Aku benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh tabib istana. Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat. Aku merasakan kepanikan yang bercampur dengan ketakutan menjalari seluruh tubuhku.
"Tidak mungkin!" seruku.
"Ya, aku sudah memeriksa kondisimu dan mendengar detak jantung bayimu," ucap Ayara.
Mataku membelalak panik. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan atau katakan! Bagaimana ini? Jeritku dalam hati. Ayara pastilah melihat ketakutan di wajahku.
"Eleanor, tenanglah!" ujarnya seraya mengusap lembut lenganku.
Aku menatap wajah sayunya yang tampak lembut. Dia adalah tabib istana yang penuh kasih sayang dan selalu merawat semua anggota istana dengan penuh perhatian. Tapi apa yang akan dia pikirkan tentang diriku dalam situasi ini?
"Jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini!" desakku.
Ia mengangguk pelan dengan tatapan khawatir.
"Siapa yang melakukannya padamu?" tanyanya prihatin.
"A-aku ... " Aku tergagap dan tidak tahu bagaimana cara mejelaskan tentang hal ini padanya.
"Katakan padaku!" desak Ayara.
Aku menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tidak boleh memberitahunya tentang Dimitri. Hal itu bisa membahayakan Dimitri. Aku takut jika sampai ada yang mengetahui tentang hal yang sebenarnya tentangku dan Dimitri, maka keselamatan Dimitri akan terancam.
Mengejutkan bahwa di dalam situasi segenting ini aku masih lebih mengutamakan keselamatan Dimitri dibandingkan keselamatan diriku sendiri. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Aku rela melindungi Dimitri deni cintaku padanya. Meskipun saat ini aku tidak tahu dimana keberadaannya tapi aku tetap mencintainya dan akan selau mencintainya.
Aku merasakan gerakan di dalam perutku. Aku membelalakkan mataku kaget dan memegang perutku.
"Apa ini?" tanyaku pada Ayara.
"Bayimu sudah bergerak aktif," jawabnya seraya mengelus perutku.
Aku semakin sering merasakan gerakan-gerakan kecil di dalam perutku. Seiring setiap gerakan itu aku merasakan getaran cinta pada bayi yang saat ini sedang tumbuh di dalam diriku. Ini adalah sebuah keajaiban bagiku. Aku mengandung anak manusia!
Aku menatap ke arah Ayara seraya tetap memegangi perutku.
"Aku merasakannya," ujarku seraya terharu.
"Dia adalah seorang bayi ras campuran," ujar Ayara dengan tatapan bingung antara bahagia dan khawatir.
Aku menggigit bibirku dan menunduk ke arah perutku.
"Eleanor, bagaimana kau bisa bertemu dengan seorang manusia?" tanyanya pelan seolah takut ada yang mendengar percakapan kami berdua.
Aku menghela nafas panjang dan memejamkan mataku. Gerakan bayi di dalam perutku semakin terasa. Kekhawatiranku tadi kini telah berganti menjadi perasaan takjub yang membuat jiwaku seolah membuncah oleh rasa cinta yang begitu besar pada bayi yang saat ini sedang tumbuh di dalam diriku.
"Aku ... " Suaraku tercekat.
"Aku berjanji akan merahasiakan hal ini dari semua orang di istana," papar Ayara seraya menatap lekat mataku.
Aku bisa mempercayainya. Namun hatiku bertanya-tanya bagaimana jika perutku semakin hari semakin membesar? Walaupun Ayara berusaha untuk merahasiakan hal ini, pastilah semua orang akan tetap menyadari bahwa aku hamil. Lalu aoa yang akan dilakukan oleh ayah dan ibuku saat mereka mengetahui bahwa aku hamil? Apalagi aku sedang mengandung anak manusia. Aku merinding membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
"Kau harus merahasiakan hal ini," desakku seraya menggenggam tangannya.
Ayara mengangguk ke arahku dengan mantap.
"Aku bertemu dengan seorang manusia beberapa waktu yang lalu. Lalu kami saling jatuh cinta," tatapanku menerawang dan pikiranku kembali memutar kenanganku bersama Dimitri.
"Maksudmu ada manusia yang bisa menyebrang ke hutan kita?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
"Lalu dimana dia saat ini?" tanya Ayara prihatin.
"Entahlah," ujarku lirih dengan mata yang hampir menangis.
Ayara menyentuh bahuku. Ia seolah bisa memahami apa yang aku rasakan saat ini. Aku berpikir bagaimana caraku untuk tetap bisa merahasiakan kehamilanku dari semua orang di istana. Aku juga berpikir bagaimana seandainya Dimitri tahu bahwa aku sedang mengandung anaknya. Apakah dia akan bersorak bahagia ataukah dia akan menangis bahagia bersamaku? Aku menepis pikiran itu.
Saat ini aku harus fokus memikirkan cara untuk menyembunyikan kehamilanku dan bagaimana cara untuk melahirkan serta membesarkan anakku. Aku ingin anakku tahu bahwa dia memiliki seorang ayah yang tampan dan gagah. Aku ingin anakku kelak bermain bersama ayahnya.
"Eleanor," suara Ayara menyadarkan ku dari lamunan.
"Hmmm?" Aku mengangkat kedua alisku ke arahnya.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanyanya dengan nada mendesak.
Aku memahami kekhawatirannya. Sejujurnya aku masih tidak mampu melihat jalan keluar dari situasi yang sedang aku hadapi saat ini.
"Aku tidak tahu," ujarku lirih.
Aku mendengar Ayara menghela nafas seolah ia memikirkan jalan keluar untukku. Aku kembali menunduk dan menatap ke arah perutku. Kali ini aku bukan hanya merasakan gerakan-gerakan kecil di dalam perutku melainkan aku melihat perutku semakin membesar dari beberapa menit yang lalu. Aku menatap panik ke arah Ayara
Kaum Elf seperti kami mengalami proses pembuahan yang begitu cepat. Janin yang berkembang di dalam rahim juga berkembang dengan cepat. Sehingga kami tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melahirkan anak. Kami hanya membutuhkan waktu satu bulan untuk melahirkan.
"Bagaimana ini?" tanyaku ketakutan.
"Tenanglah!" ujar Ayara.
"Tidak bisa!" Aku begitu panik dan mulai menoleh ke arah pintu kamarku dengan wajah ketakutan.
"Aku akan mencari jalan keluarnya!" ujar Ayara seraya berdiri mondar mandir di dalam kamarku.
"Ayolah! Aku harus segera menemukan jalan keluar dari situasi ini!" desakku.
"Aku sedang berpikir!" Dia nyaris membentakku.
Aku terdiam dan menggigit bibirku frustasi.
Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika sebentar lagi ada yang masuk ke dalam kamarku dan menemukan perutku mulai membesar? Aku sepertinya ingin kabur dari istana.
"Ayara," panggilku.
Dia menoleh dan menatap ke arahku. Aku melihat kepanikan yang tergambar jelas di matanya.
"Aku harus pergi dari istana!" desakku.
"Jangan gila!" pekiknya dengan mata melotot.
"Aku serius! Aku harus membawa bayi ini ke tempat yang aman. Di sini akan menjadi tempat yang berbahaya untuk bayiku!" desakku.
"Tidak!" Ayara nyaris menjerit.
"Ayara, kumohon!" pintaku seraya menahan air mataku.
Aku yakin Ayara begitu menyayangiku. Kali ini aku ingin dia memahami situasiku.
"Aku mencintai anak ini dengan seluruh nyawaku," bisikku lirih.
Aku melihat Ayara menahan tangis.
"Jangan menangis untukku," ujarku seraya mendekatinya dan memeluknya.
"Kau akan pergi kemana?" tanyanya berbisik.
"Mungkin ke suatu tempat untuk mencari Dimitri," ujarku seraya tersenyum untuk membuatnya tenang.
"Tidakkah ada cara lain?" tanyanya dengan air mata yang kini mulai membanjiri pipinya.
"Ini adalah cara satu-satunya," bisikku.
Kaum Elf tidak akan pernah menerima bayiku. Itulah sebabnya aku harus segera pergi dari istana untuk menyelamatkan bayiku. Mungkin aku akan mencari Dimitri. Aku mulai membuat rencana untuk kabur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments