Shin memperhatikan Afja lebih seksama, dia melihat begitu banyak perubahan pada gadis belia di sana. Wajahnya mulai terlihat manis setelah jerawat pengganggu perlahan berkurang. Rambut keritingnya pun lebih rapi tertata bahkan kini fisik tambun itu telah menyusut lagi.
"Sam, apa kau mulai tertarik padanya? Afja mengingatkanmu tentang ... andai Aluna bertahan, dia akan bangga melihatmu saat ini," lirih Shino Haruga, mengingat penggalan memori silam.
"Tak apa Sam, tak apa," imbuhnya.
Pandangan Shin teralihkan ke luar jendela, terlihat samar muncul sebutir bening di ujung netra sang asisten. Entah apa yang Shin pikirkan saat ini, tapi tentu ada kaitannya dengan kejadian masa lalu, seakan dejavu bagi keduanya.
"Aluna Gemala, apa kabarmu di sana," batin Shin, menyeka butiran air mata yang jatuh. Dia tak ingin bersedih tapi bayangan mata indah itu selalu saja hadir manakala Shin mengingat sosoknya.
Samagaha Ziyan tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis sejak belasan tahun silam, meskipun semua kolega SidoGeni adalah orang-orang penting bagi kelangsungan bisnis mereka.
Shin menduga, Sam memintanya mengawasi Afja sebab dua hal. Bisnis dan aset. Afjameha manorama merupakan harta berharga SidoGeni, pemikiran Afja yang visioner adalah tujuan utama Sam. Selain itu, dia tak ingin ikut campur.
Menjelang duhur.
Para pendaki diminta registrasi data ke pos sebelum mulai mendaki. Jalur Cidahu ini pilihan tepat bagi Afja sebab dia seorang pemula. Jarak tempuh ke lereng puncak terbilang singkat sebab tingkat kesulitan medan yang bervariasi.
Afja mendaftarkan diri sebagai pendaki biasa sebab dia tak mengantongi izin dan memiliki identitas sebagai peneliti. Perjalanan mereka yang sesungguhnya di mulai saat menyentuh pos Rimba.
Trek landai, berbatu, lumpur, menyertai perjalanan Afja dan Shin menuju pos Bajuri. Menjelang Asar mereka masih melanjutkan langkah ke atas. Afja mulai terlihat kelelahan saat melewati tanjakan lumayan terjal dan jalan setapak yang di apit jurang.
Mereka pun memutuskan akan mendirikan tenda di pos bayangan sambil menunggu waktu fajar untuk berburu sunsrise.
Shin tak lepas mengamati gadis tinggi itu, dia melihat interaksi Afja dengan pendaki lainnya dan mengetahui tujuan gadis itu.
"Habis ini ada pemandangan bagus, kalian bisa jelajah di sekitar sana tapi harus memegang teguh akan aturan pantangan dan mengingat jalur kembali meski banyak papan petunjuk arah. Sempatkan ziarah ke makam di puncak manik sana," ujar Ranger pimpinan rombongan.
"Baik, apalagi selain itu?" tanya Afja.
"Waspada dengan kabut yang tiba-tiba turun. Petilasan Prabu Siliwangi juga sudah dekat. Jaga bekal kalian terutama persediaan air. Siapkan tongkat sebagai bantuan menuruni tebing curam sebab ketebalan lumut di bebatuan akan menyulitkan langkah," papar Ranger, banyak memberikan Afja pesan.
Afja dan mang ojek terlihat manggut-manggut di kejauhan. Shin pun berusaha mendengat wejangan penduduk asli tersebut.
Suasana mencekam gunung Halimun membuat Afja sedikit ketakutan hingga memutuskan masuk ke tendanya segera.
Menjelang fajar.
Rombongan perlahan bergerak naik. Afja memisahkan diri saat matahari mulai menyinari mereka.
Sudah dua jam dia berjalan setelah persimpangan. Kini Afja memutuskan mengisi botol minum mereka saat menemui sungai dengan arus cukup deras dan bening.
"Seger banget. Mang, isi penuh botolnya," kata Afja pada si tukang ojek yang menemani.
"Iya. Tapi Neng, mamang gak sanggup nemenin ke atas muter arah gini. Gimana ya?" ujarnya dengan wajah lunglai.
Afja tak tega, dia juga merasa sangat kelelahan untuk mencapai titik ini. Afja tak ingin mengambil risiko saat melihat wajah pucat mang ojek.
"Ya sudah. Mamang tunggu di pos tadi aja ya, kuat gak jalan ke sana? bentar lagi ada rombongan pendaki yang turun atau naik. Nah, mamang bisa turun bareng mereka atau hubungi pos Rimba, tahu kan nomer ponsel Ranger yang jaga," kata Afjameha.
Mamang ojek menyetujui saran Afja hingga mereka pun berpisah. Shin masih setia menjaga jarak sehingga dia tak paham situasi saat Afja berjalan sendiri di sisi sungai.
Tiba-tiba. Afja terjatuh.
"AFJA!" seru Shin, berlari secepat yang dia bisa.
"Hmmpptt, to looong!" teriak Afja, berusaha menggapai semua yang bisa dia jangkau tapi luput sebab licin, Afja terbawa arus.
Shin menerjang sungai, meraih akar pohon untuk menarik Afja dari arus tengah yang lumayan deras.
"Pak Shin!"
Shino kesulitan sebab Afja mulai melemah tapi berkat kegigihan, akhirnya dia berhasil.
"Alhamdulillah," lirih Shin saat Afja telah di sisi sungai.
Nafas terengah keduanya menghiasi atmosfer hutan pagi itu. Afja langsung berterima kasih padanya sekaligus mencecar Shin dengan banyak pertanyaan.
Shin menjelaskan sebisa yang dia mampu sebab tak mungkin mengelak lagi. Dia mengatakan hanya mengawasi saja bukan menyelidiki lebih jauh.
"Penguntit!" sentak Afja tak terima privasinya di usik.
"Anda aset kami, mohon mengertilah," jawab Shin pada akhirnya.
Afjameha termenung tapi mulai menilai bahwa Shin jujur, lalu memilih mengabaikannya. Dia mulai kedinginan sebab tadi kakinya tanpa sengaja masuk ke dalam lumpur sungai hingga keseimbangan tubuh oleng dan jatuh ke bagian tengah. Arus sungai terlihat tenang di permukaan tapi terasa kuat saat sebagian tubuh berada di dalam air.
Afja akan mencari buah murbei atau daun pohpohan sebagai sumber makanan. Shin membiarkan Afja sebab dirinya pun lelah. Tak lama, gadis itu kembali membawa bahan makanan.
"Pak Shin, makan ini dulu," sodornya pada pria muda nan tampan. Afja kelelahan.
Saat sedang menikmati buah Berry liar, Shin melihat pandangan Afja seakan tengah mengamati sesuatu. Dan benar saja, lagi-lagi Afja berteriak.
"Tangkurrrrrrrr!!!!! ketemu!" serunya girang. Afja kembali menyusuri tepi sungai menuju ke sebuah rimbunan rumput.
"Apa itu?" tanya Shin penasaran saat melihat rumput liar yang Afja sebut.
Afjameha tak menjawab, dia meneliti rimbun akar apakah memungkinkan untuk memindahkan tanaman ini. Akalnya bekerja cepat, dia menggali beberapa rimpang dan berhasil mencabut tanpa melukai akarnya.
"Yes, berhasil!" pekik Afja girang, langsung membungkus akar tangkur dengan kain lembab dan tanah rawa.
Dia lalu bersiap melanjutkan perjalanan, menyusuri sungai sebab bunga krisan membutuhkan tempat lembab tapi harus mendapatkan sinar matahari cukup.
"Pak Shin, katanya di sekitar petilasan ada puing Kerajaan Salaka. Tahu tidak?" tanya Afja pada Shin yang berjalan di belakangnya.
"Entah, mungkin ada tapi jalur ini akan curam, Nona. Baiknya kita naik ke atas," ujar Shin, dia mengulurkan tangannya agar Afja mudah mendaki tanah berlumpur.
"Bukan mahram. Beri aku akar pohon itu," kata Afja menolak uluran tangan Shin.
Keduanya telah jauh melenceng dari jalur sehingga memutuskan kembali beristirahat mendirikan tenda saat menjelang petang.
Shin demam, Afja tahu itu sebab bibir asisten Sam nampak kebiruan. Afja lalu membuka bukunya dan mencari tanaman obat di sekitar tapi hanya menemukan bayam duri liar, semanggi juga sereh lanang. Untung dia membawa jahe emprit. Semanggi sebagai bahan makanan mereka sedangkan sereh lanang digeprek untuk mendapatkan minyak atsiri sementara jahe direbus sebagai minuman penghangat.
Afja menyiapkan semuanya dan meminta Shin melakukan apa yang dia minta.
"Pak Shin, ayo lekas obati diri Anda," kata Afja saat meletakkan semua bahan di luar tenda.
"Apa ini, Nona?" tanya Shin lirih, tubuhnya menggigil hebat.
"Minyak serai, sedikit sih tapi lumayan sebagai obat balur untuk badan. Tumbukan bayam ini letakkan di dahi dan semangginya dimakan, minumnya air jahe panas. Anda harus nurut aku jika tak ingin hypotermia," tutur Afja panjang lebar. Dia berlalu tanpa menunggu Shin menjawab sebab api unggun sebagai penerangan mereka mulai meredup.
Shin melihat semua bahan beralas daun pisang tadi, perlahan tangannya menyentuh dan melakukan apa yang Afja minta. Tubuhnya berangsur-angsur menghangat sehingga dia berkeringat. Shin, hutang budi pada Afjameha kali ini. Cuaca ekstrem malam ini membuat keduanya saling bergantung untuk bertahan dari udara dingin nan menusuk tulang.
Keesokan pagi.
Afjameha kembali menuruni sungai untuk menyegarkan diri. Keduanya lantas melanjutkan perjalanan mendaki menuju ke balik lereng gunung. Tampak di kejauhan gunung gede pangrango juga jejak pesawat sukhoi yang jatuh beberapa waktu silam.
Saat tiba waktu duhur, Afja mencari tempat landai untuk salat. Dia berjalan hampir menyentuh sisi jurang sebab di sana, tanahnya kering. Namun, alangkah bahagia saat matanya menangkap sesuatu yang berwarna warni di bawah sana.
"Krisantemum gunung!" serunya, berjingkrak girang tak sabar ingin mempelajarinya sebelum membawa bunga itu turun.
Afja ceroboh, kurang memperhatikan tanah sisi tebing mulai rapuh akibat hentakan yang dia lakukan sehingga saat tepian itu luruh, membuatnya terpeleset jatuh.
"NONAAAAA!!"
.
.
..._____________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα
semoga afja baik baik saja
2023-07-20
2
𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα
😂😂😂aku galfok sama nama papa Ranger, kirain power Ranger🤣🤣🤣
2023-07-20
1
Nur Azizah Cirebon
baru nengok nih 🙏
dari bab awal menikmati baca ga komen like aja pokony momy kalo bikin crita ngana bgt daah dari mulai bab awal juga thebes pokoke
2023-07-19
1