Mataku membelalak kaget mendengar apa yang baru saja aku dengar diucapkan oleh wanita itu. Aku tidak mempercayai apa yang dia katakan. Mana mungkin Dimitri memiliki istri? Tidak mungkin! Aku pasti salah orang. Mungkin ini rumah orang yang memiliki nama yang sama dengan Dimitri-ku.
Aku menunggu si pemilik rumah untuk keluar dan memastikan bahwa aku pastilah salah orang.
"Rose, sepertinya kita salah rumah." Aku menoleh ke arahnya.
Rose hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Wajahnya tampak cemas dan tegang. Aku kembali menoleh ke arah rumah yang ada di depanku. Wanita itu masih belum kembali.
"Bagaimana kalau kita pergi saja dari sini dan mencari Dimitri-ku?" Aku kembali berbicara dengan nada tidak sabar pada Rose.
Aku kembali menoleh ke arah pintu rumah itu ketika aku mendengar suara langkah kaki yang mendekati pintu. Di sana, berdirilah Dimitri dengan wajah terkejut yang menatap ke arahku. Tangannya merangkul bahu wanita tadi yang menemui diriku.
Tatapanku tertuju lekat pada wajahnya. Aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Dia adalah Dimitri-ku! Ayah dari anak yang sedang aku kandung. Aku menatap wajah tampannya. Aku menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Dia sama sekali belum berubah. Dia masih tampak sama seperti ketika terakhir kali kami bersama. Tapi tatapannya kali ini seperti sorot khawatir.
"Dimitri," ujarku dengan suara pelan dan senyum yang tersungging di bibirku. Mungkin wanita yang sedang berdiri di sampingnya adalah saudaranya.
"Eleanor," jawabnya pelan.
Aku ingin segera berlari ke arahnya dan memeluknya. Aku ingin segera meluapkan kerinduanku yang telah lama aku pendam. Aku melangkah untuk menghampirinya. Namun langkahku terhenti ketika dia memperkenalkan wanita yang sedang berada di sampingnya.
"Ehm .. Perkenalkan dia Adeline, istriku." Suaranya terdengar datar. Tidak seperti suara Dimitri-ku yang selalu berbicara dengan nada riang dan lembut di telingaku.
Aku menghentikan langkahku di depannya. Aku menoleh ke arah Adeline yang sedang tersenyum ke arahku. Ia mengulurkan tangannya ke arahku namun aku masih berusaha untuk mencerna situasi ini.
"Dia Eleanor, keponakanku." Aku merasakan Rose merangkul bahuku. Saat ini ia berdiri di sampingku.
"Silahkan masuk!" ujar Dimitri dan mempersilahkan kami berdua untuk masuk ke dalam rumahnya.
Aku diam mematung di hadapannya. Aku bagaikan tersambar petir. Aku tidak tahu harus berkata apa atau harus melakukan apa. Semuanya terasa salah. Aku merasakan mataku memanas. Mungkin inilah sebabnya kenapa sejak tadi sikap Rose begitu murung dan khawatir. Rose telah mengetahui bahwa Dimitri menikah dengan orang lain!
Hatiku terasa hancur. Dadaku terasa begitu sesak. Dunia ku telah runtuh di hadapanku. Kini tak ada lagi yang tersisa. Aku berbalik dan berlari meninggalkan mereka semua. Aku mendengar suara Rose berteriak memanggil namaku namun aku mengabaikannya dan aku terus berlari tak tentu arah.
Aku terus berlari tanpa tahu ke mana tujuanku. Yang ada di pikiranku hanyalah kesadaran bahwa hidupku telah benar-benar hancur. Kini tak ada lagi yang tersisa untukku. Aku merasakan kakiku mulai sakit karena berlari begitu jauh. Pandangan mataku terasa kabur karena air mata yang membanjiri pipiku.
Aku memelankan lariku dan berjalan entah kemana. Bahuku berguncang akibat isak tangisku. Nafasku memburu dan terengah-engah. Aku merasakan keringat membasahi keningku. Aku menghentikan langkahku dan terduduk lemas di depan sebuah patung dewi Yunani.
Aku menengadah menatap patung itu. Itu adalah patung Aprodhite Sang Dewi Cinta. Kenapa ada patung seperti ini di tempat ini. Aku bersandar di bawah patung itu. Saat ini patung itu merupakan saksi betapa hancurnya hatiku. Cinta yang awalnya terasa manis kini bagaikan racun yang mengaliri jiwaku.
Aku memeluk lututku dan menunduk lesu dengan air mata yang seolah tak mau berhenti. Bahuku terus berguncang. Apa yang akan aku lakukan setelah ini? Aku telah meninggalkan semua yang aku miliki demi Dimitri. Namun kini yang tersisa hanyalah kenyataan pahit bahwa Dimitri telah bersama wanita lain.
Aku merasa seolah ada yang menyumbat tenggorokanku. Sakit ini terasa menghunjam ke dalam jantungku. Mataku mulai bengkak karena menangis.
"Ayo, pulanglah!" Aku mendengar suara lembut Rose di sampingku.
Aku menengadah menatapnya. Ia duduk berlutut di sampingku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku semakin terisak dalam pelukannya.
"Ayo pulang," ujarnya lembut.
Aku menggeleng ke arahnya tanpa mengucapkan sepatah kata. Rose menggosok punggungku untuk menenangkan ku. Aku merasakan Rose menarik bahuku untuk mengajakku berdiri. Aku menolaknya.
"Eleanor, jangan seperti ini!" Ia mengguncangkan bahuku.
"Kenapa dia mengkhianati aku?" Air mataku kembali mengalir deras.
Rose mengusap air mataku. Wajahnya tampak terluka.
"Rose, kenapa cinta terasa begitu menyakitkan seperti ini?" Aku kembali terisak.
Rose mangangguk dan kembali memelukku.
"Ayo kita pulang," bujuknya sekali lagi.
Aku menurutinya. Aku berdiri dengan limbung. Rose merangkul bahuku dan menuntunku ke arah rumahnya. Aku berjalan dengan lunglai. Sesekali aku merasakan gerakan kecil dari dalam perutku. Namun kali ini, seiring dengan setiap gerakan yang aku rasakan dari dalam perutku, aku merasakan hatiku semakin sakit.
Kami berdua telah sampai di rumah Rose. Ia mendudukkan ku di sofa. Aku masih menatap kosong. Kini jiwaku terasa begitu kosong dan hampa.
"Aku akan mengambilkan minuman hangat untukmu," ujarnya dan berjalan pergi meninggalkanku.
Aku bersandar di sofa dan memejamkan mataku. Kali ini pikiranku dipenuhi oleh bayangan Dimitri yang sedang merangkul wanita itu. Adeline. Aku mengepalkan kedua tanganku. Air mataku kembali mengalir dari sudut mataku.
"Eleanor, minumlah!"
Aku membuka mataku dan mendapati Rose sedang menyerahkan segelas minuman hangat ke arahku. Wajahnya menampakkan luka yang begitu dalam. Aku meraih gelas itu namun tidak meminumnya. Aku tidak berselera untuk melakukan apapun.
"Rose, apa yang salah denganku hingga ia rela meninggalkan aku demi wanita itu?"
"Tidak ada yang salah denganmu, Sayang. Dia yang tidak melihat cahaya keindahanmu tidak pantas untuk berada di sisimu!" Dia duduk di sampingku dan merangkul bahuku.
"Kau tahu, aku telah meninggalkan segala yang aku miliki bahkan duniaku demi dirinya!" Aku mengucapkannya tanpa menoleh ke arahnya.
"Ya, aku mengerti."
"Tidak! Kau tidak mengerti!" Kali ini aku menoleh ke arahnya dan nyaris menjerit saat mengucapkannya.
Aku melihat wajahnya terluka. Aku kembali terisak dan menangkupkan wajahku ke dalam kedua telapak tanganku. Bahuku kembali berguncang karena isakanku.
Terdengar suara ketukan di pintu. Rose bangkit untuk membukakan pintu. Aku tidak peduli siapa yang datang. Saat ini aku merasakan sakit yang seolah mengiris jiwaku. Namun suara yang berasal dari pintu itu menarik perhatianku. Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati Dimitri sedang berdiri di sana menatapku dengan tatapan bersalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments