Mainan baruku!

Panglima Ottmar membentuk penjagaan yang sangat ketat di aula Istana. Kejadian tadi menyisakan kekhawatiran semua orang bahkan beberapa prajurit yang di kerahkan di luar-pun masih menatap takut-takut di sekitar mereka.

Latizia yang melihat kondisi kerajaan yang dilanda masalah internal hanya bisa diam. Ia mendengarkan pidato Raja Barack yang tampak tegas menyikapi hal ini.

"JIKA KALIAN BISA MENEMUKAN SOSOK DI BALIK KEKACAUAN INI, AKU TAK AKAN SEGAN MENGANGKAT KALIAN MENJADI SALAH SATU PETINGGI DI KERAJAAN-KU!"

Ultimatum itu bagai kilatan cahaya menyambar cepat masuk ke telinga semua orang. Para pelayan di sekitar Latizia mulai bergumam saling bicara soal penangkapan sosok misterius itu.

"SAMPAIKAN JANJIKU INI PADA SELURUH RAKYAT MADISON! SIAPAPUN YANG TERPILIH KALIAN PANTAS MENDAPAT POSISI YANG LAYAK."

Imbuhnya lagi membuat pengakuan kukuh. Milano hanya membisu tapi matanya tampak malas menanggapi ucapan Raja Barack yang hanya omong kosong.

"Sayang! Itu penawaran yang sangat besar," Bisik Putri Veronica yang duduk di samping Milano.

Dari binaran matanya, wanita itu terlihat sangat berharap mendapatkan posisi itu hingga sudut bibir tipis tapi sensual Milano terangkat sinis.

"Kau masih tak puas dengan gelar bangsawanmu?"

"Tentu saja! Menikahi pangeran tak berguna sepertimu hanya akan menjatuhkan harga diriku. Jika kau berhasil menangkap orang itu setidaknya posisimu dan aku bisa lebih kokoh disini, bukan?" Jelas Putri Veronica membuat Milano tak heran lagi dengan pemikiran rakus istrinya.

"Hm, tapi aku tak berminat."

"Milano! Ini kesempatan untukmu. Setidaknya kau bisa menggulingkan Delvin sebagai pewaris tahta kerajaan Madison," Tekan Putri Veronica tapi Milano hanya diam menatap datar ke depan seperti tak mendengar ucapan Putri Veronica barusan.

Alhasil, wanita dengan wajah ketus dan arogan itu segera mendengus. Ia kembali mendengarkan para Mentri kerajaan yang melanjutkan titahan Raja Barack.

"Jangan ada yang menyebar suasana kerajaan seperti ini pada wilayah lain. Jika kalian melakukan hal itu, akan di pastikan semua yang berhubungan dengan kalian baik itu keluarga sekalipun akan tetap terkena hukuman mati!"

"Kami bersedia!!"

Jawab mereka semua membungkuk sopan dengan satu tangan di dada. Tentu saja saat semua orang menunduk maka Latizia yang tadi tak melakukan itu di sorot jelas.

"Kau yang di belakang!"

Latizia diam menegakkan tubuhnya anggun. Pembawaannya sangat tenang dan penuh percaya diri hingga hawanya terpisah dari semua pelayan.

Panglima Ottmar menatap tajam Latizia dengan isyarat memberi salam hormat pada Yang Mulia Raja Barack. Tapi, Latizia memeggang semua prinsip hidupnya yang tak akan tunduk dengan penguasa lain yang menjarah rakyat.

"Kau membangkang?"

"Aku bukan bagian dari rakyat Madison!" Tegas Latizia dan Delvin seketika memutar bola mata jengah.

Ntah apalagi yang akan wanita bodoh itu lakukan disini.

Pikirnya begitu. Ratu Clorris melirik Delvin tajam seakan menghardik sang putra untuk segera mengendalikan Latizia.

"Aku akan menanganinya!"

Delvin berdiri segera memberi sapaan hormat pada Raja Barack lalu turun mendekati Latizia yang masih tenang di tempat.

"Apa wanita itu mencari mati?"

Ketus beberapa pelayan yang merasa Latizia terlalu memandang tinggi dirinya. Saat Delvin mendekat, Latizia sudah tahu apa yang akan di lakukan pria yang berstatus sebagai suaminya ini.

"Aku bisa pergi sendiri!"

"Kenapa kau datang?! Ingin menarik perhatian?" Desis Delvin mencengkram pergelangan tangan Latizia seraya memberi senyuman pada seluruh petinggi kerajaan.

"Itu tak ada hubungan denganmu."

"Buka saja benda ini!"

Delvin menarik selendang tipis di wajah Latizia hingga semua pelayan di tempat ini syok saat melihat wajah memarnya.

"Bukankah itu Putri Latizia?"

"Aku sudah lama tak melihatnya."

"Astaga! Wajahnya sampai merah seperti itu."

Desas-desus mereka terkejut. Melihat hal itu tentu saja Raja Barack murka bukan main.

"Delviin!!" Panggilnya keras tapi inilah yang Delvin inginkan.

"Yang Mulia! Maafkan aku. Dia sudah ku didik untuk istirahat di kamarnya sampai penyakitnya sembuh tapi tetap saja ingin keluar!"

"Kauu.."

Latizia sungguh tak menyangka Delvin akan mengatakan hal itu.

"Selama ini dia depresi akan kehilangan kerajaannya hingga aku terpaksa mengurungnya tapi, sekarang.."

"Aku lebih depresi bersama pria seperti kau!" Tegas Latizia membuat malu Raja Barack. Bahkan, para petinggi disini sampai saling pandang penuh tanya.

Pantas saja selama ini mereka tak melihat istri Delvin lagi.

"Delvin! Masalah istrimu begitu banyak. Kau tak bisa lagi membelanya!"

"Membela apanya?! Dia bahkan membuat banyak kisah palsu untuk menjebakku," Bantah Latizia memang sudah tak tahan lagi akan drama yang selalu di buat Delvin.

Tapi, di mata Milano perlawanan Latizia adalah sebuah kebodohan. Wanita ini terlalu polos menduga jika Raja Barack memang benar-benar tak tahu soal itu dan bicara sembarangan.

"Kau berani membantah ucapan Yang Mulia Raja!! Kau memang sudah keterlaluan!!" Marah Delvin memanas-manasi keadaan.

Ratu Clorris tentu saja senang. Latiza tak lagi berguna bagi mereka hingga tak akan ada kerugian memusnahkan wanita ini.

"Aku bicara sesuai kenyataan! Aku sama sekali tak depresi. Selama ini semua yang kau katakan aku turuti tapi kau tak pernah menghargaiku. Untuk apa aku.."

Plaak...

Delvin menampar Latizia di hadapan semua orang. Hal itu membuat ratusan pasang mata disini terpaku tapi hanya sebagian yang kasihan pada Latizia.

"Ini kerajaanku dan kau bicara di depan Ayahku! Mulutmu perlu di beri pelajaran!" Geram Delvin segera menarik Latizia pergi dengan kasar setelah pamit pada Raja Barack yang akhirnya lega Delvin bisa mengambil tindakan cepat.

Ia melirik Mentri penasehat Human yang mengangguk paham hal itu.

"Dengar semuanya! Kejadian tadi adalah sebuah contoh jika siapapun yang berani berbuat tak layak di kerajaan ini. Maka kalian siap menerima balasanya!"

"Kami mengerti!" Jawab mereka patuh. Raja Barack dan Ratu Clorris di giring meninggalkan aula oleh para pengawal istana diikuti para petinggi kerajaan yang lain.

Hanya Milano dan Putri Veronica yang tinggal menatap satu persatu orang yang meninggalkan tempat ini.

"Wanita itu siapa? Aku agak familiar dengan wajahnya."

Milano tak menjawab. Ia berdiri dari duduknya lalu berjalan gagah menuju pintu besar Aula. Tentu saja Putri Veronica kesal bukan main melihat sikap tak terkendali Milano.

"Mau sampai kapan kau akan acuh seperti ini?! Singasana itu milikmu Milano. Delvin putra kedua dan kau.."

Putri Veronica berhenti bicara saat lirikan mata membunuh Milano sudah membuatnya tercekik. Raut wajah pria itu bahkan berubah lebih dingin tanpa perasaan keluar dari aula ini.

"Dia memang pria yang angkuh dan sombong. Tapi, otaknya sama sekali tak berjalan," Ketus Putri Veronica berjalan mengikuti Milano yang tak melihat kiri kanan.

Tatapan optimis, penuh percaya diri, sulit di tebak dan mendominasi itu jelas terlihat di wajahnya.

"Ayo ke kamar! Aku ingin bersamamu!" Ajak Putri Veronica memang terobsesi dengan tubuh kekar jantan Milano yang begitu sempurna

Ia jadi buta akan sikap acuh pria ini yang penting hasrat bercintanya terpenuhi. Lalu, apa motif Milano hingga mau bersama Veronica?! Apa hanya sekedar paksaan dari Raja Barack atau ada muslihat lain?!

Jawaban dari pertanyaan itu belum jelas. Milano terlalu pandai membawa diri bahkan semua yang dia lakukan tak pernah bisa di duga siapapun.

"Tadi kita belum sempat menyudahinya! Aku menginginkanmu sekarang!" Rengeknya mengendus leher kokoh Milano yang sebenarnya malas tapi matanya menangkap sesuatu yang aneh dari balik Aula.

"Aku belum ingin. Kau pergilah dulu!" Tegas Milano tanpa intonasi berlebih menepis wajah Putri Veronica yang ingin mencium bibirnya di tengah kondisi terbuka seperti ini. Benar-benar tak tahu tempat.

"Aku ingin! Kau.."

Milano mengeluarkan bungkusan rokok di saku celananya lalu menatap dingin Putri Veronica yang seketika menggeram.

"Setelah itu kau harus melayaniku!" Ketusnya melenggang pergi penuh emosi. Milano tak menghiraukannya, ia lebih tertarik dengan bayangan seseorang di balik Aula yang tampak samar-samar terlihat.

Saat sudah berdiri di tepi dinding bangunan besar ini, Milano bersandar tenang dengan santai menghidupkan pemantik api yang ia keluarkan uji dari saku celananya seraya menatap datar sosok wanita yang tampak di pukul habis-habisan oleh Delvin di depan sana.

Keduanya terlibat pertengkaran dan sosok wanita itu juga tampaknya melawan hingga Delvin menjambak rambut panjang keemasan itu kasar.

"JIKA SEKALI LAGI KAU MEMPERMALUKAN AKU. AKAN-KU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL!!"

Geram Delvin mendorong Latizia kasar lalu ia pergi membawa kepuasan setelah menyiksa wanita itu.

Latizia yang terlihat jatuh di rerumputan lembab itu berusaha untuk tegar. Ia remas kuat-kuat dadanya lalu bangkit berniat untuk pergi tapi, matanya kembali bertemu dengan manik elang itu.

Hanya sebentar bertatapan Latizia langsung memutus kontak matanya. Ia memilih untuk tak ambil pusing.

"Sudah puas di pukuli?"

Sarkas Milano tersenyum licik menghembuskan asap rokok yang ia hisap ke udara. Satu tangannya masuk ke saku celana dengan angkuh berjalan mendekati Latizia yang menatap tajam Milano.

Saat keduanya sudah berhadapan, Latizia bisa merasakan kesenjangan aura diantara keduanya. Bohong jika ia tak bisa membaca kekuasaan yang kuat di tubuh Milano tapi di tutupi oleh sikap liar pria ini.

"Aku tak ada urusan denganmu."

"Bibirmu sobek," Gumam Milano terdengar mengejek seraya mengulur jarinya ingin menyentuh pipi lebam Latizia yang segera menepisnya kasar.

"Urus saja urusanmu sendiri!" Tegas Latizia sama sekali tak mau bergaul dengan pria aneh seperti Milano.

Ia menatap intens kemeja putih bersih yang Milano pakai. Semuanya terlihat gagah di tubuh pria ini tapi ada satu yang membuat Latizia membuang wajah.

"Seorang pemimpin seharusnya bisa memberi contoh bagi rakyatnya! Sangat di sayangkan keturunan di kerajaanmu tak punya etika sama sekali."

Ucapan Latizia begitu menusuk karna ada bekas lipstick di kerah kemeja Milano. Pria ini juga merokok sembarangan membuatnya risih.

"Mulutmu cukup menjanjikan!" Seringai Milano penuh kemisteriusan.

Latizia merinding. Ia merasa Milano tak sesederhana itu hingga disekelilingnya mulai terasa dingin.

"Pria aneh!" Gumamnya berlalu pergi.

Tapi, di mata Milano respon Latizia cukup memuaskan. Tatapan tajam manik elangnya seperti punya maksud tertentu dengan keberadaan wanita polos ini.

Jauh dari balik mata tajam Milano. Ia menatap datar kepergian Latizia tapi satu alisnya terangkat seraya menghembuskan asap rokoknya ke arah wanita itu.

"Mainan baruku," Gumamnya tersenyum tipis meremas puntung rokoknya sendiri. Ntah siapa yang bisa menjabarkan isi kepalanya sekarang siapapun tak akan bisa.

....

Vote and like sayang..

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

semoga Latizia bisa terbebas dr mereka

2024-10-26

0

Denzo_sian_alfoenzo

Denzo_sian_alfoenzo

mungkin milano sma sprt rusel suaminya sandra atau mungkin dy sma sprt xavier 😅

2023-09-13

4

Mebang Huyang M

Mebang Huyang M

sehat selalu ya thor, karyamu tentang wanita2 kuat, sukanya bunda.

2023-08-29

1

lihat semua
Episodes
1 Sama sekali tak di hargai
2 Mengkambing hitamkan
3 Milano yang tak berguna
4 Dia pasti bukan pelayan!
5 Lantunan itu lagi
6 Mainan baruku!
7 Kejutan!
8 Urus suamimu dengan benar!
9 Kau haus akan belaian
10 Wanita Penggoda!!
11 Menjadi Pelayanku
12 Patuhlah padaku
13 Latizia mabuk
14 Tugasmu hanya melayaniku
15 Hanya demi pelayan?
16 Sosok Misterius itu lagi
17 Di balik kemegahan Madison
18 Kebuasan yang menggila
19 Pura-pura menjadi kekasih
20 Kau harus sembuh
21 Wanita itu membawa pergi suamiku!
22 Mereka ingin membunuhmu
23 Mereka sangat membenciku
24 Mau bermain di dapur?
25 Kerajaan Madison sangat kejam
26 A..apa aku membunuhnya?
27 Sekedar saling memuaskan
28 Itu mustahil
29 Bukankah kau depresi?
30 Kegilaan Milano
31 Aku di campakkan?
32 Aku ingin hamil!
33 Apa ada masalah?
34 Hanya trik kecil
35 Kau akan membayar semua ini!
36 Marah-marah tak jelas
37 Burungmu Murahan!
38 Penguntit
39 Nafsu makan yang meningkat
40 Kedatangan Ximus
41 Balas dendam?
42 Berani kau menyentuhnya!
43 Aku harus pergi!
44 Aku juga merasakannya
45 Penjahat kelamin
46 Semua lelaki sama saja!
47 Ingin tampil seksi
48 Dia bukan pria yang baik
49 Pembunuhan pertama
50 Aku akan pergi!
51 Hanya sandiwara
52 Orang ini sangat kuat
53 Di buru!
54 Guru Teans di culik!
55 Merajuk!
56 Panggilan kesayangan
57 Pura-pura bertengkar
58 Lebih rendah dari binatang
59 Jangan lakukan lagi!
60 Memata-matai
61 Di serang dalam diam
62 Masa pemerintahanmu berakhir!
63 Latizia cemburu!
64 Karma masa lalu
65 Berubah lebih nakal
66 Tak sekedar adik ipar
67 Ingin mencelakai
68 Bukan perjalanan bisnis
69 Ternyata dia!
70 Ada apa dengan Latizia?
71 Jangan tinggalkan aku!
72 Pemeriksaan Latizia
73 Frustasi tapi juga berfantasi
74 Merebut milikku
75 Masuk dalam jebakan?
76 Jangan menyesal
77 Dia mengandung anakku!
78 Selalu berusaha
79 Tidak salah pilih
80 Mulai curiga
81 Rakyat Madison memberontak
82 Melahirkan?
83 Benih premium adikku!
84 Kau tak akan bisa merubah takdir!
85 Hanya kau yang ku percaya
86 Jika kau lelah, akan ku temani istirahat!
87 Apa yang terjadi?
88 Kebebasan tiada tara
89 Aku sudah sangat bersyukur!
90 3 Pitbull
91 Tak punya keberanian
92 Ninu ternyata laki-laki
93 Darren sialan!!
94 Darren kesepian
95 Hari paling membahagikan
96 Aku mencintaimu
97 Info karya baru
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Sama sekali tak di hargai
2
Mengkambing hitamkan
3
Milano yang tak berguna
4
Dia pasti bukan pelayan!
5
Lantunan itu lagi
6
Mainan baruku!
7
Kejutan!
8
Urus suamimu dengan benar!
9
Kau haus akan belaian
10
Wanita Penggoda!!
11
Menjadi Pelayanku
12
Patuhlah padaku
13
Latizia mabuk
14
Tugasmu hanya melayaniku
15
Hanya demi pelayan?
16
Sosok Misterius itu lagi
17
Di balik kemegahan Madison
18
Kebuasan yang menggila
19
Pura-pura menjadi kekasih
20
Kau harus sembuh
21
Wanita itu membawa pergi suamiku!
22
Mereka ingin membunuhmu
23
Mereka sangat membenciku
24
Mau bermain di dapur?
25
Kerajaan Madison sangat kejam
26
A..apa aku membunuhnya?
27
Sekedar saling memuaskan
28
Itu mustahil
29
Bukankah kau depresi?
30
Kegilaan Milano
31
Aku di campakkan?
32
Aku ingin hamil!
33
Apa ada masalah?
34
Hanya trik kecil
35
Kau akan membayar semua ini!
36
Marah-marah tak jelas
37
Burungmu Murahan!
38
Penguntit
39
Nafsu makan yang meningkat
40
Kedatangan Ximus
41
Balas dendam?
42
Berani kau menyentuhnya!
43
Aku harus pergi!
44
Aku juga merasakannya
45
Penjahat kelamin
46
Semua lelaki sama saja!
47
Ingin tampil seksi
48
Dia bukan pria yang baik
49
Pembunuhan pertama
50
Aku akan pergi!
51
Hanya sandiwara
52
Orang ini sangat kuat
53
Di buru!
54
Guru Teans di culik!
55
Merajuk!
56
Panggilan kesayangan
57
Pura-pura bertengkar
58
Lebih rendah dari binatang
59
Jangan lakukan lagi!
60
Memata-matai
61
Di serang dalam diam
62
Masa pemerintahanmu berakhir!
63
Latizia cemburu!
64
Karma masa lalu
65
Berubah lebih nakal
66
Tak sekedar adik ipar
67
Ingin mencelakai
68
Bukan perjalanan bisnis
69
Ternyata dia!
70
Ada apa dengan Latizia?
71
Jangan tinggalkan aku!
72
Pemeriksaan Latizia
73
Frustasi tapi juga berfantasi
74
Merebut milikku
75
Masuk dalam jebakan?
76
Jangan menyesal
77
Dia mengandung anakku!
78
Selalu berusaha
79
Tidak salah pilih
80
Mulai curiga
81
Rakyat Madison memberontak
82
Melahirkan?
83
Benih premium adikku!
84
Kau tak akan bisa merubah takdir!
85
Hanya kau yang ku percaya
86
Jika kau lelah, akan ku temani istirahat!
87
Apa yang terjadi?
88
Kebebasan tiada tara
89
Aku sudah sangat bersyukur!
90
3 Pitbull
91
Tak punya keberanian
92
Ninu ternyata laki-laki
93
Darren sialan!!
94
Darren kesepian
95
Hari paling membahagikan
96
Aku mencintaimu
97
Info karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!