Malam ini seperti biasa patroli di langsungkan. Prajurit kerajaan menyebar ke semua wilayah, bukan untuk menjaga melainkan menjarah rakyat yang terus di landa kekhawatiran setiap saat.
Tak ada yang bertindak sama sekali. Kerajaan seperti monster yang selalu menarik korban dan nyawa rakyat yang tak bisa membantah sama sekali.
Anak gadis, suami dan pemuda yang ada di wilayah itu seakan sengaja di pelihara agar bisa di oper ke istana.
Seperti sekarang. Latizia melihat dari teras atas kubah bagaimana banyak gadis muda yang di bawa ke paviliun belakang untuk di jadikan pelayan dengan upah yang tak seberapa.
Para pemuda yang seharusnya duduk di bangku sekolah dan menuai pendidikan, mereka di paksa berjaga siang malam hanya karna rasa takut Raja akan pemberontak ber harmonika itu.
"Sampai kapan hal ini akan terus terjadi?!" Gumam Latizia merasa kasihan. Ia jadi muak dengan pengaturan kerajaan.
Hanya demi keuntungan sepihak, rakyat seperti sapi perah yang selalu memproduksi kelahiran agar di jadikan budak.
Dari atas sini Latizia bisa melihat Delvin yang tengah memantau jalannya patroli malam ini.
"Tidak bisa. Aku harus melepaskan mereka."
Latizia segera berjalan turun dari teras atas istana dan segera pergi ke area belakang. Banyak pengawal yang tengah berkeliaran di dalam sini tapi untung saja Latizia tak di anggap penting.
"Lepas!! Aku..aku mau kembali pulang!"
"Aku mau ibuku!"
Tangisan dan permohonan itu terdengar di belakang sana. Latizia hanya bisa bersembunyi di area gelap istana melihat para gadis muda di bawa ke paviliun pelayan.
Sementara pelayan yang sudah lanjut usia, di pulangkan ke rumah mereka tanpa di bekali apapun. Memang sangat kejam.
Kepala Pelayan Ossi terlihat membantu menangani para gadis itu. Mereka di paksa memakai pakaian pelayan agar bisa membersihkan istana yang luas ini.
"Jangan menangis! Ini adalah pengabdian kalian terhadap kerajaan!"
Tegas Kepala Pelayan Ossi memasukan mereka ke papiliun. Latizia hanya diam memantau segalanya.
"Kenapa kau disini?"
Tiba-tiba Delvin ada di belakang Latizia yang sempat terhenyak tapi ia segera menstabilkan raut wajahnya.
"Kau ingin melakukan sesuatu?!" Tanya Delvin menaikan satu alis sinis.
"Urus saja tanganmu yang patah itu!" Ketus Latizia pergi ke area paviliun yang biasa ia tinggali.
Delvin menatap murka Latizia. Semenjak menjadi bawahan Milano, ia jadi begitu berani dan sangat serius.
"Lama dengan pria itu, kau menjadi brandal seperti dirinya!" Umpat Delvin kembali melanjutkan tugasnya.
Sementara Latizia di kamar belakang sana ia memeriksa keadaan Ninu. Yah, Ninu adalah seekor merpati yang sudah lama hidup bersamanya dari sejak di kerajaan Garalden.
"Apa kau kesepian?" Tanya Latizia menurunkan sangkar kayu berukiran cantik yang mengurung merpati putih itu.
Latizia memberi Ninu makan dengan telaten. Ia melirik ke belakang dimana para prajurit itu masih melakukan pekerjaannya.
"Aku tak bisa bergerak sekarang Delvin masih ada di sana!" Batin Latizia berusaha mengulur waktu.
Tak beberapa lama kemudian. Ada suara tembakan yang beruntun datang dari arah hutan yang mengelilingi istana.
Latizia berdiri melihat para prajurit istana yang tadi bekerja terpaksa menghadang penyerangan dalam gelap ini.
"Apa yang terjadi?!" Gumam Latizia tak mengerti. Ia memasukan Ninu ke dalam kamar lalu ia keluar melihat Delvin yang berteriak menyerukan setiap prajurit agar menangkap orang-orang di balik kegelapan sana.
"Apa yang kalian tungguu??! Cepat tangkap mereka!!"
"B..baik!"
Jawab mereka gemetar. Delvin sangat pucat melihat banyak prajurit istana yang mati berlumuran darah dan tak ada yang bisa di andalkan.
"Panggil Panglima Ottmar!!" Ucapnya segera berlari masuk ke dalam istana.
Latizia sungguh jijik melihat Delvin seperti babi yang ketakutan hanya karna suara baku tembak ini. Apa dia seorang pria?! Atau mungkin hanya banci pewaris tahta?!
Pikir Latizia merasa menyesal pernah jatuh cinta pada pria seperti itu.
"Dengan kemampuan dasar prajurit yang hanya di tarik dari rakyat tanpa pelatihan ini hanya akan menambah korban," Gumam Latizia memantau dari sini.
Anehnya, hujan peluru yang datang dari arah hutan itu hanya mengenai para prajurit istana. Bukan anak muda yang baru di ambil malam ini.
"Sebenarnya apa tujuan mereka?!" Gumam gumam Latizia bingung.
Dalam diam ia melihat ada beberapa bayangan gelap yang menyelinap masuk ke area istana lalu menarik semua tawanan yang tadi baru di bawa.
"Masa bodoh dengan mereka. Lebih baik aku melepaskan pelayan yang ada di paviliun," Lirihnya segera pergi ke paviliun pelayan.
Latizia melihat Kepala Pelayan Ossi yang tampak tak bisa mengendalikan tangis para gadis itu.
"Tunggu disini! Aku akan melapor pada Raja!"
Ucapnya segera pergi. Latizia memanfaatkan keadaan tak stabil ini dengan membuka pintu paviliun hingga 10 gadis remaja yang masih belia itu tampak histeris.
"Pulaang!! Kami mau pulang!!"
"Susst! Jangan berisik!" Tekan Latizia melihat jika para prajurit di depan sana masih kewalahan menghadapi serangan.
"Ikuti aku! Kalian jangan sampai berteriak, paham?"
"B..baik!"
Jawab mereka mengangguk. Latizia membimbing jalan. Ia pergi ke area gerbang belakang yang pasti tak akan di jaga karna mereka fokus melawan para pemberontak itu.
"Keluar dari sini! Kalian lari tapi jangan dulu pulang ke rumah kalian!" Pinta Latizia membuka gerbang.
Mereka semua lari keluar dari dalam istana. Tapi, sayangnya ada salah satu prajurit yang melihat itu semua.
"Apa yang kau lakukan, haa??"
Seru pria itu tapi Latizia segera menutup gerbang belakang. Saat Latizia ingin di tarik paksa tiba-tiba saja suara harmonika yang tadi tak terdengar seketika mulai naik mengguncang.
"Suara ini," Gumam Latizia merasa familiar. Para prajurit yang tadi kewalahan menangani penyerang gelap itu segera pergi menuju istana untuk meminta perlindungan.
"Aku tak mau mati sia-sia!!"
Teriaknya tapi ritme harmonika ini seperti biasa sangat menikam gendang telinga. Angin berhembus bak sabetan pedang membuat dedaunan terbang menuju bulan.
Selalu saja seperti ini. Hawanya juga tak biasa bahkan penuh dengan amarah dan dendam.
"Aaaaa!!!"
Teriak mereka memeggang telinganya sama seperti di malam itu. Latizia tak merasakan sakit seperti yang di rasakan oleh orang-orang di depan sana.
"Aku harus mencari tahu," Gumam Latizia keluar dari gerbang belakang dan melihat dimana asal suara itu.
Pohon-pohon yang saling bergesekan dan ranting yang patah akibat gejolak angin yang murka membuat malam ini seperti ranah pembantaian.
Suaranya seperti datang dari semua penjuru. Aku tak bisa menemukan dimana sumbernya.
Pikir Latizia tak mengerti. Ia masuk ke dalam rimbunnya hutan hanya memanfaatkan cahaya bulan yang cukup untuk menerangi jalan.
Whusss...
"S..siapa?" Tanya Latizia saat ada yang lewat begitu cepat di belakangnya. Latizia berkeringat dingin, ia menatap waspada kegelapan ini dan berjalan mundur agar lebih aman.
Suasana begitu mencekam. Teriakan di istana dan suara harmonika yang mengerikan ini membuat bulu kuduk Latizia mekar merinding.
Tanpa disadari olehnya, ada sesuatu yang besar berdiri di belakang Latizia yang berjalan mundur sampai membentur bulu lebat dan hawa buas ini.
"I..ini.."
Latizia berbalik dengan gugup melihat apa yang barusan ia tabrak dan...
Brugh..
Latizia pingsan tak sadarkan diri. Ia jatuh tepat di kaki hewan buas berbulu yang memiliki mata merah bak obor menyala dengan taring tajam yang siap mencabik mangsanya.
Hewan liar itu ingin mengigit tengkuk Latizia tapi tiba-tiba ia urungkan saat melihat tuannya sudah datang.
"Itu bukan makananmu!" Dinginnya berdiri gagah di depan Singa ganas ini. Sosok itu berjubah hitam besar dengan hawa mendominasi yang kuat.
Ia berjongkok menggendong Latizia yang bodohnya keluar dalam keadaan seperti ini.
"Iring semua manusia itu ke wilayah kita!" Titahnya segera pergi begitu cepat bak kilatan cahaya yang tak di tangkap oleh mata.
....
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Agus Tina
Baru mampir di tahun ini, suukaaaaaa
2024-08-29
0
Yuli Yanti
slalu jatuh cinta sma cerita nya
2023-12-08
0
Khotinah Busro
mantap thor,ga jenuh ga bosen bacanya
2023-10-06
0