Aku mencerna apa yang baru saja ku dengar. Rose berasal dari hutan Mirkwood, itu artinya ia adalah seorang elf sama sepertiku!
"Kau adalah elf," bisikku.
Ia mengangguk dengan penuh antusias. Kini aku baru mengerti kenapa dia begitu perhatian padaku. Ia telah menyadari bahwa aku seorang elf saat pertama kali ia menemukanku di depan rumahnya. Itu juga sebabnya dia begitu menyukai warna terang sepertiku dan juga menyukai makanan dan minuman yang sama sepertiku.
"Tapi, kenapa kau tinggal di sini?" Aku bertanya dengan nada penasaran.
Ia menarik sebuah kursi ke sampingku dan duduk di dekatku. Kali ini tatapannya menerawang dan ia menghela nafas panjang. Aku tahu bahwa ia sedang menyusun kalimat untuk menjelaskannya padaku.
"Aku sudah tinggal di sini sejak lama." Ia menghentikan kalimatnya dan menoleh ke arahku.
"Kenapa?" Suaraku nyaris terdengar seperti bisikan.
"Dahulu, ketika kau baru lahir, aku tidak sengaja bertemu dengan seorang manusia. Pria itu begitu baik padaku." Ia menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya. "Kami berdua sering menghabiskan waktu bersama. Saat itu aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia saat bersamanya." Ia menghentikan kalimatnya dan menoleh ke arahku.
Aku melihat tatapan matanya yang sayu. Ia meraih gelas yang berisi minuman di meja dan meneguk isinya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Sebelum terjadi peristiwa penyerangan, kaum elf dan manusia bisa hidup berdampingan. Aku dan pasanganku merasa sangat bahagia. Namun, situasi berubah menjadi tak terkendali. Ketika terjadi penyerangan di hutan, segalanya terasa kacau." Ia kembali menghentikan ceritanya dan menghela nafas panjang.
"Lalu apa yang terjadi kemudian?" tanyaku.
"Setelah masa penyerangan, kau tahu bahwa hutan kita dilindungi oleh dinding pembatas yang memisahkan dunia kita dengan dunia manusia. Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Tristan."
Kini aku merasakan kepedihan yang terdengar jelas dalam nada suaranya. Aku paham betul seperti apa rasa sakit yang dialaminya. Aku pun merasakan kepedihan yang sama ketika aku kehilangan Dimitri.
"Lalu, bagaimana kau bisa ada di sini?"
Tatapannya kembali menerawang mendengar pertanyaanku.
"Saat itu aku begitu terpukul ketika aku harus kehilangan Tristan. Aku seperti kehilangan bagian dari diriku. Aku setiap hari mencarinya ke seluruh penjuru hutan berharap aku bisa menemukan Tristan di sana. Tapi kemudian aku menyadari bahwa usahaku sia-sia. Dinding pembatas tidak bisa dimasuki oleh manusia dari luar. Kemudian aku memutuskan untuk mencari Tristan di dunianya."
Ia kembali meraih gelas di depannya dan menghabiskan sisa minumannya. Ia memutar-mutar gelas itu di tangannya sebelum meletakkannya kembali. Aku masih menunggu kelanjutan ceritanya.
"Saat itu kau masih begitu kecil. Kau adalah anak tercantik di istana," ujarnya seraya menatapku dengan senyuman di bibirnya.
Pantas saja aku tidak mengenalnya. Itu artinya Rose telah sangat lama meninggalkan hutan Mirkwood.
"Suatu hari, aku memutuskan untuk menembus dinding pembatas untuk mencari Tristan di sini." Suaranya perlahan berubah menjadi semakin pelan.
"Lalu dimana dia saat ini?" tanyaku seraya menoleh ke seantero ruangan berharap aku bisa menemukan sosok pria yang membuatnya rela meninggalkan hutan.
"Manusia memiliki rentang usia yang begitu pendek, Sayang." Dia membelai rambutku.
Apakah itu artinya Tristan telah meninggal? Aku kembali menatap wajah Rose. Aku mencari jawaban dalam sorot matanya. Ada sinar kepedihan yang terpancar dari tatapan matanya.
"Aku turut berduka," bisikku lirih dan memalingkan pandanganku darinya.
Aku menyadari bahwa mungkin suatu hari nanti aku akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami Rose. Aku harus menerima kenyataan bahwa Dimitri akan pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Usia manusia jauh lebih pendek daripada usia kaum elf. Kenyataan itu membuat dadaku terasa sesak.
"Lalu apa yang kau lakukan setelah Tristan meninggal?"
"Aku melanjutkan hidupku di sini dengan mengingat segala hal tentangnya." Ia menoleh ke arahku dengan pandangan sayu. "Eleanor, apakah kau datang kemari dengan alasan yang sama sepertiku?"
Aku menunduk dan menghindari tatapannya. Aku mendengar dia menghembuskan nafas panjang dan berat.
"Aku sedang mengandung anak Dimitri," ujarku lirih.
Dia tidak menjawab. Aku menoleh ke arahnya. Dia sedang menatap wajahku dengan prihatin.
"Kau tahu, cinta adalah hal yang paling rumit di dunia ini. Tapi tanpa cinta, segalanya terasa tidak berarti."
Aku terdiam mendengar ucapannya. Aku paham betul apa yang dia katakan.
"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?" Ia mengerutkan dahinya.
"Aku juga tidak mengerti bagaimana Dimitri bisa memasuki hutan itu. Waktu itu aku menemukannya di bagian selatan hutan di dekat dinding pembatas. Saat itu kondisi dinding pembatas sedang melemah." Aku memotong kalimatku dan menatap ke luar dari jendela yang sedang terbuka. Di sana tampak hutan yang mengarah ke Mirkwood.
"Aku menemukannya sedang tersesat di hutan. Lalu kami saling mengenal dan pada akhirnya kami jatuh cinta." Ingatanku kembali memutar ulang semua kenangan manisku bersama Dimitri.
"Lalu bagaimana dia bisa kembali melewati dinding pembatas dan kembali ke dunia manusia?" tanyanya.
"Entahlah." Aku mengangkat bahuku dan menarik nafas berat. "Saat itu orang-orang di istana dihebohkan oleh berita tentang dinding pembatas yang sengaja dirusak dari dalam. Namun sampai hari terakhirku di istana, aku tidak tahu siapa yang melakukannya."
Tanganku tanpa sadar menyentuh perutku. Aku merasakan tatapan Rose beralih ke perutku.
"Eleanor, tinggallah di sini bersamaku!"
"Tapi aku harus menemukan Dimitri. Dia harus tahu bahwa aku sedang mengandung anaknya!"
"Ya, aku mengerti. Tapi akan jauh lebih aman jika kau tinggal bersamaku di sini."
Aku memikirkannya sejenak. Mungkin memang benar apa yang dia katakan. Jika aku pergi sendirian di dunia yang asing ini, aku tidak akan tahu apa yang akan aku hadapi. Akan jauh lebih aman bagiku dan bayiku jika aku tinggal bersama Rose untuk sementara waktu. Lagipula dia adalah elf sepertiku.
"Baiklah."
Mendengar persetujuanku, dia tampak tersenyum lega.
"Bagaimana kau bisa pergi dari istana?" tanyanya.
"Aku pergi secara diam-diam. Bahkan kakakku tidak mengetahui hal ini. Aku tidak ingin dia mengkhawatirkan diriku. Aku pergi bersama Abigail." Kalimatku terputus ketika menyebutkan nama Abigail. Mataku kembali berkaca-kaca mengenang kematiannya.
"Abigail?" tanyanya.
"Ya, peri kecil yang telah terikat sumpah setia padaku."
"Dimana dia saat ini?"
"Dia tidak mampu bertahan. Ketika kami melewati dinding pembatas, tubuhnya tiba-tiba melemah. Aku telah berusaha untuk menyembuhkannya dengan kekuatan sihirku namun sepertinya sihir tidak berfungsi di sini."
"Peri yang malang!" Dia tampak terluka mendengar ceritaku. "Kau bilang sihirmu tidak berfungsi?"
Aku mengangguk.
"Tidak mungkin! Sampai hari ini aku masih bisa menyembuhkan tanamanku dengan kemampuan sihirku!" Ia terdengar tak percaya dengan apa yang aku katakan.
Aku menautkan kedua alisku mendengar apa yang baru saja dia ucapkan.
"Apa? Tapi bagaimana mungkin sihirku tidak bekerja?" pekikku.
Rose tampak berpikir serius. Beberapa saat kemudian tatapannya beralih pada perutku.
"Mungkin karena kau sedang hamil anak manusia," ujarnya pelan.
Ah, kini aku mulai paham.
"Bagaimana caraku menemukan Dimitri?"
"Eleanor, aku tahu Dimitri tinggal dimana."
Aku merasa tubuhku dijalari oleh kebahagiaan ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Rose.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments