Aku kembali merenungkan apa yang baru saja dikatakan oleh pengawal itu pada kami. Apakah itu artinya Dimitri memiliki belati serbuk bulan? Entahlah, aku masih tidak bisa memahami situasi ini.
Saat ini yang aku rasakan adalah rasa sakit di hatiku terasa begitu dalam. Seolah belati itu justru menggores hatiku bukan hanya menggores dinding pembatas kami. Aku merasakan nyeri yang seolah menggerogoti jiwaku dari dalam.
Aku menatap ke arah ibuku. Wajahnya juga tampak begitu terkejut. Bahkan Abigail telah berhenti bernyanyi di samping telingaku. Mungkin hal ini juga terasa mengejutkan baginya.
"Siapa yang berani melakukan hal ini?" tanya ibuku dengan raut wajah yang geram.
Ibuku adalah sosok wanita lembut yang jarang sekali menampakkan wajah marah ataupun murung. Namun kali ini wajahnya tampak penuh oleh amarah. Hal ini semakin meyakinkan kami bahwa ada yang sengaja ingin merusak dinding pembatas. Aku yakin ada seseorang di dalam istana yang menjadi awal mula kekacauan ini.
"Entahlah, kami masih berusaha untuk mencari tahu tentang ini." Pengawal itu mengucapkannya dan berbalik untuk kembali ke tempat pasukan patroli yang bersama kakakku.
"Bukankah semua penyihir istana memiliki belati serbuk bulan?" tanyaku seraya menatap wajah ibuku.
"Ya, kita harus segera mencari tahu siapa dalang di balik kekacauan ini!" Ibuku mengucapkannya seraya berjalan mendekat pada ayahku.
Aku mengikutinya dari belakang. Abigail berbisik lirih di telingaku.
"Siapa kira-kira penyihir yang berkhianat?" tanyanya.
"Entahlah," jawabku.
Aku melihat ibuku berdiri di samping ayahku. Ayahku juga menampakkan raut wajah yang tegang dan muram. Kali ini kami memiliki masalah baru yaitu pengkhianatan penyihir. Namun bagiku masalahnya tidak hanya itu. Aku masih bingung apa maksud penyihir itu menggores dinding pembatas dan apa hubungannya dia dengan Dimitri?
Dimitri, ah kali ini ingatanku kembali padanya. Bagaimana mungkin pertemuan singkat itu begitu membekas di hatiku. Dimitri telah melekat kuat di benak dan jiwaku. Aku benar-benar telah jatuh terlalu daam ke kubangan cinta yang ternyata membuatku terluka.
Kenapa cinta bisa melukai begitu dalam seperti ini, tangisku dalam hati. Lamunanku terburai oleh suara lantang ayahku.
"Kalian semua harus bersiap!" Ayahku memerintahkan semua penyihir untuk segera memperbaiki dinding pembatas itu.
"Bagaimana dengan pengkhianat itu?" bisik ibuku.
"Akan kita selesaikan nanti di dalam istana," jawab ayahku pelan tanpa menoleh ke arahku dan ibuku.
Aku dan ibuku terdiam dan melihat ke arah sekelompok penyihir kami yang berbaris tepat di depan dinding pembatas dan bersiap-siap untuk menyatukan kekuatan mereka dalam memperbaiki dinding pembatas hutan kami.
Aku melihat mereka berdiri dengan barisan yang begitu rapi dengan pandangan terfokus ke depan. Tangan mereka semua saling mengarah ke dinding pembatas. Suasana saat itu terasa begitu hikmat.
Semua iring-iringan kami berdiri terdiam dan tidak ada yang bicara sama sekali. Bahkan aku merasakan semua hewan di sekitar hutan ini pun juga terdiam seolah mereka merasakan getaran sihir. Aku merasakan Abigail berdiri di bahuku sambil berpegangan pada leherku. Ia telah menghentikan nyanyiannya.
Kali ini semua menatap fokus ke arah para penyihir yang kali ini mulai terdengar merapalkan mantra. Kilatan kekuatan sihir memancar dari tangan mereka menuju ke dinding pembatas dan menjalari dinding pembatas yang berdiri megah di depan kami.
Aliran kekuatan sihir menjalari seluruh bagian dinding pembatas seperti aliran listrik yang berwarna warni. Aku selalu takjub ketika melihat pemandangan aliran kekuatan sihir yang bagiku tampak begitu indah seperi yang saat ini kami saksikan.
Semua makhluk hidup di hutan ini terasa begit takjub melihat pemandangan tersebut. Bahkan pepohonan pun juga tampak mengeluarkan aura yang berbeda dan tampak bercahaya saat momen ini. Kami semua merasakan hal yang sama. Kekuatan sihir terasa begitu kuat di udara seolah menyelimuti kami.
Aku merasakan bulu kudukku meremang oleh kekuatan yang terasa begitu besar ini. Aku bisa melihat celah yang kini tampak di dinding pembatas. Celah itu berukuran tinggi seukuran tubuh manusia dewasa dengan lebar kurang lebih setengah meter yang memungkinkan seseorang bisa melewatinya.
Melihat celah itu, aku merasakan tubuhku menggigil. Dari celah itulah Dimitri bisa memasuki hutanku dan kembali lagi ke dunianya sendiri. Dalam hati aku masih selalu berharap bahwa Dimitri masih ada di sini bersamaku. Beberapa detik kemudian aliran sihir yang berwarna-warni tersebut menutup celah yang tampak dan kali ini dinding pembatas itu menutup dengan sempurna.
Para penyihir mengakhiri aliran kekuatan sihir mereka. Perlahan cahaya kekuatan itu memudar dan kini dinding pembatas itu kembali tak kasat mata.
"Selesai, Yang Mulia!" ujar salah seorang penyihir yang berdiri di barisan paking pinggir.
Ayahku mengangguk ke arahnya.
"Hutan kita telah kembali aman!" Suara ayahku terdengar lantang.
Kami semua kembali berkumpul dalam satu barisan untuk bergerak kembali ke istana. Aku melangkah mengikuti rombongan ini untuk kembali. Hatiku terasa begitu hampa. Ketika dinding pembatas itu telah menutup sempurna, aku merasakan hatiku remuk dan hancur.
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku menginginkan Dimitri untuk kembali ke sini.
......................
Sesampainya di istana, kami kembali beraktifitas normal seperti biasa. Semua orang terlihat kembali ceria namun tidak begitu dengan diriku. Aku merasa murung dan tidak bersemangat. Bukan hanya hatiku yang sakit, namun aku juga merasakan bahwa tubuhku pun merasakan hal yang sama. Aku merasa tidak begitu sehat.
Beberapa hari telah berlalu dengan perasaan kosong dan hampa di dalam jiwaku. Aku hanya melakukan aktivitas dengan terpaksa. Aku menyibukkan diriku agar pikiranku teralih dari Dimitri. Namun itu semua tidak berhasil, aku tidak bisa menghilangkan Dimitri dari benakku.
Hari itu aku sedang berlatih memanah dengan tubuh yang terasa lemas. Aku selalu saja meleset dari sasaranku. Semakin lama aku merasakan tubuhku terasa semakin lemah. Hingga akhirnya aku ambruk dan pingsan.
......................
Aku membuka mataku dan melihat seorang tabib wanita istana sedang berada di kamarku. Aku berusaha untuk bangkit dari tempat tidurku namun dia mencegahku. Aku menurutinya dan kembali berbaring.
Aku menoleh ke seluruh bagian kamarku dan mendapati hanya ada aku dan dirinya di kamarku. Entah kemana perginya Abigail. Dia menoleh ke arah pintu dan seolah memastikan bahwa pintu itu terkunci.
Wajahnya menampakkan keprihatinan yang membuatku merasa tidak nyaman. Memangnya kenapa aku pingsan tadi, tanyaku dalam hati. Lalu kenapa dia tampak begitu khawatir.
Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Eleanor, kau hamil!" Dia berbisik dengan raut wajah khawatir.
"APA?" Aku nyaris memekik dengan mata melotot ke arahnya.
Mungkin ia melakukan kesalahan ketika memeriksa diriku. Aku hamil? Tidak mungkin! Bagaimana jika ada yang mengetahui hal ini? Tubuhku menggigil ketakutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments