Meyra pulang, dan di rumah sudah duduk Reynand di ruang tamu menunggunya.
"Rey, kamu pulang?" ucap lirih Meyra.
"Apa sudah kamu buang janin kamu Mey?" Reynand menatap tajam Meyra.
"Rey," Meyra tak percaya dengan kata kasar Reynand barusan.
"Owh, melihatmu seperti itu. Aku pastikan kamu mempertahankannya. Bodohnya kamu Reynand?" kata Reynand menyalahkan dirinya sendiri.
"Rey, aku tak mau menambah dosa lagi. Tolong mengertilah!" seru Meyra.
"Mengerti? Mengerti istriku mengandung anak orang lain? Nonsense!" kata Reynand ketus.
"Rey, aku tak sengaja melakukan semua. Selama lima tahun bersama aku selalu menjaga janji suci pernikahan kita," tukas Meyra.
"Cih...semakin pintar saja kamu mengolah kata Mey. Tapi apa buktinya? Hah?" bentak Reynand. Tak ada lagi panggilan sayang untuk sang istri.
"Terserah! Aku sudah mengatakan yang sebenarnya," balas Meyra emosi seperti Reynand.
Meyra memilih diam, daripada pertengkaran akan semakin menjadi.
Dia mengaku salah karena hamil dengan pria lain, padahal nyatanya dia masih berstatus istri Reynand. Tapi apa iya, Meyra harus membuang juga janin tak bersalah itu? Big No. Meyra tak akan melakukan semua itu.
"Rey, kalau kamu paksa pun. Aku tak akan melakukan dosa besar lagi. Cukup sekali aku melakukan kesalahan besar padamu. Dan itu tak akan kulakukan pada janin ini," kata Meyra.
"Oke, kalau itu permintaan kamu. Tunggu saja surat cerai datang," ancam Reynand dan bersiap meninggalkan rumah yang telah ditinggalinya bersama Meyra selama lima tahun terakhir ini.
"Kamu mau kemana?" Meyra mencoba menghalangi kepergian sang suami, tapi Reynand dengan sengaja menepisnya.
"Terserah gue," Reynand menjawab singkat.
Meyra tak menghalangi.
Percuma berdebat saat sang suami dikuasai emosi.
Ternyata itulah pertemuan yang terakhir dengan Reynand.
Setelah tak bekerja Meyra disibukkan dengan kegiatan rumah tangga dengan kehamilan yang semakin membesar.
"Melahirkan pasti butuh biaya besar, aku harus bekerja lagi. Tak mungkin aku ngandelin tabungan semua," gumam Meyra.
Tok... Tok... Tok...
Pintu diketuk dari luar. Meyra bergegas ke sana.
"Iya," sapa Meyra.
"Nyonya ada paket. Tolong ditandatangani," seru tukang paket itu.
"Aku nggak pernah pesan apapun pak," jawab Meyra meragu.
"Apa anda Nyonya Meyra?" Meyra pun mengangguk.
"Nih, ada nama anda di penerima paket. Berarti aku tak salah nyonya," serunya.
"Hhmmm baiklah," Meyra hendak menerimanya.
"Eiiittssss, tunggu dulu. Ini ongkos kirimnya cod," bilang sang kurir.
"Berapa sih?" Meyra sampai lupa.
"Tiga puluh tiga ribu rupiah," jelasnya
Meyra membuka amplop paketan itu dengan harap cemas setelah melihat nama pengirimnya.
Meyra terduduk lemas karena Reynand membuktikan ucapannya.
Paket itu ternyata berasal dari pengadilan agama, meminta Meyra datang ke sana dua hari lagi untuk sidang cerai.
.
Meyra datang ke pengadilan dengan perut membuncit.
Orang tuanya sengaja tak diberitahu karena sudah tua. Selain itu Meyra tak ingin merepotkan keduanya.
Tapi lain halnya Reynand, dia didampingi kedua orang tuanya yang memandang sinis ke arah Meyra.
"Istri gatel sudah datang tuh. Bilang pak hakim sana agar segera dimulai," suruh mama Reynand.
"Punya suami baik kok masih kurang? Dan lebih memilih mengandung anak selingkuhan? Cih!" olok mama Reynand.
Meyra diam saja. Malas untuk menanggapi.
Setelah beberapa kali persidangan, ketuk palu hakim memutuskan Reynand dan Meyra berpisah.
Meyra menghela nafas dalam saat keluar ruang sidang.
"Huh, mungkin ini jalan yang musti aku lewatin. Hamil tanpa didampingi suami," ucap Meyra dan berjalan menuju mobil.
Mama mertua mengejar Meyra.
"Meyra... Meyra....?" panggil sang ibu mertua.
"Iya mah," Meyra menghentikan langkah.
"Ingat, Reynand juga punya hak atas harta bersama kalian," kata ibu mertua.
"Sudahlah bu, aku ikhlas untuk Meyra," ujar Leo dibelakang mereka.
"Nggak bisa, gono gini itu harta bersama. Dan musti dibagi,"
"Nih Rey, kunci rumah. Kamu tinggal aja di sana. Habis ini aku pergi," seru Meyra.
"Nah, gitu dong," balas mama Reynand antusias.
Meyra pergi, dan tetap pamitan ke mantan suaminya.
"Kamu mau ke mana? Kamu pasti lebih butuh rumah itu Mey," ucap Reynand.
"Makasih, tapi aku ingin menenangkan diri Rey," tolak halus Meyra.
"Tapi kita masih tetap berhubungan baik kan? Meski kita tak lagi berjodoh?" seru Reynand.
Meyra hanya tersenyum kecut, tak menjawab apapun.
"Bye Reynand," Meyra pergi dengan asa yang berbeda. Asa bersama janin di perut yang ditengarai kembar itu.
.
Dengan sisa tabungan yang ada, Meyra pergi menepi ke kota yang jauh.
Meyra ingin mulai kehidupan yang baru, lepas dari bayang-bayang masa lalu.
Sebelum pergi, Meyra tak lupa pamit kepada kedua orang tuanya.
Meski mereka ingin putrinya tinggal bersama sampai melahirkan, tapi karena keinginan kuat Meyra maka keduanya tak bisa menahan.
Meyra pergi ke sebuah kota kecil yang terletak di bawah pegunungan.
Hawa sejuk dan tak ada polusi menjadi pertimbangan utama Meyra.
Meyra tinggal di sebuah kompleks sederhana, dan hanya beberapa keluarga yang tinggal di sana.
"Sebaiknya aku buka usaha apa ya? Tak mungkin juga selamanya mengandalkan uang tabungan," pikir Meyra.
"Kota kecil seperti ini, yang cocok apa ya?"
Tok... Tok...
Pintu depan rumah type empat lima itu seperti ada yang mengetuk.
Meyra bergegas membukanya. Dan ternyata salah satu tetangganya datang mengunjungi.
"Selamat pagi nyonya," sapanya.
"Aku Bu Agus, rumah yang tinggal di depan," katanya mengenalkan diri.
"Oh ya, aku Meyra bu," Meyra menyalami tetangga barunya itu.
"Hamil?" sela bu Agus melihat keadaan Meyra dengan perut membuncit.
Meyra tersenyum.
"Kok sepi?" telisik bu Agus.
"Aku memang sendirian," jawab Meyra.
"Suami?"
"Di luar kota," Meyra menjawab tetangga yang kepo itu.
.
Sementara itu, di perusahaan Leo lebih sering marah-marah sejak Meyra resign tiga bulan lalu.
Baginya, tak ada karyawan yang kemampuannya seperti Meyra.
Adnan juga sering dibuat bingung dengan permintaan aneh-aneh sang bos.
"Adnan, siang ini aku ingin karedok," ucapnya tanpa merasa bersalah setelah marah-marah di bagian keuangan.
"Karedok? Makanan apa itu?" seru Adnan menanggapi.
"Lihat aja di akun sosmed kamu, aku juga barusan tahu. Dan sepertinya enak," imbuh Leo.
"Tuan bos belum pernah nyoba?" dan dijawab gelengan Leo.
Adnan hanya bisa menepuk jidat.
"Andai ada nyonya Meyra, pasti gue kagak kena semprot saben hari," gerutu Adnan sambil menscrol ponsel untuk mencari makanan yang diminta sang bos.
"Apa lo bilang?" Leo menghentikan langkah.
"Kalau tak mau kupecat, jangan sebut nama nya lagi di depanku,"
"Iya... Iya...," Adnan ngedumel laiknya lebah madu.
Adnan menghentikan langkah dengan menyeru memanggil sang bos.
"Tuan, nih ada karedok. Tapi tempatnya jauh amat," kata Adnan.
Perlu dua jam perjalanan untuk sampai sana. Batin Adnan.
Leo yang ikut melihat, "Kita kesana sekarang!"
"Hah? Sampai segitu niatnya?" Adnan tak percaya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Dlaaa FM
Wow. Leo kena kehamilan sempatik.
Lanjutannnnnnn
2023-07-24
2