Wajah-wajah tegang itu baru saja terlihat lega, tapi teriakan Fasraha membuat Sam dilanda panik kembali.
Tiiiiiiiiitttttttt. Bunyi mesin detak jantung, seiring kelopak mata Afja yang menutup.
"Afjaa! Afjaaaa!" pekik Fasraha, mengguncang bahu putrinya.
"Manoooo!" teriak Sam. Dia berlari kecil masuk ke kamar Afja lagi.
Sam disergap rasa bersalah, Afja belum tahu rasa hatinya. Dia takut akan terlambat membuat pengakuan lagi.
"Manoo!" sebut Sam. "Dokter! bawa Afja ke rumah sakit," sentaknya, sambil bersiap akan membopong Afja. Sam heran, kenapa dokter justru terlihat santai.
"Afja!" panggil sang mama lagi, menangis.
Dokter pun bingung dengan keduanya. Dia sedang mencabut mesin EKG, tapi entah mengapa malah berbunyi nyaring bagai tanda organ vital pasien yang amblas.
Afjameha mendengar keributan di sekitar. Namun, dia memilih memejam dan enggan bersuara sebab kelopak matanya sangat berat. Tubuh pun terasa lunglai tak bertenaga. Dia membiarkan situasi absurd itu.
"Tuan Sam. Anu ... ehm, ini saya lagi cabut mesin, malah bunyi. Bukan anu," gagap sang dokter, terbata menjelaskan sebab takut oleh tatapan Samagaha.
"Anu apa? lekas!" bentak Sam lagi.
"Nona Mano tertidur bukan anu, meninggal. Tadi hanya suara mesin ... ehm, Anda lihat beliau bernafas bukan?"cicit dokter, menunjuk ke arah Afjameha.
Sam dan Fasraha memperhatikan tubuh gadis nan tergolek lemah di atas ranjang. Helaan halus menjadi tanda bahwa apa yang dikatakan dokter betul adanya.
"Ya Allah." Fasraha mengelus dada, dia lega sekaligus malu.
Sementara Sam, menatap datar pada tenaga medis. Dia merasa bodoh dan kentara mencemaskan Afjameha di depan mereka. Sikap tadi terkesan sangat konyol untuk seorang CEO sepertinya.
Glek. Tenaga medis menelan saliva susah payah mendapat tatapan mengerikan dari petinggi SidoGeni.
Temul yang datang di akhir, mengomentari hal tersebut.
"Jika sedang jatuh cinta, biasanya ada bagian dari cortex (otak) yang meningkat seperti area penghasil Dopamin sementara segmen lain melemah atau mengalami penurunan fungsi. Bagian itu tempat dimana logika, nalar dan kewarasan timbul. Makanya kalau kasmaran, kadang-kadang tindakan kita suka gak pake logika, ngasal," kekeh Temul menyindir Sam.
"Uhuk. Uhuk." Sam tertohok.
Petinggi SidoGeni lalu memilih pamit pada Fasraha. Dia lelah dan mengantuk.
Ibunda Afjameha merelakan Sam pergi meski dia seakan masih membutuhkan kehadiran pria itu di rumahnya. Tapi, melihat Sam tidak beristirahat dengan benar, membuat Fasraha mengizinkan pria dewasa itu pulang.
...***...
Dua hari kemudian.
Sam mengandalkan kabar dari Sonda untuk mengetahui kabar Afjameha. Gadis itu mulai pulih dan sudah beraktivitas ringan seperti biasa.
Dia mencoba menghubungi Afja tapi panggilannya kerap di abaikan atau malah di tolak. Padahal Sam penasaran dengan apa yang Afja alami.
Berita tentang Mano yang tega membunuh saudaranya sendiri kian menjadi. Penjualan dan iklan Afja di boikot oleh beberapa retail bahkan beberapa stasiun televisi dan radio. Shin pun datang ke ruangan Sam terburu.
"Sam, sudah lihat berita online? ... dan ini undangan pertunangan manager Malaseka advertise," ujar Shin kala baru masuk ke ruangan seraya meletakkan sebuah benda berwarna gold di atas meja.
"Apa maunya dia ini? kau tahu siapa pelakunya?" tanya Sam, melirik sekilas ke arah asistennya.
"Orang yang memaksa Mano agar bersedia menolong putrinya. Ibu dari tunangan Ben. Kau tahu bukan, Malaseka membuang Mano dan nyonya Fasraha demi wanita itu," tutur Shin, sembari duduk melipat kaki di sofa.
"Ck, berapa kali ku bilang. Kau panggil dia Afja?" kesal Sam. "Wanita itu bakal memaksa Mano-ku mengikuti keinginannya. Apakah Malaseka kekurangan dana?" imbuh Sam, dia menopang dagu seraya berpikir.
Shin terkekeh, dia senang menggoda Sam dengan menyebut nama Mano.
"Tentu saja. Cangkok mata itu bukan biaya sedikit bukan? harta Malaseka menyusut untuk pengobatan putri tirinya itu sementara Afja, punya penghasilan dari SidoGeni. Binggo," ucap Shin, girang merasa menemukan alasan tepat.
"Pasti seperti itu. Apa Mano diundang ke acara mereka? jika iya, mungkin wanita itu akan mempermalukan Mano-ku di sana. Shin, bilang ke dia harus datang ke sana bersamaku," tutur Sam, meminta Shin mengatur segalanya.
"Kau bilang sendiri saja. Punya nomer dia, kan?" elak Shin. Enggan ikut campur lagi perkara hati.
"Dia selalu menolak panggilanku," keluh Sam, seraya menyandarkan punggungnya di kursi.
Shin terbahak. Dia melihat kebodohan seorang Samagaha Ziyan.
"Aduh pak CEO, kirim pesan dulu, lah. Mano sayang, ini aku aa Sam," kata Shin, tak henti tertawa. Sepupunya mendadak bloon.
Sam melempar asistennya dengan pulpen dan tepat mengenai kepala Shin.
Pletak.
"Hoy! sakit lah. Bukannya makasih malah menganiaya, gue aduin ke Mano. Tahu rasa ntar. Bos SidoGeni bloon sebab mulai jatuh cinta," oceh Shin sambil bangkit menghindar sebab Sam akan melemparinya lagi.
Samagaha menepuk jidat, lagi-lagi kebodohan menghinggapinya. Dia kini mengikuti saran Shin. Berkirim pesan lebih dulu ke Afjameha.
["Selamat siang, Mano. Ini aku, Sam. Boleh bicara sebentar?"] Tulis Sam.
~pesan terkirim.
Satu menit.
Dua menit.
Sam memandang layar ponselnya. Dia tak sabar menunggu jawaban Afja. Setelah lima menit berlalu.
Ting. Notifikasi pesan masuk.
Senyum mengembang menghiasi wajah tampan. Sam langsung menekan barisan angka di layar gawai.
"Halo, Mano. Kau sudah membaik?" tanya Sam.
"Assalamualaikum, Pak Sam. Alhamdulillah, ada apa ya?" balas Afja datar.
"Wa 'alaikumsalam. Enggak apa-apa. Ehm, anu ... ehmmmm, itu ...." Sam mendadak gagap, lupa dengan apa yang ingin dia sampaikan.
"Anunya kenapa? eh, apa sih maksudnya?" Afja ikut konyol mendengar ucapan Sam.
Sam tertawa mendengar balasan Afja. Dia akhirnya merasa lebih santai akibat suara lembut gadis polos di seberang.
"Di undang Ben, kan? datang bersamaku, ya. Aku punya firasat kurang baik," ujar Sam bernada lembut.
"Nanti istri Pak Sam bagaimana? saya gak mau ada gosip lagi. Kasihan ibu kalau kepikiran," balas Afja, cemas jika di tuduh merusak rumah tangga bos SidoGeni.
"Dia no komen. Sudah gak ngurusin ginian lagi. Aku jemput jam tujuh malam," lanjut Sam, menegaskan maksudnya.
Afjameha ragu, tidak paham dengan makna ucapan Sam. Ingin bertanya lebih jauh tapi rasanya enggan sebab menyangkut privasi.
Namun, di satu sisi, Afja butuh meminta pendapat Sam lagi tentang ancaman yang di terima pagi ini dari Tamarine.
"Pak, saya boleh tanya?" kata Afja.
"Tanya saja, aku mendengarkan," jawab Sam.
Afja menceritakan kisah kiasan saat dia seolah mati suri, bertemu orang di masa lalu hingga mengetahui sebuah rahasia dari si musuh. Apakah boleh melakukan pembalasan pada mereka, bukan untuk menyakiti tapi hanya sebagai pengingat bahwa semua perbuatan akan kembali pada pemiliknya.
Putri Fasraha juga memberi isyarat bahwa si musuh ingin memanfaatkan keadaan saat ini demi kepentingan pribadi dengan memaksa dirinya melakukan sesuatu dan berpotensi merugikan orang lain.
"Tapi aku tidak berani," ucap Afja teringat kondisi Candy tapi dia kesal melihat kasih sayang Malaseka padanya.
"Mano. Jika kau meminta keberanian apakah Tuhan akan memberimu itu atau malah menguji sampai kamu berani?" tanya Sam, mengumpamakan kisah.
"Menguji, Pak." Afjameha menjawab lugas.
Deg.
"Eh!" ucap sang gadis, tiba-tiba berpikir.
"Paham, kan? ... renungi semua yang kau alami. Bangkit, pantang mundur hingga berkorban, itu adalah keberanian, Mano," tegas Sam, masih dengan nada lembut.
"Benar. Oke, semangat!" kata Afja, sedikit lantang.
Samagaha tersenyum meski Afjameha tak melihatnya. Dia ikut bahagia, gadisnya memang cerdas. Afja hanya butuh dukungan.
"Beri mereka pelajaran. Jika kau harus membantunya maka berikan bantuan. Kau Mano-ku yang punya hati mulia. Balaslah, aku di belakangmu," ujar Sam kembali melambungkan signal pada Afja.
"Baik. Saya akan mengklarifikasi jika mereka terus menyudutkan, terima kasih Pak Sam," sahut Afja, suaranya menandakan dia tersenyum.
"Aku bersyukur kamu selamat. Terima kasih sudah bersedia kembali, Mano." Sam tak henti mengulas senyum.
"Pak Sam, Pak Sam gak lagi merayu saya, kan?" tanya Afja, polos dan meragu.
Samagaha Ziyan terbahak, Afjameha cerdas untuk hal lain tapi tidak perkara hati. Dia tak menjawab, hanya mengucapkan selamat siang lalu menutup panggilan.
.
.
...__________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Uthie
Penasaran usia pak Sam emang brp sihh? 😁😁
dikira dari awal msh bujang... tau nya duda yaa 🤭😁
2024-01-06
1
Mega Ahmad
hahahahaha dapat teguran dari paksu krn cengar cengir sendiri 😂😂😂
2023-08-27
1
Eka Widya
bnrkan afja butuh ramuan kepekaan hati.😃😃
2023-08-26
1