Adnan datang tergopoh menghampiri Leo yang masih fokus dengan setumpuk berkas.
"Tuan... Tuan bos... Kita kecolongan," seru Adnan.
"Apanya?" Leo mendongak.
"Tuan... Tuan besar Armando sedang menuju ke sini," jelas Adnan.
"Kenapa tak kamu cegah? Dasar bodoh kamu Adnan," Leo ikutan membantu Adnan membersihkan mejanya.
"Mana aku bisa mencegah tuan besar datang ke perusahaannya sendiri?" Adnan membela diri membuat Leo menoyor kepala asisten yang dekat dari jangkauannya itu.
"Padahal kemarin aku barusan mampir. Huh, merepotkan saja," keluh Leo.
Tuan Armando telah sampai di lobi, meski telah berumur terlihat langkahnya masih tegap dan berwibawa.
"Kemana cucu tak tahu diuntung itu?" serunya di antara karyawan Leo.
Kakek teringat bagaimana Leo menolaknya mentah-mentah saat tahu hendak dijodohkan.
Padahal calonnya saja belum disebutkan oleh sang kakek.
Leo mengancam akan mogok kerja sampai kakek menarik keputusannya itu.
Dan pagi tadi endingnya, kakek menerima beberapa lembar foto yang dikirimkan oleh anonim.
Kakek lumayan terkejut melihat sang cucu tidur seranjang dengan seorang wanita cantik di sebuah kamar hotel. Badan mereka pun hanya tertutup di bawah selimut yang sama.
Sebenarnya dalam hati kecil kakek, sedikit senang. Tenyata sang cucu masih pria normal.
Keluar dari lift, netra kakek Armando tertuju ke arah seorang wanita cantik yang barusan keluar dari toilet.
"Tya, apa dia karyawan perusahaan ini?" seru kakek kepada asisten tomboynya itu.
"Tentu saja tuan, dia nyonya Meyra. Manager bagian keuangan," jelas Tya.
"Apa dia sudah menikah?" lanjut kakek.
"Aku tak sehafal itu tuan. Bisa aku tanyakan ke bagian HRD dulu," ucap Tya.
"Nggak usah," tolak tuan Armando sembari melanjutkan langkah melewati Meyra yang menunduk hormat saat dirinya lewat.
Meyra balik ke ruangannya.
"Kak, apa tadi papasan dengan tuan besar yang mengerikan itu," bisik Dona saat Meyra duduk di tempatnya.
"Nggak usah negatife thinking. Kalau nggak ada tuan Armando, mana bisa lo kerja di sini," tukas Meyra membuat Dona tertawa.
Meyra sibuk dengan layar komputer di depannya dan fokus dengan laporan keuangan yang barusan dikirimkan dari masing-masing cabang.
.
Di ruangan Leo, tuan Armando datang dengan berkacak pinggang.
"Tya, kasihkan yang tadi ke cucu yang tak tahu diuntung itu!" suruh kakek.
"Owh, kakek ke sini mau kasih bingkisan? Makasih kek," balas Leo.
Tuan Armando menjitak cucu yang secara usia sudah mapan untuk menikah itu.
"Apaan sih kek?" kata Leo sewot .
Tya memberikan sebuah amplop kepada Leo.
"Wahhhh, bonus pertengahan tahun nih," kata Leo antusias membuka.
Leo lumayan terkejut saat ada foto dirinya yang sedang tidur bersama Meyra dipegang olah kakek.
"Jelaskan!" kata kakek dengan tangan bersedekap di dada.
"Itu hanya salah paham kek," terang Leo.
"Salah paham apanya. Kamu meniduri wanita yang bukan istri kamu Leo," hardik kakek.
"Isshhh kakek kolot amat," dalam hati Leo menyangkal kata kakek yang menuduh dirinya meniduri cewek bukan istrinya.
Memang tuh cewek bukan istri Leo, tapi istrinya orang lain. Puas kamu kek. Gerutu Leo dalam hati.
"Kamu harus tanggung jawab Leo," seru kakek.
Sekarang saat yang tepat untuk menekan Leo agar segera menikah.
"Kek, itu nggak akan terwujud," mana bisa dia nikahin Meyra. Meyra itu istri orang lain. Batin Leo.
"Kenapa?" kejar kakek.
"Kita hanya melakukannya karena suka sama suka kek," alibi Leo.
"Suka sama suka? Apa itu artinya one night stand?" balas kakek.
"Idih, kakek paham ONS segala. Jangan-jangan kakek pernah ngelakuin ya...?" olok Leo.
Kembali kakek mencubit lengan Leo karena sebal.
Bisa-bisanya nuduh kakek melakukan ons. Nenek Leo adalah cinta sejatinya. Tak mungkin bagi kakek mengkhianati wanitanya.
"Adnan, panggil wanita yang ada di foto ini sekarang!" suruh tuan Armando.
Adnan melihat Leo menggeleng.
"Nggak usah dengerin Leo. Kalau kamu dipecat, aku yang akan tampung kamu," ucap kakek.
"Wanita yang mana kek?" tanya Leo pura-pura tak tahu.
"Manager bagian Keuangan," jawaban kakek membuat Leo menelan ludahnya kasar. Ternyata kakeknya lebih tahu dari perkiraannya.
Hidupnya berasa di ujung tanduk sekarang, kalau ketahuan sang kakek dia ONS dengan Meyra. Apalagi status Meyra yang merupakan seorang istri orang. Bisa habis digilas kakek nantinya.
"Adnan, panggil dia," suruh kakek dengan nada menggelegar.
"Kek," Leo berusaha mencegah.
Leo teringat akan kata Meyra yang saat itu mengatakan ingin melupakan apa yang terjadi dan menganggap seolah tak terjadi apa-apa.
"Apa? Kamu mau mengelak? Tak mau tanggung jawab?" hardik kakek.
"Tapi..." Leo menggaruk rambutnya yang tertata rapi itu.
"Tapi apa? Mau buat malu keluarga Armando?" tukas kakek.
Leo tak habis pikir, meski warga keturunan tapi kolotnya kakek melebihi warga negara sendiri.
Adnan sudah balik bersama Meyra, membuat jantung Leo senam tak berirama.
"Selamat pagi tuan besar," sapa Meyra dengan rasa sopan.
"Cih, jadi wanita ini yang sengaja menjebak cucuku untuk ONS?" kata kakek ketus.
Meyra menautkan alisnya, "ONS????" reflek Meyra.
"Iya... ONS, One Night Stand," jelas tuan Armando sejelas-jelasnya.
Meyra menutup mulut. Mendengar ucapan tuan besar tadi, Meyra mengerti jika sang pemilik perusahaan sudah tahu kejadian malam itu.
Meyra melotot ke arah Leo, mengira Leo lah yang bercerita ke tuan Armando. Sementara Leo hanya mengedikkan bahu.
Tuan Armando tertawa dalam hati melihat keduanya.
Meski termasuk keluarga konglomerat, tuan Armando tak pernah membedakan kasta. Kali ini kakek tua itu ingin ngerjai cucu dan juga wanita itu.
"Nona Meyra, jadi benar apa yang aku katakan tadi?" ulang kakek.
"Maksudnya apa tuan besar?" tukas Meyra.
"Kamu ingin menjebak cucuku? Menginginkan hartanya?" telisik tuan Armando.
"Wanita licik," lanjut kakek berumur itu.
"Hah? Anda menuduhku?" ujar Meyra tak percaya.
"Aku bukan wanita seperti itu. Keluarga saya mendidik untuk selalu setia dan bersikap jujur tuan," tegas Meyra.
"Lalu ini apa?" tuan Armando meraih foto yang tadi dilemparkan ke arah Leo.
Meyra menatap sembari menutup mulut.
Malam kejadian itu kembali melintas di pikirannya.
Meyra mengelus perut yang kini bersemayam dua janin hasil dari kejadian itu.
Sedetik kemudian Meyra merasakan mual yang luar biasa.
Meyra berlari ke arah toilet yang ada di ruangan Leo. Kalau lari ke toilet karyawan maka Meyra harus turun satu tingkat di bawah lantai ini. Tentu akan lama.
Hoek... Hoek.... Meyra kembali memuntahkan sarapan yang baru ditelannya sebelum dipanggil Adnan tadi.
"Apa itu artinya aku akan punya cicit?" tanggap kakek.
Leo hanya bisa menepuk jidat.
Ini bukan perkara mudah seperti yang dipikirkan oleh kakek.
Bisa jadi janin yang dikandung Meyra adalah anak suaminya, bukan Leo.
Mereka hanya melakukan kegiatan itu semalam. Sementara Meyra bersama suaminya hampir tiap malam. Mana mungkin itu bayiku. Sangkal Leo.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Tania
lanjut thor
2023-07-22
2