Pagi ini Latizia kembali pada rutinitas biasa. Ia selalu membersihkan kamar Delvin sehabis bercinta dengan para ja**langnya. Tentu saja kepahitan itu selalu Latizia telan.
Pemandangan matanya setiap pagi akan menyapu ranjang yang berantakan dan ceceran tak bermoral di lantai. Sungguh, Latizia terkadang juga penasaran bagaimana rasanya tapi ia sadar jika Delvin tak akan pernah meliriknya.
Saat berkemas di kamar ini, Latizia menemukan sebuah gelang berlian yang jatuh di dekat sofa.
"Mungkin ini milik wanita itu," Gumam Latizia segera mengambilnya lalu ia kembali memakai syal dan selendang tipis menutupi wajahnya yang masih memar merah.
Ia tak mau di salahkan lagi oleh Delvin. Setidaknya memberikan benda ini pada pria itu bisa membuat hidupnya lebih tenang sesaat. Pikir Latizia begitu.
Latizia mengendap masuk ke dalam istana utama. Ia tak lewat jalan yang ramai pengawal melainkan ada jalur sempit yang biasa ia lewati saat ingin melihat-lihat ke luar paviliun belakang.
Namun, saat Latizia melewati sebuah lorong menuju lantai dasar istana ia tak sengaja melihat sesosok wanita tanpa busana tengah berpeggangan ke daun pintu yang terbuka lebar.
"Itu.."
Latizia tersentak saat melihat jika itu adalah putri Veronica. Dari gerakan dan raut wajah panas dan erotisnya ia sepertinya tengah menerima hujaman perkasa dari seseorang dari dalam kamar bahkan, lulungan nikmatnya sampai terdengar kesini.
Antara jijik, bergairah dan sulit di terima akal sehat bercinta disini. Latizia langsung bersembunyi di pembatas dinding.
Jantungnya berdebar dan hasrat kian merayap mendengar suara wanita itu.
"A..apa senikmat itu?! Tapi..tapi seharusnya tak melakukannya dengan tempat terbuka," Batin Latizia merasa panas sendiri.
Ia tak pernah merasakan belaian tangan laki-laki atau semacamnya. Apalagi, Latizia normal dan tak munafik jika ia juga ingin seperti itu tapi..
"T..tidak! Aku punya kehormatan. Jika bukan dengan pria yang layak, aku tak bisa melakukan itu sembarangan," Tekan Latizia pada dirinya sendiri.
Ia lihat secara sembunyi ke arah putri Veronica yang seperti cacing kepanasan di depan pintu sana.
Tiba-tiba bulu kuduknya merinding, betapa perkasanya pria brandal itu sampai membuat mulut Putri Veronica seperti ikan di daratan tak pernah berhenti terbuka.
"Bagaimana caraku bisa lewat?! Mereka memang tak punya moral bercinta disini," Umpat Latizia kesal bukan main. Ia mondar-mandir di balik dinding pembatas lorong lalu melihat kembali ke arah Putri Veronica yang tiba-tiba tumbang ke lantai depan dengan keras tak berdaya.
Latizia meremas pinggir dressnya melihat Milano yang memiliki tubuh kekar dan atletis menyodorkan jempol kakinya ke bibir Putri Veronica dan..
"D..dia.."
Latizia menutup mata saat Putri Veronica seperti manusia rakus dan liar melakukan hal seperti itu. Wajah tampan Milano tampak berkeringat tapi ia tak terlihat seperti seorang suami tapi lebih pada tuan yang memperbudak pelayannya.
Padahal, yang Latizia kira selama ini adalah Putri Veronica-lah yang akan membuat Prince Milano seperti budak di ranjangnya. Haiss.. pria ini bahkan lebih perkasa dari Delvin.
Pikir Latizia seperti itu. Namun, ia segera meneggang saat matanya tak sengaja bersitatap intens dengan manik hazel pekat tajam mematikan milik Milano yang tiba-tiba menyeringai iblis.
"D..dia.."
Jantungnya kembali memberontak hebat. sekujur tubuhnya mengigil seakan-akan takut di terkam oleh elang Madison yang siap membuatnya terkapar lemas.
Dengan cepat Latizia memutus kontak mata dan segera pergi terburu-buru dari sini. Milano yang melihat itu seketika kembali pada Putri Veronica yang masih sedia berlutut di hadapannya memuja senjata perkasa yang begitu di kagumi wanita ini.
"M..Milanommm!"
Tanpa sepatah-katapun Milano mendorong bahu Putri Veronica melepas hisapan itu dan ia kembali ke kamar dengan wajah dingin tak berubah.
"Jangan masuk!" Titah Milano pergi ke kamar mandi dengan angkuhnya.
Putri Veronica yang masih ingin menyentuh tubuh Milano terasa di aduk-aduk oleh hasratnya sendiri.
"Dia selalu saja bertindak semaunya," Umpat Putri Veronica memukul lantai ini kasar.
Ia berdiri dengan susah payah karna ia akui kepiawaian Milano di ranjang memang membuatnya sulit marah pada pria itu. Alhasil, apapun tabiat buruk Milano ia akan terima asal hasratnya terpenuhi.
Sementara Milano, ia berdiri di bawah guyuran shower seraya memejamkan mata. Bayangan wajah polos dan tatapan lugu Latizia padanya tadi membuat jiwa iblis Milano meledak-ledak.
"Kau pion yang sangat sempurna," Batin Milano sudah tahu, apa yang akan ia lakukan pada Latizia.
.......
Di tempat lain, Latizia berjalan cepat keluar dari istana utama. Ia sampai mengibas gemetar ntah kenapa bisa seperti ini setiap bersitatap dengan pria itu.
"Ada apa denganku?!" Gumam Latizia berusaha mengambil nafas tenang. Ada bangku kosong yang ada di dekat Labirin bunga mawar di belakang istana hingga Latizia duduk untuk menenangkan diri.
Ia melepas syal dan kain di wajahnya hingga keringat dingin itu sampai keluar di sela pori-pori wajah Latizia.
"A..apa yang dia lakukan?! Dia..dia pasti ingin melakukan sesuatu," Resah Latizia merasa gugup dan lumayan ketar-ketir.
Ia tak mau melihat pria itu lagi karna akan seperti hantu yang merambat dimana-mana. Emosi dan hawa tak biasa yang berkobar di diri lelaki buas itu seperti menelan Latizia hidup-hidup.
"Tenangkan dirimu. Tarik nafas dan jangan terpengaruh!"
"Kau menemukan gelang di kamarku?" Suara ketus Delvin datang dari belakang. Latizia seketika menormalkan raut wajahnya dan menyodorkan gelang itu.
"Lain kali simpan dengan benar. Aku tak akan memungut dua kali!"
Delvin hanya memiringkan bibirnya sinis merampas gelang itu dari tangan Latizia yang tampak tak berniat buruk padanya.
"Ku pikir kau akan mencuri perhiasan mahal ini," Hardik Delvin menyimpan gelang itu dalam saku celananya.
Latizia hanya memutar bola mata jengah. Ia tak melayani obrolan rendah Delvin yang hanya akan memojokkannya.
"Mulai saat ini, kau jangan lagi muncul di hadapan publik. Aku tak bisa menjamin kau akan selamat dua kali!"
"Menyelamatkanku?!" Decah Latizia menerbitkan senyum sarkas. Jelas-jelas Delvin hanya menjadikannya tameng untuk melindungi diri ketika terdesak.
"Setidaknya aku tak membuatmu mati sebelum waktunya. Bersyukurlah sedikit."
Latizia hanya diam. Delvin begitu puas mengejeknya dan pergi begitu saja. Apa yang lebih buruk dari ini?! Terlalu mudah di jadikan lulucon.
Lama melamun disini, Latizia mulai bosan. Ia berniat untuk kembali ke kamar belakang tapi sebelum itu matanya kembali menatap ke teras atas Istana dimana sesosok pria brandal tadi merokok dengan tatapan tajam tertuju padanya.
"Ntah apa lagi yang akan dia perbuat?!" Gumam Latizia merasa di awasi. Latizia memilih pergi tak ingin bertemu lagi dengan sosok aneh itu bahkan ia bertekad tak mau melihat adegan dewasa mereka.
Mata sucinya jadi ternodai walau sudah sering merekam adegan tak bermoral Delvin di kamar mereka.
Tak berselang lama kepergian Latiza, tiba-tiba saja wanita itu berteriak dari arah kamar belakang.
Milano yang mendengar itu tampak santai seperti sudah tahu apa yang terjadi. Ia menghembuskan asap rokoknya ke udara lalu menarik sudut bibirnya licik.
"Kejutan!" Gumamnya seperti terhibur sendiri. Ntah apa yang terjadi pada Latizia sampai ekspresi wajah Milano seperti baru saja memberi kado istimewa pada wanita itu.
....
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Sandisalbiah
mereka para lelaki yg kejam berhati iblis.. ganas seperti singa lapar tp ujungnya bakal berubah seperti kucibg anggora saat jd budak cinta..
2024-10-26
0
Jihan
typo
2024-06-03
0
Vanny Candra
lanjut thor
2023-08-17
1