Bab 4

Aku menatap hutan di depanku. Tak ada siapapun di sana selain aku dan kakakku. Aku masih belum mempercayai hal ini. Tidak mungkin Dimitri pergi meninggalkanku. Dia berjanji akan menungguku di sini.

Aku berjalan di sepanjang dinding pembatas untuk mencari keberadaan dirinya. Aku masih terus memanggil namanya. Dia pasti ada di sekitar sini, aku meyakinkan diriku sendiri.

Aku berdiri di pohon kami, pohon tempatku dan Dimitri biasa bertemu. Aku menoleh ke sekeliling sambil terus memanggil namanya.

"Eleanor, dia tidak ada di sini!" Ujar kakakku.

Aku menggeleng pelan ke arahnya. Aku melihat kakakku menatapku dengan pandangan prihatin.

"Tidak, dia pasti ada di sini menungguku!" Aku meyakinkannya.

Aku terus berputar-putar di tempat itu seraya terus memanggil namanya. Tidak, dia tidak mungkin pergi meninggalkanku.

"Eleanor, ... " panggil kakakku.

Aku mengabaikan panggilannya dan terus berjalan mencari keberadaan Dimitri.

"ELEANOR!" Kali ini kakakku berteriak ke arahku.

Aku menghentikan langkahku dan menatap ke arahnya.

"Berhentilah bersikap seperti itu!" Kakakku berjalan ke arahku dan mengguncang bahuku.

Mataku panas oleh air mata yang hendak tumpah. Aku mengedipkan mataku agar air mata itu tidak jatuh membasahi pipiku.

Aku menatap nanar ke kejauhan. Tidak mungkin, aku masih belum bisa mempercayai ini. Dimitri tidak mungkin meninggalkanku. Kami berdua telah bersatu. Dia telah menandai ku.

"Eleanor, pria itu telah pergi," bisik kakakku.

Aku menggeleng padanya.

"Tidak, tidak mungkin!" Tatapanku berubah liar.

Aku melepaskan tangan kakakku yang masih memegang bahuku. Aku berlari sambil memanggil namanya. Aku tidak melihat dahan pohon yang menghalangi jalanku. Aku terjatuh ke tanah.

Kakakku segera berlari ke arahku dan meraih tanganku agar aku bangkit berdiri. Aku menepis tangannya. Aku bersimpuh di tanah seraya menangis memanggil nama Dimitri.

"Eleanor, jangan seperti ini," ujar kakakku dengan nada lembut.

Aku merasakan tangannya menggosok pundakku untuk menenangkan diriku.

Aku menengadah menatap wajahnya.

"Kenapa dia meninggalkanku?" ujarku seraya terisak.

Kakakku duduk di sampingku dan merengkuh bahuku. Aku bersandar di bahunya. Selama ini ia selalu ada ketika aku sangat rapuh.

"Jangan mencintai terlalu dalam," ujar kakakku.

"Bagaimana aku tidak mencintainya, kami berdua sudah begitu terikat," ujarku seraya mengusap air mataku.

"Manusia memang seperti itu, kadangkala mereka menyakiti." Ia mengucapkannya seraya menarik bahuku agar berdiri bersamanya.

"Tidak, dia tidak mungkin menyakitiku!" Pekikku.

"Eleanor, apakah kau lupa kenapa beberapa abad yang lalu dinding pembatas ini diciptakan?" Kakakku mengucapkannya dengan suara lantang.

Aku merenung dan kembali mengingat kejadian mengerikan yang terjadi beberapa abad yang lalu sebelum ada dinding pembatas antara dunia manusia dengan dunia kami, kaum Elf.

Dahulu pernah terjadi pembantaian yang dilakukan oleh pasukan tentara manusia terhadap kaum Elf. Mereka ingin menguasai hutan kami. Ada banyak Elf dan penyihir yang mati akibat serangan itu. Hingga pada akhirnya Raja, ayahku, memerintahkan beberapa penyihir terkuat di hutan ini untuk membangun dinding pembatas yang melindungi hutan kami.

Semenjak dinding pembatas itu ada, tidak pernah lagi terjadi serangan yang dilakukan manusia terhadap hutan kami. Dinding pembatas itu melindungi hutan kami dan seluruh kaum Elf. Sejak saat itu tidak pernah ada manusia yang bisa memasuki hutan ini. Tidak sampai kejadian sebulan yang lalu ketika aku menemukan Dimitri di sini.

"Tapi Dimitri tidak akan menyakiti ku," ujarku lirih sambil menatap hutan di kejauhan berharap Dimitri tiba-tiba muncul dari sana.

"Eleanor, tidakkah kau lupa bahwa manusia adalah makhluk yang suka berbohong?" Ujarnya seraya mengingatkanku tentang kejadian buruk beberapa abad yang lalu.

"Tidak semuanya begitu!" Aku membantahnya.

"Manusia tetaplah manusia, mereka makhluk yang tidak bisa dipercaya." kakakku menatap tajam ke arahku.

Aku menggeleng pelan ke arahnya. Bagiku Dimitri adalah manusia yang baik. Dia tidak mungkin berniat untuk membohongiku.

"Tidak, pasti ada yang salah," ujarku.

Kakakku menghela nafas panjang dan menggeleng frustasi.

"Dimitri tidak seperti manusia lainnya. Dia tidak mungkin sengaja membohongiku!" Aku terus meyakinkan kakakku.

"Ayo kita pulang." Kakakku meraih tanganku dan mengajakku kembali ke istana.

Aku masih bergeming dan tetap berdiri di tempatku.

"Ayolah," ujarnya memohon.

Aku masih menggeleng.

"Aku akan menunggunya di sini," bisikku.

"Kita harus kembali ke istana, jika kau terus begini, mereka akan curiga." Kakakku mengucapkan hal itu dengan nada mendesak.

Apa yang dikatakan olehnya ada benarnya juga. Jika orang-orang di istana mengetahui tentang keberadaan Dimitri, maka keselamatan Dimitri akan terancam. Aku harus menuruti kakakku kali ini.

"Besok aku akan kembali mengantarmu ke sini," ujarnya seraya menepuk bahuku.

Aku mengangguk ke arahnya.

Kami berdua berjalan kembali ke arah istana. Kakakku mengulurkan seiris roti padaku. Aku sudah lupa bahwa tadi kami berangkat membawa bekal makanan yang rencananya akan ku berikan pada Dimitri.

"Aku tidak mau makan," ujarku sambil terus melangkah.

"Ayolah, jangan seperti anak kecil!" ujar kakakku.

Aku menghentikan langkah dan menatap tajam ke arahnya. Ia menghentikan langkahnya dan menatap prihatin ke arahku.

"Bagaimana mungkin kau akan mengerti apa yang sedang aku rasakan, sementara dirimu tidak pernah merasakan cinta?" Aku mengucapkannya dengan suara lantang.

Aku merasa kakakku terhenyak mendengar ucapan ku yang agak kasar terhadapnya. Ia mengernyitkan dahinya.

"Kau pikir aku tidak terluka melihatmu seperti ini?" Ujarnya dengan suara keras.

Ia mengguncang bahuku dengan keras. Aku mengerjapkan mata menahan air mataku agar tidak tumpah.

"Aku ikut terluka ketika kau terluka!" Ujarnya dengan suara keras. "Kau pikir untuk apa hari ini aku pergi denganmu?"

Air mataku tumpah.

"Maafkan aku," bisikku lirih.

"Besok kita akan kembali mencari manusia itu," ujarnya untuk menghiburku. "Sekarang makanlah!" Ia menyerahkan roti itu padaku.

Aku menerimanya dan memakannya. Kami berdua melanjutkan perjalanan kami menuju istana.

Sesampainya di istana, kami berdua segera masuk dan berjalan ke kamar masing-masing. Kami ingin menghindari pertanyaan penasaran dari siapapun.

Langkah kami terhenti ketika terdengar suara lantang yang memanggil kami. Aku menegang dan aku merasakan bahwa kakakku juga menegang di sampingku.

Aku dan kakakku berbalik menghadap seseorang yang berjalan menghampiri kami berdua. Ayahku sedang berjalan mendekati kami. Aku menelan ludah dengan susah payah karena rasa takut.

"Bagaimana pelajaran sihirmu hari ini?" Ayahku bertanya seraya menoleh ke arahku.

"Dia belajar dengan cepat. Hari ini dia sudah bisa menyembuhkan dahan pohon yang patah dalam hitungan detik." Kakakku mengucapkannya dengan keceriaan yang menurutku terlalu dibuat-buat.

"Baguslah kalau begitu," ujar ayahku.

Ayahku tersenyum ke arahku dan aku membalas senyumnya.

"Belajarlah yang baik. Kau harus menjadi penyihir terhebat di kerajaan ini!" Ayahku mengucapkannya dengan penuh semangat.

Kakakku tersenyum ke arahnya dan ke arahku bergantian.

"Ada yang harus ku sampaikan padamu," ujar ayahku seraya menoleh ke arah kakakku.

"Ada apa?" tanya kakakku.

"Aku sudah memerintahkan semua penyihir terkuat di kerajaan ini untuk memperbaiki dinding pembatas di sebelah selatan besok," ujar ayahku.

Aku dan kakakku mencerna informasi itu.

"Tidak akan ada makhluk yang bisa menembus dinding pertahanan itu dari luar," ujar ayahku.

Aku menelan ludah dan menyadari bahwa tanganku berkeringat dingin mendengar berita itu. Itu artinya, Dimitri tidak bisa lagi masuk ke dalam hutanku. Aku menggigil membayangkan hal itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!