Bab 2

Mulutku menganga mendengar apa yang diucapkan oleh ibuku.

"K-kenapa?" ujarku dengan suara tercekat.

"Dinding pembatas di sebelah selatan mulai melemah, jauh lebih aman jika kau keluar dengan para pengawal." Ibuku menjelaskan sambil menghembuskan nafas panjang.

Aku berusaha mencerna apa yang dikatakan olehnya. Dinding pembatas melemah? Apakah itu salah satu alasan kenapa Dimitri bisa memasuki wilayah hutan kami? Ya, mungkin itulah penyebabnya. Tapi yang tidak aku mengerti adalah kenapa dinding pembatas itu bisa melemah?

Selama ini hutan kami dilindungi oleh perisai sihir yang begitu kuat sehingga tidak bisa dimasuki kaum manusia. Namun satu bulan yang lalu aku menemukan Dimitri tersesat di dalam hutan kami.

Ingatanku kembali melayang pada kejadian saat hari pertama aku menemukannya di hutan.

Hari itu aku sedang berjalan-jalan sambil bernyanyi dan memetik setangkai bunga emas yang tumbuh di kawasan pinggir hutan yang jaraknya tidak begitu jauh dengan dinding pembatas di sebelah selatan.

Aku meletakkan bunga emas itu di telinga kiriku. Aku selalu menyukai kilau nya yang mirip cahaya bintang. Ketika aku hendak kembali ke rumah, aku melihat seorang pria sedang berjalan kebingungan seolah mencari jalan pulang ke suatu tempat.

Aku menatap pria itu dari kejauhan. Ketika aku menyadari bahwa dia adalah seorang manusia, aku segera bersembunyi di balik pohon untuk mengawasinya.

Aku melihat gerak geriknya dari tempatku bersembunyi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sambil berjalan dan tangannya seolah meraba ke udara yang kosong seakan mencari sebuah dinding.

Aku memekik kaget ketika seekor ular menjalari kakiku. Pria itu menghentikan langkahnya dan melihat ke sekeliling sambil memiringkan kepalanya seolah memfokuskan pendengarannya.

"Siapa di sana?" Ia mengucapkannya dengan suara lantang.

Aku diam dan bersembunyi di tempatku. Aku mengintip dari balik pohon tempatku bersembunyi. Pria itu berjalan mendekat ke arah tempatku bersembunyi.

Aku menahan nafas dan berharap pria itu tidak menemukanku. Pria itu terus berjalan ke arahku. Aku berdiri membeku.

"Keluarlah!" Dia mengucapkannya sambil berdiri dan menghadap tepat ke arah pohon tempatku bersembunyi.

Aku diam dan tidak menjawab.

"Aku tahu kau di sana!" Kali ini suaranya menjadi lebih lembut dari sebelumnya.

Aku masih merasa takut untuk keluar dari persembunyianku.

"Jangan takut, aku tidak akan mencelakai mu!" Kali ini nadanya berubah menjadi lembut.

Aku masih tetap tidak bergerak. Pria itu kini berjalan tepat ke arah pohon tempat persembunyianku.

Aku menggigit bibirku karena rasa takut. Bagaimana jika dia berniat jahat padaku? Seharusnya aku mengajak kakakku.

Ia terus mendekat ke arah ku dan tiba-tiba ia berhenti dalam jarak satu meter dari tempatku berdiri.

Ia sudah melihatku. Aku menatapnya dengan mata ketakutan.

"Hai," ujarnya seraya tersenyum.

Aku tidak membalas sapaannya.

Dia berjalan mendekat ke arahku dan aku melangkah mundur dengan wajah ketakutan hendak menjauh darinya.

"Jangan takut," ujarnya seraya tersenyum.

Dia mengulurkan tangan kanannya ke arahku.

"Aku Dimitri." Ia mengucapkannya dengan tangan yang masih terulur ke arahku.

Tatapanku beralih dari wajahnya menuju tangannya yang terulur ke arahku.

"Apakah aku membuatmu takut?" Ia mengatakannya dan menarik tangannya.

Sepertinya ia melihat ekspresi ketakutan di wajahku.

"Baiklah," ujarnya seraya menghembuskan nafas dan menatap ke sekeliling.

Aku masih menatap wajahnya. Dia pria tampan dengan tubuh kekar dan berotot. Rambut hitamnya hampir menyentuh bahunya. Kulitnya kecoklatan.

"Bagaimana kau tahu bahwa aku bersembunyi di sini?" tanyaku pelan.

"Aku melihat pantulan sinar keemasan di sana," ujarnya seraya menunjuk ke arah bunga emas yang terselip di telingaku.

Oh, pantas saja dia mengetahui keberadaanku. Aku menyentuh bunga emas yang aku selipkan di telingaku.

"Apakah kau adalah peri?" Tatapannya mengarah ke telingaku yang berujung runcing.

Aku mengangguk ke arahnya.

"Apakah kita bisa berteman?" Ia menanyakannya dengan nada riang dan tawa yang terdengar renyah di telingaku.

Aku belum menjawabnya.

"Ayolah, aku berjanji tidak akan menyakitimu," ujarnya seraya memandangku dengan kekaguman yang terpancar dari matanya yang tajam.

Aku mengangguk padanya.

Dia tertawa dan berjalan mendekat ke arahku. Ia kembali mengulurkan tangannya ke arahku dan kali ini aku menerima uluran tangannya. Ya, itulah sentuhan pertama kami.

"Bagaimana kau bisa masuk ke hutanku?" Aku bertanya penasaran.

"Aku tidak tahu pasti. Tadi aku hanya sekedar ingin berburu rusa di pinggiran hutan, namun aku tidak sengaja menabrak sesuatu yang terasa seperti dinding dan tiba-tiba aku terdampar di sini." Ia bercerita sambil tertawa seolah hal itu adalah sesuatu yang lucu baginya.

Aku mendengarkan ceritanya sambil memandangnya dengan takjub.

"Tidak pernah ada manusia yang datang ke sini sebelumnya," ujarku padanya.

"Wow," serunya dengan tatapan takjub. "Siapa namamu?" Ia bertanya padaku seraya tersenyum.

"Eleanor," ujarku seraya membalas senyumnya.

"Eleanor, senang berjumpa denganmu." Ia mengatakannya dengan nada riang seraya tertawa.

Aku menatapnya saat dia tertawa. Ia terlihat semakin tampan ketika tertawa.

"Kau mau melihat hutanku?" Tanyaku bersemangat.

Ia mengangguk semangat ke arahku. Kami berdua berjalan di sepanjang pinggiran hutan. Aku bercerita padanya tentang banyak hal menarik di hutan ini. Mulai dari pohon yang bisa bernyanyi, peri kecil yang beterbangan, bunga emas hingga dinding pembatas yang dibangun dengan sihir.

Ia mendengarkan ceritaku dengan ekspresi ketakjuban yang tidak disembunyikan. Kami berdua semakin akrab seolah kami sudah saling mengenal sejak lama.

Sore harinya aku akan kembali ke istana untuk mengambil banyak makanan untuknya. Aku akan mengendap keluar dari istana sambil membawa bungkusan makanan untuk ku berikan pada Dimitri.

Kami akan menghabiskan waktu bersama untuk bertukar cerita tentang hutanku dan juga tentang tempat asal Dimitri.

Tengah malam aku berpamitan padanya untuk kembali ke istana dan berjanji akan kembali menemuinya keesokan harinya.

Kami berdua selalu bersama setiap hari. Hingga akhirnya kami sadar bahwa kami saling jatuh cinta.

......................

Ingatanku terburai ketika aku merasakan tangan ibuku menyentuh pundakku.

"Kau sedang memikirkan apa? Kau tampak termenung," ujarnya.

Aku menggelengkan kepalaku seraya tersenyum ke arahnya.

"Tidak apa-apa," ujarku.

"Mungkin dalam beberapa hari ke depan, aku akan mengutus penyihir untuk memperkuat kembali dinding pembatas itu." Ibuku menjelaskannya padaku.

Aku mengangguk sambil memikirkan kemungkinan itu. Jika dinding pembatas itu diperkuat kembali, apakah artinya Dimitri akan selamanya terjebak di hutan ini? Lantas bagaimana jika seluruh istana mengetahui keberadaan manusia di hutan ini? Apakah hal itu akan menjadi ancaman bagi Dimitri-ku? Pikiran itu mulai menggangguku.

Ibuku berbalik dan hendak meninggalkan kamarku diikuti oleh para pelayannya. Aku menatap kepergiannya.

Setelah aku kembali sendirian di kamar, pikiranku kembali pada Dimitri. Bagaimana caraku bisa menemuinya besok pagi? Aku harus memutar otakku. Aku harus bisa pergi secara diam-diam untuk menemuinya besok. Dimitri pasti menungguku seperti biasanya.

Terpopuler

Comments

User Minor

User Minor

jadi ikut berfantasi nggk sih

2023-09-03

0

Aimi.。*♡🌸

Aimi.。*♡🌸

Bagus thoor ceritanya kayak princesss2 disney aku bayanginnya!!

2023-07-31

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!