Afja teringat dengan Google lens, dia menggunakan itu untuk mengenali jenis tanaman indah yang terdapat di tangannya. Pak Temul rupanya sudah menebak jalan pikiran Afja sehingga dia memberikan misi seperti ini.
Betapa si gadis tambun ini terkejut manakala membaca banyak barisan kata di layar gawai. Dia tak habis pikir dengan isi kepala sepuh kampung jamu, sebegitu akurat memahami semua keinginannya.
"Gak salah, nih? kan bunga begini dilarang ditanam di Indonesia. Yang dijual adalah jenis non toxic tidak mengandung candu, paling bijinya masih aman jika dikonsumsi. Pantas aku sulit mengenali ... tangkur dan krisan gunung. Bener-bener dah," gumam Afja menggelengkan kepala, ternyata dibalik penampilan kolot itu, sepuh kampung jamu berwawasan luas.
Afja membaca semua spesifikasi bentuk fisik ketiga tanaman yang harus dicari. Dia juga membuka blog serta mencocokkan informasi di buku Mak Beken. Afja takjub akan khasiat kedua tanaman tersebut. Bahkan di catatan kaki petuah kuno itu tertulis jelas harus mencari kemana.
"Salakanagara, lereng gunung Halimun, Bogor. Kerajaan kuno yang di ragukan keberadaannya sebab tidak akuratnya bukti fisik. Tapi bunga ini di duga tumbuh di sana, weh, macam Sherlock Holmes ini sih. Menelusuri jejak," imbuh Afja melangkah menuju kamar sempit untuk meminta restu Fasraha.
Menjelang tengah malam, Afja merangkum dan menyiapkan segala apa yang harus dia bawa dan cari. Otak pun berpikir cepat, bagaimana caranya jika ingin mengambil bunga candu itu untuk kebutuhan medis. Pasti prosesnya sangat lama dan mahal sebab membutuhkan riset panjang, Afja tak mampu bahkan SidoGeni mungkin menganggap dia gila.
"Baik. Fokus pada tangkur dan Krisantemum gunung dulu. Keajaiban bila menemukan bunga Poppy di sana ... solusi untuk stamina dan kesehatan jantung, pembunuh nomer satu di negeri ini," ucap Afja kian bertekad kuat.
Senyumnya terbit, sudut bibirnya melengkung ke atas dalam durasi lama membuat Fasraha terheran.
"Mikiri apa? senyum sumringah gitu?" tanya Fasraha masih setia di atas pembaringan sambil berdzikir.
"Kalau aku nanti menciptakan jamu kuat perkasa, dan menyodorkan pada SidoGeni, pasti bakalan di sambut baik. Karena itu memang ranah mereka," tutur Afjameha, melirik ke arah ibunya.
"Pelan-pelan saja. Jangan takabur, hati-hati di gunung. Ikuti pantangan penduduk sekitar, bebacaan dan minta perlindungan sama Allah," pesan Fasraha, mengingatkan putrinya.
Afjameha mengangguk, dia menghampiri ibunya lalu meraih tangan kanan Fasraha untuk di cium. Esok, dia akan pergi dan menitipkan beliau ke Jaheni.
Malam ini, Afja bakal memasak semua bahan jamu untuk di edarkan esok pagi. Dia akan lembur dan memproduksi dalam jumlah besar di dapur milik pak Temul.
"Sabar, ya, Bu. Kita akan kembali berkecukupan lagi. Aku janji," ucap Afja, menunduk, merasa bersalah.
"Jangan membenci papamu. Beliau punya alasan dan ibu yang bodoh sebab tidak pernah bisa menjalankan kewajiban dengan baik. Ibumu hanya wanita kampung bernasib mujur bisa menjadi istri seorang Malaseka," tutur Fasraha, membelai kepala putrinya.
Afjameha tak mengerti arti hubungan kedua orang tuanya yang tidak terlihat harmonis. Dia hanya diberikan banyak fasilitas tanpa mendapatkan hal lainnya, apalagi cinta kasih seorang ayah.
Tak lama, Afja pamit untuk ke rumah pak Temul dan menyiapkan bahan jualan esok pagi.
Bada subuh.
Afja memilih tidur sejenak. Dia berpesan agar Fasraha membangunkannya tepat pukul tujuh nanti sebab ojek sewaan yang akan mengantar menuju Bogor atas rekomendasi pak Temul, bakal tiba menjemput.
...*...
Sementara di tempat lainnya. Saat yang sama.
Seorang pria berdiri di sisi jendela menatap langit fajar yang mulai menampakkan semburat warna jingga. Dia tengah menginstruksikan sesuatu ke asistennya di ujung panggilan.
"Awasi Afjameha selama draft dalam penyempurnaan. Jangan sampai dia teken kontrak dengan perusahaan lain. Ku dengar, Mustika Raja melirik gadis itu sebab mereka tertarik dengan ke tradisionalan yang Afja usung," titah Samagaha.
"Siapkan waktu temu penandatanganan perjanjian dengan Afja tapi sebelum itu, kamu pastikan dan koordinasi dengan bagian lab, aku menunggu laporan hygiene dari mereka." Samagaha tak mengira bahwa dia mengikuti permainan Afja sejauh ini.
Pimpinan SidoGeni juga mengakui ide cemerlang gadis itu, bagian lab memberikan laporan bahwa racikan milik Afja akan menunjukkan hasil berbeda jika dimanipulasi menggunakan bahan lain. Ketiga gadis talent pun mengatakan rasanya tidak lagi sama, dan mereka keberatan meminum itu. Inilah yang membuat Sam, terikat dengan Afja bila ingin memproduksi massal.
"Baik. Nona Afja kian populer di kampung temulawak. Kabarnya dia mulai menjajakan jamunya ke pedagang lain di sana. Apakah saya harus turun tangan sendiri?" tanya Shin, memastikan keinginan Sam yang tersembunyi.
Tak ada sahutan dari pria di seberang, membuat Shin yakin bahwa Afjameha menjadi tanggung jawab dirinya.
"Baik. Aku akan menyamar," imbuh Shin lagi.
Tuut. Tuut. Tuut. Panggilan terputus begitu saja, seperti biasanya.
Shin menghela nafas. "Afja, tolong buatkan ramuan bawel untuk tuan bos agar mulutnya luwes dalam meluncurkan kalimat terima kasih, selamat bertugas Shin. Boleh juga begini, terima kasih sudah berbelanja," kekeh Shin teringat sapaan akrab kala memasuki minimarket. Dia lalu melempar ponselnya dan bersiap menuju kampung jamu.
Satu jam kemudian. Dalam perjalanan menuju subjek incarannya, Shin mendapatkan laporan bahwa Afjameha tidak berjualan pagi ini. Gadis itu terlihat membonceng motor yang mengarah ke luar kota.
"Ikuti dulu, jangan lolos. Bagikan koordinatmu, aku menyusul ke sana," ucap Shin, meminta anak buahnya waspada.
Menjelang pukul sepuluh pagi.
Shin tiba di lokasi anak buahnya. Afja ternyata menuju Cidahu Sukabumi menggunakan bus trayek yang membawa rombongan pendaki. Shin tergagap, dia tak membawa perlengkapan apapun untuk itu.
"Bos, ini!" kata salah satu anak buah, menyodorkan ransel berukuran sedang. Dia langsung membeli beberapa barang di kios transit, yang mungkin akan Shin , saat baru tiba tadi.
"Maaf tidak lengkap, Bos. Mendadak beli di toko itu, semoga cukup menopang kebutuhan beberapa hari meski seadanya," imbuh pria yang memakai jaket hitam, menunjuk ke deretan toko sepanjang pool.
Shin tersenyum, anak buahnya sigap menyiapkan keperluan dasar mendaki meski ala kadarnya. "Terima kasih," ujar Shin. Dia pun memeriksa isi tas tersebut. Tenda, botol minum, pisau lipat, tali, dan sebagainya.
"Anda sudah kami daftarkan untuk naik ke sana, nona Afja mendaki mandiri dengan tukang ojek tadi," jelasnya lagi pada Shin.
Keduanya lalu berpisah, Shin ikut masuk ke bus berukuran sedang dan memilih duduk di bagian belakang agar Afja tak melihatnya.
Semua yang dia lihat dan dengar, dilaporkan langsung pada Samagaha. Sejujurnya Shin tak mengetahui alasan Afja menuju ke tempat itu tapi hatinya yakin mengatakan bahwa dia tengah mencari sesuatu di sana.
["Tuan, saya sepertinya akan bermalam di gunung."] Shin berkirim pesan.
["Selamat pulang kampung bertemu leluhur."] Balas Sam.
["Baik, akan saya sampaikan bahwa cicit mereka tidak dapat pulang sebab minder tidak mirip dengan para leluhur."] Tulis Shin, sambil terkekeh pelan membayangkan wajah kesal Sam.
["Lakukan dengan benar! Awasi Mano, jangan sampai lepas dari pandangan kamu, berShin!"] Sam mulai kesal, Shin selalu saja menganalogikan dirinya dengan monyet sebab tubuhnya banyak di tumbuhi bulu halus.
Shin puas bisa menggoda Sam leluasa, sepupunya memang kian irit bicara semenjak dia menduduki kursi pimpinan. Hanya padanya juga orang-orang berkepentingan, Sam akan bertutur panjang.
"Oke, Sam. Mano, ya, Mano," lirih Shin, menatap ke arah Afja yang duduk jauh di depannya.
.
.
..._________________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Bzaa
semangat terus ya
2025-02-03
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Wah koq Mano yaa, apa itu panggilan kesayangan Sam buat Afja ya, 🤭
2023-07-19
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Anak buah Shin kek Doraemon yaa, 🤭
2023-07-19
0