Bab 3

Aku kembali merenungkan ucapan ibuku. Dinding pembatas di sebelah selatan mulai melemah? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Selama beberapa abad hutan kami sangat aman dan terlindungi dari serangan dari luar. Kenapa saat ini tiba-tiba dinding pertahanan kami menjadi melemah? Pikiran itu berkecamuk di salam benakku.

"Eleanor," panggil kakakku seraya mengetuk pintu kamarku.

"Masuklah," ujarku.

Aku mendengar suara pintu terbuka dan kakakku melangkah memasuki kamarku dan berjalan ke arahku.

Aku menyuruhnya duduk di sampingku di kasur. Ia menuruti ku.

"Ada apa?" Tanyaku padanya.

"Aku mendengar desas desus mengenai dinding pembatas yang mulai melemah," ujarnya dengan mata menerawang.

"Apa artinya itu?" Tanyaku seraya menoleh dan menatapnya.

"Entahlah," ujar kakakku seraya menghembuskan nafas berat.

Aku menatap ke arahnya dengan sorot mata khawatir.

"Mungkin hal ini tidaklah baik. Selama ini yang aku tahu adalah dinding pembatas tidak akan bisa dirusak dari luar." Dia membiarkan kalimatnya menggantung di udara.

Aku berusaha mencerna kalimat yang diucapkan oleh kakakku.

"Apakah artinya ada seseorang yang sengaja merusaknya dari dalam?" tanyaku dengan nada ketakutan.

Kakakku menatapku dengan lekat. Ia menepuk bahuku.

"Entahlah, sepertinya begitu."

Artinya ada seseorang yang sengaja merusak dinding pembatas dari dalam.

"Ada pengkhianat di dalam istana," bisikku.

Kakakku mengangguk ke arahku dengan pandangan khawatir.

"Eleanor, jangan pergi sendirian keluar istana." Kakakku mengucapkannya dengan nada khawatir.

"Aku bisa menjaga diriku," ujarku menenangkannya.

"Akan jauh lebih aman jika kau keluar dengan pengawal," jawab kakakku.

Aku tidak mempedulikan ucapan kakakku. Kali ini yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya aku bisa menemui Dimitri yang menungguku di dekat dinding pembatas.

Aku menggigit bibirku dan berpikir keras.

"Eleanor, apa kau merahasiakan sesuatu dariku?" Kakakku menanyakannya seraya menatap tajam ke arahku.

Aku menoleh ke arahnya dan memikirkan apakah sebaiknya aku menceritakan padanya tentang Dimitri. Satu-satunya orang yang paling aku percaya di istana ini adalah kakakku. Dia begitu menyayangiku. Selama ini aku tidak pernah menyimpan rahasia apapun darinya. Namun, tentang Dimitri, aku masih belum memberitahunya.

"Kau tahu, aku begitu menyayangimu," ujarnya seraya menepuk bahuku.

"Ya, aku tahu," jawabku.

"Aku merasa kau sedang merahasiakan sesuatu dariku," ujarnya seraya menatapku lekat.

Aku memalingkan wajahku agar dia tidak mencari jawaban dari mataku. Dia adalah sosok yang memahami aku. Bahkan dia bisa mengerti arti diam ku. Dia bisa melihat kesedihan dalam tatapan mataku walaupun aku belum mengatakannya.

"Tidak ada apa-apa," ujarku seraya memandang ke arah jendela.

"Kau bohong," ujarnya seraya memaksaku untuk menatapnya.

Aku menundukkan pandangan untuk menghindari tatapannya.

"Eleanor, aku mengenalmu selama ratusan tahun kita tumbuh bersama, bagaimana mungkin aku tidak tahu bahwa kau sedang merahasiakan sesuatu dariku?" Ia mengucapkannya dengan nada tegas.

Ya, aku dan kakakku tumbuh bersama selama ratusan tahun. Selama ini dia yang selalu menemaniku melewati banyak hal di dalam istana.

"Eldrin, aku ... " ucapanku terputus.

Aku ragu untuk memberitahunya. Aku takut kakakku akan melarang ku untuk bertemu Dimitri.

"Aku memiliki rahasia," ujarku pelan seolah takut ada orang lain yang mendengar.

"Rahasia?" Kakakku membelalakkan matanya ke arahku.

Aku mengangguk ke arahnya.

"Berjanjilah bahwa kau tidak akan mengatakannya pada siapapun!" Aku memaksanya untuk bersumpah dengan bahasa kuno kaum Elf.

Sumpah dengan bahasa kuno kaum Elf akan mengikatmu dan tidak boleh dilanggar.

Kakakku mengucapkan sumpah itu.

Setelah aku mendengar sumpahnya, aku mendekatkan tubuhku ke arahnya dan membisikkan tentang rahasiaku bersama Dimitri padanya.

Aku merasakan kakakku menegang mendengar bahwa aku berhubungan dengan seorang manusia.

Ia membuka mulutnya seolah tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Kau serius?" Ia membelalakkan matanya ke arahku.

Aku mengangguk meyakinkan dirinya.

"Eleanor, kenapa kau tidak memberitahuku sejak lama?" Kakakku mengernyitkan dahinya.

Aku mengangkat bahu dengan cemberut.

"Aku takut kau akan marah padaku," ujarku sambil menundukkan wajahku.

"Kau tahu, aku tidak pernah bisa marah padamu!" Ia berpura-pura meninju bahuku.

Kami berdua tertawa. Kali ini aku lega karena aku telah membagi rahasia terbesarku padanya. Aku lega karena dia tidak menghakimi diriku.

"Seperti apa manusia yang kau cintai itu?" Tanyanya penasaran.

"Besok kau akan berjumpa dengannya," ujarku seraya tersenyum membayangkan pertemuan kami.

"Bagaimana caranya kita bisa pergi ke dekat dinding pembatas tanpa ketahuan pengawal?" tanyaku padanya.

Ia mengernyitkan dahi seolah berpikir.

"Serahkan saja padaku!" ujarnya meyakinkan diriku.

Ia bangkit dan berdiri seraya meninggalkan kamarku. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Dimitri besok. Bagaimana reaksi Dimitri ketika bertemu dengan kakakku? Apakah mereka berdua akan menjadi teman akrab? Ah, aku tidak sabar menunggu hari esok.

......................

Aku gelisah sepanjang malam dan sama sekali tidak bisa memejamkan mataku. Pikiranku selalu menampakkan bayangan Dimitri. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengannya. Aku yakin dia juga tidak sabar ingin segera berjumpa denganku lagi.

Aku merasa lega ketika sinar mentari pagi telah datang menyambut. Aku segera bangkit dari tempat tidurku dan membuka jendela yang mengarah ke hutan. Di sana, di balik hijaunya pepohonan, ada Dimitri yang sedang menungguku seperti biasanya.

Aku menunggu kakakku. Aku belum tahu bagaimana caranya untuk bisa pergi tanpa pengawal. Tapi aku yakin kakakku pasti bisa menemukan cara untuk memecahkan hal ini.

Aku merapikan diriku dan bersiap- siap untuk berjumpa dengan Dimitri. Aku tersenyum mengingat pertemuan kami kemarin. Jantungku terasa berdebar mengingat bagaimana caranya menyentuhku.

Aku dikagetkan oleh suara pintu kamarku yang terbuka. Aku menoleh ke arah pintu dan ternyata kakakku berjalan masuk menuju ke arahku.

"Aku sudah mengatakan pada pengawal bahwa pagi ini aku akan mengajarimu tentang sihir. Aku meminta pengawal untuk tidak mengganggu kita." Kakakku mengucapkan hal itu dengan raut wajah serius.

"Apakah ini benar-benar aman?" Tanyaku khawatir.

Kakakku mengangguk meyakinkan diriku.

"Baiklah," ujarku.

"Kita harus segera berangkat dan kembali ke sini sebelum tengah hari," ujarnya seraya memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.

Dia berjalan keluar dan aku mengikutinya. Kami berdua menyusuri lorong istana yang tampak lengang. Pagi itu semua orang sedang menjalankan tugas masing-masing.

"Aku harus membawa makanan," ujarku pada kakakku.

Ia menatapku dan mengangguk setuju.

Kami berdua mengarah ke dapur dan kakakku meminta seorang pelayan untuk membungkus makanan sebagai bekal kami.

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan.

"Bagaimana jika ibu tahu?" Tanyaku dengan wajah khawatir.

"Anggap saja dia tidak akan tahu," ujar kakakku seraya berjalan terburu-buru keluar dari istana.

Aku mengimbangi langkahnya.

Setelah berjalan terburu-buru selama lima belas menit, kakakku memelankan langkahnya. Kami sudah berjarak agak jauh dari istana.

"Eleanor, apakah dia tidak berbahaya?" Tanyanya.

Aku mengerti yang dia maksud adalah Dimitri.

"Kau pasti akan menyukainya," balasku sambil tersenyum meyakinkan dirinya.

Ia mengangguk dan melanjutkan perjalanan.

Setelah setengah jam, kami sampai di dekat dinding pembatas di sebelah selatan.

Aku melihat berkeliling. Tidak ada siapa-siapa. Aku berjalan ke arah pohon tempat kami berdua biasa bertemu, namun tidak ada Dimitri di sana.

Aku menoleh dan memeriksa sekeliling. Nihil. Aku memanggil nama Dimitri, tapi tidak ada jawaban.

Aku menatap ke arah kakakku. Dia memandang prihatin ke arahku.

Kenapa Dimitri tidak ada di sini? Apakah dia meninggalkanku? Aku merasakan hatiku seolah ditusuk belati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!