"Afja!" sebut Jaheni, mengulang panggilan saat dia melihat Afja di kebun obat pak Temul.
"Mbak Jaheni, ngagetin aja. Darimana?" tanya Afja, terburu merapikan semua bahan herbal yang berserak di antara semak daun.
"Setor dan narik upah. Kamu lagi apa? bagi resep dong biar jualan jamuku laris lagi, sepi nih sebab ibu-ibu dalam masa pengiritan menjelang tahun ajaran baru sekolah anak-anak," papar Jaheni, mengeluh atas penurunan omset jualannya.
"Kan kita sama. Aku paling ada tambahan jamu ramping dan ngurangin burket, kalau selain itu masih ku uji coba," imbuh Afjameha, tak serta merta membeberkan rahasia jualannya yang mulai laris.
Bukan Afja pelit ilmu tapi dia tidak dapat mempercayai orang lain dengan mudah setelah pengkhianatan yang dilakukan ayah dan Ben.
"Nah, bagi itu saja. Siapa yang memproduksi?" usut Jaheni, dia ingin mencoba mencicipi rasanya sebab penasaran setelah melihat perubahan fisik Afja.
"Aku, masak di samping kamar, pake kayu bakar. Besok ku beri satu botol," sambung Afja, bangkit dan keluar dari kebun milik sesepuh bawel itu.
Jaheni antusias, dia mengangguk cepat tanda setuju. Keduanya lantas berpisah jalur untuk pulang ke kos-an masing-masing.
Bada Maghrib.
Afja mulai mencampurkan perasan air jeruk lemon, dan lidah buaya lalu mencoba mengaplikasikan pada wajah bagian kiri sebagai masker. Dia merasakan sensasi kesat dan dingin. Racikan kedua dia campurkan dengan minyak zaitun yang dibawa dari rumah beberapa bulan lalu sebagai carrier oil untuk memijat kaki ibunya dulu.
"Pakai zaitun ah agar kian lembab selain biar kenyal dan glowing," kekeh Afja sambil mengoleskan ke bagian kanan wajah.
Sambil menunggu maskernya mengering, dia membaca lagi resep ramuan buku Mak Beken untuk proses detoksifikasi dari dalam tubuh. Afja juga mencocokkan dengan informasi dari blog pribadi Professor kenamaan.
"Kata Mak Beken dan Professor Hembing, asupan nutrisi dari dalam harus seimbang. Konsumsi buah yang tinggi vitamin C macam nanas, pisang, apel, kiwi sebab buah-buahan ini bisa memberikan rasa kenyang lebih lama," gumam Afja, menuliskan apa yang dia baca ke dalam jurnalnya.
Afja lalu penasaran dengan daun pandan yang pak Temul berikan. Dia menemukan satu hal nan membuatnya takjub.
"Oalah, daun pandan buat bikin bubur, toh. Bubur jali biar menutrisi kulit dari dalam," imbuhnya lagi.
Beras merah, jali, lidah buaya, irisan kulit jeruk mandarin dan daun pandan yang dimasak menjadi satu berkhasiat untuk menghilangkan jerawat serta flek hitam, menghitamkan rambut, mengencangkan kulit dan sebagai anti radang.
Afjameha kian mendapat banyak referensi bahan alami dari petunjuk pak Temul yang dia cocokkan dengan berbagai sumber para ahli.
"Ilmu pak Temul luar biasa, beliau membantuku memecahkan clue dari buku ini. Tapi bagaimana caranya memproduksi semua bahan agar awet? ... SidoGeni, harus dengan perusahaan besar agar bahan ini bisa diekstrak," ucap Afja, menghela nafas. Jalannya masih panjang bila ingin apa yang dia miliki bermanfaat bagi orang banyak.
Keesokan pagi.
Sesuai janji, Afja memberikan satu botol racikan jamu diet pada Jaheni. Dia menegaskan bahwa ini harus diminum dalam kondisi perut kosong di pagi hari, dengan takaran satu sloki kecil sebagai penyesuaian untuk pemula.
Jaheni mengangguk. Mereka lalu berpisah arah jualan. Afja pagi ini membawa sepuluh racikan krim masker wajah untuk jerawat yang telah dia sempurnakan semalam.
Tanpa di duga, jualan Afja hari ini ludes hanya dalam waktu dua jam. Dia pulang ke kampung jamu lebih awal dan masih sempat melakukan salat duha sebelum setor hasil penjualan ke istri pak Temul.
Keduanya mengulangi aktivitas itu hingga membuat jamu diet tanpa mulas juga masker wajah berjerawat kian trending. Jaheni akhirnya diiizinkan membantu proses pembuatan kedua jamu booming milik Afja.
Aktivitas Afja dan Jaheni yang pulang berjualan jam sembilan pagi, mengundang berbagai reaksi warga kampung jamu. Ada yang penasaran, tak sedikit pula mencurigai keduanya akibat gosip beredar di sebagian kampung. Hingga setelah lebih dari satu pekan, pak Temul meminta mereka hadir di pendopo untuk menjelaskan semuanya.
"Afja, Jaheni, ayo jelaskan pada mereka apa yang kalian jual sehingga pulang lebih pagi," tanya pak Temul.
"Biasa kok, sama seperti kalian," kata Jaheni, berusaha menutupi fakta. Dia tak ingin penjual lain tahu rahasia mereka berdua sehingga ikut berjualan produk yang sama.
"Ya gak mungkin! jangan pelit, Afja. Kamu ditampung di sini," tegas warga lain, mulai ricuh.
"Jangan bagai kacang lupa sama kulit, Afja!" seru sebagian ibu-ibu.
Afjameha masih diam, dia menunggu Temul untuk mengizinkannya bicara.
"Silakan, Afja, kamu jelaskan pada mereka," kata Temul kemudian ketika suasana mulai kacau.
Afja menatap wajah hasad itu satu per satu. Dia ingin mengingat siapa kawan dan lawan. Afjameha mulai membentengi dirinya lagi.
"Aku membuat ramuan jamu diet tanpa mulas dan masker untuk wajah berjerawat yang telah disempurnakan. Juga sebuah menu makanan agar dapat memaksimalkan efek keduanya," jelas Afja.
"Cepat jelaskan cara membuatnya!" sahut seorang pria di pojok pendopo.
Afja mendelik tajam, dia tak suka diintimidasi. Afjameha menantang pria itu berdasarkan logika.
"Apakah kalian bisa dipercaya menggunakan takaran pas juga kebersihan semua bahan? bukankah selama ini, warga di sini menerima produk jadi dari Pak Temul tanpa terlibat proses produksi?" ujar Afja, menatap tajam padanya.
"Beliau kan sepuh, penemu dan penggagas, kamu kan pendatang yang di tolong karena kasihan. Anggap saja balas budi," cecar pria itu enteng.
"Hoy! Afja juga sama, lah. Bukan masalah pendatang atau balas budi!" teriak Jaheni, membela sahabatnya.
Afjameha membola, kesal, lagi-lagi di sepelekan. Tangannya mengepal, dia menelan ludah kasar demi menekan emosinya.
"Aku yang menemukan dan menyempurnakan resep itu, menjadi kelinci percobaan selama ini sebelum jamuku dijual ke orang lain. Aku rela menggadai kesehatan juga wajahku, Tuan. Jika produkku gagal, apakah kau akan bertanggung jawab? tidak, kan?" kesal Afja.
"Lalu apa hubungannya dengan balas budi? apa jika wajahku rusak, budi kalian lunas ku bayar? ... aku memang pendatang, orang asing yang kalian tolong tapi aku berhak melindungi karyaku. Jika kalian mau mencoba berjualan dua produk itu, aku bersedia memberikan masing-masing satu botol. Dengan catatan agar harus mengikuti instruksi dariku bilamana Pak Temul mengizinkan," tegas Afjameha, bersuara tegas dan lantang sembari menatap wajah warga kampung satu per satu.
Nafas gadis setengah tambun itu memburu, dadanya turun naik kentara sebab menahan nada suara agar tak terdengar arogan. Afja lalu melihat ke arah pak Temul yang mengangguk samar atas pernyataannya tadi.
Temul lalu menengahi, lusa nanti, semua akan kebagian masing-masing satu botol atas dua produk milik Afja. Pertemuan pun dibubarkan setelah kesepakatan tercapai.
"Afja, ikut ke rumah!" kata Temul saat melihat Afja murung sebab kecewa oleh tuduhan warga padanya.
"Oke." Afjameha melangkah gontai mengekori Temul.
"Duduk dulu, aku ambil sesuatu," ujarnya meminta Afja duduk di teras rumah.
Beberapa saat kemudian.
Temul mengerti perasaan Afja, dia juga telah banyak melihat perbedaan fisik gadis ini. Temul mulai bisa mempercayai Afja. Dia pun menanyakan sumber dasar ilmu atas dua produk tadi.
"Dari buku, Pak. Riset juga dan tanya jawab dengan Bapak," jawab Afja saat Temul memintanya jujur.
"Bapak percaya kamu. Jika bertekad kuat ingin mendalami dunia herbal maka ada tugas baru untukmu." Temul menatap Afja tajam.
"Apa?" jawab Afja, tak enak hati di tatap sedemikian rupa oleh sepuh. Afja takut difitnah lagi menggoda suami orang.
"Cari ini!" ujar Temul menyodorkan sebuah gambar.
Afjameha menerima uluran kertas dari sepuh, dia baru pertama kali melihat jenis seperti ini.
"Apa ini?" tanya Afja.
"Cari tahulah. Dia cuma hidup di lereng gunung. Katanya kamu cerdas! masa ngepoin gituan aja gak bisa," kekeh Temul, bangkit lalu meninggalkan Afja sendirian.
"Lah, Pak! Pak! kebiasaan, tuh!" rutuk Afja bangun dari duduknya sambil berpikir bagaimana mencari info tentang tumbuhan ini.
"Oh, iya!" seru Afja girang dan mempercepat langkah saat ide di otaknya muncul.
.
.
..._______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Ama
sepertinya penulisnya paham akan bahan herbal, aku mau tanya dong😁 siapa tau penyakitku sembuh😁
2023-10-19
1
Ama
sepertinya penulisnya paham akan bahan herbal, aku mau tanya dong😁 siapa tau penyakitku sembuh😁
2023-10-19
1
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
Pak Temul dan afja ini dua orang beda generasi dan usia yang jenius sekali.. 😍🌟👍🏻
2023-10-13
1