"Aaaahh!" teriak Afjameha, dia berhasil meraih akar pohon sehingga tak terjatuh ke bawah.
Shin teringat Afja yang enggan di sentuh sehingga dia hanya dapat menarik akar pohon sekuat tenaga.
"Nona, pegangan yang kuat," kata Shin sembari berlari mencari penahan selain tubuhnya agar lebih kokoh.
Kaki Afja berusaha memijak celah tebing dan dia mulai mendaki agar bobot tubuhnya tidak membebani Shin.
Lima menit kemudian.
"Hah!" Shin duduk lemas di bawah pohon, tangannya kemerahan akibat menggenggam akar terlalu erat.
Begitupun dengan Afja, dia tergeletak di sisi tebing begitu saja, tak lagi memedulikan kondisi wajah dan tangannya yang luka akibat tergores ranting.
"Te ri ma ka sih," ucap Afja tersenggal. Nafasnya masih memburu akibat kecerobohan sesaat.
Shin hanya mengangguk, dia masih menata nafasnya sebelum memutuskan untuk ikut tayamum.
Afjameha mulai merangkak menjauh dari sana, dia bersiap menunaikan salat sebab harus segera turun mengambil sampel beberapa tanaman yang dia cari selama dua hari ini.
Shino memperhatikan langkah sang nona, dia sedang berusaha menjawab semua pertanyaan Sam. Signal di gunung hilang timbul sehingga ketika ponselnya menyala, banyak notifikasi pesan dan panggilan memenuhi log aktivitas benda pipih tersebut.
Asisten Samagaha memilih menggunakan voice note untuk menjawab pertanyaan pimpinan SidoGeni. Dia menceritakan semua yang mereka temui kecuali perihal bunga dan misi Afja. Shin tak ingin mengkhianati kepercayaan yang Afjameha berikan padanya.
Rupanya signal selular sedang bagus, Samagaha berhasil melakukan panggilan pada sang asisten.
"Dimana?" tanya Sam terdengar sedikit lantang.
"Salon Jhonny Iskandar sambil ngopi lendot," jawab Shin asal, dengan wajah datar. (Bersandar manja)
Afjameha yang mendengar percakapan keduanya sebab Shin meloudspeaker panggilan, tersenyum samar atas jawaban sang asisten.
"Kenapa lama sekali. Kau rekreasi?" kesal Sam, sebab dia merasa Shin tak mengabari apapun.
"Tentu saja, Bos. Anda mau saya bawakan oleh-oleh mahluk ekor panjang atau rambut panjang?" ujar Shin tak kalah kesal, misinya bagai Tarzan kali ini.
"Jaga dia!" titah Sam lagi.
"Hanya diaaaa aaaaa, yang ada di--," balas Shin, mengutip sebuah bait lagu tapi terjeda.
Tuut. Tuut. Tuut. Panggilan di putus sepihak oleh Sam.
"Hih! untung ganteng!" ucap Shin, mengoceh sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Semua yang dilakukan sang asisten tak luput dari perhatian Afja. Dia baru melihat sosok konyol seorang aspri perusahaan ternama nan terbiasa berpenampilan super kinclong ini.
"Awas bonus melayang, berani ngomong begitu dengan Tuan Sam. Benar kata pak Shin, untung ganteng jadi meskipun emosian kadar ketampanannya tidak menyusut," kekeh Afja, saat merapikan peralatannya lagi.
"Katakan padanya, aku takkan menandatangani kontrak dengan perusahaan manapun jika penawaran SidoGeni cukup bagus," imbuhnya mulai menuruni lembah menuju tempat Krisan berada.
Shin hanya menanggapi dengan gumaman. "Ehm."
Afjameha Manorama terkejut saat kakinya mencapai lereng dengan kemiringan 45° itu, Krisan tumbuh subur di sana. Warnanya sangat cerah dan pekat tanda ekosistem sekitar terjaga dan akar ternutrisi dengan baik.
Pantas saja, pak Temul menyuruhnya meneliti jenis seperti ini sebab khasiat Krisan tak main-main. Semua harus organik sehingga aman dan mujarab sebagai bahan obat herbal.
Shin tiba di lembah saat Afja sedang menggali akar Krisan. Shin dibuat takjub dan banyak mengambil foto bahkan video hamparan bunga dimana Afja tengah berjongkok, tengkurap dan berlumur tanah gambut.
Satu jam mereka di sana. Afja berhasil mengumpulkan beberapa lapisan tanah saat penggalian, ini akan dijadikan sebagai contoh media tanam di tempat baru agar Krisan dapat tumbuh dengan baik tanpa kehilangan banyak kandungan alaminya.
"Sudah dapat, sekarang bantu aku memindahkan beberapa bibit ini ke media tanam sementara," ucap Afja meminta bantuan pada Shin.
"Apa khasiat tanaman ini, Nona? bukankah jenis bunga Krisan banyak dijual?" tanya Shin disela menyiapkan tanah gambut ke polibag.
"Betul, tapi kandungan mineral didalamnya tentu berbeda. Di sini masih asri, alami. Tanah gunung pun kaya akan mineral dan itu sangat baik bagi akar, kompos alami ... lihatlah," ujar Afja, menunjuk ke kondisi tanah yang gembur, hitam pekat juga banyak dedaunan lapuk di sekitarnya.
Shin akhirnya paham. Dia ikut bersemangat setelah mendengar penjelasan Afjameha. Krisantemum kaya akan potasium, berguna untuk mengurangi risiko penyakit jantung, stroke bahkan kemandulan.
Di Jepang, teh Krisan sangat mahal harganya sebab berfungsi sebagai penurun tekanan darah dan membuat wajah glowing. Magnesium, kalsium, kalium yang terkandung didalamnya berkhasiat untuk menguatkan tulang. Minyak atsiri Krisan bisa digunakan sebagai bahan kosmetik juga mengobati mabuk akibat alkohol sekaligus melindungi hati.
Dalam otak Afjameha, pak Temul akan menjadikan ini sebagai produk sampingan selain jamu Afja. Paket kumplit, tubuh singset ramping dengan jamu, wajah glowing memakai racikan masker ala Afja, dan teh Krisan sebagai nutrisi tambahan bagi kulit. Senyum pun terkembang, tak surut di wajah ayunya.
Afja diminta mempelajari Krisan sebab pak Temul ingin dirinya maju sebagai penggagas. Putri Fasraha kian paham misi yang dia emban.
"Terima kasih, bapak," gumam Afja tiba-tiba merasa baper mengingat cara Temul yang tak biasa dalam memberikan ilmu.
Semua telah siap dibawa dalam kantung yang Afja siapkan. Keduanya lalu kembali naik ke atas. Beberapa jenis bunga terlihat segar. Namun, bayangan ekstrem perjalanan turun gunung menghantui.
"Jangan sampai layu," ujar Afja menatap Shin penuh harap agar mencari solusi cepat sebab otaknya lelah berpikir.
Shino pun terlihat serius, dia lalu mengeluarkan ponselnya lagi. Namun, ketika dia tidak menemukan signal saat ini, membuat Shin dilanda stres.
"Ayo dong, ayo! ... Sam tolong peka sedikit, Samagaha Ziyan, aku butuh kecerdasan dan firasatmu yang tajam," gumam Shin mencoba berkali menghubungi Sam.
Sementara di tempat lainnya.
Hari menjelang sore tapi tak ada kabar dari Shin. Sam mulai tak enak hati, dia tidak membekali Shin apapun untuk menuju ke sana, meski laporan dari anak buahnya mengatakan bahwa sang asisten memiliki peralatan dasar mendaki, tapi tetap saja Sam kuatir.
"Shin, dimana kamu?" gumam Sam, dia melihat ponselnya lalu mengirimkan sesuatu ke seseorang.
"Lacak dia, segera!" titahnya lagi.
...*...
Afjameha dan Shin perlahan menuruni bukit, Shin menunggu sesuatu sehingga dia memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat terbuka sebab hari mulai gelap.
Afja dilanda cemas, dia bergegas mengumpulkan kayu juga bahan makanan untuk malam ini jika tak berhasil turun. Besok sudah hari ketiga, mereka akan dicari oleh ranger apabila tidak muncul di bawah esok pagi.
"Saaammm!" teriak Shin tiba-tiba.
Api unggun mulai menyala, suasana mencekam kembali dijalani keduanya. Namun, lamat terdengar dari kejauhan suara bising sebuah benda melayang.
"Nona, ayo buat tanda agar kita terlihat," ujar Shin mengajak Afja untuk membuat asap penanda, dia menduga itu adalah transportasi jemputan bagi mereka.
Keduanya sibuk mengumpulkan dedaunan basah seadanya hingga kepulan asap mulai terbentuk.
Suara baling helikopter kian dekat. Afja lalu mengambil ranting pohon kering di sekitar untuk menciptakan kilatan api unggun yang lebih besar.
"Lihatlah kami, Saaammm!" teriak Shin lagi. Upaya mereka berhasil. Heli terbang diatas mereka dan mulai menurunkan tali.
"Saaammm!" Shin tersenyum saat mengenali helikopter milik SidoGeni.
"Alhamdulillah, Pak Shin, bagaimana?" teriak Afjameha sebab suara bising baling heli.
"Naiklah dulu, aku akan menyusul," kata Shin, bergegas mengambil bunga milik Afja. Dia memilih meninggalkan ranselnya di sana.
Glek.
Afjameha ngeri, dia gemetaran saat meniti tangga melayang guna mencapai body heli di atas ketinggian.
Seorang petugas bergegas meraih lengan Afjameha saat melihat gadis itu mulai kelelahan meski hanya memijak delapan titian.
Kepekatan udara diatas gunung membuat diafragma bekerja ekstra berat untuk menghirup oksigen sehingga nafas pun lebih mudah tersenggal.
Tak lama, keduanya berhasil masuk ke dalam heli dengan selamat meski adrenalin terpacu.
"Pulang. SidoGeni Corp," titah Shin, lemas saat memasang headband.
Satu jam perjalanan nyatanya membuat bunga-bunga Afja mulai layu. Saat helikopter menyentuh helipad gedung. Afja seketika menepuk lengan Shin.
"Pak, gawat. Layu, layu. Jangan sampai layu," ucapnya membuat Shin panik.
Samagaha yang menanti mereka di atas gedung terheran sebab Shin berteriak padanya saat baru membuka pintu heli.
"Saamm! siapkan media tanam segera," seru Shin.
"Tolong, Tuan. Tolooong!" imbuh Afja tak kalah panik, dia bahkan berlari menuju ke arah Sam.
Samagaha Ziyan yang tidak tahu menahu dibuat bingung tapi dia meminta anak buahnya menyiapkan segala kebutuhan mereka segera.
"Apa saja, lekas!" ujar Sam, menatap tajam Afja.
Freeze. Afjameha mendadak lupa saking paniknya.
"Engh, itu, itu, apa ya?" gagap Afja, membuat dua pria kian bingung.
.
.
..._________________...
Hay guys. Buat kamu yang belum paham cara support mommy. Begini caranya ya. Lihat tanda panah warna hitam. Mamaciih 😍.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Bzaa
kerennnnn
2025-02-03
1
Eka Widya
supportku berupa mawar merah gk papa kam mom😊😊
2023-08-26
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Penasaran iih sm lanjut an nya, semangat ya Mom, 😘🥰🥰
2023-07-21
1