Sam melihat ke arah Afja sejenak, lalu kembali melempar arah pandang ke hamparan air laut yang menyentuh bibir pantai.
"Aku sepertimu, diremehkan sejak belia. Jatuh bangun dan hampir menjadi pengemis jika Aluna tidak Tuhan hadirkan di masa itu."
"Mano, berdiri di kaki sendiri meski tanah pijakan rapuh tapi kedua tangan meraih apa yang bisa kau manfaatkan dari sekeliling untuk bertahan ... kemudian kau membaginya lagi pada sekitar, itu lebih mulia dibandingkan kamu dipayungi kenyamanan tetapi milik orang lain," tutur Sam panjang.
Afjameha merasa Sam mengerti posisinya kini. Dia dilanda gelisah sebab seakan memanfaatkan pak Temul demi tujuannya. Meski, tiada terpungkiri antara Afja dan Temul saling memberikan manfaat dan keterkaitan.
"Pulanglah, jangan buat ibu cemas. Selamat ulang tahun. Teguh selalu ya, Mano. Jadi diri sendiri tapi tetap memijak bumi," sambung Sam, bangkit berdiri dan berniat meninggalkan Afjameha sendiri di sana.
"Terima kasih, Pak Sam." Afja berdiri, menghormati petinggi SidoGeni yang akan melangkah pergi.
Samagaha Ziyan tak ingin mengusik kesendirian gadis belia. Dia mengerti sebab pernah ada di posisi Afja. Sam lalu menelpon Sonda saat berjalan menuju mobilnya.
"Halo, Son. Jaga dia dari kejauhan," titah sang petinggi pada anak buahnya.
"Baik, Bos. Nona Mano dalam jangkauan," ujar Sonda.
"Afja! Mano sebutan milikku," sungut Sam, bertepatan dengan suara remote mobil yang dia tekan.
"Oh, maaf, Bos. Oke." Sonda terkejut, sejak kapan tuan mudanya peduli akan sebuah sebutan.
Hari ini Afja menghabiskan waktunya di pantai, mengenang masa lalu yang hampir menghilang dari ingatan sebab minimnya interaksi dengan Malaseka.
Dia tak mengenal baik sang papa selain di hari ulang tahun juga kala lebaran. Untuk itulah, Afja kerap meminta banyak hal di moment tersebut sebab Malaseka akan hadir utuh dengan keluarga hanya dua kali dalam setahun.
...***...
Keesokan pagi.
Afjameha tiba di kampung jamu dan langsung menuju dapur umum yang kini terbuka untuk para pengunjung. Tak disangka, dia melihat seorang wanita yang dikenal.
"Selamat siang. Kamu Afjameha, kan?" tanya Tamarine perlahan mendekat saat rombongan pengunjung lain telah menyingkir.
Ingin menolak logika, tapi berbekal informasi akurat dari detektif yang dia sewa juga menurut penuturan Vivi, Tamarine kini percaya bahwa gadis dihadapan adalah Afja.
"Siang. Anda salah orang," jawab Afja tersenyum ramah.
"Dia kini langsing dan terlihat cantik," batin Tamarine.
"Jangan pura-pura. Aku tahu itu kau. Langsung saja, aku kesini untuk memintamu melihat Candy lalu membuat ramuan obat baginya agar putriku tak mengalami kebutaan," tutur sang ibu tiri.
"Bukankah Anda cukup kaya bila sekedar mencari obat dan dokter ahli untuk mengobatinya," cibir Afja, masih berdiri dan bersedekap di depan dada.
"Apa ini artinya penolakan? kau ingin balas dendam bukan? sehingga pertunangan Candy dan Ben tak terlaksana? licik sekali, mentang-mentang sekarang jadi artis dadakan," ketus Tamarine, melirik sinis dari ekor mata diikuti sudut bibir yang tersungging ke atas.
"Aku bukan dokter, Nyonya." Afjameha menolak halus, tatapan matanya menajam.
"Jangan macam-macam, Afjameha, jika kamu ingin tetap tenar dan produkmu laku. Semangat Candy tidak boleh surut untuk terus bertahan hidup demi meraih kebahagiaan dengan Ben. Apakah kau lebih memilih terlibat skandal lebih dulu?" ancam Tamarine, dia ingin membuka identitas Afja.
"Aku tidak paham maksud Anda," elak Afja berlalu pergi meninggalkan Tamarine.
"Hoy! pembunuh saudaranya sendiri," seru Tamarine, membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
Afjameha berhenti, lalu menoleh ke belakang tubuhnya. Dia melihat Tamarine melangkah mendekat.
"Obati Candy atau sebuah skandal akan membuat kamu hancur lebur?" bisik si pelakor melenggang pergi.
Afjameha Manorama mengepal geram. Dia sudah menduga akan dihadapkan pada masa lalu yang mulai datang dan mengusiknya lagi. Afja bingung, dia tak punya teman senasib untuk meminta pendapat.
Namun, beberapa detik kemudian. Otaknya dengan cepat mengingat Sam sebab obrolan singkat kemarin.
"Eh, Pak Sam." Afjameha berjalan cepat menuju mobilnya dan meminta supir agar mengantarkan ke SidoGeni.
Setelah sampai di gedung perkantoran megah itu, Afjameha menunggu di lobby sebab Sam sedang tidak di tempat, pun dia tak memiliki janji dengan beliau.
Hampir satu jam menunggu, Shin muncul dan terkejut melihat Afja di sana, dia bergegas menghampiri.
"Nona, sejak kapan di sini, kenapa tidak menghubungi saya?" tanya Shin cemas, jika Sam tahu habislah dirinya.
"Ehm, lumayan. Saya lupa, maaf," sahut Afja bangkit dari duduknya.
Sementara dari pintu samping.
Samagaha Ziyan melihat sekilas gadis mirip Afja sedang bicara dengan Shin di lobby. Langkahnya tertahan saat akan menaiki lift khusus. Dia ingin memastikan sehingga memutar arah, berjalan menuju ke arah depan gedung.
"Mano? sudah lama? ... Shin?" tanya Sam, sedikit terkejut dan heran, mengapa Shin tak membawa Afja ke atas. Dia menatap kedua orang di hadapan secara bergantian.
"Lumayan, maaf saya ke sini tanpa membuat janji," jawab Afja, menunduk tak enak hati.
"Saya juga tidak tahu, Bos," elak Shin, sambil mengangkat tangan ke atas.
Tanpa banyak bicara, Sam menuju meja frontline. Dia menegur dua gadis muda di sana.
"Perhatikan, hafalkan wajah beliau. Dia Nona Afjameha. Langsung bawa ke ruanganku meski tanpa janji. Kalian paham? ... perlakuan dengan baik semua tamu SidoGeni. Kabari Shin siapapun yang ingin bertemu denganku. Jangan membuang waktu seseorang, manatahu mereka sedang terdesak dan tergesa," tegas Sam, seraya menunjuk ke arah Afjameha.
"Ba-baik, Pak Sam. Kami minta maaf," jawab kedua gadis.
Sam lalu mengajak Afja ke kantornya diikuti Shin. Di dalam lift, petinggi SidoGeni membuka suara.
"Maafkan mereka telah membuatmu menunggu lama, Mano," ucap Sam pelan.
"Tak apa. Saya juga salah," balas sang gadis kian tak enak hati.
"Kau belum simpan nomerku?" tanya Sam, menoleh ke sampingnya.
"Sudah, nomer pak Shin," jawab Afja jujur, polos tanpa mengerti maksud Sam.
"Uhuk. Uhuk. Pfftt." Shin tersedak, menahan tawa. Dia tahu bagaimana raut wajah Sam meski tak melihatnya.
"Diam kau!" sungut Sam lirih, melirik asistennya.
Ting. Pintu kotak besi, terbuka.
Ketiganya lantas keluar lift dan langsung menuju ruangan Sam. Afja lalu duduk di sofa single.
"Kau ingin membicarakan sesuatu?" tanya Sam, sembari duduk di kursi kebesaran dan membuka banyak file di mejanya.
"Iya. Dia datang pada saya dan meminta mengobati putrinya. Apakah saya harus mengikuti keinginan itu meski hati menolak? dengan menggunakan alasan kemanusiaan?" tanya Afjameha, tanpa menyebutkan identitas Tamarine.
Sam mendongakkan kepala, menjeda aktivitas penandatanganan dokumen.
"Membantu seseorang itu wajib. Tapi jika kau terluka atas itu, mintalah bantuan orang lain sebagai perantara untuk menyentuh mereka. Jangan samakan dirimu, pembalasan paling manis adalah muncul secara heroik, go on. Kamu bisa," tutur Sam, mengisyaratkan banyak makna.
Afjameha tersenyum manis. Sam telah membuka pemikiran elegan untuk membuktikan bahwa dirinya telah bangkit dan memiliki nilai hidup lebih baik.
Dia akan mempertimbangkan permintaan Tamarine, setelah mengutarakan kegundahan lainnya pada Sam.
"Maa sya Allah. Alhamdulillah," jawab Afja lega.
Shin memilih menghindar ke kubikelnya sebab pekerjaan telah menumpuk. Dia berpura tak mendengar percakapan keduanya meski masih di ruangan yang sama.
Afjameha lalu menceritakan secara kiasan tentang sebuah buku yang selama ini dia baca. Hanya tersisa satu resep dan ingin dicobanya. Afja mengatakan ramuan ini sedikit berisiko sehingga dia menitipkan Fasraha pada Sam.
"Apa namanya?" tanya Sam penasaran.
"Pelemah jantung. Risiko setelah meminum itu saya tidak bangun kembali. Jika hal tersebut terjadi, titip ibu ya, Pak Sam. Mereka mengancam akan membuat skandal, mungkin resep ini akan berguna," kata Afja, menjelaskan rasa gundah, sekaligus penasaran.
"Kau harus kembali. Ada hal penting yang menunggu dan masih banyak orang peduli terhadapmu. Urusanmu dengan seseorang belum selesai, bahkan mungkin baru dimulai," ucap Sam, menatap lekat wajah yang mulai bebas jerawat.
"Ada lawyer, kan? aku akan membuat surat hibah juga jika berkaitan dengan bisnis," sahut Afja tak peka, dia berani melihat wajah Sam lebih lama kali ini.
"Ya ampun, Nona!" Shin menggeleng kepala. "Sam, maklumin dah. Abege," batin Shin.
.
.
..._______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Bzaa
wah Sam udah ngasih kode, tpi sayang mano gak peka🤣
2025-02-03
1
𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα
💃💃💃sam mulai.......
🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰
2023-07-28
2
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
apa sebenarnya maksud Tamarine dengan membunuh saudara nyaa, 🤔
Penasaran sama masa lalu Sam dan apa peran Aluna di dalam kehidupan Sam, 😌
2023-07-27
1