Bab 20

Malam itu kami makan malam bertiga. Rose menyiapkan berbagai makanan dan minuman kesukaan kaum elf. Aku merasa seperti sedang berada di rumah. Mungkin Eldrin pun juga merasakan hal yang sama. Hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang begitu bahagia ketika menyantap makanan yang Rose siapkan.

"Bagaimana dengan Ayara?" tanyaku.

Ingatanku melayang pada pelayan dan tabibku yang begitu baik.

"Kuharap dia baik-baik saja." Eldrin kembali menyantap makanannya seolah dia begitu kelaparan.

"Ayo makanlah yang banyak!" Rose tampak bersemangat sekali saat ini.

Mungkin keberadaanku dan Eldrin di rumahnya juga membuatnya merasa seperti kembali ke hutan Mirkwood.

"Rose, aku ingin mendengar kisah mu dengan Tristan."

Mendengar aku menyebutkan nama kekasihnya yang telah tiada, dia bersandar di kursinya dan meletakkan makanannya. Kuharap aku tidak membuatnya kehilangan selera makan. Dia tampak termenung. Kini aku merasa bersalah telah menanyakan hal ini padanya.

"Dia pria yang begitu baik." Ia menghentikan ucapannya dan wajahnya tampak mengulas senyum bahagia.

"Dulu dia selalu membawakan ku sebuket bunga setiap kali dia pulang ke rumah setelah seharian bekerja." Kali ini matanya menyorotkan perasaan cinta yang terlihat jelas.

Aku melihat Eldrin begitu antusias mendengarkan kisahnya.

"Dia juga begitu mengagumi ku. Kami selalu menjalani hari-hari dengan bahagia. Seringkali dia berpura-pura bisa melakukan sihir dan menyembuhkan tanaman bunga kami yang patah." Ia tertawa mengenangnya.

Kami berdua ikut tersenyum mendengar kisahnya.

"Namun kebahagiaan kami tidak berlangsung terlalu lama. Suatu hari ia jatuh sakit. Aku sudah berusaha untuk menyembuhkannya namun ternyata takdir memaksaku untuk menerima kepergiannya untuk selamanya." Kali ini tatapannya berubah menjadi sedih dan terluka.

"Maafkan aku karena membuatmu mengingat kejadian itu," ujarku dengan nada menyesal.

"Tidak, tidak apa-apa!" ujarnya menggelengkan kepalanya. "Satu hal yang menjadi keinginan kami berdua namun belum sempat terwujud," ucapannya terhenti dan wajahnya kembali tampak terluka.

"Apa?" tanyaku dengan suara pelan.

"Tristan begitu menginginkan kehadiran seorang anak di antara kami," ujarnya dengan suara yang begitu pelan.

Hatiku merasa trenyuh mendengar pengakuannya. Mungkin itulah sebabnya Rose begitu perhatian padaku. Bukan hanya karena kami berasal dari dunia yang sama, melainkan karena dia juga begitu merindukan kehadiran seorang anak.

"Aku turut berduka atas kepergian Tristan." Kali ini Eldrin menatapnya dengan sorot prihatin.

"Ya, terkadang kita harus menerima apa yang tidak terelakkan dan harus menerima kehilangan." Tatapan Rose beralih padaku.

Aku menunduk dan memandangi makananku yang masih tersisa di piringku. Aku tidak berselera untuk menghabiskan makananku.

"Ayo habiskan makanannya!" serunya.

Eldrin menghabiskan sisa makanan di piringnya sementara aku hanya terdiam menatap sisa makananku.

"Eleanor, makanlah agar kau dan bayimu sehat!" Rose menunjuk makanan di piringku yang masih tersisa banyak.

Apa yang dia ucapkan ada benarnya juga. Saat ini aku harus mengutamakan kesehatan bayiku. Aku memaksa diriku untuk menghabiskan sisa makananku.

Setelah selesai makan. Kami berkumpul di ruang tamu.

"Eldrin, dulu kau suka sekali bermain di tepi barat hutan ketika kau masih kecil." Rose mengenang masa lalu nya.

"Kau masih mengingatnya!" seru Eldrin.

"Mana mungkin aku lupa!"

Mereka berdua tertawa.

"Di mana aku saat kau bermain di tepi barat hutan?" tanyaku penasaran.

"Saat itu kau belum lahir." Kali ini tatapan Rose beralih ke arahku dengan penuh kasih sayang.

Perhatiannya terhadap kami berdua membuatku merasa nyaman.

"Aku penasaran kenapa Dimitri bisa melewati dinding pembatas dan kembali ke dunia manusia," ujar Eldrin.

Pertanyaan Eldrin sontak membuat suasana di ruangan ini menjadi tegang.

"Entahlah," ujarku pelan.

Membicarakan Dimitri seolah membuat lukaku kembali berdarah. Sepertinya luka ini tidak akan pernah sembuh. Aku pernah mendengar orang berkata bahwa waktu akan menyembuhkan semua luka. Namun sepertinya bagiku tidak begitu. Aku begitu yakin bahwa luka yang kini aku alami tidak akan pernah sembuh. Mungkin nanti aku hanya akan merasa terbiasa hidup dengan luka ini.

"Seharusnya seseorang yang tidak sengaja masuk ke dalam hutan kami tidak akan bisa menemukan dinding pembatas nya apalagi menyeberanginya." Eldrin mengerutkan keningnya.

Aku memikirkan apa yang diucapkan Eldrin. Masih menjadi misteri hingga saat ini bagaimana caranya Dimitri keluar masuk hutanku. Mengapa selama kami bersama, ia tidak pernah mengatakan padaku bagaimana caranya ia melakukan hal itu? Ah, aku ingat sesuatu! Saat itu aku mengira dia akan tinggal bersamaku selamanya di hutanku. Aku tidak pernah menyangka dia akan membohongiku.

Aku merasakan amarahku mengalir di dalam dadaku. Sejak awal dia tidak pernah mencintaiku. Semua kata-kata manisnya hanyalah kebohongan. Semua sentuhan lembutnya di tubuhku hanyalah pelampiasan nafsunya! Aku membencinya! Aku membenci Dimitri! Tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena aku pernah mencintainya.

"Abigail melihatnya melewati dinding pembatas," ujarku pelan.

"Abigail?" tanya Eldrin dengan kepala dimiringkan seolah ia tidak pernah mendengar nama itu.

"Ya, peri kecil yang selalu terbang mengikutiku." Suaraku menjadi semakin pelan di akhir kalimat.

"Dimana peri mungil itu sekarang?" Eldrin mengarahkan tatapannya ke seluruh penjuru ruangan.

"Dia sudah meninggal. Tubuhnya menjadi lemah ketika melewati dinding pembatas. Dia tidak mampu bertahan." Aku mengerjapkan mataku untuk mengusir air mata yang mulai merebak.

"Kenapa kau tidak menyembuhkannya dengan sihirmu?" tanya Eldrin.

"Aku sudah mencobanya berkali-kali. Tapi sihirku tidak berfungsi di sini," ujarku pelan.

"Tidak mungkin! Aku masih bisa merasakan kekuatan sihirku dan bisa menggunakannya saat ini!" pekiknya tak percaya.

Eldrin mengangkat satu telapak tangannya ke udara. Dia menggumamkan mantra singkat dan tiba-tiba telapak tangannya berpendar. Serbuk emas berterbangan di atas telapaknya. Aku menatap takjub ke arahnya. Beberapa detik kemudian pendar itu lenyap seiring dengan berakhirnya mantra yang ia gunakan.

"Kenapa kekuatanku tidak berfungsi di sini?" tanyaku.

"Entahlah, mungkin karena dirimu sedang mengandung anak manusia." Ia menunjuk ke arah perutku.

Aku menoleh ke arah Rose.

"Mungkin benar apa yang kakakmu ucapkan," ujarnya.

Mungkin apa yang dipikirkan Eldrin memang benar. Nanti setelah aku melahirkan, aku ingin kembali mencoba kekuatan sihirku. Saat ini aku tidak terlalu memikirkannya. Kami kembali bersantai.

Perhatian kami teralih ketika terdengar suara ketukan di pintu. Rose bangkit dan berjalan ke arah pintu serta membukanya. Di balik pintu itu berdiri Dimitri yang menatapku dan Eldrin.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!