"Afja, Afja. Nona," protes Sam, menyenggol lengan Shin agar mengejar gadis setengah langsing itu.
"Nona Afja!" seru Shin sedikit lantang meneriakkan nama Afjameha sehingga membuat sepasang mata menoleh mencari subjek utama.
Ben, celingukan ke kanan kiri tapi tak menemukan sosok yang dia cari. Konsentrasinya kembali ke podium manakala mendengar MC mulai membuka rangkaian acara.
Sementara di luar ruangan.
Shin mengejar Afja yang melangkah cepat hampir menyentuh bibir lobby. Dia meminta satpam menahan Afja dengan isyarat tangannya.
Afjameha terpaksa menoleh ke belakang, dia terkejut bahwa yang mengejarnya adalah asisten Sam.
"Loh, Pak Shin? ada apa?" tanya sang gadis.
"Ini loh, berkas Anda jatuh tercecer. Saya manggil mulai dari pelan sampai sedikit lantang tapi Anda malah kian cepat melangkah," sungut Shin, memberikan tanda pengenal tamu dan amplop berisi kuitansi pembayaran uang pangkal.
Afjameha tersenyum kikuk, dia membungkukkan badan sebagai ungkapan maaf sebelum pergi.
"Nona, lusa perjanjian kerjasama yang Anda minta, akan kami ajukan. Untuk lawyer, apakah Anda mempunyai pilihan sendiri atau memakai rekomendasi dari kami?" kata Shin lagi.
"Silakan Anda atur. Saya akan mengajak sepuh kampung jamu lusa nanti jika begitu," imbuh Afja, diangguki Shin.
Putri Fasraha lalu undur diri dan meminta maaf sebab tidak dapat melanjutkan mengikuti acara.
Pria dengan penampilan mentereng itu mengulas senyum. Dia melihat perbedaan signifikan dari manner Afjameha Manorama. Gadis itu mempunyai perawakan kaum Borjuis.
...***...
Lusa, SidoGeni Corp.
Afjameha Manorama mendengarkan penjelasan Shin saat membacakan draft perjanjian kerjasama. Produk jamu peluntur lemak tanpa mulas itu diberi nama AfeSlim, dengan jargon ~Wanita pintar pilih AfeSlim~.
Temul menyetujui semua hak dan kewajiban yang tertuang dalam draft sehingga Afja dan Sam membubuhkan tanda tangannya.
Kampung temulawak akan menyuplai bahan baku tahap pertama pekan depan. Pak Temul akan menggaet semua petani rempah dan rimpang dari daerah penghasil bahan herbal berkualitas baik.
Afjameha pun di arahkan secara halus oleh Sam agar antara dirinya dengan pak Temul menuangkan perjanjian tertulis serta.
"Alhamdulillah, selamat," ucap Samagaha saat Afja akan pamit.
"Selamat atas kerjasama kita," sambung Afja, membungkuk lalu pamit membawa salinan perjanjian mereka.
Dalam perjalanan menuju kampung temulawak, Afja mengatakan dirinya akan tetap berjualan seperti biasa. Namun, dia mempunyai ide untuk mengubah kampung jamu menjadi kawasan eco wisata herbal. Mempercantik landscape, agar menaikkan pendapatan para warga di sana.
"Gimana konsepnya?" kata Temul masih belum mempunyai gambaran akan ide Afja.
"Lorong hunian kita hijaukan dengan apotek hidup untuk kebutuhan rumah tangga ... lahan kosong disulap jadi beberapa segmen rimpang, misal tanaman obat dedaunan, umbi, akar dan lainnya. Tata agar estetik dan instagramable sehingga menarik minat kawula muda, bagaimana?" tawar Afja. Dia bahkan membuat sketsa kasar di atas notes yang selalu di bawanya.
"Butuh tenaga satu kampung namanya, juga biaya," kata Temul.
Afjameha menarik nafas berat. Betul yang disampaikan oleh beliau bahwa tidak semua warga akan setuju tapi tidak ada salahnya mencoba.
"Pak RW kan pengepul sampah juga, kita bisa mulung barang bekas dari sana. Jaheni itu pengurus koperasi kampung jamu, kan? dia bisa bikin proposal cari dana ... dan jika uang royalti turun, aku akan buat stand minuman jamu di setiap kampung. Jadi warga gak perlu dorong gerobak jauh lagi. Konsumen yang akan datang ke stand kita," tutur Afja panjang.
Putri Fasraha menyerahkan semua ide, coretan, konsep bahkan tata letak di buku catatannya pada Temul. Harus dengan sepuh kampung jamu jika ingin semua ini berjalan sebab beliau adalah pendiri kawasan pinggiran itu.
Temul manggut-manggut. Dia membaca semua tulisan ide Afja bahkan RAB rencana anggaran belanja, tertuang rapi di sana.
"Pinter!" puji Temul lirih hampir tak terdengar.
Obrolan serius dalam perjalanan pun berakhir saat mereka tiba di kampung jamu. Afja langsung memeragakan semua apa yang tergambar di bukunya.
Temul kian antusias, dia akan menyampaikan hal tersebut bada Maghrib nanti di aula.
Afjameha Manorama kembali ke kamar sempit setelah berkeliling kampung. Dia bergegas mengambil wudhu lalu menghadap robbNya.
Tak lama, dia menekuk lutut dan duduk bersila. Air matanya terus jatuh membasahi mukena yang masih dipakai.
Fasraha ikut menitikkan lava bening sebab doa Afja sangat menyentuh hatinya.
"Kuatkan ibu untukku. Ridhonya adalah kuasaMu juga ya Allah. Terima kasih atas segala ujian yang Engkau beri, aku menantikan kabar bahagia dariMu," lirih Afja, merasa bersyukur dirinya dibuang Malaseka hingga bertumbuh seperti saat ini.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad, kod dhokhot khilati adzrikni yaa Rosulullah," ucap Fasraha.
Dia melafalkan sholawat ini sejak kepasrahan akan hidup dan mati saat di tepi rel dulu. Amalan untuk ketika sempit terhimpit, dimana hanya pertolongan Allah lah yang mampu membawa pada keselamatan. Rezeki, kerumitan hidup, hingga rasa putus asa menyergap, Fasraha rutin membacanya.
"Afja, tabarokallah," kata Fasraha mengusap kepala putrinya sayang lalu menghadiahkan Fatihah untuknya.
Pasangan ibu dan anak tak pernah mengira jika garis hidup membawa mereka ke titik ini. Rasa putus asa juga sakit hati ternyata Allah obati perlahan.
Bada Maghrib.
Temul mengumpulkan semua warga di aula. Penduduk kampung jamu berjumlah tujuh puluh lima kepala keluarga. Afjameha lalu diberikan kesempatan untuk menjelaskan semua idenya.
Setelah satu jam bicara berulangkali, warga kampung jamu akhirnya mengerti dan menyambut gembira rencana Afja.
"Jangka panjangnya bikin stand di setiap kampung yang bapak ibu kunjungi. Fokus kita kali ini mempercantik tampilan kampung, dengan bahan bekas yang Pak RW siapkan. Lalu kita juga akan membuka pelatihan pengenalan tanaman apotek hidup, budidaya obat herbal dan menjual produk jamu jadi," tutur Afja panjang.
"Hasil penjualan akan digunakan untuk komisi warga, dan pembelian pupuk atau lainnya ... jaman digital, apapun bisa dijual, yang penting semangat upgrade ilmu dan diri, setuju?" tegas Afjameha, mengepalkan tangan di udara.
"Setujuuuuuuuuuu!" seru warga serempak bagai paduan suara.
Pak RW dan Temul langsung membagi tugas untuk para warga. Mereka tetap akan berjualan seperti biasa sementara Afja dan tim anak muda yang paham teknologi membuat laman promosi di media sosial.
Hari berganti pekan.
Afjameha menolak datang ke acara peluncuran produknya. Dia sibuk menata kampung jamu. Ditambah jadwal kuliah saat sore hingga malam, cukup menyita waktunya.
Komunikasi dengan SidoGeni Corp terjalin baik berkat Shin yang rutin memberikan laporan mingguan pada Afja.
"Nona, Anda terdengar sangat sibuk," ucap sang asisten. Dia masih menaruh anak buahnya di sekitar kampung jamu.
"Ehm, besok kampung jamu akan reborn. Lihat live nya di Toktok dan Ige, ya," ujar Afja sumringah mengabarkan misi barunya.
"Aku akan langsung datang saja, mau ketemu penggagasnya langsung," sambung Shin menggoda Afja dari seberang.
"Kerja! rumpi mulu, mau gantiin Pico di acara Nginsert?" tegur Sam saat melihat Shin bertelepon ria dengan Afja.
"Bye Nona, sampai jumpa lagi," imbuh Shin, sengaja iseng, sementara Afja hanya terkekeh di seberang saat panggilan itu berakhir.
Samagaha melirik tajam atas kalimat akhir sang asisten. Bibirnya terlihat menyebut sebuah kata. Ganjen.
Persiapan untuk esok hari telah rampung. Afja tak sabar menunggu respon para warganet nanti.
Promo iklan berupa video cinematic juga tampilan menarik laman Ige kampung jamu, membuat media sosial mereka banyak dikunjungi warganet. Temul memberikan dana khusus untuk memasang ads agar jangkauan mereka kian luas.
Dalam dua pekan, apa yang Afja gagas menunjukkan perkembangan signifikan. Jaheni banyak mendapat jadwal pelatihan beberapa organisasi ibu PKK dari kampung sebelah.
"Alhamdulillah. Semoga terus naik," kata Afja saat melihat jadwal satu bulan ke depan.
"Biar cepat balik modal juga," sambung Temul, dia menginvestasikan dananya lumayan besar untuk kemajuan kampungnya.
"Yakin sama Allah," jawab Afja.
Saat ketiganya tengah berbincang di teras mushala, rombongan mahasiswa dari sebuah kampus menghampiri bedengan tanaman obat herbal dedaunan.
"Afja? Afjameha bukan?" sapa seorang wanita.
Jaheni menyenggol lengan Afja kala mahasiswi cantik itu menghampiri. "Benar kan?" tegasnya lagi.
Afjameha menelan ludah kasar. Dia tak mengira bertemu Vivi di sini. Gadis itu bahkan masih menatapnya tak berkedip seperti dulu.
"Hai!" sapa Afja, melambaikan tangan dari atas teras.
"Kamu tukang jamu? tinggal di sini?" tanya Vivi, penasaran.
Afjameha Manorama tak menjawab. Dia mengalihkan pandangan pada keranjang di tangan Vivi.
"Oh, ini. Aku sedang mengumpulkan bahan mana yang bisa mengobati penyakit diabetes," ujar Vivi, paham kemana arah pandang Afja.
"Untuk siapa?" tanya Afjameha, dia khawatir Vivi akan keliru mengenali jenis obat herbal.
"Saudaramu," ujarnya pelan, sambil menunduk memainkan daun sirih juga sirsak.
Afjameha tersenyum sinis. "Saudara itu tidak merebut," sindirnya tajam.
Glek.
.
.
..._______________________...
ADS : media untuk iklan berbayar di medsos. Video cinematic : Macam ambil video yang mengekspos pemandangan indah dan dramatis.
Part terpadat, fyuh. luber.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Uthie
keren banget ceritanya 👍👍🤗
2024-01-06
2
reniw
🥹🥹🥹
2023-10-08
1
Nur Azizah Cirebon
nah loh kan kena mental ama afja
SAUDARA ITU TIDAK MEREBUT
2023-07-24
2