Bab 18

Dimitri menatap lekat ke arahku. Ia berdiri di ambang pintu. Rose menoleh ke arahku dengan tatapan mata khawatir. Aku berdiri dan menatap ke arahnya namun aku tidak melangkah sedikitpun ke arahnya. Kami hanya berdiri diam dan saling menatap untuk waktu yang entah berapa lama.

Perasaan ku bercampur aduk. KIni aku bingung dengan apa yang sedang berkecamuk dalam jiwaku. Ada perasaan cinta yang perlahan berubah menjadi kekecewaan yang begitu mendalam seolah mengiris jiwaku dengan sayatan yang tidak akan pernah terobati. Ada juga rasa sedikit kebencian karena aku merasa dikhianati olehnya. Aku mengepalkan kedua tanganku di samping tubuhku.

Aku merasakan jantungku berdegup begitu kencang seolah akan melompat keluar dari rongganya.

"Untuk apa kau kemari?" Aku mendengar nada dingin dalam suaraku sendiri.

"Eleanor, aku minta maaf," ujarnya dengan nada penuh penyesalan.

"Maaf? Kau pikir kata maafmu mampu mengembalikan semua yang telah aku korbankan demi dirimu?" Suaraku mulai meninggi.

"Eleanor, aku tidak bermaksud menyakitimu!" Dimitri melangkah masuk ke dalam dan menghampiriku.

"Jangan mendekatiku!" Aku berteriak ke arahnya.

Rose masih berdiri di dekat pintu dan memperhatikan kami berdua.

"Eleanor, tolonglah! Aku bisa menjelaskan semuanya padamu," ujarnya dengan wajah terluka.

Aku menggeleng dan mengangkat sudut bibirku dengan senyum sinis ke arahnya.

"Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan!" Aku mendengus dengan penuh kebencian.

"Eleanor, ... " bujuknya.

"Tidak ada lagi yang tersisa di antara kita. Kau tahu? Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah bahwa aku begitu bodoh telah jatuh cinta terhadap manusia sepertimu!"

Aku merasakan tusukan rasa sakit di dalam hatiku seiring dengan kalimat yang aku ucapkan terhadapnya. Aku menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak tumpah saat ini. Aku mengepalkan kedua tanganku dengan begitu keras hingga kukuku menusuk telapak tanganku.

"Pergilah!" ujarku pelan seraya membalikkan tubuhku memunggunginya.

"Eleanor," bujuknya sekali lagi.

"PERGI!!!" jeritku histeris tanpa menoleh ke arahnya.

Beberapa detik kemudian aku mendengar langkah kakinya menjauh. Aku merasakan nafasku memburu. Keringatku membasahi dahiku. Aku merasakan telapak tanganku meneteskan darah akibat tertusuk oleh kuku jariku.

Aku mendengar suara pintu ditutup dan merasakan Rose melangkah mendekatiku. Aku menghempaskan diriku di sofa dan menumpahkan semua air mata yang sejak tadi ku tahan. Aku meluapkan semua sesak yang tertahan di dadaku. Aku merasakan Rose mengusap punggungku.

Aku kembali terisak. Kali ini aku tidak menahan air mataku. Aku membiarkannya membanjiri pipiku. Semua sakit ini terasa begitu menghancurkan diriku dari dalam. Entah apakah aku akan bertahan atau tidak. Aku tidak tahu apakah aku bisa menanggung rasa sakit ini.

"Kesalahan apa yang aku lakukan hingga dia menyakiti aku seperti ini?"

"Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa,"

"Kenapa rasanya begitu menyakitkan seperti ini?" ujarku di sela isak tangisku.

"Terkadang kita hanya perlu menerima apa yang diberikan hidup pada kita. Entah itu baik ataupun buruk." Rose kembali mengusap punggungku.

Aku menoleh ke arahnya dan mengusap air mataku.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Kau harus melanjutkan hidup."

"Tidak. Aku mengorbankan segalanya demi Dimitri. Kini semuanya terasa sia-sia. Aku tidak ingin hidup." Aku menggeleng dengan air mata yang masih mengalir deras.

"Eleanor, kamu masih memiliki anak ini." Rose mengusapkan tangannya ke perutku. "Setidaknya bertahanlah demi anak yang kau kandung."

Tanganku memegang perutku. Kali ini gerakan kecil yang aku rasakan menjadi semakin kuat dan intens. Bahkan aku bisa merasakan tendangan-tendangan kecil dari dalam sana. Benar juga apa yang dikatakan oleh Rose. Aku masih memiliki anakku dan aku harus hidup demi dirinya.

"Eleanor, kau tahu? Terkadang kita harus merasakan pahit terlebih dahulu untuk bisa memaknai kehidupan yang akan kita jalani berikutnya."

Aku terdiam mendengar perkataannya. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang dia maksud.

"Aku tidak tahu apakah aku masih mencintai Dimitri atau tidak," ujarku pelan.

"Ya, kau perlu waktu untuk memulihkan hatimu."

"Kenapa hidup mempermainkan aku seperti ini?" Aku kembali menangis.

"Terkadang kau perlu menangis untuk mendapatkan kebahagiaan yang akan menantimu di masa mendatang."

Aku terdiam. Aku tidak yakin apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bisa merasakan kebahagiaan atau tidak. Bagiku hidupku telah hancur berkeping-keping. Aku tidak bisa memperbaikinya. Kini yang tersisa hanyalah kenyataan pahit bahwa aku harus hidup dengan sisa kepingan itu.

"Istirahatlah! Kau tampak begitu lelah."

Aku mengangguk dan menoleh ke arahnya. Ia tampak khawatir.

"Terimakasih karena kau telah menerimaku di rumahmu," ujarku pelan.

"Tidak perlu berterimakasih, justru aku senang bisa melayani tuan putri dari Mirkwood. Mulai saat ini, rumah ini juga menjadi milikmu." Dia tersenyum tulus.

Aku kembali menangis karena kebaikan hatinya yang begitu tulus.

"Rose, aku bukan lagi tuan putri." Aku mengusap air mataku dengan punggung tanganku.

"Bagiku kau tetaplah Eleanor Sang Tuan Putri." Dia memelukku sekejap lalu tiba-tiba melepaskan pelukannya dan wajahnya berubah menjadi panik.

"Eleanor, tanganmu terluka!" serunya dengan wajah begitu panik. "Aku akan mengambilkan perban."

"Hanya luka kecil," ujarku.

Ia segera melesat pergi dan kembali kurang dari dua menit dengan membawa perban di tangannya.

"Duduklah! Aku akan membalut lukamu."

Aku menurutinya. Aku melihatnya merawat lukaku. Aku bersyukur bisa memilikinya di kehidupanku yang sekarang.

"Rose, aku beruntung bisa memilikimu. Jika tidak bertemu denganmu, aku tidak tahu lagi harus bagaimana." Aku mengucapkannya dengan suara serak.

"Sudahlah, mulai saat ini aku akan menjagamu."

Mendengar dia mengucapkannya dengan begitu tulus, aku kembali menangis. Hari ini seolah air mataku tidak pernah berhenti membanjiri pipiku. Tendangan-tendangan kecil di perutku seolah memberikan kekuatan lebih untukku bisa melanjutkan kehidupanku.

"Apa yang akan aku katakan pada anakku nanti ketika dia lahir?" tanyaku.

Mendengar pertanyaanku, Rose mengalihkan perhatiannya dari tanganku dan ia beralih menatapku.

"Tidak perlu kau risaukan hal itu sekarang!" ujarnya pelan.

Aku menggigit bibirku. Tanganku sudah selesai dibalut perban. Aku menunduk memandangi kedua tanganku.

"Istirahatlah!"

Aku mengangguk dan berjalan pergi menuju kamarku. Aku langsung menjatuhkan diriku ke atas kasur. Aku membenamkan wajahku ke balik selimut dan kembali menangisi takdirku.

Aku kembali teringat mimpiku beberapa waktu lalu ketika aku bermimpi Dimitri sedang bersama wanita lain. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Aku kembali merasakan tusukan tajam di dalam hatiku ketika bayangan Dimitri berkelebat di kepalaku. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku tanpanya? Aku tidak sanggup!

Aku merasakan benih-benih kebencian mulai tumbuh perlahan di dalam jiwaku. Apakah aku akan membenci Dimitri karena ia telah mengkhianatiku? Apakah benar cinta yang begitu dalam bisa berubah menjadi kebencian dalam waktu yang begitu singkat? Entahlah, aku masih mencari jawabannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!