Kepo

Adnan tak menuruti perintah Leo, dan melajukan mobil ke kediaman tuan Armando.

"Ngapain kita ke sini?"

"Tuh!" arah mata Adnan menunjuk seseorang yang berkacak pinggang dan berdiri di sebelah Leo.

Leo membuang nafas kasar, "Matih gue," keluh Leo.

"Siapkan dirimu! Malam ini keluarga Alea akan datang untuk makan malam," tegas tuan Armando.

"Tuan bos, aku balik ke perusahaan dulu," sela Adnan di antara dua tuannya yang sedang beradu pandang itu.

"Gak bisa Adnan, lo harus mulai jalankan misi yang aku perintahkan tadi" tegas Leo.

"Misi apa?" telisik tuan Armando.

"Begini tuan...," Adnan hendak menjelaskan, tapi keburu ditahan oleh Leo.

"Pergi lo!" suruh Leo membuat Adnan buru-buru melajukan mobil.

Daripada harus berdiri di tengah mereka berdua, tentu sangat menyulitkan bagi Adnan.

"Gimana keadaan kamu Leo?" tanya kakek Armando sepeninggal Adnan.

"Seperti yang kakek lihat, badanku masih berada lemas," jelas Leo.

"Ya sudah istirahat aja dulu, siapkan buat makan malam nanti," suruh kakek.

"Harus ya? Hari ini aku hanya ingin tidur kek. Di rumah sakit aku malah nggak bisa istirahat," curhat Leo.

"Harus. Mereka dengan sabar menunggu kamu ada waktu Leo," balas Armando.

"Kan masih ada besok, besok lagi atau seminggu lagi kek," karena Leo hari ini hanya ingin menghabiskan waktu di kamar dan sembunyi di bawah selimut tebal kamarnya.

Beberapa hari nggak bisa tidur nyenyak, membuat Leo ingin membayar lunas semua dengan tidur seharian ini.

Leo melangkah gontai masuk mansion.

Malas dengan seruan kakek.

.

Di kediaman Meyra, dia tengah sibuk dengan kedua bayi yang rewel bersamaan.

"Apa sebaiknya aku cari pengasuh saja ya, biar bisa bantuin jaga dan juga bantu bersih-bersih rumah," gumam Meyra.

Beberapa hari begadang, mata panda Meyra semakin nampak saja.

Tok... Tok...

"Masuk aja bu Agus," seru Meyra dari dalam rumah.

Bu Agus dan beberapa tetangga datang berkunjung.

Meski banyak jiwa kekepoan mereka, tapi sejatinya mereka baik.

Tak ingin melihat Meyra susah.

Terkadang Meyra dibuat tersenyum oleh obrolan mereka yang sedang bergunjing. Biasalah ibu-ibu kompleks.

Malah ada juga yang nanya to the point, alias tanpa tedeng aling-aling atau tanpa basa basi.

Seperti bu Agus ini, "Mey, apa suami kamu tak ingin lihat anak-anaknya? Mereka ini lucu sekali loh Mey," seru bu Agus yang memang secara usia seperti ibu Meyra.

Meyra hanya menanggapi dengan senyuman.

"Suaminya pasti sibuk jeng, nyari duit buat masa depan anak-anak yang menggemaskan ini," sela yang lain.

"Iya kan bu Mey?" ucap yang lain.

"Aamiin, makasih doa-doa ibu semua," balas Meyra.

Ibu-ibu kompleks itu pergi setelah memberi bingkisan buat bayi-bayi tampan Meyra.

Sejenak Meyra teringat akan kebutuhannya mencari ibu pengasuh buat kedua putranya.

Meyra coba nyari lewat sosmed, iklan-iklan baby sitter.

Tok... Tok... Terdengar pintu depan ada yang mengetuk lagi.

"Siapa lagi ya?" gumam Meyra dengan mata masih tertuju di layar ponsel.

"Iya, sebentar," kata Meyra untuk menyahut ketukan.

Dan Bayu lah yang datang.

"Ada apa Bayu?" tanya Meyra.

"Begini nyonya, karena untuk sementara kafe masih tutup dalam proses penyelidikan. Kami ijin untuk bekerja di tempat lain. Kebetulan di depan kafe mau dibangun hotel dan restoran," kata Bayu.

"Oh ya? Bukannya di depan kafe ada angkringan juga?" sela Meyra.

"Dibongkar dua hari ini nyonya, makanya kita-kita repot juga cari tongkrongan," balas Bayu.

"Oke lah Bayu. Aku juga belum tahu sampai kapan kafe tutup. Picik sekali kalau aku menahan kalian untuk tidak bekerja," kata Meyra.

"Nggak papa nyonya. Tapi kalau nanti kafe buka lagi, bolehkan kita bekerja lagi?" ijin Bayu.

"Owh, tentu saja," seru Meyra mengiyakan.

'Mau dibangun restoran? Ntar bagaimana nasib kafeku?' pikir Meyra. Padahal setelah ini dirinya butuh uang yang tak sedikit untuk biaya anak-anaknya kelak.

Oek... Oek... Terdengar kedua bayi tampan itu saling menangis bersamaan.

.

Di mansion tuan Abraham, Leo baru bangun tidur setelah keluarga Alea hendak pamitan pulang. Bangun itupun karena diancam oleh kakek Armando.

"Iya... Iya... Aku ke depan," balas Leo saat kakek Armando menelponnya yang keseratus sekian kali.

Leo hanya mengenakan kaos rumahan dengan rambut acak-acakan serta kelopak mata bagai berasa di lem.

Leo menyodorkan tangan hendak berkenalan, tapi tangan itu ditepis dalam waktu sepersekian detik.

"Iissshhh apaan sih?" suara itu membuat netra Leo langsung terbuka.

Dan ternyata yang disodori tangannya adalah kakek Armando.

"Ooopppssss..., Malam kek," sapa Leo tanpa merasa bersalah.

"Sapa tuh Alea dan kedua orang tuanya," suruh kakek membuat pandangan Leo beralih.

'Cantik, tapi Alea bukan type gue,' pikir Leo dalam benak.

"Kok bengong kalian?" sela kakek Armando.

Leo menyodorkan tangannya ke arah wanita muda bertubuh sintal dengan belahan dada rendah itu.

"Leo," sebut Leo.

"Lea, tepatnya Alea," Alea menyebut namanya.

Ponsel Leo berdering saat dirinya hendak memulai obrolan dengan Alea.

"Halo Adnan," sapa Leo.

"Tuan Bos, aku mau melaporkan hasil misi anda hari ini," seru Adnan.

'Wah, kesempatan melarikan diri nih dari kerumunan ini,' pikir Leo.

Leo beranjak dan hendak balik kanan.

"Mau ke mana lo?" seru kakek Armando.

"Adnan mau melaporkan sesuatu, dan kakek dilarang untuk kepo. Bye... Makasih," balas Leo telak.

"Leo, duduk!" suruh kakek.

"Sudah biarkan saja tuan, barangkali tuan muda ada urusan kerjaan dengan asistennya," kata Alea dengan gestur memamerkan body goalnya.

Leo mencibir dan berlalu tanpa bersuara, meninggalkan sang kakek dan keluarga Alea.

"Bagaimana Adnan? Sudah ketemu jejak Meyra?" tanya Leo begitu jauh posisinya dari sang kakek.

"Belum tuan, tapi sore ini aku ijin. Meluncur ke proyek kita di kota B," beritahu Adnan.

"Sialan, kirain sudah ketemu dia," umpat Leo.

"Kalau ketemu, mau kau nikahin tuan? Bukannya sudah ada Nona Alea?" tukas Adnan terbahak. Sengaja mengolok Leo yang mau dijodohkan itu.

"Iissssshhh...," desis Leo sebal.

"Mau ngapain lo ke kota B?"

"Supervisi lahan proyek hotel dan resto perusahaan lah. Mau apalagi? Oh ya, ijin tuan bos. Linda sekalian aku ajak," ucap Adnan.

"Awas saja Linda lo apa-apain. Dia terlalu polos untuk kamu babat," balas Leo.

"Cih, bukankah tuan bos lebih parah. Melakukan tapi menolak hasilnya...." olok Adnan.

Leo terdiam. Selama ini dia memang menolak kehamilan Meyra. Yang bahkan saat itu Meyra sudah mengatakan semuanya dengan jelas.

Leo mengacak rambutnya, "Dosa apa gue? Sampai menghancurkan sebuah keluarga," gumam Leo dan kembali berjalan ke kamar.

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

To be continued, happy reading

Terpopuler

Comments

Dwi Estuning

Dwi Estuning

ceritanya asik Thor

2024-09-18

3

lihat semua
Episodes
1 Kesibukan Kerja
2 Tragedi Semalam
3 Garis Dua
4 Fasilitas Mewah
5 Manager Cantik
6 Kenyataan Pahit
7 Terjebak
8 Bertahan atau Lepaskan
9 Sidak Tuan Besar
10 Akal Bulus Kakek
11 Resign
12 Kepulangan Suami
13 Divorce
14 Launching Si Kembar
15 Kenyataan yang Sebenarnya
16 Kepo
17 Pemilik Restoran
18 Dilema Meyra
19 Pertemuan Tak Sengaja
20 Jebakan
21 Siapa Alea
22 Kondisi Kakek
23 Anak Siapa?
24 Maaf Tertolak
25 Pengusiran
26 Kepingan Masa Lalu
27 Kepingan Masa Lalu (2)
28 Ancaman buat Meyra
29 Tamu Tak Diundang
30 Pergi Bersama
31 Kecewa
32 Tak Sesuai Harapan
33 Keraguan
34 Hujatan
35 Terjebak di Rumah Sendiri
36 Klarifikasi
37 Ikuti Alur Saja
38 Durante Operasi
39 Tidak Ada Yang Mirip
40 Buaya kok Dikadalin
41 Leo versus Reynand
42 Reynand dan Alea
43 Sabotase
44 Tak Ada Yang Tak Mungkin
45 Masih Saja Ditolak
46 Tak Berbelit
47 Orang Dalam Pengkhianatnya
48 Musang Berbulu
49 Belah Durian
50 Jalan-jalan
51 Konspirasi
52 Disorientasi
53 Tiga Bulan
54 Gravida
55 Belum Ingat
56 Masih Sama
57 Dua Kosong Sembilan Belas
58 Pulang atau Mampir?
59 Empat Tahun Kemana?
60 Tak Mampu Mengingat
61 Masih Di Rumah Sakit
62 Kebenaran Yang Diyakini
63 Ingat Nama Lupa Muka
64 Membuat Bahagia
65 Sendirian Pergi
66 Ular Betina
67 Ular Betina (1)
68 Emesis
69 Drama Sarapan
70 Main Game
71 Perangkap
72 Penyergapan
73 Penyergapan (2)
74 Rasa Bersalah
75 Psikiater
76 Again
77 Rawat Jalan
78 Semakin Baik
79 Muter-muter
80 Harap Cemas
81 Sehat
82 Promo 'Lost Memory'
83 Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84 Mampir guyssss @SECOND WIFE
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Kesibukan Kerja
2
Tragedi Semalam
3
Garis Dua
4
Fasilitas Mewah
5
Manager Cantik
6
Kenyataan Pahit
7
Terjebak
8
Bertahan atau Lepaskan
9
Sidak Tuan Besar
10
Akal Bulus Kakek
11
Resign
12
Kepulangan Suami
13
Divorce
14
Launching Si Kembar
15
Kenyataan yang Sebenarnya
16
Kepo
17
Pemilik Restoran
18
Dilema Meyra
19
Pertemuan Tak Sengaja
20
Jebakan
21
Siapa Alea
22
Kondisi Kakek
23
Anak Siapa?
24
Maaf Tertolak
25
Pengusiran
26
Kepingan Masa Lalu
27
Kepingan Masa Lalu (2)
28
Ancaman buat Meyra
29
Tamu Tak Diundang
30
Pergi Bersama
31
Kecewa
32
Tak Sesuai Harapan
33
Keraguan
34
Hujatan
35
Terjebak di Rumah Sendiri
36
Klarifikasi
37
Ikuti Alur Saja
38
Durante Operasi
39
Tidak Ada Yang Mirip
40
Buaya kok Dikadalin
41
Leo versus Reynand
42
Reynand dan Alea
43
Sabotase
44
Tak Ada Yang Tak Mungkin
45
Masih Saja Ditolak
46
Tak Berbelit
47
Orang Dalam Pengkhianatnya
48
Musang Berbulu
49
Belah Durian
50
Jalan-jalan
51
Konspirasi
52
Disorientasi
53
Tiga Bulan
54
Gravida
55
Belum Ingat
56
Masih Sama
57
Dua Kosong Sembilan Belas
58
Pulang atau Mampir?
59
Empat Tahun Kemana?
60
Tak Mampu Mengingat
61
Masih Di Rumah Sakit
62
Kebenaran Yang Diyakini
63
Ingat Nama Lupa Muka
64
Membuat Bahagia
65
Sendirian Pergi
66
Ular Betina
67
Ular Betina (1)
68
Emesis
69
Drama Sarapan
70
Main Game
71
Perangkap
72
Penyergapan
73
Penyergapan (2)
74
Rasa Bersalah
75
Psikiater
76
Again
77
Rawat Jalan
78
Semakin Baik
79
Muter-muter
80
Harap Cemas
81
Sehat
82
Promo 'Lost Memory'
83
Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84
Mampir guyssss @SECOND WIFE

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!