Aku ingin melonjak kegirangan mendengar apa yang diucapkan oleh Rose padaku. Aku akan segera bertemu dengan Dimitri. Aku menyentuh perutku dan merasakan gerakan kecil di dalam sana. Kau akan segera bertemu dengannya, Nak!
"Ayo cepat antar aku ke sana! Aku tidak sabar ingin segera berjumpa dengannya!" seruku dengan penuh semangat.
Aku melihat raut wajah Rose berubah menjadi sedikit murung. Kenapa dia tampak tidak senang ketika aku mengajaknya untuk menemui Dimitri? Entahlah. Kini hal terpenting bagiku adalah aku akan segera bertemu dengan belahan jiwaku.
"Jangan terburu-buru!"
"Bagaimana mungkin aku tidak terburu-buru, Rose? Aku mengorbankan semua yang aku miliki demi dirinya!" Aku bangkit dari kursiku.
Rose meraih bahuku dan menyuruhku untuk kembali duduk. Aku tetap bergeming. Aku harus segera menemui Dimitri. Aku tidak sabar lagi. Aku ingin meluapkan kerinduanku yang selama ini aku pendam untuknya. Aku ingin melihat waha bahagianya ketika ia tahu bahwa aku sedang mengandung anaknya.
Ia akan mengerti betapa besar rasa cintaku padanya hingga aku rela meninggalkan duniaku demi dirinya. Kini tidak akan ada yang menghalangi kami berdua. Kami akan bersama di sini, di duniaku yang baru.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!" Kali ini nada suaraku berubah menjadi tidak sabar.
Rose tersentak kaget mendengar ucapanku yang nyaris kasar. Aku merasa bersalah padanya. Ia bangkit dari kursinya dan berdiri di depanku. Ia menatap lekat mataku.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk melukaimu," ujarku sambil menggigit bibirku dengan rasa bersalah yang membuncah.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti apa yang sedang kau rasakan." Ia menepuk ringan bahuku.
"Apakah rumah Dimitri letaknya jauh dari sini?"
Rose mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaanku. Kenapa dia selalu seperti menghindar ketika aku membicarakan Dimitri. Apa yang sebenarnya ia sembunyikan dariku?
"Rose, apakah kau mengenal Dimitri?"
Ia tidak segera menjawab pertanyaanku.
"Rose, jawab aku!" Kali ini aku benar-benar nyaris kehilangan kesabaran.
"Ya, aku mengenalnya," jawabnya singkat.
"Kalau begitu, ayo segera antar aku ke sana!"
"Eleanor, sebaiknya kau jangan menemuinya," ujarnya lirih.
Saat ini aku melihat raut kekhawatiran yang nampak begitu jelas di wajahnya. Aku memiringkan kepalaku dan menautkan kedua alisku. Ada apa sebenarnya ini? Apa yang ia sembunyikan dariku?
"Jangan bercanda!" Aku mendengus kesal.
Rose terdiam dan kali ini tubuhnya berdiri kaku.
"Aku mengorbankan semua yang aku miliki demi dunia tempat Dimitri tinggal. Aku meninggalkan semua yang aku sayangi demi dirinya! Bagaimana mungkin kau melarangku untuk pergi menemuinya? Sedangkan kau paham betul seperti apa rasanya hal ini bagiku?" Air mataku nyaris tumpah.
Rose segera memeluk tubuhku dan mengusap punggungku.
"Maafkan aku," bisiknya.
"Kalau begitu, ayo antarkan aku untuk menemuinya."
Rose mengangguk pelan. Aku mengusap air mataku yang mulai menetes. Perasaanku bercampur aduk antara senang dan juga gugup.
"Mungkin butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di rumahnya."
Aku mengangguk antusias.
Rose mulai berjalan menuju keluar rumah dan aku berjalan di sampingnya. Hari itu tampak cerah. Aku merasa tubuhku jauh lebih sehat daripada semalam. Mungkin karena saat ini aku begitu bersemangat. Aku tidak sabar ingin segera menemuinya.
Kami berdua berjalan bersampingan di sepanjang jalan. Aku melihat pedesaan itu begitu indah. Rumah-rumah tertata begitu rapi. Hampir setiap rumah di sana memiliki taman. Jalanan hari itu tidak terlalu ramai. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang menyapa Rose sambil tersenyum. Sepertinya semua orang di sini mengenalnya. Wajar saja karena dia sudah sangat lama tinggal di sini.
Aku merasa orang-orang yang berpapasan dengan kami juga ramah. Pantas saja Rose betah tinggal di sini. Mungkin benar bahwa tidak semua manusia di sini jahat. Dulu sebelum bertemu dengan Dimitri, aku mengira bahwa manusia itu mengerikan. Semua kaum elf percaya bahwa manusia itu begitu brutal setelah terjadi penyerangan di hutan kami.
Namun kini aku meyakini bahwa tidak semua manusia itu jahat. Di sini, di duniaku yang baru aku merasa aku langsung diterima dengan baik. Semua orang yang kutemui tampak ramah dan baik.
"Sepertinya kau begitu bahagia dengan kehidupan di sini." Aku menoleh ke arahnya.
"Begitulah. Dulu aku mengikuti apa yang dikatakan oleh hatiku. Aku memutuskan untuk memilih jalan hidupku sendiri." Ia tersenyum ke arahku.
"Apakah kau bahagia dengan keputusanmu?"
Ia tidak segera menjawab pertanyaanku. Aku membiarkannya terdiam sesaat. Aku menunggu jawaban darinya.
"Kau tahu, hidup adalah rangkaian dari berbagai hal baik dan buruk. Apapun pilihanku, aku bangga bisa hidup di atas keputusan yang ku buat sendiri."
Aku mengangguk mengerti mendengar perkataannya. Jawabannya membuatku yakin dengan apa yang sudah aku pilih dalam hidupku. Aku tidak akan pernah menyesali keputusan yang aku buat saat meninggalkan duniaku dan masuk ke dunia Dimitri.
Kami melanjutkan perjalanan. Rose tampak jauh lebih pendiam saat ini. Tidak seperti ketika sedang berada di rumah saat dia selalu terlihat ceria dan bersemangat, kini ia tampak pendiam dan sorot matanya selalu terlihat khawatir. Guratan di wajahnya menampakkan kekhawatiran yang terlihat begitu jelas.
Aku mejadi semakin gugup melihat tingkahnya yang mendadak diam seperti ini. Apakah dia tidak menyukai Dimitri? Entahlah. Tidak lama lagi aku akan segera mengetahui jawabannya.
"Apakah masih jauh?" tanyaku memecah keheningan di antara kami.
"Sudah hampir sampai." Ia menjawab tanpa menoleh ke arahku.
Aku semakin merasa tidak enak. Mungkinkah aku merepotkannya karena memintanya mengantarkan aku ke rumah Dimitri?
"Apakah kau sudah lama mengenalnya?" Aku kembali bertanya.
"Ya." Jawabannya begitu singkat.
Aku mendengar ketegangan yang tersirat dalam suaranya. Aku menjadi semakin gugup. Aku merakan telapak tanganku berkeringat. Jantungku berdebar semakin kencang seiring setiap langkahku yang membawaku semakin dekat menuju Dimitri.
Aku sesekali melirik ke arah Rose. Dia tampak tegang. Dia sama sekali tidak berbicara. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah yang tampak tidak jauh berbeda dari rumah-rumah yang ada di sana.
Rumah itu berpagar besi seperti rumah Rose. Halamannya juga tampak luas. Terdapat banyak tanaman di sana. Halamannya ditumbuhi rerumputan hijau yang terawat dan tampak rapi. Aku menoleh ke arah Rose. Ia menoleh ke arahku dan mengangguk lemah. Jadi di rumah inilah Dimitri tinggal.
Jantungku berdebar semakin kencang. Aku menatap tepat ke arah rumah itu. Rumah itu tampak kosong namun pintu depannya terbuka. Itu artinya Dimitri ada di dalam sana! Aku ingin melonjak kegirangan. Aku begitu bersemangat kali ini.
Aku melangkah memasuki halaman rumah itu tanpa bertanya pada Rose, namun aku merasakan dia melangkah mengikuti diriku di belakangku. Aku menghentikan langkah di depan pintu rumah itu. Aku akan memeluk Dimitri sebentar lagi! Aku menjerit bahagia di dalam hatiku.
Aku melihat seorang wanita muda melangkah keluar dan berjalan ke arah pintu. Wanita itu tersenyum ramah ke arah kami.
"Kalian mencari siapa?" tanyanya dengan nada ramah.
"Aku ingin menemui Dimitri," ujarku dengan antusias.
"Oh, baiklah. Aku akan memanggilkan suamiku!" Ia berbalik dan memanggil Dimitri.
Tunggu! Suaminya? Apa maksud dari perkataannya? Apakah Dimitri yang dimaksud adalah Dimitri-ku? Tidak mungkin!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments