Aku tidak memiliki alasan untuk menghindar. Satu-satunya jalan teraman untuk saat ini adalah mengikuti ajakan orang tuaku untuk bergabung bersama mereka menuju ke bagian selatan hutan.
Aku menyandangkan busurku di bahu. Kami berjalan bersama dengan diiringi beberapa pengawal. Pikiranku kembali memikirkan beberapa kemungkinan.
Pertama, mungkin saat ini kakakku merasa bersalah terhadapku. Kedua, mungkin saat ini Dimitri sedang menungguku di pohon kami namu dia bingung kenapa ada banyak orang yang bersiaga di perbatasan. Ketiga, siapa sebenarnya penghianat yang ada di balik istana yang sengaja merusak dinding pembatas hingga Dimitri tidak sengaja memasuki hutan kami.
Suara ibuku memecahkan lamunanku.
"Kau tampak lelah pagi ini," ujarnya seraya menatap lekat wajahku.
"Ah, ya aku terlalu banyak menghafal mantra belakangan ini," jawabku seraya mengalihkan pandanganku.
"Kau pasti akan menjadi penyihir terhebat di istana," ujar ayahku dengan nada bangga seraya tersenyum ke arahku.
Kami melanjutkan perjalanan. Di halaman istana tampaklah beberapa penyihir yang telah berkumpul menunggu kedatangan kami.
Aku melihat wajah-wajah mereka secara bergantian berharap aku bisa melihat keanehan yang akan memberikan tanda penghianatan di sana. Namun aku tidak melihat keanehan apa pun di sana.
Aku berusaha untuk tetap terlihat santai dan rileks. Aku berdiri di samping ibuku. Gaun yang dikenakan ibuku tampak kontras dengan jubah yang digunakan oleh para penyihir istana.
Aku melihat ayahku melangkah maju beberapa langkah ke depan ke arah barisan penyihir istana. Kami semua menatap ke arah ayahku.
"Hari ini, kita akan kembali memperkuat dinding pembatas di bagian selatan." Ayahku mengucapkannya dengan suara berapi-api khas pidato seorang raja.
Semua mata tertuju ke arahnya dengan pandangan hikmat.
"Tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu hutan kita tercinta!" Serunya.
Aku melihat wajah-wajah mereka semua kini tampak bersemangat. Ayahku adalah sosok yang dicinta oleh seluruh kerajaan ini.
"Demi hutan Mirkwood!" Ayahku berseru seraya mengangkat satu tangannya ke atas.
Semua orang yang ada di halaman istana bersorak dengan menggaungkan nama hutan kami. Suara itu terdengar menggelegar dan membuat bulu kudukku merinding oleh getaran semangat yang sama.
Setelah sorakan itu mereda, kami memutuskan untuk berangkat ke arah selatan hutan. Kami berjalan begitu rapi. Kaum Elf terkenal sebagai bangsa yang teratur dan menyukai kedamaian.
Di sepanjang perjalanan, kami berjumpa dengan banyak peri-peri mungil yang berterbangan seraya menyanyikan lagu bangsa peri. Aku sesekali tersenyum ke arah mereka. Mereka tampak terpesona ketika melihat ke arah ibuku.
Peri-peri kecil yang berterbangan itu tampak begitu bersemangat mengikuti perjalanan kami. Mereka mengeluarkan cahaya seperti cahaya kunang-kunang.
Aku juga melihat beberapa rusa dengan tanduk emas mengintip dari balik pepohonan melihat iring-iringan kami.
Bagaimana seandainya Dimitri melihat iring-iringan kami? Akankah dia menyukai hutanku? Pikiran itu membuatku tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya ibuku.
Aku menoleh ke arahnya.
"Aku menyukai nyanyian peri-peri kecil itu," ujarku berbohong.
Ibuku tersenyum mendengarnya. Aku kembali berjalan dan melihat ke depan. Sesekali aku melirik ke kanan dan kiri hutan untuk mencari keberadaan Dimitri. Aku berharap dia ada di sekitar sini dan melihat bangsa Elf.
Mungkin nanti ketika kami sampai di dekat dinding pembatas, aku akan menemukan Dimitri. Tapi bagaimana jika ada yang mengetahui bahwa di hutan kami ada seorang manusia?
Pikiran itu membuatku merasa cemas dan takut. Sejak beberapa abad setelah kejadian yang membuat kami semua trauma, tidak pernah ada lagi manusia yang bisa menembus dinding pertahanan hutan kami.
Bagaimana jika seandainya saat ini kaumku menyadari keberadaan Dimitri? Aku merasa takut memikirkan hal itu. Mungkin aku akan meyakinkan semua orang bawa Dimitri tidak berbahaya. Kemudian aku akan memintanya untuk tetap tinggal di hutan ini bersamaku. Khayalan itu kembali membuatku tersenyum.
Dimitri pasti akan betah tinggal di tempat indah seperti hutan Mirkwood. Aku meyakinkan diriku seraya kembali membayangkan wajahnya.
Aku melihat bunga emas di pinggir jalan yang kami lalui. Aku memetiknya satu dan menyelipkannya di telinga kiriku. Bunga emas itu mengingatkanku akan pertemuan pertamaku dengan Dimitri.
"Aku pernah melihat sesuatu yang janggal," bisik seorang peri kecil di telingaku.
Aku menepuknya dan menyuruhnya pergi. Di hutan ini, peri-peri kecil itu terkenal sebagai tukang gosip dan sebaiknya kau menjaga rahasiamu dari mereka.
Mereka memang tampak mungil dan indah dengan sinarnya, namun sebenarnya mereka begitu menjengkelkan.
Apa yang dimaksud oleh peri itu barusan, tanyaku dalam hati. Hal janggal apa yang dimaksudnya? Apakah dia sempat melihat keberadaan Dimitri di hutan ini? Pikiran itu mengganggu benakku.
Sudahlah, aku berusaha untuk menepis pikiran burukku. Aku menyadari bahwa kami sudah mendekati dinding pembatas di sebelah selatan. Aku melihat gerombolan pengawal yang berpatroli di sana bersama kakakku.
Aku melihat kakakku menatap ke arahku dengan pandangan bersalah. Aku mengangkat kedua alisku seraya tersenyum. Aku berharap dia tidak merasa bersalah padaku.
Kami telah tiba di bagian selatan hutan. Di depan kami terdapat dinding pembatas yang tak kasat mata namun bisa kami rasakan kehadirannya.
Aku dan semua orang menatap ke arah yang sama.
"Bagaimana keadaan di sini?" tanya ayahku pada kakakku.
"Sejauh ini semuanya aman," ujarnya.
Aku menatap ke sekeliling dan berharap akan menemukan tanda keberadaan Dimitri.
"Aku ingin memetik bunga emas di sebelah sana," ujarku pada ibuku.
Aku berbohong supaya aku memiliki kesempatan untuk pergi sendirian ke pohon kami dan mencari keberadaan Dimitri.
"Baiklah, tapi kau harus segera kembali," jawab ibuku seraya mengangguk.
Aku mengangguk dan segera berjalan meninggalkan rombongan kaum Elf dan menuju ke tempat pohon kami berada.
Aku mendekati pohon kami dengan perasaan campur aduk. Aku berharap akan melihat Dimitri di balik pohon kami. Jantungku mulai berdebar-debar. Aku memelankan langkah dan menoleh ke sekitar untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa melihatku.
Aku melihat pohonku dan Dimitri dalam jarak tiga meter dari tempatku berdiri saat ini. Aku menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan agar debaran jantungku kembali normal.
Namun jantungku tetap tidak bisa memelankan iramanya. Mungkin ini karena cinta, pikirku. Aku berjalan perlahan ke arah pohonku.
Pasti Dimitri ada di sana. Aku terus mendekat ke arah pohon besar kami. Pohon itu berukuran raksasa. Bahkan kau bisa membuat sebuah kamar di dalam batangnya yang berukuran besar.
Aku terus melangkah dan kini aku berjarak beberapa langkah dari pohon kami. Aku menelan ludah dan mencoba untuk menenangkan diriku. Setelah menghirup nafas beberapa kali, aku kembali mendekat ke arah pohon kami dengan jantung yang berdebar kencang.
Betapa terkejutnya aku ketika di balik pohon itu tidak ada siapa-siapa. Aku mencoba memanggil nama Dimitri dengan suara pelan. Tidak ada jawaban. Aku kembali memanggilnya. Tetap tidak ada jawaban.
Aku melihat berkeliling. Tidak ada tanda-tanda seseorang di sekitar pohon kami. Dimitri tidak ada di sini.
Aku merasakan kekecewaan yang membuat hatiku seolah remuk. Aku merasakan mataku memanas karena air mata kekecewaan yang muncul dan menggerogoti jiwaku.
Dimitri, dimana dirimu? Jeritku dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments