Kegelisahan yang Milano ciptakan di pikiran dan hati Latizia membuat wanita itu tak tenang. Ia duduk di kursi dekat jendela kamarnya memandang rembulan yang seperti biasa datang menemani Latizia.
Ia tak pergi ke kamarnya dan Delvin karna sekarang, ia tak lagi merasa nyaman di sana. Latizia hanya terus merenung dengan tatapan kosong mengarah keluar.
Apa maksudnya dengan hancur?! Jelas-jelas dulu mereka mengatakan akan kembali membangun kerajaannya tapi, pria itu..
Latizia dilema. Rasa takut itu hadir membuatnya terus menduga-duga. Kedua orang tuanya sudah tiada karna wabah penyakit saat itu. Kerajaan Garalden sudah tak punya pimpinan tahta dan tentu Raja Barack menawarkan diri untuk mengurus kerajaan milik Latizia tapi..
"Tidak. Jika di lihat pria tak sembarangan. Apa yang dia katakan belum tentu benar. Bisa saja dia hanya ingin mengadu-dombaku untuk melawan Raja Barack," Gumam Latizia masih belum percaya pada Milano.
Merasa tak ada tempat untuk bertanya lagi, Latizia mengambil keputusan yang teguh. Ia harus kembali ke kerajaannya untuk melihat apa wilayah itu baik-baik saja atau tidak.
Dengan cepat Latizia berganti pakaian. Ia memilih hotpant hitam dan rok pendek sepaha dengan desain modis terbelah di sampingnya. Latizia memang suka berpakaian seperti ini tapi karna ia seorang putri tentu harus menjaga penampilan anggunnya
Dengan memamerkan kaki jenjang indah itu, Letizia menyempurnakan pakaiannya dengan jaket berwarna hitam dan masker yang sudah ia rangkai di tubuh indahnya.
Kali ini Latizia tampil berbeda karna mengingat jika pasti akan sulit keluar dari istana jika memakai terusan atau dress.
"Semoga saja tak ada yang menemukanku," Gumam Latizia menatap penampilannya di cermin sudah sangat sempurna.
Karena ini sudah malam jadi sekeliling istana sunyi. Latizia sudah hafal dimana letak para prajurit yang berjaga hingga ia mudah melalui jalan lain yang lebih aman.
Selama perjalanan menuju gerbang belakang istana, Latizia mengusahakan jika ponselnya tak di deteksi siapapun. Ia bergerak dengan sangat hati-hati melalui jalan gelap yang minim penerangan.
"Periksa gerbang belakang!!"
Suara penjaga di depan membuat Latizia yang tadi hendak memanjat gerbang seketika bersembunyi di balik rimbunnya pohon di dekat beton tinggi ini.
"Tampaknya mereka semakin mengetatkan keamanan istana, mengingat sosok harmonika itu belum di tangkap," Batin Latizia melihat banyak penjaga yang mengitari tempat ini.
Lama menunggu mereka berkeliaran, saat ada kesempatan dan sisi lengah dari mereka tentu saja Latizia segera memanjat gerbang belakang istana dengan hati-hati.
Latizia kira ia sudah lolos dengan keluar area gerbang ini namun..
Guuuukk..
Suara Anjing di belakangnya menggonggong keras. Latizia berbalik hingga ia syok melihat bagian belakang istana ternyata di jaga kerumunan anjing yang berpatroli bersama para prajurit.
"Siaal!!" Umpat Latizia kembali memanjat masuk ke dalam area istana sementara prajurit yang tadi ada di dalam langsung berkumpul.
Latizia terkepung, memang mereka hanya melihat sekilas tapi jika seperti ini ia dalam masalah besar.
"Kenapa ada patroli di belakang?! Biasanya tak begini," Gumam Latizia langsung masuk di dalam rimbunnya pohon di tempat persembunyiannya tadi.
Riuhnya anjing dan para prajurit itu membuat alarm keamanan istana berbunyi. Pasti ada sesuatu yang tak beres hingga perkiraannya salah.
"Untung saja tadi Putri Veronica melapor pada Raja jika area pintu belakang harus di awasi. Dan benar saja, ada penyusup yang mencoba masuk!"
Desas-desus mereka bergerak tegas mencari keberadaan bayangan Latizia tadi. Wanita berambut coklat keemasan itu berpikir keras.
Dari watak arogan Putri Veronica, dia tak akan berpikir jauh sampai kesana. Jadi orang di balik ini pasti..
"Brandal satu itu," Batin Latizia menebak jitu. Siapa lagi kalau bukan Milano?! Pasti pria itu yang menyuruh Putri Veronica menemui Raja Barack dan mengatakan hal diluar prediksi.
Karena tak mungkin bisa keluar dalam penjagaan seketat ini, Latizia akhirnya berpikir untuk menemui Milano.
"Pria itu memang benar-benar," Geram Latizia segera mengendap-endap diantara kegelapan. Sebelum lampu besar di kubah istana di hidupkan, ia harus lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.
"Jangan sampai ada yang terlewat! Pasti penyusup itu masih bersembunyi di sekitar sini!!"
Seru para prajurit yang siaga bahkan berkumpul di belakang sini. Latizia akan sangat sulit untuk pergi masuk ke kamarnya hingga wanita cantik itu memutar otak.
"Mereka mengira area belakang sudah bahaya berarti istana utama tak di jaga sekarang," Pikir Latizia memahami konsep ini.
Disaat semua penjaga sibuk mencari di area belakang paviliun, Latizia segera menyelinap masuk ke dalam istana utama. Ia hafal jalan mana yang harus di lalui dan tentu saja tujuannya adalah MILANO.
Setelah berusaha mencapai kamar pria itu, Latizia mengendap dengan niat menyelidik, apa Milano ada di dalam atau tidak?!
"Akhhs.. S..Sayang!"
Erangan Putri Veronica kembali menjalar di telinga Latizia yang syok mematung di depan pintu. Bulu kuduknya merinding mendengar suara lucknat itu lagi dimana-mana.
Baik di kamar Delvin maupun disini. Kerajaan Madison memang tak layak dipimpin oleh dua keturunan seperti ini.
"Akhss...M..Milanoo akhh sayang!"
"Monyet," Umpat Latizia ingin pergi tapi tiba-tiba saja ada rombongan pengawal yang ingin ke arah sini.
Hanya ada satu lorong dan itu tempat sekarang ia berdiri. Latizia bingung harus bersembunyi dimana.
"Periksa seluruh sudut istana. Jangan sampai penyusup itu lolos!!"
Suara Panglima Ottmar turun tangan. Latizia semakin terdesak, ia melihat pintu kamar ini tak di kunci hingga Latizia nekat mendorong pelan lalu masuk tanpa izin.
Saat di dalam kamar luas dan megah ini, Latizia langsung membeku melihat Milano tengah mengaduk-aduk lembah Putri Veronica secara kasar di dekat ranjang sana.
Keduanya membelakangi arah pintu hingga tak ada yang melihat Latizia yang seperti patung tak bergerak.
"S..sayaaang!!! K..kau luar biasaaa!!" Jeritan maut Putri Veronica di buat meledak-ledak oleh Milano yang tak peduli apa jarinya menyakiti wanita itu atau tidak.
Latizia seperti tak bisa mengalihkan pandangan. Ekspresi dan gerakan brutal Putri Veronica seperti di sengat listrik kejang beberapa kali setelah mengalami pelepasan yang perkasa dari tangan kekar maniak satu itu.
"G..Gila!" Batin Latizia seperti gugup bercampur dengan hasrat yang melambung. Saat melihat semua itu, munafik jika tubuhnya tak merespon sama sekali.
Bahkan, sekarang bagian bawahnya seperti akan meneteskan sesuatu yang bisa di sebut madu kehidupan.
Terdengar cukup menggelikan tapi itulah adanya. Latizia seperti tertahan di sebuah ruangan yang juga rugi untuk di lewatkan.
"T..tidak. Sadarlah! Kau bukan wanita seperti itu," Batin Latizia menggeleng kuat.
Karena kamar ini begitu luas jadi Latizia tak ingin larut berlama-lama. Ia mengintip ke sela pintu dimana para pengawal itu masih ada di sekitaran lorong lantai ini.
"Shitt! Aku harus apa?"
"Bergabung denganku?"
Degg..
Latizia terkejut saat ada suara bisikan di telinganya. Ia tak berbalik karna wajah tampan dan licik seseorang sudah ada di dekat bahunya.
"K..kau.."
"Kau datang sendiri tanpa ku paksa, hm?" Desis Milano menjilati daun telinga Latizia yang seketika ingin membentaknya tapi sadar jika keadaan tak mendukung.
Ia melirik ke arah ranjang king size yang sudah basah itu. Putri Veronica sudah tak sadarkan diri setelah meraung keras seperti ingin melepas nyawanya.
Tatapan Latizia seperti bingung akan hal itu. Tentu saja Milano paham betul bagaimana cara membuat wanita tak dapat bernafas penuh kenikmatan bersamanya.
"Kau ingin mencoba?" Tawar Milano tapi segera mendapat tatapan tajam dari manik ungu mistik Latizia.
"Pria tak tahu aturan."
"Mau bicara aturan denganku, hm?" Tanya Milano mengusap jarinya yang tadi bekerja mengaduk liang wanita itu ke bahu jaket Latizia yang mendidih.
"Kauu!! Apa-apaan kau, ha??!" Geramnya tertahan menepis tangan Milano dengan tatapan jijik.
Milano yang masih berpakaian lengkap dengan kemeja sudah terbuka itu tampak sangat seksi. Dada berotot dan perut berkotaknya memang pantas menjadi lambang keperkasaan tapi..
Tapi bagi Latizia, ini menjijikan. Ia bahkan sudah mual mencium aroma tak bermoral seperti ini.
"Kau yang menjebakku-kan?" Hardik Latizia menunjuk kiri wajah tampan Milano yang tak pernah di perlakukan seperti ini.
Latizia sama sekali tak terkesima akan ketampanannya tapi wanita ini justru sangat berani dekat dengannya.
"Turunkan jarimu!"
"Kenapa? Bahkan aku sangat ingin mencongkel matamu."
"Lakukan!" Tegas Milano mendekatkan wajahnya.
Sontak Latizia menelan ludah berat. Ia akui ketampanan pria ini tak bisa di tawar tapi tetap saja, ia tak suka.
"A..aku.."
"Wanita sepertimu hanya bisa MEMBUAL," Tekan Milano dingin segera menarik kasar masker di wajah Latizia hingga ekspresi dongkol dan marahnya tak lagi di sembunyikan.
Bibir mungil itu merapat menahan emosi. Mata ungu mistiknya seperti akan menelan Milano hidup-hidup.
"Kau tunggu saja. Gelar mu tak hanya Pangeran tak berguna tapi juga, BRANDAL MESUM," Tekan Latizia tapi itu hanya di jawab seringaian iblis Milano sama sekali tak gentar.
Dimatanya, Latizia hanya seorang merpati yang mengoceh tak tentu arah padahal penakut.
"Kau ingin melawanku?"
"Kau siapa pantas menjadi musuhku?!" Sinis Latizia beradu tatapan sengit sampai Milano sengaja menarik pinggang Latizia hingga wanita itu jatuh ke pelukannya.
"Kau..."
"Lihat ke sampingmu!" Bisik Milano membuat Latizia segera menatap ke arah ranjang dimana Putri Veronica baru saja bangun.
Wajah wanita itu kelap menatap murka Latizia yang justru langsung mendorong Milano dari tubuhnya.
"WANITA PENGGODAA!!!" Keras Putri Veronica membuat para pengawal di depan langsung mendekat ke kamar.
Latizia menatap tajam Milano yang menaikan satu alisnya dengan sudut bibir terangkat puas.
"Kauuuu!!!"
.....
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Khotinah Busro
awalnya bingung ngikutin alurnya eehh lama"asyik jg
2023-10-06
2
@ida_delima
asli keren thor novelnya awalnya se gk ngerti tp makin ksini makin penasaran...😍
2023-09-06
1
Vanny Candra
lanjut thor
2023-08-17
0