baik ia berikan mainan hidup agar dia tak berulah.
"Baik! Mulai sekarang, dia pelayan pribadi pangeran Milano!!"
Mereka langsung menyetujui itu. Putri Veronica yang tak bisa membantah lagi akhirnya pergi menyusul Milano yang suka bertindak semena-mena.
"Milanoo!!"
Panggilnya kasar mendahului langkah kaki kokoh lebar pria itu.
"Kenapa kau lakukan ini? Aku istrimu dan aku juga bisa melayanimu!!"
Milano tak langsung menjawab. Ia mengangkat tangannya dengan sudut bibir ditarik nyaris seperti iblis di mata Putri Veronica yang merinding.
Ia gemetar saat tangan Milano mengusap rambutnya tapi seperti pisau yang memantik rasa takut di sekujur tubuh Putri Veronica.
"Kau sanggup menjadi pelayanku?" Tanyanya dengan suara berat misterius. Putri Veronica tahu apa yang di maksud Milano.
"Kau bisa berbuat kasar padanya tapi, masalah ranjang aku tak sudi!" Tekannya lalu pergi.
Wajah Milano berubah 180°. Tatapan mematikan itu menghunus ke depan penuh intimidasi.
"Prince!" Panggil sosok yang berdiri di belakangnya. Ada Panglima Ottmar yang tampak melihat-lihat situasi.
"Semua sesuai rencana dan prediksimu."
"Hm," Gumam Milano datar dan pergi. Panglima Ottmar memandang nanar kepergian Milano yang pasti sudah merangkai semuanya dengan baik.
"Kau memang bukan lagi manusia," Gumam Panglima Ottmar merasa miris tapi inilah adanya.
...
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Shepty Ani
kasihan bgt latizia jd korban diantara mereka" yg berperang saling berebut entah itu apa kekuasaan harta atau martabat
2023-09-05
1
Yunia Spm
tambah penasaran 😁
2023-08-31
0
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
wah Latizia harus jadi korban keegoisan mereka
2023-08-22
0