Jemari Afja mengepal, giginya ikut mengetat hingga rahang wajah bulat itu menegang. Afja memejam guna meredam gejolak emosi yang mulai membuncah. Inginnya menggebrak meja, tapi sayang, tak ada benda itu di pendopo tersebut.
"Baik, hanya itukah tantanganku?" balas Afja, salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk gurat senyum sinis.
Pak Temul memandang remeh, tak ketinggalan kekehan mengejek yang mulai akrab di telinga Afja.
"Buktikan saja! hilangkan jerawat dan turunkan bobotmu," sindir Temul, sembari duduk di depan tampah yang berisi banyak rimpang tanaman obat.
"Tentu," ucap Afja mantap, tak melepas pandang pada sepuh di depan sana.
Jaheni menarik ujung kaos Afja, memberi kode agar sang gadis tambun urung menantang sesepuh kampung jamu itu.
"Mbak Afja, jangan melawan. Beliau itu tegas dan disiplin, nanti kamu sakit hati, loh," bisik Jaheni.
"Aku pasti bisa!" tekad Afja, melirik tajam ke sisi kanannya.
"Jangan lupa juga, coba hilangkan bau badan!" sambung Temul, melirik sekilas ke arah Afja yang sedang menundukkan kepala.
Deg.
Hening. Pak Temul memang doyan menyindir tajam. Penduduk kampung jamu tak ada yang luput dari cibirannya.
"Aku bau, kah?" batin Afja, tak kuasa mengangkat kepalanya sebab malu.
Jaheni hanya menghela nafas, berharap sahabat barunya ini dapat bersabar menjalani hidup di bawah tekanan Temul.
Sesi pembelajaran pun dimulai. Temul mengenalkan khasiat jahe merah dan sereh jika dijadikan resep minuman. Keduanya mempunyai manfaat sebagai pereda segala nyeri, mulai haid, otot hingga sakit kepala. Afja sangat tertarik dengan penjelasan detail Temul dengan semua rimpang obat tersebut hingga memicu otaknya berpikir cepat.
Satu jam kemudian, semua remaja kampung jamu mulai membubarkan diri seiring selesainya pertemuan.
Pak Kunir lalu memanggil Afja, guna memintanya untuk ikut berjualan jamu menggantikan posisi Sieri yang meninggal beberapa bulan lalu. Beruntung, rute Afja lebih pendek bila dibandingkan dengan Jaheni.
"Ada rencana mau pindah tujuan, Nak Afja?" tanya pak RW.
Afja menggeleng. "Belum, Pak. Gak punya sanak saudara di Jakarta," ujarnya segan menyebutkan keluarga sang ayah.
"Ya sudah, ikut dagang saja. Upah kamu bisa buat bayar kontrakan selagi belum dapat kerjaan baru, gimana?" tawar Kunir lagi.
"Baik, Pak. Saya ke pak Temul atau siapa?" tanya Afja, antusias menyambut penawaran pak RW.
Dengan mukim di sini, dia akan mempunyai banyak kesempatan belajar untuk menaklukkan tantangan. Binar mata Afja cerah saat pak RW memberikan runutan cara mengambil bahan jamu, rute hingga menyetor uang penjualan agar mendapat upah.
Pagi buta, Afja telah bangun guna mencuci baju dan menyiapkan kebutuhan ibunya sebelum dia pergi berdagang. Kondisi Fasraha perlahan pulih, sesak nafas, maag, kram otot juga vertigo mulai jarang kambuh meski asupan nutrisi dari makanan ala kadarnya.
Fasraha terharu, Afja sangat giat dan semangat, dia seakan tak mengenali putrinya. Dulu, Afja selalu menghabiskan waktu dengan ngemil dan rebahan hingga membuat tubuhnya sebesar itu.
Pulang berjualan, Afja memanfaatkan waktu dengan membaca buku ramuan pinjamannya. Dia sibuk mencatat dan kerap meminta sisa jamu dari para rekan yang lewat di depan mushala untuk bereksperimen.
Malam hari, digunakan Afja untuk berolah raga, hal yang tak pernah dia jamah sewaktu dulu. Sit up, stretching, squad jump ringan sampai fokus pada latihan otot kaki agar kuat berjalan jauh, ditekuninya. Tungkai mulus itu tiada lagi, terdapat luka di sana sini akibat melepuh terpapar aspal jalan dan jauhnya jarak perjalanan.
Hari berlalu dan berganti pekan.
Tanpa terasa, Afja dan Fasraha telah tinggal di kampung jamu selama hampir satu bulan. Pagi ini, setelah pulang jualan dan mandi, Afja puas mematut diri di depan cermin, bobotnya telah sedikit berkurang.
"Mulai ramping, ya," kata Fasraha, tersenyum sumringah melihat perubahan putrinya.
Afja mengangguk, dia selalu mencatat perubahan diri setiap dua hari sekali. Kini fokusnya tak hanya bobot tubuh melainkan jerawat di wajah yang mulai mengganggu.
"Iya ya, Bu," balas Afja ikut tersenyum cerah melihat bajunya sedikit longgar. "Tapi aku kudu eksperimen lagi. Racikan A dan B, gak ngefek. Jerawat masih banyak," keluh Afja meraba wajahnya yang mirip bulan, bopeng dan banyak gundukan.
Fasraha terkekeh di atas pembaringan. Dia lalu meminta Afja agar berkonsultasi pada Temul untuk mendapatkan solusi.
Afjameha ragu, tapi akan mencoba memberanikan diri menemui sesepuh. Awalnya dia takut saat menyentuh bibir teras rumah beliau, tapi suara ramah Temul dari dalam membuat Afja masuk ke kediaman asri itu.
"Afja, nih!" sodornya pada gadis tambun saat akan duduk di teras.
"Apa ini?" ujar Afja menerima dan membaca selembar kertas tersebut.
Temul memperhatikan penampilan gadis didepannya. Dia tersenyum samar atas perubahan kecil Afjameha.
"Ikutlah dan buktikan padaku," ujar Temul.
Afjameha mendongak sejenak, lalu melanjutkan membaca ketentuan kontes.
"Pak, aku bisa bikin ramuan singset tanpa rasa mulas ataupun melilit. Semua herbal dan--" terang Afja tapi ucapannya di jeda oleh Temul.
"Stop. Pelajari lagi, dan bawa racikanmu itu ke kontes tadi," tutur Temul, sambil bersedekap.
"Lah, aku kan amatir. Bapak uji coba dulu dong," cicit Afja, merasa tak pantas.
"Gak perlu. Paling racikan gak mutu sebab belum sempurna. Tapi kamu ikut saja, siapa tahu beruntung. Itupun kalau kamu berani dan sanggup," kekeh Temul kembali mencibir.
Merasa kembali diremehkan, semangat Afja berkobar lagi. Dia meremas brosur itu didepan Temul lalu bangkit dari sana. Tawa Temul mengiringi kepergiannya.
Afja mendengus kesal, wajahnya masih menegang menahan emosi saat dia mendudukkan diri di teras mushala dan mulai mendaftar untuk mengikuti kontes.
"Selalu saja, diremehkan!" gerutu Afja, memejam setelah berhasil verifikasi data.
Dalam waktu dua hari, sampel jamu untuk mengikuti kontes telah selesai diracik dan sudah dikirimkan melalui kurir ojol. Sambil menunggu panggilan seleksi, Afja terus melakukan aktivitas yang sama, berjualan, bereksperimen dan berolah raga.
Dua pekan kemudian dia mendapatkan panggilan dari panitia kontes untuk masuk ke sesi berikutnya. Afja girang bukan kepalang, dia berlari ke rumah pak Temul sambil berteriak.
"Paaaaaakkkkk! aku lolos!" seru Afja berlari kecil di tempat, di depan kediaman beliau.
Pak Temul muncul dari dalam, dia hanya mengangguk dengan wajah datar lalu berlalu melewati Afja.
Gadis tambun itu lagi-lagi kesal, usaha gigihnya tak dihargai. Afja hanya bisa melongo dan memilih berbalik arah, pulang ke kamar sempit itu dan mulai bersiap untuk berangkat esok pagi.
Jaheni setia membantunya bahkan berjanji menemani Afja ke Senayan esok pagi untuk bertanding.
"Sukses ya, Afja!" ucap Jaheni memberi semangat.
"Sukses!" balas Afja, mengepalkan jemari tangan ke udara.
Hari yang ditunggu pun tiba.
Afja dan Jaheni telah siap di meja kontestan, bergabung dengan peserta lain. Dua gadis itu nampak serius meracik bahan agar komposisinya tepat meski menggunakan peralatan sederhana dan tradisional.
Mereka berdua tak menyadari bahwa pimpinan pabrik minuman kesehatan itu bakal turun langsung ke venue, melihat para kontestan.
"Shin!" panggil seorang pria, berhenti di depan meja Afja.
"Ya, Tuan?" jawab lelaki muda.
"Kenapa yang begini bisa lolos? lihat mereka, apaan ini! kuno sekali dan tidak hygiene!" sentaknya kasar, menunjuk ke arah Afja dan Jaheni.
Semua mata kini tertuju pada dua gadis di lajur meja tengah. Afja mendongakkan kepalanya, ingin melihat sosok arogan yang menghina.
"Tapi kan atas persetujuan Anda, Tuan," jawab Shin, sekretaris pribadi pimpinan.
"Aku? cih, yang benar saja," elak Samagaha, melirik tajam ke arah Afja.
Shin ingin menengahi akan tetapi suara Afja membuatnya urung menyampaikan sanggahan.
"Maaf, Tuan. Saya jamin, semua orisinil juga bersih meski alat kami masih manual dan tradisional," jawab Afja membela diri.
"Yakin sekali, amatiran seperti Anda! apa semua alatmu sudah uji kelayakan, Nona? kebersihan?" cecar Samagaha, sambil melipat tangan di depan dada.
Afja menghela nafas. "Jika Tuan khawatir racikan jamu saya terkontaminasi, silakan siapkan talent tiga orang gadis tambun untuk meminum jamu racikan saya ini. Jika apa yang mereka minum berdampak buruk maka saya bersedia menerima konsekuensinya," ujar Afja nekad, balik menatap tajam Samagaha.
Shin, hanya tersenyum melihat keberanian Afjameha. Samagaha lalu meneliti semua bahan yang terjajar di atas meja.
"Shin! catat, dan kabulkan permintaan si pongah ini," ucapnya sambil lalu.
"Baik," sahut Shin, ikut pergi dari sana.
Samagaha kemudian menginstruksikan pada Shin agar mengawasi semua pergerakan Afjameha juga mencatat perkembangan talent gadis tambun yang dia minta.
Selama kompetisi berlangsung, Afja berkali mendapat cibiran dewan juri hingga mentalnya ambruk. Dia dan Jaheni, tak lagi percaya diri.
Setelah tiga jam berlalu, kini saatnya menerima hasil pengumuman.
Afjameha harus puas tersingkir dari kategori racikan tradisional terbaik. Dia pun pulang membawa rasa kecewa, meski Jaheni menghiburnya tapi hati Afja tetap hampa. Angan dapat hidup layak kembali pun seketika musnah. Tiada pilihan selain melanjutkan aktivitas seperti biasa kembali.
Sementara keluarga sang ayah juga Ben, perlahan tak lagi jadi fokus Afja. Entah bagaimana kabar mereka.
...*...
Dua bulan berselang. SidoGeni Corp.
Samagaha sedang berada di kantornya, membaca grafik perubahan efek jamu racikan Afja saat kontes. Dahinya mengernyit heran lalu tiba-tiba.
Brak!
"Kurang ajar. Shin! lekas bawa gadis tambun itu ke sini," titah Samagaha pada sang asisten.
.
.
...______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Bzaa
samagaha di hatiku 😁
2025-02-03
1
Tini Laesabtini
samagaha dlm bahasa Sunda artinya gerhana
2023-10-30
2
ηαzℓα♡
afja duh kok malah aja🙈
2023-09-01
0