"Tapi, Sam," lirih Shin, dia menepuk bahu sepupunya pelan.
Rapat pagi ini membahas tentang banyak produk yang akan SidoGeni luncurkan. Beberapa departemen hadir berkaitan dengan itu semua, maka Shin menilai kehadiran Sam menjadi krusial.
"Aku pernah mengabaikan rasa yang seharusnya dia tahu sejak lama, mencoba acuh hanya untuk menarik perhatian istriku. Ternyata itu salah, dan berujung dia pergi tanpa tahu apapun dariku. Aku kini memilih mengikuti kata hati dibanding gengsi."
"Tolong, Shin, staf marketing hanya ingin mempresentasikan pilihan mereka untuk promo produk bukan? aku sudah mencatat poin dalam notes di mejaku," tutur Sam panjang tanpa melepas pandangan dari Afja.
"Baik. Aku pergi. Jaga Mano untukku, ya," bisik Shin, tersenyum samar dan berlalu.
"Milikku takkan pernah menjadi milikmu!" tegas Sam dengan suara beratnya.
Shin terkekeh, kali ini mungkin Sam akan sungguh-sungguh menjaga hatinya. "Tapi dia belum jadi milikmu. Lagipula Mano menganggapmu tak penting, bukan?" imbuh sang asisten.
"Sepupu lucknut," gerutu Sam, melirik tajam Shin yang tertawa renyah meninggalkan kamar Afjameha.
Kepergian Shin membuat Sam menikmati waktunya, dia puas melihat wajah ayu Afjameha yang kini telah bebas jerawat. Rambut ikalnya seakan bagai pemanis alami sehingga wajah oval sang gadis menjadi sedap dipandang meski tanpa micin.
"Detak jantung lemah tapi kondisi Afja stabil. Saya tahu ini beresiko, tapi Afja akan menggunakan pengalaman tersebut guna membantu orang lain yang memiliki kendala serupa. Dia berkorban untuk visi masa depannya," ujar Temul, duduk di sisi ranjang Afja.
Samagaha tak paham, dia tidak menanggapi ucapan Temul. Pemikiran Afja di luar nalar bagi orang dengan pemikiran logis. Fasraha lalu ikut bergabung dengan mereka, wanita paruh baya itu banyak melantunkan doa agar putrinya lekas sadar.
Petinggi SidoGeni akhirnya paham, darimana asal usul ketaatan Afjameha. Fasraha figur ibu penuh kelembutan lagi salihah. Pantas Afja polos masalah lawan jenis, mungkin sebab ajaran dari sang mama agar menjaga adab dan tidak bersentuhan fisik pada selain mahram.
...*...
Di hunian Malaseka.
Afja mencoba mengingat petunjuk dari buku Mak Beken. Di sana tidak disebutkan bahwa ramuan ini dapat menukar jiwa seperti yang dia alami.
Tiada pilihan lain baginya selain memanjatkan banyak doa. Afja mengulang-ulang ayat kursi, teringat kisah ibunya tentang dongeng pesugihan. Jiwa yang tergadai akibat pesugihan, luntur dan terlepas dari jerat ghaib setelah membaca penggalan surat Al Baqarah itu.
Akibat penolakan Afja untuk menelan makanan sebab bau anyir juga obat-obatan sangat menusuk hidung, Tamarine murka.
"Mau makan atau mama paksa?" ucap Tamarine, menatap wajah Candy putrinya meski jiwa di dalam tubuh itu adalah Afja.
Afja menggeleng. "Gak mau. Enek," keluhnya, mendorong pinggan ke arah badan ibu Candy.
"Oke. Oke! urus dirimu sendiri. Papa juga akan mama larang menemuimu. Biar tahu rasa bagaimana kehilangan kasih sayang papa lagi," tegas Tamarine, bangkit dan berlalu keluar kamar.
"Jangan nangis. Air matamu takkan membuat papa luluh kali ini," imbuh Tamarine saat mencapai ambang pintu.
Deg.
Afjameha Manorama mencerna ucapan Tamarine. Dia menebak apakah Candy haus kasih sayang seorang ayah, sama sepertinya sehingga Tamarine rela merebut Malaseka dari sang ibu, Fasraha.
Pemilik jamu AfeSlim akhirnya memutuskan untuk tinggal beberapa hari di dalam tubuh sang primadona, Candy lenjelitha. Afja ingin mengetahui rahasia apalagi selain luka dan sakit parah yang di derita oleh si gadis pembully.
Menjelang malam.
Afja berusaha menunaikan salat dan berdzikir demi agar ingatannya tetap utuh. Dia susah payah menutup aurat sebab kondisi tubuh Candy amat jauh dari syarat sah salat. Ternyata apa yang dia lakukan, menarik perhatian seseorang.
"Mau salat, ya. Sini, papa bantu," ujar Malaseka, duduk di sisi ranjang Candy. Dia membenarkan selimut, mengambil pasmina lalu melingkarkan ke kepala putrinya.
"Nah, sudah siap. Salat dulu gih, papa temani," imbuh Malaseka lagi. Kali ini dia duduk menjauh dari ranjang.
Deg.
Afjameha terkejut, ayahnya dapat sedekat ini dengan Candy sementara dia tidak pernah diperlakukan seperti seorang anak. Melihat sosoknya di rumah pun sangat jarang.
Putri Fasraha cemburu. Hatinya bergemuruh, terasa perih seakan sedang di sayat ujung belati. Jantung ikut berdebar kencang akibat menahan emosi dalam dada. Tanpa disadari, Afja meneteskan air mata. Isakannya muncul seiring kepalan tangan di sisi tubuh.
"Ini aku, Pa. Anakmu yang terabaikan," batin Afjameha. Bahunya turun naik seakan ingin melepaskan amarah dan kecewa.
Beberapa menit kemudian. Setelah isyarat salam.
Malaseka mendekat, mengusap jejak kesedihan yang membasahi pipi Candy. Dia bahkan mencium dahi sang primadona membuat jiwa Afja kian perih sehingga air matanya semakin berderai.
"Aku juga ingin diperlakukan seperti ini, Pa. Apa salahku? aku rindu Papa, butuh kasih sayang seorang ayah." Afjameha membatin sekaligus terluka.
"Mana yang sakit? tahan ya, operasi akan dilakukan pekan depan. Papa akan mengupayakan yang terbaik untukmu," ujar Malaseka lembut, membelai wajah Candy penuh kasih.
Afjameha Manorama harus puas dengan kondisi saat ini. Dari jarak sedekat ini, dia akhirnya tahu warna manik mata sang ayah, mendengar suara lembutnya bahkan merasakan belaian meski bukan pada wujud asli.
Malaseka terlihat begitu menyayangi Candy, dia bahkan sangat telaten mengurusnya. Jiwa Afja menolak memejam, dia ingin menikmati waktu kebersamaan dengan sang ayah yang tak dimiliki di dunia nyata.
Waktu terus bergulir hingga mentari kembali menggantikan tugas Dewi malam.
Keesokan siang.
Afja merasakan jiwa Candy ingin kembali masuk. Dorongan di tubuh kian kuat sementara dirinya mulai kehilangan tenaga akibat diserap oleh fisik Candy yang melemah.
"Pergilah!" ujar jiwa Candy, menarik lengan Afja dari tubuhnya.
Afja kesakitan, jiwanya sulit terlepas. Dia berusaha melafalkan doa yang diajarkan Fasraha lagi.
"Mano! Mano!"
"Please, Mano. Bangunlah, temui aku."
"Manooooo!"
"Suara. Suara. Pak Sam, Anda kah itu?" batin Afja, jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia kesulitan bernapas.
"Saakkiiittt!" rintihnya pilu. Air mata luruh begitu saja.
"Aaarrggg!" Afjameha Manorama berteriak kala dia ditarik oleh sesuatu. Seberkas cahaya berwarna putih membawanya pada sebuah lorong bersinar terang.
Sangat cepat.
Tubuhnya terhempas ke ruang hampa hingga hanya sesak yang terasa di dada.
Tidak berhenti sampai di situ, lengan Afja di raih seseorang tak kasat mata lalu dia merasakan punggungnya didorong melewati sebuah pintu. Kilatan cahaya sangat terik dan menyilaukan sehingga netra sipit itu tiada mampu melihat apapun.
Freeze.
"Haaahhh!"
"Manooooo! ... dokter, lekaasss!" teriak Sam pada tenaga medis saat tahu Afjameha sadar.
Afjameha Manorama, melihat langit-langit berwarna putih. Mendengar suara kepanikan dan tangisan. Merasakan usapan tangan di dada juga beberapa anggota tubuh lain, sebelum menyadari bahwa mungkin dia telah kembali ke tubuh aslinya.
"Gimana? bawa Mano ke rumah sakit!" seru Sam lagi, tak sabar akan hasil pemeriksaan.
"Stabil, semua organ vital terdeteksi normal. Nona Afja hanya shock ringan," ujar dokter yang memeriksa.
"Suara. Suara itu menyuruhku kembali." Bibir Afja lirih mengucapkan sebuah kalimat.
"Mano! kau ingat aku? Manooo!" kata Sam, duduk di sisi ranjangnya. Dia menepuk punggung tangan Afja dari balik selimut.
"Afja, ini ibu," isak Fasraha di samping Sam. Dia cemas saat mendengar anaknya bicara tentang suara.
"Biarkan dulu. Nanti jika penggalan nyawa sudah terkumpul dia akan ingat semuanya," sambung Temul. Dia langsung membubuhkan parutan jahe di telapak kaki Afja agar tetap hangat.
Sam mengangguk, dia lalu meminta rujukan dokter jika Afja harus ke rumah sakit agar lebih yakin bahwa kondisinya baik saja.
Petinggi SidoGeni itu bangkit, membiarkan Fasraha lebih dekat ke ranjang.
Satu detik. Dua detik.
"Pak Sam, terima kasih banyak," lirih Afja, melirik ke arah Sam sambil tersenyum samar meski masih terlihat lemas.
Samagaha Ziyan, menatap balik wajah ayu yang dua hari dia cemaskan.
"Sehatlah lagi, Mano," balasnya tersenyum menawan.
Deg.
Deg.
Deg.
Afjameha beralih pandang pada sang ibu yang terlihat sayu, juga pak Temul nan setia menemaninya. Dia berhasil kembali.
...***...
Sebelumnya.
Hampir dua hari, Afja bagai putri tidur membuat Sam terjaga sepanjang malam, meski Temul kerap menawarkan untuk bergantian, tapi Sam menolak.
Setelah makan siang, Samagaha kembali ke kamar Afja dan tanpa sengaja melihat mesin deteksi jantung menunjukkan grafik tidak normal.
Tubuh Afja bergetar halus, muncul butiran keringat sebesar jagung di dahi sang gadis membuat Sam panik bukan kepalang. Dia memanggil dokter, Fasraha juga Temul ke kamar Afjameha.
"Mano! Mano!"
"Please Mano, Mano. Bangunlah, temui aku!"
"Manooooo!" Sam berteriak di telinga Afjameha sementara Fasraha membacakan banyak doa dan Temul memijat syaraf di ujung buku jemari kaki Afja agar dia sepenuhnya sadar.
"Afja! Afjaaaa!" seru Fasraha ikut panik memanggil nama dan mengguncang tubuh putrinya di sela doa.
"Dokter! jangan diam saja!" pekik petinggi SidoGeni.
Hingga akhirnya.
"Haaaahh!"
Afjameha sadar, kelopak matanya membuka lebar seakan sedang mengenali lokasi dirinya kini.
"Waktumu belum tiba Afja. Gunakan apa yang kau pelajari untuk kebaikan ummat."
.
.
..._______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Eka Widya
kira2 afja bisa nggak ya mom buat ramuan yg bisa nambah kepekaan hatinya.kudu tak jiwiit ae😃😃
2023-08-26
2
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Tegang smpe g bisa koment di tiap paragraf, 🤭
semoga setelah ini Mano kalau bertemu Sam deg-deg an kasian klo cumn Sam yg jedag jedug, sementara Mano cuek, 🤭
Pak Malaseka segitu sayang dan perhatian ke Candy, sementara sm Mano dia G pernah peduli ada apa sebenarnya dengan Pak Malaseka, kenapa malah lebih menyayangi anak orang Lain ketimbang anak kandung apa Sebentar Candu emang anak kandung Pak Malaseka yaa 🤭 (mulai nge halu lagi kan, 😅)
2023-07-31
1
Nur Azizah Cirebon
hem momy senam jantung noh pk syam
2023-07-31
1