"I-ini kan, A-afja? apakah dia akan rujuk dan membawa Afja kembali? melupakan aku dan Candy?" gumam Tamarine. Kecemasan itu tergambar jelas sebab dia menggigiti ujung kukunya, bola mata pun ikut bergerak ke kanan kiri seakan Afja datang melabraknya.
Tamarine duduk lemas di sofa kamar Candy. Putrinya kian memburuk, mata kanan Candy mulai samar melihat dan kini dihadapkan pada fakta bahwa Malaseka mencari keberadaan anak dan istri yang telah dibuang satu tahun silam.
"Gak bisa, gak boleh. Candy masih butuh banyak biaya dan kasih sayang," imbuh Tamarine. Dia lalu menghubungi seseorang kembali dan membicarakan sesuatu, sebuah rencana untuk si anak tiri.
...***...
Shin menjalankan misi Sam dengan sangat baik. Dia tahu bahwa beberapa orang mengintainya sehingga Afja dibantu oleh Shin agar ketika keluar dari kampung jamu untuk beraktivitas, gadis itu tetap aman.
Itulah sebabnya, Malaseka kesulitan menemui Afjameha. Bahkan agent Tamarine pun hanya diberi celah sedikit oleh anak buah sang asisten untuk menyelidiki Afja.
Sambil menunggu hasil pretest talent masker dari SidoGeni, Afja memikirkan cara lain agar dana milik pak Temul lekas kembali. Dia pun membuat banyak konten edukasi yang menarik untuk di unggah ke media sosial kampung temulawak.
Dia juga meminta bantuan pada Shin agar membawakan dua dus jamu singset miliknya untuk berjualan secara online.
Afja hanya percaya pada Jaheni, maka dia mulai mengajak gadis itu untuk menyiapkan spot tempat yang akan digunakan saat live nanti.
"Afja, live itu yang kayak orang ngobrol langsung kan? saya gak pede, di belakang layar saja, ya," pinta Jaheni kala menata banyak produk di ambalan.
"Iya, bantu aku aja packing atau lainnya. Kita mulai live setelah aku balik kuliah. Jam sembilan malam, waktu yang pas buat minum jamu sebelum tidur," ucap Afja mengulas senyum, kedua alisnya dinaik turunkan tanda dia memiliki ide bagus.
"Siap. Oke, aku paham," balas Jaheni ikut bersemangat.
Malam ini adalah percobaan pertama Afja untuk jualan live di akun Toktok milik kampung jamu yang telah dia siapkan jauh hari.
Shin melaporkan semua perkembangan Afja ke Sam meski tak diminta. Dia juga mengirimkan satu video opening milik Afja menggunakan voice offer.
Asisten Sam, menaruh harapan besar pada gadis belia yang telah banyak mengalami perubahan sejak mereka bertemu pertama kalinya. Dia yakin, Afja akan cemerlang dalam dua tahun mendatang seiring kompetensi nan dia miliki.
Live, on Toktok.
"Malam kakak yang baru gabung, ini jamunya aman ya, aku sudah konsumsi sendiri. Terbuat dari bahan herbal segar yang telah diekstrak, jadi kakak bisa langsung glek minum aja deh. Semudah bikin teh," ucap Afja sambil memeragakan cara membuat jamunya.
"Begini caranya ya ... nanti aku spill warna jamu kalau kakak beli yang bubuk atau sudah dalam kemasan jadi. Ada dua versi dan sama praktis, kok," lanjut Afja lagi.
"Terima kasih gift nya ... yang sudah payment, semoga rezekinya lancar. Tolong bantu tap tap layar ya, selagi aku bikin jamu," ucap Afja tak henti mengajak warga Toktok berinteraksi.
Dua jam sudah dia mengudara, malam ini Afja berhasil menjual tiga puluh paket jamu. Pencapaian lumayan untuk pemula sepertinya.
Ting. Notifikasi pesan masuk ke ponsel Afja saat dia masih sibuk bebenah setelah live. Dia melirik pop up pesan di ponselnya.
["Keren, Nona. Jika butuh support system, katakan padaku."] Shin menulis pesan, dia menonton Afja saat live tadi.
Afjameha tak membalas pesan sang asisten. Dia sibuk membuat konsep konten untuk menarik kunjungan ke kampung jamu dan menawarkan beragam paket edukasi mengenai herbal.
"Harus balik modal dalam waktu tiga bulan ini. Kasihan pak Temul," kata Afja bertekad.
Fasraha hanya dapat membantu menyiapkan makanan atau jamu sehat bahkan jus agar putrinya tetap fit ditengah aktivitas otak dan fisik yang padat.
Setiap hari, Afja tidur larut malam. Waktu untuk berolah raga dia alihkan setelah subuh sebelum jualan jamu ke kampung sebelah.
Sam, berulangkali memutar video voice offer Afja dari Shin. Dia terhipnotis oleh suara lembut sang gadis. Bahkan Sam menjadikannya sebuah ringtone khusus untuk Afja.
Pimpinan SidoGeni lalu menghubungi asistennya.
Tuut. Tuut.
"Hem, apa?" tanya Shin, suaranya serak dan lirih menandakan dia dihinggapi rasa kantuk.
"Bilang ke dia, besok ke kantor. Bagian iklan butuh brand ambassador selain artis yang sudah kita pakai," kata Sam.
"Lo kan bisa hubungi dia langsung, ngapa gue sih," jawab Shin, pada sepupunya. Dia akan bicara dengan bahasa non formal jika hanya berdua.
"Calon pengangguran rupanya. Oke," jawab Sam, singkat.
Shin tergagap, dia baru menyadari arti maksud Sam.
"Eh eh eh, tunggu tunggu. Iya iya, gue call dia. Mau buat apa?" ujar Shin, menahan Sam agar tak menutup panggilan.
"Promo sesuai keahliannya. Suara dia bagus," imbuh Sam, memberikan Shin isyarat untuk berpikir.
Panggilan berakhir menyisakan teka teki. Shin berpikir keras sebelum akhirnya menemukan apa yang dimaksud oleh Sam.
...*...
Keesokan siang, SidoGeni.
Afja dikenalkan oleh rekanan SidoGeni dalam menggarap iklan promosi. Sam mengundang Malaseka dan Ben ke kantor mereka.
Betapa Afja terkejut kala melihat kedua pria yang telah merenggut kebahagiaan di masa lalu. Jemarinya mengepal, mere-mat roknya kuat saat tatapan mereka beradu.
"Kenalkan, ini pimpinan dan manager promo yang menangani iklan AfeSlim, Tuan Malaseka dan Ben," kata Sam pada Afja.
Afja hanya tersenyum sekilas sambil bangkit dan menangkupkan tangan di depan dada. Dia lalu duduk kembali dan memperhatikan Shin saat presentasi dimulai. Selama dua puluh menit, Afja tak fokus melihat rencana SidoGeni kali ini.
"Maaf, Anda penggagas produk ini kan?" tanya Malaseka saat meeting selesai.
"Betul," jawab Afja singkat.
"Maaf, dengan Nona?" ucap Ben, kali ini penasaran akan nama wanita cantik di depannya.
"Mano." Sam menjawab mereka, pelan.
"Mano," balas Afjameha.
Shin menunduk, menyembunyikan senyum. Dia sedikit banyak tahu tentang Afjameha.
"Nona Mano," tegas Sam membantu Afja mengatasi kecanggungan yang dia tak tahu sebabnya. Namun, jika melihat gestur gadis itu, Sam menduga ada sesuatu yang membuat Afja tidak nyaman.
"Salam kenal, Nona Mano. Semoga saat shooting nanti, semua lancar," ujar Malaseka, tersenyum ramah. Bahkan Ben, tak lepas menatap gadis ayu di depannya.
"Kayak kenal, dimana ya," batin Ben.
"Aku akan rekaman sendiri saja dan file bisa dikirim bukan? lebih efektif dan efisien," ujar Afja mencoba menghindar.
"Pilihan tepat, kami akan memfasilitasi untuk Anda," imbuh Ben.
"Ok, selesai. Selamat siang semuanya," imbuh Sam, bangkit dan bersiap meninggalkan ruangan meeting.
Afja lalu meminta bantuan Shin agar mengatur jadwalnya, ini adalah isyarat Afja yang keberatan jika mereka mengetahui dan menggangu privasinya. Shin paham dan menyanggupi.
Afjameha lalu meninggalkan gedung SidoGeni menuju kampung jamu.
Putri Fasraha akan rutin memulai jualan secara live di sana, membuat banyak konten menggunakan suara merdunya dan mulai mencari stasiun radio untuk mempromosikan kampung jamu.
Lambat laun, semua usaha Afja akhirnya membuahkan hasil. Kampung temulawak kian menjadi ulasan hangat hingga beberapa pekan, perlahan dana pak Temul pun kembali dan beliau bisa menyewa lahan untuk penanaman Krisan.
"Afja. Kita cari lahan di dekat Bogor atau Sukabumi saja yang masih murah sewanya," ujar sepuh kampung setelah Afja jualan live.
"Oke, Pak. Setuju," balas Afja kian semangat.
Dia kini semakin yakin bisa sukses di jalan ini.
Keduanya lalu merencanakan mengunjungi beberapa lahan di dua kota tersebut.
...*...
Di hunian lainnya.
Berita kampung jamu, ramuan singset milik Afja terdengar ke telinga Candy dan Tamarine. Candy merengek agar mengundang Afja ke rumahnya dan ingin berkonsultasi mengenai tanaman herbal.
"Ma, siapa tahu dia punya obat untukku," ujar Candy, merasa semangatnya kembali muncul.
"Gak usah. Dia bukan dokter apalagi orang penting. Cuma faktor keberuntungan saja, produknya laku," sahut Tamarine. Dia gengsi sebab telah mengetahui siapa sosok gadis itu.
"Kata Ben, dia cerdas dan berwawasan luas tentang perjamuan. Ben sudah tahu aku sakit, dia bertahan denganku mungkin hanya kasihan saja. Ayolah, Ma," rengek Candy terus meminta agar dia bisa bertemu Afja.
Tamarine masih diam, dia tak terima bila Afja sukses dengan mudah sementara Candy seperti ini, bergantung pada obat-obatan.
"Nanti mama coba hubungi dia," ujarnya kemudian.
Jika benar Afja memiliki pengetahuan bagus tentang herbal dan dia mengetahui cara mengobati Candy akan tetapi menolak menolong putrinya, Tamarine akan menjalankan sebuah rencana sebagai balasan bagi Afja.
"Semoga mau, ya, Ma," sahut Candy, tersenyum tapi binar matanya memancarkan keraguan.
"Harus mau!" balas Tamarine seraya menyunggingkan senyuman misterius.
.
.
...______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Eemlaspanohan Ohan
dasar manusia. laknat
2025-02-04
0
lisna
idiiih udah Dy mo minta tolong tp masih z ada niat jahat😏...ini kenapa pak maladeka sama anak sendiri ko ga kenal gitu🥲
2024-01-05
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Tamarine ini bner² g punya hati dan urat malu ya, masih aj mau nyoba nyakitin Afja,,, 🙄 g tau aj si Tamarine klo Afja ada dalam pengawasan SidoGeni, 😌
2023-07-26
1