"Aku booking kafe ini, jangan biarin pengunjung lain masuk. Berapa omset kamu sehari? Nih aku bayar lunas," Leo menyodorkan sebuah black card untuk digesek oleh Melanie.
Melanie masih bengong di tempat.
"Tak perlu," sela seseorang tepat di belakang Melanie, membuat Leo kembali ke mood semula.
"Mey, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Leo berdiri dari duduknya.
Melanie tak ingin menjadi obat nyamuk di antara keduanya.
"Aku permisi dulu," ijin Melanie.
Meyra berani menatap tajam Leo, yang sekarang bukan bos nya lagi.
"Apa kamu tak ingin mempersilahkan aku duduk?" kata Leo.
"Bukannya anda sudah duduk di kursi itu lama?" balas Meyra ketus.
Leo duduk begitu saja. Apalagi tanggapan Meyra tak seperti yang Leo harapkan. Bersikap manis seperti saat Meyra masih menjadi manager keuangan perusahaan.
"Apa kabar?" basa basi Leo.
"Seperti yang anda lihat, aku baik," jawab Meyra.
"Apa kamu tak ingin duduk?" ulas Leo.
"Aku sibuk. Jadi langsung aja, apa maksud anda mencariku?" tegas Meyra.
Wanita ini kenapa jadi ketus begini? Seakan ada benteng yang ingin dia bangun. Apa dia sudah tahu maksud kedatangan aku ke sini. Batin Leo.
"Hanya ingin tahu kabar kamu saja," celetuk Leo. Padahal dalam pikirannya tidak ingin bertanya tentang itu. Kenapa mulut sama otakku tidak sinkron hari ini? Pikir Leo dalam benak.
"Sudah aku kasih tahu, kalau keadaan aku baik. Jadi silahkan pergi kalau anda sudah selesai," usir Meyra.
"Hey Leo, aku mencari kamu keliling kota. Ternyata kamu di sini. Untung aja si Linda kasih tahu tadi," terdengar suara merdu seorang wanita di belakang Meyra berdiri.
Mendengar suaranya, itu pasti Alea.
Meyra pergi menjauh.
Dia pasti disuruh kakek nih menyusulku. Sialan. Leo mengumpat dalam hati.
Semalam kakek mengancam, jika tak secepatnya bertunangan maka akses Leo ke perusahaan dan segala fasilitas akan dicabut paksa oleh kakek.
Meyra berbalik dan meninggalkan begitu saja Leo yang masih terpaku di tempat.
Alea dengan seenaknya menggandeng lengan Leo.
"Lapar, makan yukkk," ajak Alea sembari melihat sekeliling area kafe.
"Makan aja sendiri, aku kenyang," kata Leo ketus. Alea tersenyum smirk. Yakin dia akan memenangkan hati Leo, karena dukungan penuh sang kakek.
"Come on Leo! Apa perlu aku menghubungi kakek Armando?" ada ancaman di balik perkataan Alea.
"Sialan," umpat Leo buat Alea.
"Eittssss, aku calon istrimu. Kenapa mengumpatiku?" Alea tersenyum renyah.
Pegangan tangannya semakin Alea eratkan.
Leo terpaksa pergi daripada Alea tahu keberadaan Meyra dan membuat urusannya semakin rumit.
Di balik kaca, Meyra memperhatikan itu.
"Laki-laki buaya," celetuknya dalam gumaman.
"Sok jual mahal, nyatanya mau aja digandeng cewek berdada besar," kata Meyra gusar.
"Amit-amit," Meyra mengetuk tangannya ke atas meja.
"Amit-amit kenapa kak? Tuan Leo tampan loh. Serasi sekali sama cewek seksi tadi," ucap Melanie yang ternyata berdiri di belakang Meyra.
"Amit-amit kalau punya suami macam itu," bilang Meyra membuat Melanie tertawa.
"Kalau aku sih realistis kak," balas Melanie.
"Maksudnya?"
"Seandainya tuan Leo tadi jodohku, tentu aku akan langsung menerimanya dengan besar hati," Melanie tertawa.
"Bangun dari mimpi lo, tuh ada pengunjung datang," Meyra membungkam mulut Melanie yang masih saja tertawa.
"Siap bos," tukas Melanie tak lagi mengolok Meyra.
.
Leo tak mengajak Alea pergi makan, tapi mengarahkan mobil ke tempat proyeknya berlangsung.
Di sana sudah ada Adnan.
"Adnan, kamu pesenin dia makanan tuh. Katanya lapar," suruh Leo.
"Kita ke resto aja. Ngapain makan di sini. Ogah gue. Tempatnya juga masih jorok," tolak Alea.
"Adnan, tahu nggak resto yang recomended di sini?" lanjut tanya Alea.
"Tuh, kafe di depan. Menunya enak-enak loh. Pas banget di lidah," beritahu Adnan membuat Leo melotot ke arah Adnan.
Bisa-bisanya Adnan merekomkan kafe Meyra.
"Kafe kecil tadi? Kafe yang penampakannya hampir mirip warteg itu kah?" komen Alea.
"Aku barusan nyusulin Leo dari sana," beritahu Alea.
Adnan tak kuat menahan senyumnya, 'Rasain bos,' Adnan menertawakan Leo dalam hati.
"Apa nggak ada resto lain? Sepertinya taste lidah kamu sudah berubah sejak ke sini Adnan?" olok Alea.
"Mungkin saja," balas Adnan tanpa mau menyangkal.
"Tuan bos, aku pergi dulu. Makan siang sama Linda," Adnan beranjak dari duduk dan keluar ruangan.
'Kesempatan nih,' pikir Alea dalam hati.
Misiku hari ini harus sukses. Aku harus membuat Leo bertekuk lutut dan mau menikah denganku.
"Mau kuambilkan minum?" Alea menawari.
Dirinya tak lagi merengek untuk pergi ke resto. Tak ada reaksi balasan dari Leo. Leo diam tak menjawab.
Alea telah kembali membawa air putih dingin dalam kemasan botol.
"Nih," Alea menyodorkannya ke Leo.
Leo meneguknya, karena sejatinya dia menahan haus dan lapar selama menunggu Meyra tadi.
Alea tersenyum. Tinggal selangkah lagi, gumamnya dalam hati.
Leo mulai merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya.
"Kenapa pendingin ruangannya tidak berasa sama sekali? Gimana sih Adnan ini? Alat baru kenapa troble?" omel Leo sembari melepaskan jas yang dipakai dan melonggarkan dasinya.
Alea tak melepas kesempatan itu dengan mendekati Leo.
Alea duduk di atas meja samping Leo dan sengaja melihatkan paha mulus.
Leo berkali-kali mengusap wajahnya.
"Sepertinya kamu butuh penyaluran, aku tak menolaknya," bisik nakal Alea di telinga Leo.
Saat masuk tadi, Alea telah mengunci pintu. Jika Adnan datang, otomatis dia tak bisa langsung masuk.
Alea mulai membuka kancing atas baju yang dipakainya. Dan beralih duduk tepat di depan Leo.
Hasrat Leo yang mulai naik pun tak menyiakan kesempatan itu.
Tinggal selangkah lagi kamu akan jadi milikku Leo, janji Alea dalam hati.
Alea mulai berani bertingkah nakal dan menciumi ceruk leher Leo.
Leo melenguh. Alea aktif sekali. Bahkan kedua aset kembarnya telah menyembul sempurna dan menantang Leo untuk segera melahap.
"Apa kamu terbiasa nakal begini? Aku tahu kamu telah menaruh sesuatu di minumanku tadi. Kamu harus tanggung jawab," bisik Leo dan menggigit belakang telinga Alea.
"Hei... Tentu saja aku siap. Kamu adalah calon suami aku," kata Alea yakin.
Leo melahap dan bermain di area buah cerry milik Alea. Bagai bayi yang kehausan, Leo nampak rakus sekali. Bahkan tangannya juga aktif menyibak segitiga bermuda milik Alea.
'Kenapa longgar sekali?' pikir Leo dalam hati. Meski dalam pengaruh obat, pikiran Leo masih waras. Leo menikmati apa yang disuguhkan oleh Alea.
Cukup lama mereka bermain, bahkan apa yang menjadi kebanggaan Leo telah tegak sempurna.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Happy reading
Jangan lupa like, komen and vote nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Nicky Nick
dsr leo bodooh..
2025-02-03
1
Tania
sukanya kl othor rajin begini
2023-08-06
2