Bab 14

Aku terbangun dan mendapati Rose sedang berdiri menghadap ke luar jendela. Aku merasa tubuhku sudah tidak terlalu lemah seperti sebelumnya, mungkin karena aku sudah beristirahat dengan cukup. Aku bangkit dari kasur dan berniat menghampirinya, namun ia segera berbalik mendengar diriku sudah bangun.

"Kau sudah bangun rupanya. Bagaimana keadaanmu?" Suaranya terdengar begitu tulus.

"Aku merasa segar." Aku mengangkat kedua tanganku melewati kepalaku dan meregangkan otot-ototku.

Rose berjalan menghampiriku.

"Aku sudah menyiapkan makanan. Kau segeralah mandi dan segeralah makan denganku!" Ia tersenyum.

Perhatiannya padaku mengingatkanku pada ibuku. Hatiku terasa perih. Aku segera berjalan menuju ke kamar mandi namun langkahku terhenti ketika dia kembali memanggilku.

"Eleanor, aku sudah menyiapkan beberapa pakaian untukmu di dalam lemari."

"Terimakasih. Kenapa kau begitu baik padaku?"

Dia hanya tersenyum seraya berbalik dan meninggalkan kamar. Aku menatap kepergiannya. Dia begitu lembut dan perhatian. Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diriku. Di sana aku mendapati sebuah cermin besar di balik pintu kamar mandi tersebut. Aku menatap pantulan diriku di dalam cermin. Pantas saja ia menyuruhku mandi. Aku tampak begitu lusuh dan berantakan.

Aku meraba daun telingaku yang kini bentuknya mirip dengan telinga manusia. Aku bersyukur karena telingaku bisa menyesuaikan diri dengan dunia yang kini aku tinggali. Seandainya telingaku masih berbentuk runcing, pastilah Rose akan ketakutan ketika menemukanku di depan pagar rumahnya semalam.

Aku menatap pakaian yang sedang aku kenakan. Pakaian ini terasa begitu mencolok dan berbeda dengan pakaian yang dikenakan Rose. Mungkin itulah alasan dia menyiapkan pakaian baru untukku.

Aku bergegas membersihkan diriku. Sepertinya Rose sudah menyiapkan segala keperluan untukku. Ada sabun yang beraroma bunga dan juga shampoo yang wanginya tak kalah harum dari aroma bunga musim semi di hutanku. Aku menghirup aroma sabun itu sambil memejamkan mata. Menghirupnya seolah membuatku merasa kembali ke rumah.

Air mataku merebak ketika aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah mungkin bisa kembali ke rumahku di hutan Mirkwood. Kenyataan itu membuatku sulit sekali untuk menelan ludah. Aku merasakan seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokanku.

Aku kembali menggosokkan sabun ke seluruh tubuhku. Aku terkejut ketika aku melihat perutku yang sudah mulai kelihatan membesar! Aku menggosok perutku dan tiba-tiba aku merasakan tendangan kecil dari dalam. Aku sontak tertawa.

Gerakan kecil di perutku seolah menghapus kesedihan yang aku alami saat ini. Aku melanjutkan membersihkan diriku dan membiarkan guyuran air membasuh seluruh tubuhku. Aku merasa jauh lebih segar dari pada sebelumnya.

Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan membuka lemari seperti yang tadi dikatakan Rose. Aku mendapati beberapa pakaian yang sebelumnya tidak pernah aku temui di hutan. Aku melihat beberapa celana panjang dan juga beberapa blouse di sana. Ada juga gaun yang tampak indah dengan model yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Selama aku hidup di hutan Mirkwood, pakaian kaum elf berbeda dengan pakaian manusia. Biasanya elf wanita mengenakan pakaian yang bagian atasnya agak terbuka dengan bawahan rok dengan potongan yang menampakkan keindahan kaki jenjang kami yang begitu indah. Namun di sini tampaknya mereka memakai pakaian yang tidak terlalu terbuka seperti pakaian kaum elf.

Aku memilih satu celana panjang dan atasan blus berwarna biru cerah. Aku menyukai warna-warna cerah. Sepertinya Rose juga begitu karena semua pakaian yang ia sediakan di dalam lemari semuanya berwarna cerah. Mungkin seleranya sama dengan selera kaum elf. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengan orang baik seperti dirinya.

Aku segera mengenakan pakaian itu dan bersiap-siap untuk makan. Tadi Rose berkata bahwa ia menungguku. Setelah aku memastikan bahwa diriku rapi, aku meninggalkan kamar dan menemukan Rose sedang tersenyum ketika melihatku melangkah ke dalam ruang makan.

Aku memilih untuk duduk di kursi yang berada di seberangnya. Aku melihat meja makan itu telah dipenuhi berbagai macam makanan. Mulai dari roti, daging serta buah-buahan.

"Kenapa ada banyak sekali makanan?" Aku bingung karena ada begitu banyak makanan yang tersedia sedangkan kami hanya berdua.

"Aku ingin kau mencicipi semua makanan ini!" Serunya penuh semangat.

Ia berdiri dan mengambilkan dua potong roti serta dua potongan besar daging dan menyerahkan piring yang telah terisi penuh itu padaku.

"Ayo makanlah!"

Aku ragu apakah aku bisa menghabiskan makanan yang ia ambilkan untukku. Tapi aku menerima piring itu agar ia tidak kecewa. Aku mulai menggigit rotiku yang rasanya luar biasa nikmat. Sepertinya Rose memiliki selera yang sama seperti kaum elf, tidak hanya soal warna melainkan juga soal makanan.

Aku makan dengan lahap. Namun aku terdiam ketika aku menyadari Rose hanya menatapku dan tidak memakan makanannya sendiri.

"Kenapa kau tidak makan?" Tanyaku dengan suara canggung.

"Aku senang melihatmu makan. Ayo cepat habiskan!" Ia kembali tersenyum.

Dia seperti seorang ibu yang sedang memperhatikan anaknya. Aku melanjutkan makan. Mungkin aku memang benar-benar lapar karena ternyata aku menghabiskan seluruh isi piringku yang tadi Rose ambilkan untukku. Melihatku selesai makan, Rose segera mengambilkan minuman untukku.

Ia menyerahkan segelas penuh sari anggur padaku. Aku segera menghabiskan minuman itu. Kaum elf begitu menyukai minuman sari buah seperti ini.

Setelah aku benar-benar kenyang, aku duduk bersandar di kursi meja makan.

"Terimakasih!"

"Aku senang sekali kau sudah kelihatan membaik." Dia bernafas lega.

"Aku beruntung bisa bertemu dengan orang baik sepertimu." Aku tersenyum ke arahnya.

"Eleanor," suaranya terhenti.

Aku kembali melihat tatapan tegang di matanya seperti ketika pertama kalinya dia mendengar namaku.

"Ada apa?" tanyaku khawatir.

"Kau berasal dari mana?" Dia bertanya dengan suara lirih.

"A-aku ... " suaraku tercekat.

Aku melihat tatapan khawatir di wajahnya.

"Tinggallah di sini!" ujarnya dengan nada memohon.

"Aku sebenarnya sedang mencari seseorang yang mungkin tinggal di daerah sini."

"Siapa orang itu?" Ia mengerutkan dahinya.

"Dimitri."

Aku melihat matanya melotot ketika mendengar nama Dimitri. Namun ia segera menyembunyikan kekagetannya dengan begitu cepat.

"Untuk apa kau mencarinya?" Kali ini nada suaranya kembali normal seperti tadi.

"Aku ... " Kali ini ucapanku terhenti.

"Eleanor, ada yang harus aku katakan padamu." Dia berbicara pelan.

Aku menunggunya melanjutkan ucapannya. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekatiku. Ia berdiri di sampingku dan memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan ku. Aku menatap matanya. Warna matanya sama dengan warna mataku. Bahkan aku melihat lingkaran emas di sekeliling pupilnya.

"Eleanor, aku berasal dari hutan Mirkwood. Sama sepertimu." bisiknya.

Aku terkejut mendengar apa yang baru saja ia katakan. Mataku melotot dan mulutku terbuka namun aku tak mampu mengucapkan apapun! Aku begitu shock!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!