Bab 13

Aku terbangun dengan keringat dingin di tubuhku. Aku hanya mengalami mimpi buruk. Aku menenangkan nafasku dan melihat ke sekeliling. Saat ini masih dini hari dan suasana masih tetap sepi. Aku mendengar suara jangkrik dari halaman rumah itu. Aku kembali memejamkan mataku. Aku masih memiliki beberapa jam untuk beristirahat sebelum pagi menjelang.

Aku kembali memejamkan mataku dan berharap untuk tidak bermimpi buruk lagi. Kali ini dinginnya udara dini hari terasa menusuk kulitku hingga ke tulang. Aku mulai menggigil. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku memiringkan tubuhku dan menempelkan lututku ke dada. Aku mengeratkan pelukanku pada tubuhku.

Aku merasakan getaran tubuhku menjadi semakin hebat. Ini terlalu dingin. Aku tidak mungkin bisa bertahan melawan ini. Aku harus menghangatkan tubuhku. Namun aku tidak bisa membuat perapian di sini. Aku tidak bisa menyalakan api karena sihirku tidak berfungsi di sini.

Aku berusaha untuk duduk dan mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam tasku. Aku menyelimuti diriku dengan beberapa pakaian yang aku bawa di dalam ransel. Aku kembali berbaring. Kini aku merasa sedikit terlindungi berkat pakaian-pakaian itu.

Aku kembali memejamkan mata. Aku merasakan tubuhku semakin lemah. Aku membiarkan alam bawah sadarku menarikku semakin dalam. Aku kembali terlelap.

...****************...

Kali ini aku dibangunkan oleh suara lembut seseorang. Aku berusaha untuk membuka mataku dan mendapati seorang wanita yang postur tubuhnya mirip dengan ibuku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku tidak tahu berapa usia wanita ini sebab aku tidak hafal rentang usia manusia.

"Kau demam."

Aku merasakan tangan hangatnya menempel di dahiku. Aku berusaha untuk duduk meski harus bersusah payah. Saat ini matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Ah, sepertinya aku bangun kesiangan. Mungkin karena aku kelelahan.

"Ayo, masuklah denganku ke dalam." Ia membantuku untuk berdiri.

Aku merapikan beberapa pakaianku yang aku pakai sebagai selimut dan memasukkannya ke dalam ranselku.

"Biar aku saja yang membawa tasmu." Dia meraih ranselku dan menuntunku melewati halaman rumahnya.

"Maaf telah merepotkan," ujarku pelan.

"Tidak sama sekali." Ia tersenyum ramah.

Wanita itu mengenakan pakaian yang tidak pernah aku lihat sebelumnya dipakai oleh kaum elf di hutanku. Ia mengenakan celana panjang serta blus putih polos. Rambutnya digelung rapi dan wajahnya lembut.

Kami memasuki rumahnya. Rumah itu tampak hangat dan nyaman. Dia menyuruhku untuk duduk di sofa ruang tamunya.

"Aku akan mengambilkan minuman hangat untukmu." Ia berjalan meninggalkanku sendirian di sana.

Pandanganku tertuju pada seluruh bagian ruangan itu. Ruangan itu tidak terlalu besar. Semua dindingnya dicat putih. Rumah ini tampak begitu rapi seperti rumah-rumah kaum elf di hutanku.

Aku merasa nyaman berada di sini. Aku menyandarkan diriku di sofa. Aku merasakan badanku panas. Benar kata wanita itu bahwa aku demam. Beberapa menit kemudian aku melihat ia kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas besar minuman hangat. Ia menyerahkannya padaku.

"Minumlah selagi hangat!"

"Terimakasih."

Aku meraih gelas itu dan mendapati itu adalah teh hangat. Aku menghirup aromanya yang terasa nikmat. Aku meniup teh itu dan mencicipinya. Rasanya manis dan enak.

"Itu adalah teh herbal yang bisa menghangatkan tubuh."

Aku mengangguk ke arahnya dan kembali meminum tehku. Setelah beberapa tegukan, aku meletakkan gelas itu di atas meja yang ada di depanku.

"Sepertinya kau bukan berasal dari sini," ucapnya dengan ramah.

"A-aku sedang mencari seseorang."

"Kau perlu beristirahat!"

Aku terdiam.

"Aku akan mengambilkan roti untukmu."

Ia kembali menghilang dari ruang tamu. Aku bernafas lega. Untunglah aku bertemu dengan orang baik seperti dia. Dia kembali membawa sepiring roti dan menyerahkannya padaku.

"Terimakasih." Aku menerima piring itu.

Wanita itu duduk di sofa yang terletak di seberangku. Tatapannya lembut dan ramah.

"Makanlah!" Suaranya terdengar ramah dan renyah.

Aku mengambil sebuah roti dan menggigitnya. Roti ini berisi selai blueberry kesukaanku! Aku makan dengan lahap. Wanita itu tidak menyelaku. Mungkin ia mengerti bahwa aku sedang sangat lapar dan kelelahan saat ini.

Setelah aku menghabiskan roti di piringku, aku menghabiskan tehku. Saat ini piring dan gelasku telah kosong. Aku menatap malu-malu ke arah wanita itu.

"Terimakasih!" ujarku.

Dia tersenyum padaku.

"Sepertinya kau tampak begitu kelelahan. Sebaiknya kau istirahat di sini."

Aku bingung harus menjawab apa.

"Ayo, akan ku antar kau ke kamarmu."

Ia bangkit dari duduknya dan meraih ranselku. Ia berjalan menuju ke kamar. Aku mengikutinya di belakangnya. Ia berhenti di depan sebuah pintu dan membukanya. Di sana terdapat sebuah kamar dengan kasur yang kelihatan begitu nyaman. Aku benar benar ingin tidur di atasnya!

Ia mengajakku untuk masuk ke dalam kamar itu. Ia meletakkan ranselku di atas tempat tidur.

"Istirahatlah! Nanti kita akan bercerita tentang masing-masing dari kita." Ia mengedipkan sebelah matanya padaku seraya tersenyum.

Aku tersenyum dan duduk di tepi tempat tidur. Kamar ini tidak terlalu luas. Aku melihat pintu di salah satu dinding kamar itu.

"Itu adalah pintu kamar mandi, kau bisa menggunakannya." Ia menunjuk ke arah pintu itu.

Aku mengangguk ke arahnya.

"Siapa namamu?" tanyaku.

"Panggil saja aku Rose." Ia tersenyum.

"Rose? Seperti nama bunga?"

"Begitulah. Aku memang menyukai bunga." Ia mengucapkannya dengan penuh semangat.

Aku melihatnya sebagai pribadi yang ramah dan bersemangat.

"Kalau begitu siapa namamu?" Kali ini ia yang bertanya padaku.

"Eleanor."

Aku melihat senyumnya tiba-tiba menghilang. Wajahnya tampak tegang. Aku kaget dengan perubahan sikapnya.

"Ada apa?" tanyaku.

"Tidak apa-apa!" Dia menggelengkan kepalanya dan kali ini ia kembali tersenyum ramah.

"Eleanor, sebaiknya kau istirahat. Nanti aku akan kembali." Ia tersenyum dan berbalik lalu berjalan pergi meninggalkan kamar.

Aku menatap kepergiannya. Aku masih bertanya-tanya dalam hati sebenarnya apa yang terjadi ketika akku menyebutkan namaku, kenapa ia tampak begitu tegang ketika mendengar namaku? Sudahlah, aku terlalu lelah untuk berpikir. Aku ingin beristirahat.

Aku naik ke atas tempat tidur dan merasakan kasur yang begitu empuk dan nyaman. Aku menarik selimut dan bergelung di bawah selimut. Pikiranku kembali pada semua yang telah akku tinggalkan. Hatiku terasa pedih.

Aku harus merelakan semua yang aku miliki di masa lalu hilang dari kehidupanku. Kini aku harus fokus untuk mencari Dimitri dan membesarkan anakku. Aku mengelus perutku sambil memejamkan mata. Rasa kantuk mulai kembali menyerangku. Aku membiarkan diriku terlelap.

Kali ini aku bermimpi sedang bersama seorang anak laki-laki kecil yang menggandeng tanganku. Wajah anak itu begitu tampan. Warna matanya seperti warna mata Dimitri. Kulitnya juga seperti Dimitri. Aku tersenyum ke arahnya dengan penuh cinta. Anak itu pun tersenyum padaku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!