"Apa yang kau butuhkan?" tanya Sam sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Afja.
"Ehm, tanah gambut sudah ada tapi kurang, cacahan sabut kelapa atau coco peat, dan arang sekam, aku akan buat perbandingan 1:1:4. Bisakah?" ucap Afja memohon pada Sam seraya memeluk semua tanamannya.
Samagaha meminta Afjameha turun ke bawah gedung dan meletakkan semua tanaman itu di balkon kantor pimpinan SidoGeni.
Dia membangun gedung ini dengan posisi kantor yang tidak langsung menghadap dan menantang arah sinar matahari. Sam juga membuat balkon khusus, mendesign atapnya agar bisa menutup otomatis.
"Jangan berprasangka, Nona. Aku hanya menjaga aset SidoGeni, meskipun apa yang kau perbuat tidak termasuk dalam perjanjian kerjasama ... anggap saja ini ucapan terima kasih sebab telah menyelamatkan nyawa berShin," kata Sam, saat melihat Afja seakan enggan meletakkan semua bawaannya di sana.
"Besok Anda dapat memindahkan semua ini ke kampung temulawak. Jika khawatir SidoGeni akan mencampuri urusan, silakan Anda tidur di sebelah tanaman tersebut," imbuh Shin, memberikan pilihan konyol pada Afja.
Afjameha bimbang. Dia teringat ibu yang sudah dua hari ditinggalkan tapi misinya tak mungkin dilepaskan begitu saja.
Putri Fasraha akhirnya mengambil keputusan untuk menungggu fajar di kantor Sam. Dia meminta seorang satpam wanita agar menemani sekaligus menjadi saksi bahwa Afja takkan berbuat macam-macam selama di dalam sana.
Samagaha Ziyan mengendikkan bahu, dia meninggalkan Afja dengan Shin di sana sementara para asisten lainnya berjibaku menyiapkan media tanam yang diminta.
Setelah semua terkendali, Afja mulai menghubungi Jaheni juga pak Temul agar ketika fajar menyingsing, dia akan pulang dan meminta mereka bersiap.
...***...
Sementara di tempat lain. Malam yang sama.
Suara wanita ayu terdengar panik. Dia tampak bergegas menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, beberapa pria dan wanita masuk ke kamar putrinya dan membawa nona muda keluar hunian secara diam-diam.
Tiada suara sirine meski transportasi yang mereka gunakan bertuliskan ambulance. Tamarine sengaja menyembunyikan semua ini dari Malaseka. Suaminya masih tertidur pulas saat asisten Candy membangunkannya.
Candy lenjelitha, tergolek lemah di atas brangkar saat ambulance tiba di rumah sakit. Dia langsung mendapatkan tindakan medis serius kali ini. Tamarine, harap cemas di koridor IGD sendirian. Tubuhnya mulai gemetar menahan dingin dan rasa berdebar hebat, peluh pun muncul di dahi sang nyonya Malaseka.
Dua jam kemudian. Candy di pindahkan ke ruang perawatan dan Tamarine diminta menunggu dokter pribadi Candy untuk mendengarkan diagnosa terkini terkait kondisi sang nona muda.
"Tunggu esok pagi, Nyonya. Luka nona Candy telah kami bersihkan. Obat penahan sakit juga pereda demam sudah masuk melalui infus," ujar dokter jaga.
Tamarine terlihat lega, dia terlambat mengganti kasa luka Candy sehingga putrinya enggan makan sebab jijik melihat boroknya sendiri.
Dia lalu menghampiri ranjang berseprei serba putih itu. Tamarine miris, menutup mulutnya saat melihat luka terbalut perban di perut. Beberapa telah mengering tetapi meninggalkan bekas di lipatan paha juga area pinggang, membuat kulit putih Candy terlihat bagai sapi New Zealand, bercak-bercak kecoklatan.
"Can, disiplinlah mulai sekarang. Kau terlihat parah kali ini," ucap Tamarine, menegur putrinya yang bandel tak tepat waktu mengkonsumsi obat-obatan.
Candy hanya tersenyum miris. Luka semakin lebar dan dia membayangkan pernikahan dan masa depan dengan Ben terancam hancur. Terlebih apabila sang kekasih mengetahui penyakitnya, Candy takut Ben akan menjauh.
Keesokan pagi.
Nyonya Malaseka mendengar diagnosa Candy. Dia terisak manakala dokter mengatakan bahwa penyakit diabetes melitus type dua yang diderita Candy sejak belia kini telah menggerogoti organ vital lain termasuk mata.
"A-pa? tak bisakah dokter mengupayakan cara lain agar putriku terhindar dari kebutaan?" ujar Tamarine, di sela isakan. Dia tak sanggup membayangkan Candy akan buta selamanya.
"Bisa di cegah asal pasien disiplin tapi semua kembali lagi pada semangat nona Candy," ungkap dokter.
Tamarine pasrah, dia akan terus memilih penanganan medis sebagai jalan kesembuhan Candy. Dia juga takkan mengatakan diagnosa kali ini untuk menjaga mental putrinya.
Wanita paruh baya lalu menghubungi Malaseka, dia tak kuasa menyimpan hal ini sendirian dan memintanya ke rumah sakit segera.
"Mama, mataku kenapa ya? kok yang kanan buram dan kiri perih," tanya Candy saat Tamarine telah kembali ke kamarnya.
"Di seka lap basah ya. Mungkin syaraf matamu kelelahan," jawab Tamarine tak melihat pada Candy.
"Ehm, ku kira aku bakalan buta sebab merasakan tubuh ini kian lemah dan lain dari biasanya," kekeh Candy menebak penyakitnya sendiri.
"Jangan begitu. Semangat, dong!" kata Tamarine, menatap Candy sembari tersenyum cerah.
"Pasrah, Ma. Aku mulai putus asa. Jika Ben meninggalkanku, mungkin itu waktu yang tepat bagiku pergi dari dunia ini," sahut Candy, melepaskan pandang ke langit-langit, tanda dia betul-betul lelah.
Tamarine tak menanggapi. Dia sibuk menghalau laju air mata dengan berpura menyiapkan makanan bagi putrinya hingga Malaseka tiba.
Candy lalu menanyakan kabar Ben pada sang ayah sambung. Dia mencemaskan pria itu sebab Ben tidak di terima di keluarga Alve akibat perilaku yang urakan, sehingga Candy meminta Malaseka memberikan posisi lumayan bagi Ben, sebagai modal mereka saat akan mengumumkan pertunangan nanti.
"Ben giat bekerja, rupanya dia sedang getol menarik perhatian papa agar merestuimu dengannya," ujar Malaseka terkekeh menceritakan sikap manis Ben alue padanya.
"Syukurlah dia gak ongkang kaki," ujar Candy, tersenyum manis meski wajahnya pucat pasi.
Malaseka menghibur Candy dan terus memberi semangat. Tak lupa berjanji padanya akan menggelar pesta pertunangan juga pernikahan megah bila dia sehat kembali nanti.
"Lekas sehat. Kita akan berobat ke luar negeri jika kau mau," kata Malaseka.
Dia tiba-tiba teringat Afjameha saat mengatakan hal tersebut. Dia tak sesayang ini dengannya bahkan terkesan acuh. Malaseka mendadak diam termenung.
"Iya, aku mau," jawab Candy antusias meski dia mulai samar melihat sosok pria yang duduk disampingnya.
Candy, meminta Malaseka agar merahasiakan keberadaan dirinya sebab tak ingin Ben mengetahui lebih dini saat dia terpuruk.
Di kantor Malaseka Advertise.
Ben alue sedang memimpin rapat pagi yang ditugaskan Malaseka padanya. Kali ini dia akan meliput tentang soft launching produk milik SidoGeni. Persiapan team telah matang terkoordinir, Ben pun lega pekerjaannya lancar.
Misi Ben adalah naik posisi ke puncak melalui Candy. Dia harus dapat menggaet hati Malaseka agar memberi kedudukan mumpuni. Selain pembuktian diri pada papa kandung, Ben juga sudah bosan hidup pas-pasan. Candy satu-satunya harapan. Namun, dia justru melupakan keberadaan sang kekasih. Ben sibuk dengan dunianya.
"Afja."
Entah mengapa, tiba-tiba Ben menyebut nama seseorang yang pernah dekat dengannya di masa sulit. Dia seakan Dejavu sebab memanfaatkan Candy kali ini.
Ben, tak mengetahui bahwa sesungguhnya ayah Candy adalah papa kandung Afjameha.
.
.
..._____________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Dama Asmara
baru nyadar kalo nama a Candy Lenjehhhjelita😆😆😆 dan si BENALUEeee🤣🤣🤣🤣
2023-11-14
2
Nur Azizah Cirebon
jan jahat2 cabdil noh penyakit numpuk
2023-07-23
0
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Candy ternyata ud lama menghidap penyakit Diabetes, tpi kenapa masih punya sifat jahat nya, emak nya juga si Asam sm aj sm anak, 😌
Ben,,, penasaran sm apa yg ad di pikiran nya, siapa sebenarnya yg di manfaatkan, apa bner dia dlu cumn mainin perasaan Afja, atw Candy yg sebenarnya di jadikan alat untuk bisa sukses, 😌🤔 masih bnyak rahasia,,, 🙈
2023-07-22
2