Bab 5

Ayahku pergi meninggalkan kami berdua. Aku melihatnya pergi menuju ke kediaman para penyihir di istana. Mungkin ayahku akan membahas masalah perbaikan di dinding pembatas sebelah selatan dengan para penyihir istana.

Setelah aku yakin bahwa kami berdua telah aman, aku menoleh ke arah kakakku.

"Apa artinya ini?" tanyaku dengan perasaan bercampur aduk.

"Dinding pembatas akan kembali diperkuat sehingga tidak akan bisa dimasuki oleh makhluk apapun dari luar hutan ini," jelas kakakku.

"Aku tahu hal itu, yang ku tanyakan adalah bagaimana nasibku dengan Dimitri?" tanyaku dengan wajah jengkel.

"Si manusia itu?" tanyanya seraya melotot ke arahku.

"Jangan menyebutnya dengan nada seperti itu! Dia memiliki nama!" ujarku ketus.

Kakakku mendecakkan lidah dengan jengkel.

"Eleanor, sudah kubilang jangan terlalu peduli dengan manusia!" Ia mengingatkan ku seolah ia benar-benar mengerti apa artinya cinta.

Aku menggeleng frustasi ke arahnya. Aku berbalik dan berjalan sambil memunggunginya.

"Jangan marah begitu," ujarnya seraya menarik bahuku agar aku menghentikan langkahku.

Aku mengabaikannya dan terus berjalan menuju kamarku.

"Baiklah, aku minta maaf," ujarnya dengan nada bersalah yang terdengar begitu tulus.

Aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya. Aku masih memasang tampang murung. Bayangan Dimitri berseliweran di benakku.

"Mungkin kau benar tentang satu hal," ujarnya dengan wajah murung.

"Soal apa?" tanyaku seraya melipat kedua tanganku di depan dada.

"Soal aku tidak pernah tahu apa arti cinta yang sebenarnya," ujarnya dengan wajah menyesal.

"Sudahlah," aku mengibaskan tanganku ke udara agar dia tidak lagi membahas masalah itu.

Kakakku tidak pernah berkencan selama eksistensi kami. Dia selalu mengabdikan hidupnya untuk hutan ini. Satu-satunya teman bermain dan bercerita baginya hanyalah diriku.

Aku memandangnya dengan tatapan penuh simpati.

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk melukaimu," ujarku dengan raut wajah murung.

"Lupakan saja!" ujarnya dengan mengedikkan bahu.

Aku berbalik dan hendak kembali ke kamarku.

"Mau berlatih sihir denganku?" tanyanya dengan bersemangat.

"Aku sedang tidak ingin bermain-main dengan mantra," ujarku tanpa menoleh ke arahnya.

"Ayolah!" Dia memaksaku untuk mengikutinya ke ruangan khusus untuk belajar sihir.

"Tidak!" seruku.

"Begini saja, aku akan mencari cara supaya besok kita bisa mengendap-ngendap ke dekat dinding pembatas untuk mencari pacarmu," ujarnya seraya tertawa.

Dia selalu saja bisa mencairkan suasana hatiku yang sedang tidak bersemangat.

"Kau janji?" tanyaku memastikan.

"Ya, perlukah aku mengucapkan bahasa kuno?" tanyanya seraya tertawa.

"Tidak perlu, aku percaya padamu." Kali ini aku tersenyum ke arahnya seraya meninju bahunya.

Dia membalas tinjuku dengan pelan. Kami berdua tertawa dan berjalan bersama menuju ruangan untuk berlatih sihir. Kemampuan sihir kakakku sudah jauh di atasku. Sehingga ia diperbolehkan untuk menjadi mentorku ketika penyihir yang seharusnya menjalankan tugasnya untuk mengajariku sedang mengerjakan hal lain di istana.

Sesampainya di ruangan khusus itu. Kami berdua mengambil buku catatan bahasa kuno. Aku memilih satu buku tentang sihir pengobatan.

Aku menyukai bidang ilmu sihir yang satu ini. Sebab aku senang menyembuhkan luka pada tanaman yang ada di hutanku. Aku juga senang ketika aku bisa menolong untuk menyembuhkan luka pada hewan yang ada di sekitar hutan.

Aku mulai membaca buku itu. Setelah beberapa menit membaca, kakakku menyuruhku untuk mulai mempraktekkan beberapa mantra. Aku mengikuti setiap instruksinya.

Setelah beberapa menit berjalan, aku mulai merasa bosan dan aku kembali mengingat wajah Dimitri di benakku. Aku kembali terdiam dan termenung.

"Kau mulai mengingat pacarmu lagi ya?" tanyanya.

Aku sengaja mengabaikan pertanyaannya.

"Pantas saja beberapa hari ini kau tampak sering sekali melamun," ujar kakakku seraya menutup buku tua itu dan meletakkannya kembali ke rak.

Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya agar bisa kembali fokus.

"Besok sebelum para penyihir istana menuju ke daerah dinding pembatas di selatan, kita akan terlebih dahulu ke sana untuk mencari pacarmu," ujarnya.

Aku menatapnya dengan antusias.

"Apakah itu aman?" tanyaku dengan perasaan khawatir.

"Tentu saja, jika ada yang melihat kita, bilang saja bahwa kita sedang mengecek dinding pembatas," ujarnya dengan nada optimis.

"Baiklah," ujarku dengan penuh semangat.

"Eleanor," panggil kakakku dengan wajah yang tiba-tiba berubah serius.

Aku mengangkat kedua alisku ke arahnya.

"Ada apa?" tanyaku.

"Jika ternyata besok Dimitri tidak ada di sana, ku harap kau akan segera mencoba untuk melupakannya," ujarnya dengan wajah bersimpati.

"Tidak, dia pasti ada di sana!" ujarku dengan mantap.

"Sebaiknya sejak saat ini, kau harus mulai berusaha untuk melupakannya sebelum perasaanmu padanya terlanjur begitu dalam," ujarnya dengan nada bersalah.

"Perasaanku memang sudah terlanjur terlalu dalam," ujarku pelan.

Kakakku menghela nafas panjang mendengar ucapanku.

"Kalau begitu, beristirahatlah!" ujarnya seraya mengajakku untuk meninggalkan ruangan itu.

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan keluar dari ruangan itu menuju kamarku.

"Besok kita akan berangkat sebelum matahari terbit," ujarnya ke arahku.

Aku mengangguk padanya.

"Terimakasih," ujarku seraya tersenyum ke arahnya.

Dia melambaikan tangannya dan berbalik untuk menuju ke kamarnya sendiri.

Aku berjalan sendirian menuju ke kamarku. Sesampainya di kamar, aku segera menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku ingin beristirahat dan tidak sabar untuk segera berjumpa dengan Dimitri besok.

Aku memejamkan mataku dan berusaha untuk tidur namun otakku seolah melarang ku untuk terlelap. Aku terus membayangkan Dimitri. Aku ingat seperti apa sensasi di tubuhku ketika dia menyentuhku. Mengingatnya saja sudah membuat jantungku berdebar begitu cepat.

Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Tetap saja aku tidak bisa terlelap. Semakin aku menutup mataku, bayangan Dimitri semakin kuat dalam benakku. Dia benar-benar menguasai hati dan pikiranku.

Setelah seolah menunggu berabad-abad lamanya, aku mulai merasakan malam berganti menjadi dini hari. Aku bangun dan menyiapkan busur serta anak panahku.

Aku menunggu kakakku untuk mengetuk pintu kamarku. Aku tidak sabar untuk segera berangkat ke bagian selatan hutan ini.

Aku yakin Dimitri pasti ada di sana. Aku yakin dia pasti kembali untukku. Aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku. Aku segera meraih busur serta anak panah yang sudah aku siapkan.

Aku berlari ke arah pintu dan segera membukanya. Di depan pintu berdirilah ayah dan ibuku dengan wajah yang tersenyum hangat ke arahku.

Kenapa bukan kakakku yang berdiri di sini, tanyaku dalam hati.

"Rupanya kau begitu antusias untuk berangkat hari ini," ujar ibuku seraya membelai pipiku.

Aku memiringkan kepalaku sedikit dan tersenyum kikuk. Aku harap mereka berdua tidak melihat kepanikan di mataku.

"Semua penyihir sudah siap untuk berangkat ke bagian selatan hutan." Ayahku memberi isyarat dengan tangannya agar aku keluar dari kamar dan ikut serta bersamanya.

"Dimana Eldrin?" tanyaku penasaran.

"Semalam aku menyuruhnya untuk berpatroli di dekat dinding pembatas bersama beberapa pengawal," jelas ayahku.

Sial! Aku terjebak dalam situasi yang berada diluar kendaliku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!