Shin bertolak ke alamat yang dia dapat dari panitia kontes untuk menjemput Afja. Hampir satu jam waktu yang dia perlukan guna mencapai daerah pinggiran Jakarta yang di kenal kurang tertata apik.
Mercedes-Benz hitam itu perlahan menepi di depan sebuah gang.
"Gak bisa masuk, Pak Shin. Saya tunggu di sini saja," ucap supir ketika mereka tiba di tujuan.
"Kampung Temulawak," gumam Shin saat dia melihat papan nama sederhana di samping pilar gang.
Asisten Samagaha pun turun, bertanya ke beberapa warga hingga dia tiba di depan mushala. Terdapat dua kamar kecil di sisi terasnya, Shin lalu melihat Afja sedang berjongkok membersihkan rimpang tanaman, dia pun langsung menghampiri.
"Selamat siang, Nona Afja. Saya Shin, dari SidoGeni," kata Shin, berdiri tak jauh dari Afja.
Gadis tambun itu melihat sepasang sepatu mengkilap didepannya, dia pun perlahan mendongakkan kepala.
"Ya? ada apa?" tanya Afja, masih jongkok seperti semula.
Shin mengalah, dia menurunkan badannya sejajar dengan Afja dan menjelaskan duduk perkara serta misi yang dia bawa.
"Ehm, saya izin ibu dulu lalu meminta teman menemani beliau. Anda duluan saja, saya nyusul pake ojol memotong jalan agar tiba lebih cepat," balas Afja, mulai bersiap bangkit dan membereskan pekerjaannya.
Shin menolak, dia memilih menunggu Afja bersiap agar tak mendapat amukan Samagaha sebab kembali tanpa target.
Menjelang pukul tiga sore.
Afjameha telah berada di ruangan petinggi SidoGeni, duduk di sofa single menghadap pimpinan. Sam, kembali menanyakan komposisi racikan Afja.
"Nona, bisakah Anda jelaskan kembali komposisi ini apakah betul-betul aman di konsumsi dalam waktu lama?" tanya Sam, duduk di kursi kebesarannya sambil bersedekap.
Afjameha membaca sekilas papan nama di atas meja kerja nan mewah dan rapi. "Samagaha Ziyan, CEO," batinnya.
"Racikan jamu itu sudah saya buktikan dalam kurun waktu satu bulan sebelum mengikuti kontes, Tuan. Anda tentu telah paham bukan, khasiat dari banyaknya rimpang yang tersusun di sana. Tapi, saya akan coba jelaskan ulang bila Tuan masih ragu," tutur Afja, percaya diri.
"Silakan," sahut Sam. Dia melirik Shin, sebagai isyarat agar asistennya menyalakan perekam suara.
Shin, menerima signal permintaan bosnya dan menekan sebuah tombol rahasia di sisi meja Sam.
"Seperti yang kita tahu, kunyit dapat membantu proses penghilang toksin dari tubuh, selain itu kandungan kurkuminnya bisa mencerahkan kulit karena dia bersifat anti radang. Lemon berfungsi untuk menghancurkan lemak sementara madu berguna menambah imunitas, juga agar menyamarkan rasa getir dan masam," jelas Afjameha masih menatap Samagaha.
"Oke. Tapi Nona, Anda menyarankan ini dikonsumsi sebelum makan? kau yakin itu?" cecar Samagaha lagi, kali ini jemarinya mengusap dagu yang dipenuhi jambang tipis.
"Merujuk pada kebiasaan Rosulullah yang terbiasa meminum ramuan saat pagi hari kala perut kosong, berguna untuk memperlancar proses pembuangan sisa makanan dalam sistem pencernaan, Tuan. Saya pun menambahkan jahe di sana," imbuh Afjameha, menjelaskan satu per satu komposisi jamunya.
"Jahe sebagai apa?" balas Sam.
Afjameha diam, dia menebak bahwa Sam hanya mengujinya saja. Tidak mungkin seorang pimpinan perusahaan besar sama sekali buta dengan komposisi bahan yang akrab di dunianya.
Bukankah SidoGeni adalah produsen penghasil minuman kesehatan yang juga sesekali menambahkan bahan herbal dalam produknya, pikir Afja.
Samagaha lantas berbicara kembali sebab dia menduga Afja sedang berspekulasi tentang dirinya.
"Aku hanya ingin tahu, apakah pengetahuan Anda mumpuni, Nona," jujur Sam kali ini.
Afjameha menunduk, dia merasa diremehkan lagi. Gadis tambun pun tersenyum, lalu mengangkat kepalanya.
"Saya tahu, Tuan. Jahe dikenal dengan sifat hangat, berguna mengurangi massa lemak. Mirip seperti lemon tapi dia juga bisa mendetoksifikasi dan mengatasi masalah pencernaan serta memberi efek kenyang lebih lama," jelas Afja, lembut tapi ucapannya tegas.
Samagaha menatap Afja dan skrip di atas meja secara bergantian. Dia tertarik dan akan mengajukan penawaran. Sam juga melihat perubahan fisik Afja serta wajah gadis itu sedikit lebih bersih dibanding sebelumnya.
"Ok. Aku akan membeli resepmu ini. Katakan saja, kau butuh berapa?" ucap Sam, meminta Shin memberikan buku cek pada Afja.
Afjameha tersenyum getir, semudah itu kalangan atas mengintimidasi orang lemah sepertinya.
Tujuan Afja bertahan di kampung jamu semata ingin mencari jalan agar posisinya kembali. Tekanan juga rasa lelah, sementara dia abaikan karena keinginan utama harus tercapai.
"Maaf, tidak saya jual, Tuan." Afja, menatap tajam, jemarinya mere-mat ujung jaket yang menjuntai di balik meja sofa.
Samagaha tertawa lebar. Dia tak mengira bahwa gadis tambun itu memiliki rencana. Sam menduga, Afja justru akan meminta kerjasama dalam hal produksi.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Sam lagi.
"Perjanjian kerjasama. Aku mendapat royalti atas penjualan produk tersebut bila Anda memproduksi secara massal," kata Afja.
Sesuai dugaan Sam, pria itu lantas kembali terbahak. Kali ini, Sam menepuk meja berkali-kali saking merasa konyol mendengar permintaan Afja.
"Nona, kau tak sadar jika sejak tadi semua pembicara kita di rekam. Resep itu telah aku ketahui, dan bisa saja tak memberimu upah. Jangan macam-macam, tanda tangani dan pergi! orang seperti kalian hanya butuh uang bukan?" cibir Sam, menyeringai ke arah Afja.
Afjameha Manorama bukanlah gadis bodoh. Dia tak membuka semua resep jamu tersebut. Afja menyimpan satu bahan yang menjadi pamungkas.
"Hanya saya, yang dapat menyempurnakan racikan tersebut. Yang Anda ketahui belum utuh, Tuan. Tapi terserah, pilihan ada pada Anda. Bukankah pimpinan SidoGeni telah melihat peluang bagus untuk produk ini?" ucap Afja, menekan balik Samagaha.
Shin yang mendengar, kian kagum pada sosok muda di depannya. Dia menunduk menyembunyikan senyum mahalnya.
Wajah Samagaha seketika masam. Dia tak mengira diperdaya gadis ingusan. Sam lalu menawarkan opsi lain, membeli dengan harga fantastis, dan Afja mendapat royalti penjualan selama tiga bulan.
Afjameha menolak. Dia tak menjual resepnya, tapi memilih bekerjasama untuk waktu yang lama. Dengan demikian, bukan hanya pendapatan tetap akan dia peroleh melainkan fee dan royalti dari iklan juga hal lain dapat dia nikmati. Sam, adalah jalan untuk merebut kembali hak ibunya dari tangan Tamarine.
Putri Fasraha yakin, selama masih banyak penjual makanan, maka produk untuk mengatasi masalah yang identik dengan para wanita ini akan terus bertahan di pasaran.
"Jangan memperlama, Nona," desak Sam lagi.
"Kerjasama atau tidak, itu saja," tegas Afja.
"Sekali lagi, aku bisa saja menendangmu dan mematenkan ini. Kau tidak bisa menuntut SidoGeni sebab semua resep yang masuk telah menjadi aset kami," ancam Sam, berharap kali ini Afja luluh. Dia menulis angka 10 Milyar di cek dan menyodorkan pada Afja.
Afjameha menyeringai, melihat angka di atas kertas berharga itu. Dia juga menatap Samagaha remeh.
"Ceroboh sekali. Tidak tahukah Anda tentang resiko mematenkan suatu produk, Tuan? ... apakah Anda yakin, setelah dipatenkan tidak bakal muncul produk pesaing? sudah ku bilang, hanya saya yang dapat menyempurnakan racikan tersebut," balas Afja, telak. Dia kali ini menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, merasa dapat mengintimidasi Sam.
Samagaha menggeram, rahangnya mengetat tanda dia kesal telah dipermainkan gadis ingusan. Rencananya dapat dengan mudah terbaca oleh Afjameha.
"Sh-ttt!" umpat Sam, membalik kursi kebesarannya menghadap jendela. "Apa maumu selain kerjasama!" kesal Samagaha dari balik kursi.
.
.
...___________________...
Rujukan, Professor Hembing, pakar akupunktur dan herbal, jamu "wong ndalem", hihi juga doktor Zaidul Akbar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Uthie
boleh niii ilmunya 👍👍😁
2024-01-05
1
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
Mau ku saling kerjasama dan meruntuhkan aroganisme, egoisme dan kesombonganmu itu, Sam. 😏😝😝😝
2023-10-13
1
🍊🍾⃝ᴄʜͩᴀᷞɪͧʀᷠᴀͣ ғᴀᴊɪʀᴀ🅠🅛
woahhhh mommm kereeeennn👍👍👍
☕kopi siap meluncurrrr🏃♀️🏃♀️🏃♀️
2023-07-16
2