Aku segera bangkit dari tempat tidur. Aku melihat Ayara menatapku dengan khawatir. Aku segera memeluknya untuk meyakinkan dirinya bahwa aku akan baik-baik saja. Ia terisak di bahuku. Selama eksistensiku, aku tidak pernah membayangkan aku akan mengalami hal seperti ini dalam hidupku.
Selama ini aku begitu terikat dengan hutanku. Hutan kami yang begit indah. Kerajaan ku yang begitu megah. Aku meneteskan air mataku ketika bayangan wajah orang tua ku serta kakakku berkelebat di benakku. Bagaimana aku bisa meninggalkan mereka, batinku. Namun, saat ini bayiku adalah prioritas utama yang harus aku pilih.
Aku melepaskan pelukan ku. Aku menatap lekat wajah Ayara. Selama ini dia adalah pelayan serta tabib yang begitu setia dan penuh kasih sayang. Kali ini aku menatapnya seolah aku tak akan pernah berjumpa dengannya lagi. Isakannya masih terus berlanjut.
"Berhentilah menangis," ujarku.
Ia menggeleng lemah dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Bagaimana kau akan keluar dari dinding pembatas?" Dia bertanya di sela isak tangisnya.
"Aku bisa keluar dengan mudah, dinding itu dirancang untuk tidak bisa ditembus dari luar, itu artinya kaum elf bisa keluar melewati dinding pembatas,"
Ia menatapku dengan hidung yang memerah akibat menangis. Wajah lembutnya membuat hatiku teriris. Aku harus meninggalkan mereka semua. Selama ini semua yang ku miliki berada di sini. Hari ini aku harus siap melepaskan semuanya. Aku harus mencari Dimitri dan membesarkan anak kami.
"Eleanor," ia kembali terisak.
Aku menggigit bibirku agar aku bisa menjadi lebih tegar menghadapi hal ini.
"Bagaimana nanti jika semua tahu kau tidak ada di dalam istana?"
"Katakan saja yang sebenarnya. Jika mereka tahu bahwa aku mengandung anak manusia, mereka tidak akan pernah berharap aku kembali ke sini."
Hatiku begitu teriris ketika mengucapkan hal itu. Ya, semua yang ada di kerajaan ini tidak akan pernah mengharapkan diriku untuk kembali ke sini ketika mereka mengetahui bahwa tuan putrinya mengandung bayi manusia.
Ayara tampak menutup mulutnya untuk menghentikan isak tangisnya. Namun hal itu justru membuat tangisannya menjadi semakin kencang hingga bahunya berguncang.
"Aku membutuhkan bantuanmu untuk menyiapkan hal-hal yang aku perlukan," perintahku dengan suara yang terdengar tegar.
Ia mengangguk dan bergerak dengan cekatan menyiapkan beberapa pakaian untukku. Aku meraih kertas papirus yang terletak di meja samping temat tidurku dan meraih pena bulu serta mulai menulis surat singkat untuk kakakku. Rasanya tidak adil jika aku tidak meninggalkan sebuah pesan singkat untuknya. Dia adalah bagian dari hidupku. Aku mulai menulis.
Dear Eldrin,
Aku harus pergi. Percayalah aku melakukannya demi kebaikan kita semua! Jangan pernah mencariku karena aku pasti akan baik-baik saja dan bahagia.
Jangan lupa untuk mengasah kemampuanmu memanah, selama ini kau selalu saja kalah dalam hal memanah dariku! Oh ya aku hampir lupa, kau harus banyak makan agar tidak tampak semakin kurus. Jangan terlalu sering menghabiskan waktu di perpustakaan sihir, sesekali bermainlah di tepi hutan untuk melihat keindahan bunga emas!
Aku menyayangimu,
Eleanor
Aku melipat surat itu sambil menangis. Aku yakin, nanti ketika kakakku membacanya, ia juga akan menangis. Bagaimana dia akan bisa menerima kenyataan bahwa aku sudah tidak lagi di istana. Air mataku menjadi semakin deras ketika aku membayangkan ibuku. Ia akan sangat terpukul dengan hal ini. Ayahku pasti juga akan mengalami hal yang sama.
Aku menguatkan diriku dan meletakkan surat itu di meja. Nanti kakakku pasti akan menemukannya. Aku melihat Ayara telah selesai menyiapkan beberapa pakaian yang akan aku bawa. Aku menoleh ke arah busurku yang tergantung rapi di dinding. Aku tidak akan membawanya ke dunia manusia.
Ayara membungkus beberapa pakaianku ke dalam tas berburu agar aku mudah untuk membawanya. Setelah selesai, ia berjalan ke arahku dan memelukku dengan erat hingga aku nyaris tidak bisa bernafas. Ia kembali menangis.
"Jangan menangis seperti ini! Jangan menambah rasa bersalahku lagi!"
Aku melepaskan pelukannya dan berbalik untuk membuka lemari pakaianku dan mengambil banyak keping emas dari sana. Aku akan membutuhkannya nanti, pikirku. Aku meraup keping emas itu dengan kedua tanganku dan memasukkannya ke dalam tasku.
Aku kembali menoleh ke arah Ayara yang saat itu sedang menatapku dengan wajah begitu terpukul.
"Terimakasih untuk segalanya," ujarku dengan air mata yang akan segera tumpah.
Ia mengangguk.
Aku meraih tas itu dan memakainya di bahuku. Aku menatap ke arah meja yang terdapat surat untuk Eldrin di atasnya. Di samping surat itu terdapat sekuntum bunga emas yang sengaja aku tinggalkan di sana untuk kakakku. Aku berusaha untuk tegar.
Aku meraih belati serbuk bulan yang ada di laci. Aku memasukkannya ke dalam saku bajuku. Belati ini akan aku butuhkan nanti ketika aku harus menyebrang. Selama ini kaum Elf harus mendapat izin dari ayahku untuk bisa menyebrangi dinding pembatas. Namun aku tidak perlu melakukannya karena aku tidak ingin ada yang tahu ketika aku menyebrang.
Aku menatap ke arah luar jendela dan menyadari hari sudah mulai menggelap. Ini adalah waktu yang begitu pas untuk pergi. Kaum Elf biasanya sedang berada di dalam saat ini.
Aku menoleh ke arah Ayara dan mengangguk.
"Selamat tinggal," bisikku.
"Selamat jalan."
"Terimakasih, Ayara!"
Aku melihat dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan bahunya berguncang karena tangisannya. Aku segera berbalik dan meninggalkannya. Aku melangkah keluar dari kamarku dan melihat lorong di depanku yang tampak lengang.
Aku berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke bagian samping istana yang mengarah langsung ke bagian selatan hutan. Aku berharap aku tidak akan pernah bertemu dengan siapapun di sepanjang jalan.
Aku telah sampai di jalan setapak yang menuju ke bagian selatan hutan. Syukurlah aku tidak bertemu dengan siapapun di pintu keluar. Mungkin saat ini semua Elf di istana sedang sibuk dengan tugas masing-masing.
Aku kembali berjalan dengan mantab. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang membuatku terlonjak kaget. Aku menghentikan langkahku dan dadaku berdegup kencang karena rasa takut.
"Jangan berpikir untuk bisa pergi sendiri!"
Aku melotot ke arah Abigail yang saat ini sedang terbang mengitari diriku. Aku menghela nafas panjang. Aku sedang tidak ingin berjumpa dengannya.
"Pergilah!" ujarku.
"Kau sudah lupa bahwa aku pernah bersumpah setia padamu?" Suaranya nyaris memekik.
Aku tidak menjawabnya.
"Ayolah Eleanor, kau pasti akan pergi jauh sekali." Dia mengangkat sebelah alisnya dan terbang di depan wajahku.
"Bukan urusanmu!" Kali ini aku benar-benar tidak sabar.
"Aku tetap akan ikut denganmu, kalau tidak ... " Ia tertawa sambil berputar-putar dan mengeluarkan serbuk emas yang membuatku ingin bersin di hadapannya.
Dia mengancam ku. Dasar peri licik!
"Baiklah." Aku terpaksa menyetujuinya.
Ia memekik kegirangan dan berdiri di bahu kiriku. Aku segera melanjutkan perjalananku. Di sepanjang perjalanan, Abigail tidak berbicara sama sekali. Mungkin dia sama tegangnya seperti aku.
Kami berdua berjalan di bawah sinar rembulan. Sesekali aku menyentuh belati yang aku simpan di sakuku. Kami telah berjalan begitu lama hingga akhirnya dinding pembatas berada tepat di depan kami. Aku merasakan Abigail menegang di bahuku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments