"Saudara?" tegas Afja lagi.
Vivi menyunggingkan senyum remeh. "Ibu barumu itu adalah mami Candy ... lekas, kembalikan semua buku kami," titah Vivi, diiringi tawa ke empat gadis yang melempari Afja dengan buku dan ID card, sebelum mereka bubar.
Afja tertegun, sakit di badannya tak terasa sebab hati bagai ditusuk belati tajam. Genangan air mata pun kembali di seka, Afja memungut semua buku yang berserakan dan membawanya ke sekolah dengan langkah gontai.
Beberapa saat kemudian.
Semua buku itu kini Afja letakkan di atas meja penjaga perpustakaan. Ketika dia hendak keluar ruangan, sebuah suara menahannya.
"Afja, kamu kan tinggi besar. Tolong bantu ibu meletakkan semua buku di rak masing-masing, bisa?" pinta penjaga perpustakaan, diangguki Afja.
"Baik, Bu." Afja pun urung pergi dan meraih tumpukan buku dari atas meja menuju rak-rak di belakangnya.
Benaknya kosong sebab mood memburuk sehingga Afja tanpa sengaja menyandarkan tubuh tambunnya pada ambalan usang. Tiba-tiba.
Pluk.
"Awh!" lirih Afja menyentuh kepalanya karena sakit tertimpa sesuatu yang jatuh dari atas rak. Dia membungkukkan badan, meraih buku Dengan sampul usang.
"Wow, buku apa ini?" gumam Afja saat mengusap sampul agar tulisan judul terbaca. "Ramuan kuno Mak Beken," ejanya.
Gadis berpostur jumbo itu penasaran dan membuka sampulnya lalu membaca sekilas. Mata sipit pun memicing hingga senyum samar terlukis di wajah berjerawat. Afja memutuskan meminjam buku tersebut.
Awalnya penjaga menolak, tapi karena Afja tak pernah terlihat merusak buku, bahkan kerap menambah koleksi perpustakaan sekolah, pustakawan pun meloloskan permintaannya.
Azan duhur berkumandang manakala Afja berlari kecil menuju pom bensin tempat dia meninggalkan ibunya. Betapa terkejut Afja saat melihat Fasraha di perlakuan semena oleh petugas di sana.
"Lepaskan ibuku!" teriak Afja, sambil mengacungkan kepalan lengan di udara. Dia mendorong tubuh pria itu.
"Pergi sana, gembel!" seru petugas melempar semua barang-barang mereka asal hingga berantakan.
"Awas kau!" kesal Afja, mengepalkan tinjunya. Fasraha memilih membereskan kekacauan dan mengajak putrinya pergi dari tempat itu.
Keduanya melangkah gontai, berniat menuju warteg di tepi rel yang berada beberapa ratus meter dari sana. Tubuh Fasraha bergetar halus menahan lapar tapi tak tega meminta pada Afja. Dia tahu, putrinya juga tidak memiliki uang.
Langkah tertatih karena menyeret banyak barang di bawah teriknya mentari siang hari, nyata sangat menguras tenaga mereka. Pandangan mata Afja mulai berkunang-kunang. Perlahan tubuh tambun itu pun melemas di tepi rel.
Fasraha hanya bisa menangis melihat Afja demikian lunglai. Dia pun mendekap putrinya, serasa terpeng-gal nyawa.
Tuuuuuuuuttttt. Klakson kereta intens berbunyi. Teriakan tak lagi di hiraukan keduanya, mereka pasrah jika harus mati siang ini.
"Hoy! kereta!" teriak seorang pria, tak di hiraukan Afja.
Ninuninuninu. Sirine perlintasan berbunyi cepat tanda kereta telah dekat.
"Tolooong!" seru pria tadi, meminta bantuan warga sekitar. Beberapa warga pun sigap berlari dan membantu mengamankan barang mereka menyingkir sedikit dari sana.
Wush. Kereta pun melintas cepat.
"Hampir saja, Alhamdulillah." Warga menghela nafas lega.
"Kalau mau mati, cari tempat sepi aja biar gak di tolongin," sengit warga melihat Fasraha masih setengah sadar.
"Heh! nolong tuh yang ikhlas ... Bu, Non, minum dulu, ya," kata seorang wanita, mengusap bahu Fasraha. "Eh, badannya panas sekali. Mereka sakit ini, bukan mau bundir," serunya. Dia lalu meraba dahi Afja lalu segera berbalik masuk ke sebuah warung.
Fasraha menerima uluran obat juga air minum hangat dari wanita tadi.
"Bawa ke Pak Temul saja, ayo Pak RW," saran sang pemilik warung, melihat ke arah pria yang berteriak di awal tadi.
Pak RW pun mengangguk, dia lalu meminta beberapa warga mengambil kursi roda juga gerobak untuk membawa barang-barang mereka.
Evakuasi pun dilakukan dengan cepat. Pak Kunir membawa keduanya ke pemukiman tak jauh dari sana.
"Biar kata di tepi rel, saya jamin kampung kita ini gak kumuh," kata Kunir bicara pada Fasraha.
Wanita lemah itu hanya tersenyum samar, mengangguk pelan sebagai bentuk penghormatan baginya.
"Di sini dulu, istirahat. Nanti kalau minuman sehat datang, diminum ya," pesan Pak Kunir setelah memberi mereka tumpangan kamar di samping mushala.
Fasraha menerima perlakuan baik para penolongnya. Keduanya bisa berteduh dengan aman hari ini.
Keesokan pagi.
Afja telah lebih baik meski sesekali perutnya perih. Pusing masih menggelayut saat dia baru selesai berwudhu untuk salat subuh.
"Jangan tidur lagi. Di tolong itu agar berguna, balas budi, bukan cuma sekedar numpang tidur. Malu sama badan, tambun seger kok malas," ujar seorang pria, menegur Afja secara tak langsung.
Afja menoleh, memastikan bahwa pria itu sedang bicara dengannya.
"Setelah salat, kamu ke rumah warna hijau itu. Bantu dia jualan sana, nanti dapat upah buat beli makan," ujarnya lagi, menunjuk ke arah Utara.
Afja mengangguk meski tak paham situasinya. Hanya berusaha menjaga diri, menjunjung langit dimana dia berpijak.
Fasraha melepas putrinya, dia trenyuh, Afja mau melakukan semua yang di ucapkan pria tua nan sinis di mushala. Tetapi, mungkin inilah jalan bagi mereka untuk bertahan hidup.
Gadis tambun dengan penampilan lusuh itu kini mendorong gerobak, dia berjalan kaki mengikuti Jaheni berjualan ke kampung sebelah yang berjarak lima kilometer.
"Mbak Afja, keren, kuat jalan padahal gendut. Kakinya pasti melepuh. Nah, ini sisa jamu beras kencur diminum aja buat obat pegel. Jahe di parut lalu di oles sebentar ke kaki biar pegel hilang, perasan airnya boleh diminum supaya badan enteng gak masuk angin," kata Jaheni, menyerahkan dua botol sisa jamu untuk Afja.
"Bisa aja, Kak Jahe. Nanti di marahin sepuh, gak? aku yang ngabisin ini," balas Afja tak enak hati.
"Pak Temul? kagak, gih. Nanti malam, kumpul ya. Kita belajar nanem tanaman obat dan mengenal rumpun rempah berkhasiat," sambung Jaheni lagi, menepuk lengan Afja dan berlalu.
Afjameha mengangguk antusias. Dia lalu masuk menemui ibunya.
"Bu!" panggil Afja, mendorong pintu kamar sempit perlahan.
"Afja!" rintih Fasraha, menahan kram di kaki yang kaku.
"Ibu!!!" panik sang anak. Duduk bersimpuh lalu berusaha membuat ibunya hangat.
Teriakan Afja menarik perhatian Temul yang akan membersihkan mushala. Dia mengintip dari balik tembok samping.
"Kenapa?" tanya Temul.
"Ibuku kram, kaku otot kakinya. Tolong, Pak," ucap Afjameha melongok dari pintu kamar.
Temul melihat sisa jamu dalam botol di luar teras. Dia lalu menunjuk ke sana.
"Ambil asam di rumah dan air hangat. Kamu pikirkan kudu diapain itu," ujarnya meninggalkan Afja.
Tak membuang waktu lama, Afja berlari menuju rumah Pak Temul di ujung gang. Setelah mendapat asam, Afja bingung akan di apakan semua bahan ini. Dia tiba-tiba teringat buku kuno dari perpustakaan.
Afjameha mulai meraba instruksi di sana, dia menggabungkan beberapa gejala penyakit ibunya dengan jamu yang ada.
"Bismillahirrahmanirrahim." Afja membalur perasan air asam, guna melemaskan otot kaki yang kaku.
Beras kencur, jahe dia endapkan sejenak lalu ikut di oles ke kaki Fasraha sementara airnya diminum sang ibu.
Dengan telaten, Afjameha memijat pelan di sana. Setelah lima belas menit, dia mendiamkan semua itu di kaki Fasraha lalu di bilas dengan air hangat.
"Enakan gak, Bu?" tanya Afja.
Fasraha mengangguk, dia mencoba menarik kaki kanan bagai balok kayu itu perlahan. "Eh, kok bisa gerak, gak ngilu pula," ucapnya senang, senyum pun tersungging di wajah senja Fasraha.
"Alhamdulillah, giliran aku ya, Bu. Pegal sekali," keluh Afja, saat akan meneguk jamu beras kencur sisa dari gelas ibunya.
Bada Maghrib.
Sesuai ajakan Jaheni, Afja menuju pendopo kampung, dia sekaligus ingin berterima kasih pada Pak Temul atas arahan siang tadi. Dia juga mengatakan tentang racikan yang dibuat ternyata ampuh untuk ibunya. Namun, respon beliau justru jauh untuk sangkaan Afja.
"Heleh, baru segitu. Jangan pongah!" sergah Temul, menciutkan Afja.
"Aku hanya menjelaskan saja, bukan sombong. Wajar dong kalau aku bahagia," balas Afja kali ini.
"Benar, Pak. Kami juga, baru tahu loh kalau racikan itu bisa buat obat kaku otot," ujar beberapa warga lainnya termasuk Jaheni yang langsung praktek.
"Cih, apa hebatnya dia, tampilan diri saja begitu ... bahagia itu kalau kamu bisa hilangkan jerawat, turunkan berat badan biar sedap dipandang!" cibirnya lagi.
Afja muak, selalu saja yang dinilai adalah penampilan bukan keterampilan. Kali ini, di akan melawan.
"Apa itu tantangan buatku?" tegas Afja, menatap tajam sepuh kampung jamu.
"Kau pikir?" balas Temul, tak kalah menatap sengit sang pendatang.
.
.
...______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
fa_zhra
nama nya susah mom
2024-01-18
2
Amidah Anhar
nama nama tokohnya di ambil dari remapah rempah
2023-12-09
1
Tini Laesabtini
nama2 tokohnya unik diluar Nurul...
2023-10-30
2