Bab 11

Aku menatap ke arah dinding pembatas yang ada di hadapanku. Dinding itu sebenarnya tak kasat mata, namun kami mampu merasakan getaran kekuatannya. Bagi telinga elf-ku, dinding itu seolah berdengung dengan samar oleh aliran sihir yang terasa begitu kuat.

"Ayo segera menyebrang!" bisik Abigail di telingaku.

Aku membulatkan tekadku dan memberanikan diri untuk menghadapi dunia yang akan aku tuju yang berada di seberang dinding ini. Selama ini aku tidak pernah menyebrang ke dunia manusia. Aku hanya pernah mendengar beberapa Elf yang pernah menyebrangi dinding ini dan menuju ke dunia manusia atas perintah kerajaan untuk misi tertentu.

Aku merasakan adrenalin menjalari sekujur tubuhku. Entah dunia seperti apa yang akan aku tuju. Dulu sekali ketika peristiwa penyerangan yang terjadi, kami menganggap bahwa manusia adalah makhluk kejam yang mengerikan sehingga kami melindungi hutan kami agar tidak lagi ditembus oleh manusia. Namun ketika aku berjumpa dnegan Dimitri, aku sadar bahwa tidak semua manusia itu kejam. Masih ada orang-orang baik di luar sana.

Kali ini aku akan meninggalkan duniaku demi menuju ke dunia Dimitri. Aku akan menemukannya. Aku melihat ke sekeliling hutan untuk terakhir kalinya. Aku berusaha agar tangisku tidak pecah. Aku merasakan gerakan kecil di dalam perutku. Ya, demi bayi ini aku rela meninggalkan semua yang aku miliki di sini, bahkan duniaku yang selama berabad-abad aku tempati.

Aku meraih belati serbuk bulan dari dalam sakuku. Gagangnya terasa pas sekali dalam genggaman tanganku. Belati ini dirancang khusus oleh pandai besi di istana dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran tanganku. Aku menatap sarung belati itu yang berwarna emas. Sarung belati itu dibuat oleh kakakku sebagai hadiah untukku. Di tepinya terukir namaku menggunakan tinta emas. Aku mengerjapkan mataku menahan air mataku yang hampir tumpah.

"Cepatlah!" Desak Abigail.

Aku membuka sarung belati itu, dan mendapati belatiku memantulkan cahaya rembulan yang kini sedang bersinar terang di atasku. Aku mengarahkan belati itu tepat ke hadapanku.

Aku merasakan sensasi seperti kesetrum ketika ujung belatiku menyentuh dinding pembatas. Suara dengungan terasa semakin jelas di telingaku. Aku merasakan aliran sihir mulai membuka sebuah celah tepat di hadapanku. Aku terkesiap kaget, begitupula dengan Abigail yang berdiri di bahuku.

Perlahan celah yang tampak kecil itu mulai melebar. Aku menggumamkan mantra untuk membuatnya membukakan pintu bagi kami untuk menyebrang. Sebuah cahaya putih yang menyilaukan seolah membuat mata kami seakan buta . Aku secara refleks memalingkan wajahku untuk menghindari cahaya yang begitu menyilaukan itu.

Setelah beberapa detik, cahaya itu mulai menghilang dan sekarang tampaklah sebuah pintu untuk menuju ke dunia seberang, dunia tempat Dimitri menantiku. Aku merasakan Abigail berpegangan pada leherku. Entah dia bersemangat atau takut. Aku pun merasakan takut dengan apa yang akan aku hadapi.

Aku kembali menyarungkan belatiku dan meletakkannya ke dalam sakuku. Aku membulatkan tekadku dan melangkahkan kakiku menuju ke dunia manusia. Aku melewati pintu itu dan menyebrangi dinding pembatas.

Aku merasakan tubuhku menggigil ketika aku telah melewati dinding pembatas. Aku merasa otakku berputar kebingungan seolah aku mendarat di dimensi lain. Aku menoleh ke belakang ke tempat dinding pembatas seharusnya berada, namun ternyata aku hanya melihat sebuah lapangan rumput kosong dan luas di belakangku.

Aku tidak bisa melihat dinding pembatas itu lagi. Itu artinya kini aku sudah berada di dunia manusia. Aku melihat ke atas, rembulan masih tampak sama namun cahayanya terasa tidak sama seperti yang aku rasakan di hutan Mirkwood.

Aku melihat ke sekelilingku. Aku sedang berdiri di sebuah lapangan rumput hijau yang luas. Di kejauhan tampak sebuah pedesaan yang ditandai dengan sinar-sinar lampu yeng tampak gemerlap.

Di hutanku, kami tidak memakai lampu seterang itu. Kami biasa memakai penerangan lilin dan api. Tapi di sini, aku merasakan banyak sekali keanehan. Rerumputan di sini tidak menyapaku seperti yang biasanya terjadi di hutanku. Di sini semua tanaman seolah membisu.

Aku menyentuh bahuku dan berharap menemukan Abigail di sana. Namun betapa terkejutnya aku ketika bahu kiriku kosong! Aku mulai panik dan mencari keberadaannya. Aku memanggilnya dengan suara pelan.

"Abigail!"

"Aku di sini." Suaranya terdengar lemah dan terasa jauh.

Aku mengikuti arah suara itu. Di sana, di belakangku, Abigail tergeletak di tanah berumput. Aku segera berlari menghampirinya.

"Kau kenapa?" Aku berlutut di sampingnya.

"Telingamu kenapa?" Dia tidak menjawab pertanyaanku.

Aku segera menyentuh telingaku. Aku terkejut mendapati cuping telingaku berubah. Kini daun telingaku berbentuk bundar seperti telinga manusia pada umumnya.

"Tidak mungkin!" bisikku.

Apakah ini memang akan terjadi ketika aku menyebrang? Tanyaku dalam hati. Aku melupakan perubahan telingaku dan kembali berfokus pada Abigail. Ia tampak begitu lemah. Wajahnya mulai kehilangan sinarnya. Ia juga tampak pucat dan murung.

"Ada apa denganmu?" tanyaku prihatin.

Ia menggeleng lemah. Apakah dia akan bertahan atau tidak, entahlah.

"Eleanor, berhati-hatilah di tempat ini," dia mengucapkannya dengan susah payah seolah tenaganya habis.

"Abigail, jangan bicara seolah-olah kau akan meninggalkanku!" Aku nyaris menangis saat ini.

"Mungkin tempat ini tidak cocok bagi tubuhku." Suaranya terdengar semakin melemah.

Aku meraihnya dan meletakkannya di telapak tanganku. Aku melihat sayapnya begitu transparan dan rapuh hingga guratan kecil ototnya terlihat jelas. Dia harus bertahan! Jika dia mati, aku tidak akan bisa memaafkan diriku.

"Seharusnya kau tidak ikut denganku," ujarku lirih.

"Aku telah bersumpah untuk setia padamu." Kali ini ia mengucapkannya sambil tersenyum lemah.

"Jangan tinggalkan aku," isakku.

"Eleanor." Ia mengulurkan tangan mungilnya padaku.

Aku mengangkat kedua telapak tanganku mendekati wajahku agara aku bisa melihatnya lebih jelas.

"Kau harus bahagia!"

Kali ini aku benar-benar menangis. Bahuku berguncang hebat.

"Maafkan aku," ujarku di antara isakanku.

"Tidak perlu meminta maaf. Kau tahu, hal terbaik dalam hidupku adalah ketika aku bisa menjadi pelayan dari tuan putri seperti dirimu." Kali ini senyumnya terkembang di wajah mungilnya.

Aku menangkupkan telapak tanganku yang lain di atas tubuhnya. Aku segera mengucapkan mantra sihir penyembuh dan berharap dia akan kembali pulih seperti semula. Tidak ada yang terjadi! Abigail tidak membaik, justru kondisinya semakin melemah.

Tidak! Apa yang terjadi? Kenapa kekuatan sihirku menghilang? Aku mencoba mengulangi mantraku. Nihil! Aku menggeleng frustasi dan kembali mencoba untuk ketiga kalinya. Masih tidak ada yang terjadi.

"Sudahlah, mungkin kekuatan sihirmu terikat dengan hutan Mirkwood," bisiknya. Suaranya terdengar bergetar.

Aku semakin panik. Mungkin benar apa yang dia katakan. Telingaku berubah dan kekuatan sihirku menghilang. Mungkin ini semua terjadi karena saat ini aku sudah berada di dunia manusia.

"Bertahanlah!"

Aku mengelus pipinya yang begitu mungil. Ia memejamkan mata dan tersenyum lemah.

"Eleanor, semoga kau bahagia."

Itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dari mulutnya. Ia memejamkan matanya untuk selamanya. Aku mengguncangkan tubuh mungilnya. Namun ia telah tiada. Aku jatuh berlutut sambil tetap memegangnya di telapak tanganku. Saat ini hanya dia yang tersisa dari duniaku. Namun kini dia telah pergi untuk selamanya. Aku berlutut dan menangisi takdirku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!