"Maunya saya? tetap pada keputusan semula. Long term contract. Jangan bilang jika Anda ragu untuk memproduksi secara massal sebab jika ditilik dari penawaran tadi, sepertinya SidoGeni kuatir saya akan menuntut fee di kemudian hari bilamana produk ini trending market, dan kalian tidak dapat menguasai secara utuh resepnya," ucap Afja, masih santai menghadapi Samagaha.
Mental Afja sebagai putri Malaseka sedikit banyak berpengaruh. Uang bukan fokus utamanya, dia hanya ingin pengakuan diri dengan kondisi fisik yang terlanjur tertancap stigma, tambun adalah lamban, lemot dan sebagainya.
Afja tak gentar, karena kerap melihat betapa pelaku bisnis akan menggunakan segala cara guna menjerat lawan agar ketergantungan pada sumber utama. Afjameha ingin melakukan hal sebaliknya.
Resep yang dia dapat dari buku kuno Mak Beken tak serta merta di telan bulat. Afja juga mempelajari bagaimana cara ilmuwan jaman dahulu melakukan riset termasuk manuskrip Avicenna, atau Ibnu Sina yang lebih dikenal sebagai bapak kedokteran modern.
Rujukan dari doktor yang dikenal baik oleh masyarakat sebagai pakar herbal, tak luput dari Afja. Dia mempelajari semua khasiat rimpang tanaman obat yang digunakan.
Jangan lupakan sindiran pak Temul yang menghiasi keseharian Afja, manakala dia menanyakan sesuatu khasiat tanaman obat bagi beliau.
Untuk semua proses yang telah dijalani, Afjameha takkan menukarnya hanya dengan rupiah.
"Selain itu, apalagi? berikan alasan padaku mengapa Anda enggan mematenkan produk tersebut. Bukankah dengan memiliki hak paten, ketika muncul rival bisnis, kamu akan dapat royalti?" cecar Sam, kini dia membalik kembali kursinya, menatap Afja.
"Mematenkan produk itu harus menyerahkan susunan keseluruhan resep, bukan? apakah Anda mematenkan produk minuman kesehatan unggulan SidoGeni? tidak, kan? lalu mengapa saya harus begitu?" jelas Afja.
"Saya bukan pelaku bisnis, tapi mengamati pemilik formula kenamaan dunia. Seperti fast food yang berlogo huruf M atau foto pak tua, dengan jargon jagonya ayam. Mereka tidak memiliki hak paten untuk menjaga resep rahasia, bahkan mister crab di bikini-bottom," kekeh Afja memberikan alasan logisnya.
Samagaha ikut tertawa renyah, dia tak mengira bahwa gadis tambun dengan wajah berjerawat ini adalah sosok cerdas.
"Lalu bagaimana kamu akan melanjutkan kerjasama jika aku tidak boleh mengetahui komposisi sempurna tadi?" ujar Sam, mulai menguji strategi Afja lagi.
"Saya akan mengikuti cara pemilik formula merk dagang jagonya ayam tadi. Kampung temulawak akan mensuplai bahan utama dan Anda silakan memenuhi kekurangan komposisi tersebut. Untuk masalah vendor penyedia, saya serahkan pada Anda. Tentu disertai perjanjian persetujuan dengan kami dahulu," ungkap Afjameha lagi.
Sam mengulas senyum tipis, dia mengangguk. Afjameha ternyata paham alur bisnis, dia curiga bahwa gadis ini bukan sosok biasa. Sam meminta Shin mencatat semua poin yang akan mereka sepakati dan dia juga meminta waktu agar menemukan solusi terbaik bagi keduanya.
Afjameha bangkit, menundukkan tubuh sebagai tanda hormat tanpa bersentuhan fisik dengan petinggi SidoGeni.
Kakinya mendadak lemas saat menyentuh pintu lift menuju lobby. Dia juga meraba degup jantung yang berdetak kencang.
"Untung gak ketahuan kalau aku grogi setengah hidup," gumam Afja, tersenyum manis sambil menggeleng pelan.
...***...
Persiapan kerjasama dengan perusahaan nasional tak serta merta membutuhkan waktu sedikit. Afja selalu mendapat kabar perkembangan draftnya dari Shin.
Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, hampir enam bulan mereka meninggalkan kediaman lama.
Setiap malam, Afjameha teringat sang ayah, wajah menyeringai Tamarine, teriakan wanita itu bahkan kesedihan ibunya saat dijatuhi talak, kerap memicu emosi Afja naik.
"Fu-ckkkk!!! lihat saja, aku akan rebut semua yang kau rampas! Candy!" teriak Afja sambil squad jump dan sit-up.
"Jangan menyimpan kebencian, Afja," tegur Fasraha, ikut merasakan sakitnya hati sang putri.
"Aku bisa cantik seperti Candy! aku lebih cerdas darinya, wajahku pasti mulus dan glowing! ... aku janji, papa akan mengemis di kaki Ibu!" geram Afja, menjadikan semua yang menyakitinya sebagai motivasi kuat untuk berubah lebih baik.
"Kamu bisa. Afjameha manorama pasti sukses," balas Fasraha, meneteskan air mata haru melihat kegigihannya.
Esok hari.
Afja duduk beristirahat sejenak di teras mushala kampung tempat dia berjualan keliling. Dia melihat notif di ponselnya. Besok adalah hari pentas seni kelulusan. Hatinya getir, mengingat tiada uang untuk menebus ijazah, bahkan sekedar menyewa kebaya untuk mengikuti prosesi rangkaian wisuda.
"Aku sudah lulus sekolah," gumam Afja, mengusap foto diri yang mengenakan seragam putih abu. Air matanya menetes, dia rindu suasana sekolah, perpustakaan dan Ben.
"Bagaimana kabarmu, Ben, Candy? benarkah kalian telah menjalin hubungan serius?"
Afjameha memejam, membiarkan beberapa tetes butir bening di ujung netra itu turun, melepas rasa sesak di dalam hati.
Hening.
Beberapa menit kemudian, dia bangkit, hendak mendorong lagi gerobaknya sebab pagi ini, jamunya masih banyak.
"Fyuh. Semangat jualan saja, Afe!" ucap Afja, sambil mengusap wajahnya dengan handuk sebab peluh dan sisa air mata masih menempel di sana. Dia lalu memasang masker wajah kembali agar tidak terpapar sinar UV.
Baru saja akan melangkahkan kaki, seruan seorang wanita membuat Afja urung mendorong gerobak.
"Mbak jamu! Mbak Apppja!" sebut warga paruh baya.
"Ya?" tanya Afja ketika mereka menghampiri.
"Mau galian singset biar nganunya gak njebeber macam gorong-gorong," ujarnya sambil tertawa lepas dan menyerahkan dua gelas untuk jamunya. (lebar)
"Singset ramping, ngurangin bau badan, paling adanya, Bu," balas Afja sambil tersenyum ramah saat penutup wajahnya dia buka.
"Iya itu maksudnya," jawabnya masih tertawa renyah.
"Sama, aku mau juga. Eh, Mbak Afja, jerawat batunya ilang ya?" tegur seorang gadis yang baru tiba.
Afjameha hanya tersenyum dan mengangguk samar, belum berniat membuka rahasianya. Namun, berkat keriuhan obrolan dua orang wanita, ternyata malah menarik perhatian banyak ibu-ibu di sekitar.
Mereka mengatakan rasa jamu milik Afja lain. Ada rasa asam dan manis serta hangat. Sehingga tidak menimbulkan mulas. Tapi sebagian warga meminta agar Afja dapat mengemas jamu tersebut dalam botol kecil untuk dikonsumsi satu hari sehingga kesegarannya terjaga.
Afjameha mencatat semua masukan dan saran dari para penikmat jamunya. Dirinya merasa puas, Afja lalu memberikan edukasi tentang perawatan wajah yang tengah dia jalani.
Menjelang duhur, Afja baru kembali. Fasraha cemas sebab Afja belum pernah terlambat pulang se siang ini.
Antusias warga terhadap perubahan wajah Afja membuat gadis tambun pulang terlambat, tapi justru jamunya habis tanpa susah payah keliling.
Afjameha lalu menceritakan kisahnya pada Fasraha. Dia meminta doa sang bunda agar tetap semangat menekuni pekerjaan ini.
"Rezeki itu darimana saja jalannya. Kudu di jemput sebab dia juga bisa datang karena kegigihan atau bahkan kesiapan," ujar Fasraha, membelai rambut putrinya yang keriting. Afja merebahkan diri dipangkuan setelah lelah berjualan.
"Doain terus, Bu. Aku sedang menyiapkan diriku agar suatu saat pantas menerima kucuran rezeki dari Allah," balas Afja lirih, hatinya ikut gerimis melihat kondisi sang ibu yang harus tinggal di tempat sempit.
Dia lalu izin pada Fasraha, ingin ke rumah pak Temul untuk mencoba resep baru. Afja kian getol belajar khasiat rimpang di sana.
Sesaat setelah itu.
"Masih saja bodoh! buat lembabin muka tuh pake ini!" tegur Temul, menepuk tangan Afja ketika salah mengambil bahan.
"Eh, iya. Tapi, Pak, kata buku pakai ini saja," ujar Afja mengangkat satu bahan rimpang.
"Pangano bukumu. Di kandani kok ngeyel. Kamu coba, terapkan dan buat tiga macam racikan, mana yang paling pas," kata Temul, berlalu pergi meninggalkan kebun obatnya. (makan tuh buku, dibilangin kok susah)
"Gitu aja terus," gerutu Afja. Dia bingung, melihat lidah buaya, kunyit, jeruk bahkan daun pandan. "Diapain, ya?" gumamnya sambil melihat buku.
"Afja!" panggil seseorang yang membuat Afja panik.
.
.
...________________...
...Diapakan hayo?...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Bzaa
kerennn
2025-02-03
1
🍊🍾⃝ᴄʜͩᴀᷞɪͧʀᷠᴀͣ ғᴀᴊɪʀᴀ🅠🅛
di tumbuk bukan mom🤭sok tahu yaa aku😅😅😅
nunggu slanjutnya ahhh cpt up ya mom
2023-07-17
1
Siti Chotijah
pengen jamu kemayu Ningsih Ama tolak melarat ada MBK afja?😇🤭😄
2023-07-16
1