Aku masih tetap memegangi Abigail di kedua telapak tanganku. Bagaimana hidupku bisa begitu menyedihkan seperti ini. Aku masih merasakan air mataku mengalir begitu deras. Aku kembali menatap mayatnya di kedua telapak tanganku. Kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum meninggal terdengar begitu jelas dalam pikiranku.
Aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Seandainya tadi ia tidak ikut pergi denganku, mungkin saat ini ia sedang terbang dan bernyanyi di hutan. Mungkin ini sudah menjadi takdir kami.
Aku meraih belati di sakuku dan menggali tanah di situ untuk menguburkan Abigail. Ia layak untuk mendapatkan tempat istirahat yang terbaik. Aku menguburkannya dengan tangisan yang seolah tak ingin berhenti.
Setelah selesai menguburkannya, aku melihat sekeliling untuk mencari sesuatu. Aku menemukan sebuah semak-semak yang berbunga kecil di sebelah kiriku. Aku berjalan menuju semak-semak itu dan memetik beberapa bunga mungil yang berwarna ungu muda. Aku menaburkan bunga itu di atas kuburan Abigail. Ku harap dengan begitu, ia bisa merasa tenang di dalam sana.
"Aku menyayangimu," ujarku seraya menaburkan bunga-bunga mungil itu.
Aku terduduk lesu dan seperti seseorang yang kehilangan arah. Kali ini aku benar-benar sendirian di dunia yang asing ini. Aku tidak tahu kemana harus melangkah. Kali ini aku menyadari bahwa sebenarnya aku membutuhkan Abigail. Tapi sayangnya dia sudah tiada.
Aku kembali menatap kuburan mungil itu. Angin sepoi-sepoi seolah membelai kulitku. Aku bangkit dan berusaha untuk menguatkan diriku. Aku berjalan menuju ke arah lampu-lampu yang berada di kejauhan. Aku tidak menatap ke belakang. Aku meninggalkan semua yang aku miliki di belakangku. Kini, aku akan menyongsong masa depan.
Perumahan itu tampak tidak terlalu jauh jaraknya. Aku terus melangkah sendirian dan sesekali aku merasakan gerakan kecil di dalam perutku. Ya, sebenarnya aku tidak benar-benar sendirian. Masih ada bayi ini yang aku miliki.
Aku memegang perutku dan mengelusnya dengan lembut. Aku merasakan beban berat di bahuku ketika aku menyadari aku tidak tahu harus mencari Dimitri kemana.
Ingatanku kembali pada hutanku. Mungkin saat ini semua orang di istana telah menyadari kepergianku. Mungkin juga saat ini kakakku telah membaca suratku. Aku mengerjapkan mata untuk mengusir air mataku.
Aku telah berjalan jauh. Kini aku semakin mendekati perumahan yang aku tuju. Mungkin Dimitri tinggal di salah satu rumah yang terang itu. Aku akan mulai mencarinya setelah aku sampai di sana.
Kini perumahan itu hanya berjarak sekitar 200 meter di depanku. Aku melihat ada beberapa rumah di depan sana yang masing-masing rumah berjarak saling berdekatan. Hal itu tidak tampak jauh berbeda dari rumah-rumah yang ada di hutan. Di Mirkwood, kaum elf juga tinggal saling berdekatan.
Setiap rumah di sini tampak memiliki taman di depan rumah. Sepertinya semua orang yang tinggal di sini tampak menyukai tanaman. Aku merasakan semangatku mulai tumbuh seiring langkah kakiku yang semain mendekati rumah-rumah itu.
Aku kembali mengelus perutku dan berharap bayiku juga merasakan semangatku. Aku berjanji pada bayiku bahwa ia akan segera berjumpa dengan ayahnya. Aku terus berjalan dan merasakan keringat membasahi dahiku. Dulu di Mirkwood, aku tidak pernah berkeringat seperti ini. Mungkin ini memang hal yang wajar terjadi di negeri manusia.
Aku mengusap keringat di keningku dengan punggung tanganku. Aku merasa haus. Aku berhenti sejenak dan menurunkan ranselku. Tadi Ayara tidak hanya menyiapkan pakaian melainkan juga makanan dan minuman agar aku memiliki bekal di sepanjang perjalanan.
Aku kembali merasakan tusukan tajam di hatiku ketika aku teringat wajah Ayara. Aku meraih sebotol air dari dalam ranselku dan meneguk airnya. Aku merasakan tenggorokan ku mulai membaik. Aku kembali memakai ranselku dan melanjutkan perjalanan.
Kini aku berjarak beberapa langkah saja dengan rumah pertama yang aku temui. Aku menghentikan langkahku dan menatap rumah yang ada di depanku. Rumah itu berlantai satu dengan lampu terang benderang yang menyinarinya. Di halamannya terdapat halaman yang rapi dan terawat. Tampak beberapa pepohonan berukuran kecil yang mungkin fungsinya sebagai hiasan. Ada banyak tanaman bunga yang tumbuh di pot.
Aku merasakan jantungku berdebar kencang. Tanganku mulai berkeringat dan tubuhku menegang. Apa yang akan aku katakan jika aku bertemu dengan manusia? Pikiran itu berkecamuk di dalam kepalaku. Aku tidak melihat kelebatan seorangpun di dalam rumah itu. Aku menoleh ke rumah-rumah lain yang juga tampak sepi.
Kenapa tidak ada orang sama sekali yang berkeliaran di sekitar sini? Aku menengadah menatap langit. Saat itu bulan bersinar begitu terang dan bintang-bintang juga berkelap-kelip di langit malam yang indah. Pantas saja tidak ada seorang pun yang berkeliaran. Ini sudah tengah malam. Aku pastilah telah menempuh perjalanan yang begitu lama.
Aku bingung harus pergi kemana. Aku tidak mengenal seorangpun di sini. Aku mulai menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari seseorang yang mungkin bisa menolongku. Aku mulai merasa tubuhku lelah. Entah kenapa, saat ini tubuhku terasa berbeda. Aku merasa mudah lelah tidak seperti biasanya. Mungkin karena kehamilanku dan juga karena aku sedang beradaptasi dengan dunia yang baru ini.
Aku juga tidak tahu aku harus melangkah kemana lagi. Aku bingung harus tidur dimana. Bagaimana ini? Seandainya aku bersama Eldrin, pastilah ia akan mencari solusi yang tepat dalam situasi genting seperti apapun. Tapi kali ini aku sendiri. Dimitri, dimana dirimu?
Aku mulai merasakan kakiku gemetar. Aku begitu kelelahan setelah perjalanan panjang yang aku tempuh. Aku memutuskan untuk duduk dan beristirahat di depan rumah itu. Mungkin besok aku akan melanjutkan pencarianku. Aku pasti akan menemukan Dimitri-ku besok!
Aku bersandar pada pagar di depan rumah itu. Aku meletakkan ranselku dan membuatnya menjadi bantal darurat untukku. Aku merebahkan diriku dan mulai memandangi langit di atasku. Tanganku mengelus perutku dengan lembut. Seolah membalas sentuhanku, bayi itu bergerak dalam perutku.
Aku tersenyum ketika merasakan gerakannya di dalam perutku.
"Besok, kau akan bertemu dengan ayahmu," bisikku.
Aku kembali memandangi langit malam yang penuh bintang. Aku melihat beberapa rasi bintang yang tergambar indah di angkasa. Angin di sini terasa jauh lebih dingin daripada di hutanku. Aku merasakan tubuhku menggigil. Aku berbaring miring dan memeluk tubuhku. Aku lupa untuk membawa selimut.
Aku berusaha untuk memejamkan mata dan beristirahat. Aku harus segar besok agar bisa mencari Dimitri. Aku membiarkan malam memelukku. Mungkin karena kelelahan, aku cepat sekali terlelap.
Aku mulai bermimpi tentang Dimitri. Di mimpiku, aku melihat Dimitri sedang tertawa bersama seorang wanita. Tapi wanita itu bukan aku! Tidak mungkin!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments