Tamarine menenangkan Candy, dia terlihat menghubungi seseorang.
Sementara di kabin sebuah mobil yang tengah berjibaku dengan kemacetan. Ingatan seseorang tengah menembus masa.
"Terasa akrab sekali. Mulai dari suara, garis wajah, bahkan nama dia seperti Afja ... Mano. Ku akui Tuhan, diri ini amat jarang memandang wajah anak dan istriku tapi perasaanku," gumam Malaseka. Dia meraup wajah kasar dan mere-mat rambut sementara tangan satunya tetap memegang stir.
Perasaan gelisah, menghantui benak Malaseka sepanjang perjalanan pulang. Dia lalu menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan anak dan mantan istrinya.
Bila Malaseka merasa mengenali gadis di kantor SidoGeni, lain hal dengan Ben. Dia masih berusaha mencari info tentang Afjameha bahkan berkeliaran di kantor Malaseka advertise setelah jam pulang kerja.
"Aneh. Kalau memang Afja anak om Malaseka, kenapa karyawan di kantor tidak banyak yang tahu tentang dirinya, ya? apakah Afja memang sengaja disembunyikan karena fisik gadis itu?" gumam Ben, menduga berbagai spekulasi.
Dia mulai jarang menemui Candy semenjak berkunjung ke kampung temulawak. Ada sesuatu yang membuat Ben sangat penasaran di sana hingga akhirnya bertemu dengan sosok misterius itu di SidoGeni.
...*...
Sementara di sebuah apartemen, Greenflo Park.
Samagaha ingin bicara serius dengan sepupu sekaligus asistennya, Shin. Dia mencurigai gestur Afja saat pagi tadi kala dikenalkan dengan advertise.
"Apa yang kau tahu?"' ujar Sam, seraya meneguk jus campuran kiwi, seledri dan apel. Dia melirik tajam Shin yang sedang asik main game online di rumahnya.
"Afjameha Manorama?" usil Shin, berpura tak paham maksud Sam, matanya masih fokus ke layar televisi besar.
Samagaha tak menjawab, dia hanya duduk diam, bersedekap tangan di depan dada seraya menopang kaki dan menatap tajam pria tengil di depannya.
Satu detik.
Dua detik. Hingga beberapa menit dalam hening.
Shino Haruga kalah akan kekonsistenan Sam jika sudah malas bicara. Dia mengalah, meletakkan stik game sebab sisi wajahnya seakan ditusuk oleh sesuatu nan dingin.
Huft. Shin mengubah posisi duduknya, menghadap Sam.
"Afja itu putri--" kata Shin, tapi kalimatnya di jeda sang sepupu.
"Putri tunggal Malaseka, ibunya bernama Fasraha. Dia keluar dari rumah sebab suatu perkara hingga di tolong warga dekat kampung temulawak," beber Sam. Tak sabar akan penjelasan Shin.
"Whuaaah ... gitu dong, cari tahu sendiri. Nanya mulu. Kebiasaan dengan Aluna jangan kau bawa, Sam. Dia sosok berbeda. Aku pulang," imbuh sang asisten bangkit dari duduknya.
"Kepedean. Gue cuma mencari tahu partner bisnis semata, bukan untuk hal lainnya. Mano memang terlihat sangat berbeda, pantas jika Malaseka ragu. Tapi Shin, gue yakin dia bakal nyari tahu. Sediakan supir untuknya dong," imbuh Sam, melanjutkan dengan sebuah permintaan.
"Urus sendiri, itu bukan bagian tanggung jawab pekerjaan gue," jawab Shin sambil lalu.
Manik mata Sam seketika membola.
"Asisten gabut! sepupu jadi-jadian!" kesal Sam, melempar Shin dengan bantal sofa.
Shin hanya tertawa renyah, dia tak ingin lagi ikut campur masalah hati kali ini.
Sepeninggal Shin, Sam menghubungi seseorang. Dia meminta agar menjemput Afja dan ibunya lalu membawa ke sebuah komplek perumahan tak jauh dari sana.
"Son, tolong jemput Nona Mano, eh, Afja di kampung temulawak dan bawa beliau ke rumah yang kau siapkan sejak kemarin. Izin dengan sepuh kampung dan hubungi aku ketika kau sudah di sana," titah petinggi SidoGeni.
Sonda mendapatkan banyak tugas dari sang pimpinan. Dia segera melakukan semua yang diminta Sam.
Saat anak buahnya telah di kampung jamu, Sam menjelaskan perihal kepindahan Afja pada Pak Temul.
"Mohon izin, sebab rumah tersebut bagian dari aset Nona Afja. Mengingat sekarang beliau berpartner dengan SidoGeni maka demi kelancaran dan keamanan Nona, saya meminta secara khusus langkah tersebut," terang Sam pada Temul.
"Silakan, jika Afja berkenan. Letak rumah tinggal tadi tidak terlalu jauh dari sini. Mereka pantas di sana," jawab Temul memberi izin sebab kasihan jika melihat kondisi Fasraha.
Samagaha Ziyan lalu berterima kasih atas pengertian beliau dan meminta Sonda melanjutkan pesan ke sang gadis.
Terdengar penolakan Afja tapi Sonda berhasil memberikan penjelasan secara singkat hingga membuat dia tak memiliki pilihan. Afjameha dan ibu, mulai pindah ke hunian baru atas keinginan Sam.
"Sorry Mano. Mereka mulai menyadari keberadaanmu dan mungkin akan mulai mengusik lagi. Menurutlah agar kau aman, orang-orang itu pantas kau beri pelajaran," gumam Sam memandang layar gawai setelah panggilan Sonda berakhir.
Sam melangkah menuju balkon, dia melempar pandang ke angkasa malam. Teringat awal perjumpaan dengan Afja, gestur, perawakan hingga penampilan lusuh gadis itu.
Kini, Afjameha Manorama telah banyak berubah. Kegigihannya membawa dia di titik sekarang. Sam juga mengikuti setiap aktivitas kampung temulawak di medsos bahkan mendukung aksi sosial Afja lainnya.
"Kamu kuat ya, Mano. Keren untuk gadis seusiamu. The power of kepeped selalu berhasil di saat genting," lirih Sam. Dia membayangkan energi Afja terkuras habis guna melakukan semua aktivitas dari pagi hingga malam. Berjualan, ngonten, dan kuliah.
"Pantas langsing. Rambutmu itu lucu, jangan di luruskan. Kamu cantik meski kriwil," kekeh Sam, sebelum masuk kembali ke apartemennya.
Waktu terus berjalan, berganti hari dan pekan.
Afjameha merasa fasilitas baru yang dia terima berlebihan. Tapi pak Temul mengatakan bahwa itu keuntungan untuknya agar memudahkan mengontrol lahan bunga, juga aktivitas lain.
Afjameha pun mengerti, dia lalu menyampaikan rasa terima kasih melalui Shin. Fasraha pun mulai terlihat segar dan terawat sebab Sam memberikan banyak maid di rumah tersebut.
"Bu, besok--," ujar Afja, berbaring di sofa ruang tengah huniannya.
"Sanah helwa, Afjameha Manorama bintu Malaseka. Barokallah fii umrik wa hayatik, afiat fii thoatillah wa rosul, aamiin." Fasraha mendoakan putrinya sambil mengusap rambut keriting Afja.
"Aamiin. Ibu, sehatlah selalu untukku ya. Afe janji, ibu bakal leluasa jalan lagi. Kolesterol, asam urat juga flek hitam di wajah ibu perlahan pudar ... ketika aku sukses nanti, andai sampai muncul di televisi, dan menemukan pria yang baik, ibu harus tetap di sisiku. Aku gak punya siapa-siapa selain ibu. Panjang umur ya, Bu." Afjameha menelusupkan kepalanya ke dalam pangkuan Fasraha.
Wanita paruh baya itu terharu, dia mengangguk dan terus membelai lembut tubuh putri tunggalnya yang mulai ideal.
Malam panjang bagi Afja, dia habiskan menatap bulan di atas sana. Merasa rindunya kian abadi, ketika semua tentang mereka di peluk dalam sepi. Menyelinap di setiap denyut urat nadi dan merayap hingga ke ulu hati.
Keesokan pagi.
Fasraha heboh mencari putrinya ke segala penjuru hunian. Langkah kaki terseok sebab dia tak dapat berjalan cepat. Dia lalu meminta maid menghubungi pak Temul atau siapapun yang dapat membantu menemukan Afja.
Kabar menghilangnya Afja terdengar oleh Shin tepat saat makan siang. Dia melaporkan hal ini pada Sam.
"Kemana, cari!" titahnya pada Shin. Sam juga menghubungi Sonda kembali.
"Gue dah minta mereka nyari. Makan dulu Sam. Jangan sampai telat," kata Shin saat dia keluar kantor petinggi SidoGeni.
Samagaha Ziyan, hanya menyentuh jus dan dua suap mashed potato dari atas pinggan. Dia lalu menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.
Hening.
Tak lama, Sam bangkit dan meraih jas serta kunci mobilnya. Dia akan menuju suatu tempat.
"Semoga dugaanku benar," gumam Sam saat mencapai basement dan melajukan BMW hitam miliknya keluar gedung.
Satu jam kemudian, Sam memarkirkan mobil mewahnya di dermaga. Dia lalu menyusuri sisi pantai yang biasanya sepi dari keramaian.
Senyumnya muncul kala dia melihat sosok yang dicari. Sam melangkah pelan menuju ke sana.
"Kalau mau pergi, bilang ke ibu, Mano. Jangan begini," ujar Sam, berdiri di belakang gadis itu.
Afjameha menoleh, dia terkejut melihat pimpinan SidoGeni di sini.
"Tuan Sam, kok di sini," tanya Afja, bangkit berdiri. Tatapan matanya menelisik pada penampilan santai Sam.
Lengan kemeja yang digulung asal, kancing atas terbuka juga dia berjalan tanpa alas kaki, sepertinya.
"Menyendiri boleh, tapi tidak membuat masalah baru. Kamu gak sendirian, banyak yang seperti kita di luaran sana. Bedanya, kau dan aku hanya beruntung," tutur Sam, duduk di batang pohon kelapa yang tumbang.
Afjameha mencerna kalimat pria matang di sisinya. Dia perlahan duduk tak jauh dari tempat Sam.
"Tuan juga sama? sepertiku?" selidik Afja.
Sam hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah gadis ayu.
"Mano, masa lalu itu bisa menjadi kenangan terbaik yang membawamu pada kemenangan. Dia juga mengenalkan kita tentang makna kehidupan," imbuh Sam, melepas pandang ke luas lautan.
"Masa laluku pahit," jawab Afja lirih.
"Jangan menggendong kenangan pahit terus-menerus jika derita ingin digerus. Istirahatlah ketika kau merasa lelah. Karena hidup tak hanya tentang kemarin, tapi juga untuk hari ini dan esok." Samagaha Ziyan, teringat dirinya di waktu lampau.
Afjameha Manorama menoleh, dia penasaran dengan sosok Samagaha Ziyan. "Pak?" sebutnya.
"Kau ingin dengar?" tawar Sam, paham makna panggilan Afja dan diangguki cepat oleh si gadis. "Jangan panggil aku Tuan lagi, gantilah sebutanmu itu," imbuhnya.
"Ba-baik, Pak Sam."
.
.
..._______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Bzaa
kerennnn
2025-02-03
1
Eka Widya
mungkinkah generasi penerus percintaannya bang mahen dan naya kah mam
2023-08-26
1
𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα
wah wah wahhh mulai inih, 🥰🥰🙈
2023-07-28
1