Keesokan hari.
Afjameha meminta izin pada Fasraha untuk menjenguk Candy. Dia pun bertolak menuju kediaman lamanya akan tetapi penjaga mengatakan bahwa nona muda mereka di rawat di rumah sakit.
Putri Fasraha memutar arah dan langsung ke tujuan. Namun, saat baru mencapai parkiran, dia tak sengaja melihat Ben dan lelaki itu menghampirinya.
"Nona Mano, senang melihatmu lagi. Mau ke dalam?" sapa Ben, saat Afja akan melangkah masuk ke lobby.
"Iya." Afja menjawab singkat sambil lalu. Dia berjalan ke meja informasi menanyakan kamar Candy lenjelitha.
Ben mengejar dan mensejajarkan langkah. "Mari aku temani, kebetulan aku tahu kamar beliau," ujarnya, berdiri di samping Afja.
Afjameha tak mengindahkan. Dia melenggang begitu saja menuju lift. Saat menunggu kotak besi terbuka, Ben mengatakan seolah dia mengenalnya. Afja bergeming tak menanggapi.
Ting.
"Aku bisa sendiri. Terima kasih." Afja masuk ke lift dan meminta Ben tak mengikutinya lagi.
Saat pintu lift terbuka di lantai tiga, Afja keluar dari sana dan berbelok ke arah kanan menuju kamar Candy. Handle pintu bercat putih itu, perlahan dia buka.
"Siapa?" tanya seseorang dengan suara parau dari dalam.
Afjameha tak menjawab, dia lalu muncul dari balik tirai.
Deg.
Betapa terkejutnya Afja kala melihat Candy tergolek lemah. Wajah pucat nan tirus, rambut panjang dipangkas pendek, mata indah itu terlihat cekung dan kuyu. Sosok primadona seksi lagi ayu, musnah sudah.
Dia mulai iba, tapi seketika teringat perlakuan Tamarine pada sang mama. Wajah datar pun ditunjukkan Afjameha.
Candy membola, dia langsung mengenali Afja meski retinanya samar. Dia memindai dari atas ke bawah, penampilan gadis di hadapan yang sangat berbeda.
"Kau! ngapain ke sini, mau mengejekku?" seru Candy, menunjuk dengan telunjuknya disertai tatapan nyalak ke Afja.
Di saat yang sama, saat Afja akan menjawab, Ben muncul dan sontak membuat Candy kian emosi.
"Oh, aku tahu. Kau ingin balas dendam kan? KAU INGIN MEREBUT BEN DARIKU!" teriak Candy, dia bahkan terlihat mengejan kala mengucapkan barisan kalimat kebencian.
Tangannya mengepal, bola mata membelalak dan deru nafas Candy terengah membuat bahu ringkihnya naik turun dengan cepat.
"Perebut teriak perebut! aku tak bernafsu lagi padanya asal kau tahu! ... lelaki macam dia? cih, yang benar saja," jawab Afja sinis, dua sudut bibirnya melukis seringai.
Ben tak mengerti kisruh di antara mereka, siapa yang sedang diperdebatkan dan dimana Mano mengenal Candy, Ben terlihat bingung.
"PERGI, WANITA PEREBUT TUNANGANKU!" Candy masih saja berteriak membuat Afja kian malas. Niat baiknya di sia-siakan. Dia pun keluar kamar perawatan Candy begitu saja.
Panggilan Ben guna mencegah Afja pergi, tak digubris. Teriakan Candy yang meminta Ben kembali membuat pria itu urung mengejarnya.
Afjameha tidak tahu jika kisruh singkat tadi tertangkap telinga dan kamera seorang pewarta yang berada di sekitar koridor. Dia pun mengenali Afja, wajah penasaran serta senyuman misterius muncul membuat ekspresi jahat pria itu terbaca jelas.
Kekesalan Afja masih jelas tergambar di wajah saat dia menaiki mobilnya dan meminta pulang ke rumah.
Menjelang sore hari.
Ponselnya tak henti berdering kala Afja masih di dalam kelas. Dia sedang mengikuti mata kuliah manajemen bisnis. Meski hanya mengaktifkan mode getar tapi tetap saja terdengar mengganggu.
Lima belas menit kemudian, kelas bubar dan Afja langsung menghubungi seseorang yang menghubunginya tadi.
"Halo, Pak Shin. Maaf saya baru selesai kuliah, ada apa?" tanya Afja sambil berjalan menuju mobilnya.
"Ada kejadian apa hari ini, Nona? bukalah laman berita online yang saya kirimkan. Juga dampak atas berita tadi, Anda kebanjiran jadwal wawancara. Saya tunggu respon terbaik dari Nona," ujar Shin.
"Apa ya? aku gak kemana-mana. Ke rumah sakit lalu pulang dan kuliah," jawab Afja. Wajahnya terlihat bingung.
"Baik. Silakan Anda buka dahulu semua pesan saya, Nona. Hati-hati di jalan," sahut Shin, menutup panggilan.
Afjameha membuka pesan, dia lalu membaca isi berita yang dimaksud Shin. Benaknya langsung mengingat sebab musabab berita ini.
"Astaghfirullah. Kejadian di rumah sakit sebab Candy berteriak tadi pagi. Begini ya, dunia bisnis," gumam Afja. Dia lalu meminta supir agar melajukan mobil ke kampung jamu.
Sesampainya di kampung temulawak, Afja bergegas menemui Temul guna meminta pendapat.
Kedatangan Afja kali ini membuat lelaki sepuh itu terkejut. Dia baru mengetahui bahwa sosial media ternyata bagai dua mata pisau, bisa melukai atau sebaliknya. Tapi Temul meminta Afja memanfaatkan situasi ini.
"Manfaatkan untuk mendongkrak popularitas jamu kamu, Afja. Biarkan dulu berita itu, konfirmasi pada pengacaramu dan SidoGeni saja. Tanyakan pada mereka langkah mana yang terbaik," saran sepuh kampung.
"Kalau diboikot bagaimana, Pak?" cemas Afja, dia khawatir mematahkan harapan para warga di sini.
Temul terkekeh. "Tuan Samagaha itu bukan orang bodoh, Afja. Dia akan memikirkan cara untuk menepuk lalat," jawabnya menertawakan Afja.
Afjameha merasa mendadak bodoh sebab ketakutan sesaat. Dia lalu menghubungi Shin dan mengatakan bersedia memenuhi beberapa undangan wawancara tanpa klarifikasi ke publik.
Shin juga mengarahkan Afja agar menahan komentar di media sosial. SidoGeni akan menyediakan waktu untuk jumpa pers apabila rumor semakin panas.
Sementara di hunian lain.
Tamarine merasa puas atas idenya. Dia tanpa sengaja melihat pewarta itu tengah mengambil foto Afja saat akan masuk ke kamar Candy setelah dari cafetaria. Tamarine lalu membeli berita tersebut dan memintanya mengunggah ke beberapa akun gosip.
Dalam semalam, penjualan jamu Afja menurun. Mereka berspekulasi terhadap sikap si penemu yang tidak peduli terhadap sesama padahal jargon produk kecantikan itu, mengusung konsep pemikiran seorang wanita cerdas.
...***...
Keesokan pagi, SidoGeni.
Sam melihat grafik penjualan AfeSlim menurun meski tidak signifikan sebab skandal kemarin. Dia membaca tajuk berita online tersebut. ~Mano ternyata kejam pada saudaranya. Mano si perebut tunangan saudaranya. Mano AfeSlim, menolak membantu saudaranya~ dan banyak judul lainnya.
"Cih, receh sekali. Shin, kapan jadwal on air radio, podcast dan voice offer?" tanya Sam pada asistennya.
"Pagi hingga siang, full. Aku sudah katakan pada manager Afja untuk mengatur pertanyaan mana yang boleh dan tidak untuk dia jawab," jelas Shin. Dia menyerahkan draft acara Afja hari ini.
Samagaha Ziyan, lalu mencocokkan dengan jadwal miliknya.
"Atur makan siang dengannya." Sam bangkit dari duduk hendak keluar ruangan guna meeting pagi.
"Oke, waktumu satu jam sebelum Mano kuliah, Sam," kata Shin, sengaja memancing reaksi Sam dengan memanggil Mano.
Sam menahan knop pintu dan menutupnya lagi, dia urung keluar, malah menoleh ke arah Shin.
"Apa tadi? ulangi," ujar Sam, menatap tajam asistennya.
Glek.
"Ya elah, Manoooo," jawab Shin, melenggang pergi melewatinya begitu saja.
Sam menarik kerah jas Shin hingga pria itu sedikit terhuyung.
"Eeehhhh! lepas!" kata Shin, memegangi tangan Sam agar tak melanjutkan aksinya.
"Sebut dengan benar, Afja!" bisik Sam lirih tapi tajam menusuk gendang telinga. Dia lalu meninggalkan sepupunya begitu saja.
"Hadeuh, makin panas." Shin mengelus dadanya.
Samagaha Ziyan, tak sabar menyelesaikan rapat pagi ini dengan para staf. Dia meminta Wita menggantikan posisinya saat mendengar notulen. Sam memilih keluar dan langsung menuju ruangannya.
Dia menyalakan laptop. mencari channel podcast Afja dan memperhatikan semua gestur gadis belia itu. Terkadang senyumnya muncul, tak jarang dia ikut kesal dengan semua pertanyaan bodoh pewarta.
Tiba saatnya Afja beralih studio. Sam kini hanya dapat mendengar suara merdu Afjameha Manorama.
"Lembut, bertenaga, merdu dan aah, Manorama," ujar Sam, tersenyum sambil mengerjakan tugasnya. Dia terhipnotis suara Afja on air di radio.
Di gedung lainnya.
Malaseka mendapat relay dari SidoGeni tentang jenis suara Afja untuk voice offer produk iklan AfeSlim. Lelaki paruh baya ini teringat putrinya.
"Suara Afja, kamu dimana? apakah benar dugaanku bahwa kamu Afjameha Manorama? ... tapi mengapa kau seakan tak mengenali papa?" gumam Malaseka merasa menyesal kini.
"Apakah kau akan menerima Papa lagi, Afja?" imbuhnya bertekad akan mulai mendekati putrinya dan mencari dimana dia tinggal.
Bukan hanya Malaseka yang merasa Dejavu akan suara merdu seorang gadis. Di luaran sana, banyak orang merasa mengenali gaya bicara nan indah ini.
Fans Afjameha Manorama mulai membanjiri kolom pesan yang menanyakan apakah sosok pengisi acara adalah Afe, mantan penyiar idola radio Rama FM.
...*...
Menjelang makan siang.
Afjameha menghela nafas panjang. Semua jadwal hari ini selesai. Manager dari SidoGeni kemudian memintanya menuju ke suatu tempat sebab Shin telah menunggu di sana.
Dalam perjalanan menuju resto, ponselnya berdering. Namun, dia abaikan sebab tiada identitas.
Putri Fasraha lalu dituntun menuju venue paling belakang. Dia terkejut saat melihat Sam dan Shin di sana.
"Selamat siang, Mano," sapa Sam, bangkit berdiri menyambut partnernya.
"Siang, Pak Sam dan Pak Shin. Ini?" tanya Afja heran, berpikir apakah ini makan siang formal atau sebaliknya.
"Kita akan bicara langkah selanjutnya. Silakan duduk," ujar Sam meminta gadis ayu itu menempati posisinya.
Afjameha tak enak hati perihal gosip, dia lalu mengutarakan keinginan seandainya penjualan AfeSlim terus menurun.
"Apakah saya harus merombak konsep kampung temulawak yang terseret dalam kisruh pribadi? ... mungkinkah jika AfeSlim melakukan ekspansi ke luar negeri?" ujar Afja, menatap bergantian kedua pria tampan di hadapannya.
Samagaha Ziyan menyilakan Afja menyantap hidangannya lebih dulu sambil membahas ide cemerlang SidoGeni.
"Tentu akan ada langkah lanjutan baik dari segi hukum atau lainnya, tenang saja," ujar Shin mencoba membuat Afja lebih santai.
"Saya ingin mengambil stasiun radio lagi. Saat turun fee nanti, bisakah tempat itu kembali menjadi milik saya?" pinta Afja, dia rindu dengan semua yang ada di sana.
Sam hanya diam mendengarkan, dia memberi isyarat pada Shin dengan menyenggol kaki sang asisten dari bawah meja, agar mulai menyiapkan apa yang Afja minta.
"Pak Sam?"
"Makan dulu, jangan sampai sakit, Mano," imbuh Sam, datar tapi bernada penuh kelembutan. Netra elangnya memandang Afja penuh kasih.
.
.
...______________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Eka Widya
kok yo ora peka2 to mano2.gemes aku😅😅😅
2023-08-26
2
Nur Azizah Cirebon
hetsah mulai semyum2 sam awas loh
2023-07-30
1
𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα
hadeuhhhh asenya nyalakann momm😅😅
2023-07-29
1