Aku merasakan air mataku mengalir begitu deras membanjiri pipiku. Hatiku terasa pedih seolah diiris oleh belati. Kenapa cinta terasa begitu menyakitkan seperti ini, jeritku dalam hati.
Aku menatap nanar ke arah hutan yang ada di depanku. Pohon kami seolah menjadi saksi betapa pedihnya hatiku saat ini. Aku mengusap air mataku agar tidak ada yang mengetahui bahwa aku telah menangis.
"Apakah kau sedang mencari seseorang?" Suara seorang peri mungil yang tiba-tiba muncul di samping telingaku membuatku terlonjak kaget.
Aku menatap ke arahnya dengan raut wajah khawatir. Apakah ia mengetahui rahasiaku, pikirku dalam hati. Peri mungil itu menari-nari dan berputar mengelilingi kepalaku.
"Apa maksudmu?" tanyaku ke arahnya dan mencoba menangkapnya dengan kedua telapak tanganku namun dia menghindari tepukan tanganku dengan begitu gesit sambil tertawa terkekeh.
Kali ini dia menghentikan tawanya dan raut wajah mungilnya berubah menjadi serius. Ia terbang mendekat ke samping telingaku dan aku nyaris merasakan kepakan sayapnya di daun telingaku yang runcing.
"Aku melihat sebuah rahasia," bisiknya.
Aku menatapnya dengan mata melotot dan mulut menganga membentuk huruf "O".
"Rahasia apa yang kau maksud?" tanyaku dengan nada panik.
Ia berdiri di bahuku dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Aku melihat seorang pria bertubuh tinggi keluar dari dinding pembatas itu!" ujarnya dengan raut wajah antusias seolah ia menemukan sebuah rahasia yang begitu berharga.
Aku menelan ludah dengan sudah payah dan dia pasti melihat kepanikan di wajahku karena dia tampak terkejut.
"Apakah aku membuatmu takut?" tanyanya dengan nada khawatir.
"T-tidak," ujarku dengan suara tergagap.
"Apakah kau mengenal pria itu?" Ia kembali bertanya penasaran.
"Tidak," ujarku pelan.
"Aku bisa melihat raut ketakutan yang jelas terpampang di wajahmu," ujarnya seraya menyemburkan kilauan emas ke arah wajahku.
"Omong kosong!" ujarku dengan nada ketus.
"Jangan marah begitu, Eleanor!" serunya seraya kembali terbang mengitari kepalaku dan membuatku pusing melihatnya.
"Jangan sampai ada yang mengetahui tentang hal ini!" Aku mengucapkannya dengan nada mengancam.
"Kau mau membuat kesepakatan denganku?" tanyanya.
Kaum peri kecil adalah kaum yang manipulatif. Mereka tidak suka melakukan sesuatu dengan percuma. Semua yang mereka lakukan harus selalu diberi imbalan.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku dengan nada tidak sabar seraya menghentakkan kakiku ke tanah.
"Kau terlalu mudah marah!" ujarnya seraya kembali terkikik.
Aku memiringkan bibirku karena nyaris kehilangan kesabaran. Ia kembali berdiri di bahuku dan mendekatkan dirinya ke telingaku untuk kembali berbisik.
"Waktu itu aku melihat pria yang sama sedang bersamamu di balik pohon ini," ujarnya seraya terkikik.
Kali ini darahku seolah naik ke kepalaku. Aku merasakan getaran emosi di dalam jiwaku. Jadi dia memata-matai aku selama ini.
"Katakan apa yang kau inginkan sebagai imbalan?" tanyaku blak-blakan.
Ia tampak sedang berpikir. Aku merasa benar-benar tidak sabar dengan tingkahnya. Tapi aku menyadari bahwa kali ini aku harus memberinya imbalan yang ia minta agar ia tidak membocorkan rahasia tentang aku dan Dimitri.
"Begini saja, bagaimana jika kau mengizinkan aku untuk menjadi pengawal mu dan tinggal bersamamu di dalam istana?" tanyanya dengan mata yang berbinar-binar.
"APA?" Aku nyaris berteriak ke arahnya dan membuatnya hampir terpelanting karena kaget.
Ia mengedipkan matanya dengan cepat ke arahku seraya tersenyum memohon. Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai dirinya. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Aku tidak mau dia membocorkan rahasiaku.
"Apakah tidak ada pilihan lain selain hal itu?" tanyaku mencoba untuk bernegosiasi.
Ia menghembuskan nafas dengan raut wajah kesal.
"Terserahlah, jika kau ingin semuanya tahu tentang si pria manusia ini ... ," ancamnya dengan nada mengancam.
Aku menghela nafas dengan berat dan menggelengkan kepalaku dengan frustasi.
"Baiklah," ujarku dengan wajah jengkel.
Ia memekik kegirangan mendengar persetujuan dariku. Ia terbang mengitari kepalaku seraya mengeluarkan serbuk emas. Ia bernyanyi dengan begitu riang.
"Aku akan memiliki posisi sebagai pelayan Tuan Putri!" pekiknya kegirangan.
"Begitulah," ujarku dengan nada jengkel.
"Teman-temanku pasti iri dengan prestasi yang aku raih saat ini!" Ia nyaris berteriak kegirangan seraya terbang berputar-putar.
"Sebelum memasuki istana bersamaku, kau harus bersumpah setia terlebih dahulu padaku." Aku mengulurkan tanganku ke arahnya agar ia mendarat di atas telapak tanganku.
Ia mengehentikan terbangnya dan mendarat di telapak tanganku.
"Baiklah," jawabnya menyetujui perintahku.
Aku memintanya untuk bersumpah dnegan bahasa kuno. Ia menuruti ku dan mengucapkan sumpah setianya padaku. Kali ini dia terikat padaku dan harus setia melayani dan mengikuti semua perintahku.
Ini adalah momen pertama kalinya ada peri kecil yang menjadi pelayan bagi anggota keluarga istana. Mungkin hal ini tampak begitu keren baginya.
"Aku memberimu nama Abigail," ujarku.
"Nama yang bagus," pekiknya kembali tertawa.
Aku mengangguk.
"Baiklah, kau harus menjaga rahasia agar tidak ada siapapun yang mengetahui tentang Dimitri," perintahku.
"Baiklah, sesuai perintahmu." Dia kembali bernyanyi di samping telingaku.
"Ada yang ingin kutanyakan," ujarku.
Dia menghentikan nyanyiannya dan menatap penasaran ke arahku.
"Kapan kau melihat Dimitri meninggalkan hutan?" tanyaku penasaran.
"Tadi malam sebelum kakakmu dan pengawalnya berpatroli," ujarnya.
"Apa?" tanyaku seraya mengerutkan dahi ke arahnya.
Dia mengabaikan kekagetanku dan kembali bernyanyi. Tadi malam? Apakah itu artinya Dimitri ada di sini kemarin saat aku mencarinya? Tapi kenapa dia tidak menemuiku? Ataukah Dimitri sengaja membohongiku? Tidak mungkin!
Aku masih begitu mengingat jelas suaranya ketika dia berbisik di telingaku bahwa dia mencintaiku. Dia tidak mungkin membohongiku. Kami berdua telah menyatu. Ini pasti ada kesalahpahaman!
Aku merasakan sinar mentari mulai menghangat. Itu artinya aku harus segera kembali ke tempat rombongan istana di dinding pembatas.
Aku berjalan menuju ke tempat rombongan itu. Kali ini aku kembali membawa Abigail yang sedang terbang di sebelah telinga kiriku seraya bernyanyi dengan begitu ceria seolah dia tidak memahami sakit hatiku yang sedang menggerogoti jiwaku saat ini.
Aku melihat ibuku menoleh saat mendengarku mendekatinya. Wajahnya tampak terkejut ketika dia menyadari bahwa ada peri kecil yang bersamaku.
"Eleanor, kenapa kau membawanya bersamamu?" tanyanya dengan raut wajah yang tidak terlalu tampak senang.
"Dia akan tinggal bersamaku di istana," ujarku menjelaskan padanya.
"Apa?" Ibuku seolah tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Dia telah bersumpah setia dengan bahasa kuno," ujarku meyakinkan ibuku.
Ibuku mengangguk dan kembali menatap ke aah dinding pembatas di depan kami. Kami menoleh ke arah salah satu penyihir yang berlari ke arah kami.
"Yang Mulia!" ujarnya dengan nada panik.
"Ada apa?" tanya ibuku.
"Ada seseorang yang sengaja melewati dinding pembatas ini beberapa kali," jelasnya dengan panik.
"Apa maksudmu?" Kali ini aku merasakan ketakutan yang menjalari punggungku.
"Aku menemukan jejak irisan belati serbuk bulan yang digunakan untuk melewati dinding pembatas ini," ujarnya dengan raut wajah ketakutan.
Ucapannya membuatku semakin ketakutan. Apakah ini artinya Dimitri membohongiku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments