Pemilik Restoran

Leo terdiam. Selama ini dia memang menolak kehamilan Meyra. Yang bahkan saat itu Meyra sudah mengatakan semuanya dengan jelas.

Leo mengacak rambutnya, "Dosa apa gue? Sampai menghancurkan sebuah keluarga," gumam Leo dan kembali berjalan ke kamar.

"Gue harus dapetin anak Meyra. Kalau perlu akan kubayar mahal Meyra," gumam Leo.

"Tapi di mana mereka sekarang? Meyra menghilang bagai di telan bumi," Leo menggerutu.

"Leo, kesini!" panggil kakek.

"Issshhh sial, cewek itu ternyata belum pulang," Leo semakin menggerutu.

Malas untuk ketemu dengan wanita yang dijodohkan kakeknya itu.

Leo tak pernah menyuruh Adnan untuk menyelidiki, karena sejatinya Leo tak tertarik dengan Alea.

"Leo," kakek memanggil lagi.

"Iya," Leo pun mendekat meski dengan rasa berat.

"Aku rasa cucuku akan setuju, jika dalam waktu dekat diadakan pertunangan. Begitu kan Leo?" ucap kakek saat Leo ikutan gabung.

"Hah? Tunangan? Kenal dekat juga belum kek," sanggah Leo.

"Ntar pendekatan habis tunangan juga bisa, jangan banyak alesan," balas kakek membuat keluarga Alea tertawa menanggapi.

"Ingat, banyak juga loh orang menikah tanpa pacaran," imbuh kakek.

"Tapi itu bukan prinsip gue," tetap saja Leo menolak.

"Makanya biar kenal, kamu anterin Alea sekarang!" suruh kakek.

"Nggak bisa kek, aku mau nyusul Adnan ke kota B," Leo mencari alasan.

"No, biar semua diurus sama asisten kamu," kakek tidak mau ada penolakan.

"Lagian badan gue juga belum fit amat," tukas Leo berbanding terbalik dengan alasan pertama. Tadi mau pergi nyusul Adnan, sekarang ingin rebahan di rumah karena belum fit. Aneh memang si Leo.

"Sudahlah kek, masih banyak waktu untuk bisa bersama Leo. Lain kali aja nggak papa. Leo kan juga masih dalam masa pemulihan habis sakit," kata Alea menengahi.

"Tuh, dia aja paham. Kenapa kakek enggak?" balas Leo dengan sewot.

Kakek Armando diam. Sepertinya akan sulit memaksa Leo untuk menerima Alea.

Keluarga Alea telah pergi.

Kakek Armando pun kembali masuk mansion dan mendapati Leo tengah duduk bersandar di ruang keluarga.

"Kenapa kamu? Kusut amat? Bukan Alea kan masalahnya?" tanya kakek dengan ikutan gabung duduk bersama sang cucu.

"Enggak ada apa-apa, hanya masih lemes aja. Bawaannya males," jelas Leo. Leo tak mau menceritakan kenyataan yang baru diketahuinya tadi siang bahwa dirinya telah memiliki anak.

Dalam hati, Leo bertekad harus mendapatkan anaknya. Apapun cara yang akan dipakai. Meski harus memaksa Meyra.

Ponsel Leo berdering, sebuah nomor tak dikenal.

"Huh, siapa lagi ini?" Leo menimang ponsel berlogo apel tak utuh itu.

"Halo," sapa Leo dengan malas.

"Halo Leo, tolong simpan nomor aku ya. Ini aku Alea," kata si penelpon.

"Baiklah," Leo menjawab dengan berat hati.

"Oke, makasih," kata Alea dan langsung mematikan panggilan.

Bukannya menyimpan nomor Alea, Leo menaruh begitu saja ponsel di atas meja.

Tring... Tring... Tring... Beberapa notif pesan langsung masuk ke ponsel milik Leo.

Leo hanya meliriknya sekilas, "Sepertinya nomor tadi," gumam Leo.

"Kurang kerjaan kali," seru Leo bermonolog.

.

Beberapa hari tak melihat kafe, Meyra ingin sekali melihatnya pagi ini.

Meyra sudah dibantu oleh seorang suster yang membantu merawat kedua bayi tampannya itu.

"Sus, pagi ini ikutan aku yuk. Kita ke kafe," ajak Meyra.

"Apa nyonya sudah sembuh? Jahitannya?" tanya suster Rini.

"Sudah nggak nyeri sih Sus," imbuh Meyra.

"Baiklah, aku siapin semua dulu nyonya," kata suster Rini, wanita yang usianya di atas Meyra. Wanita bersuami dan telah berputra itu mau ikut kerja dengan Meyra karena sangat membutuhkan biaya untuk sang anak kuliah, karena suami dinyatakan lumpuh setelah mengalami kecelakaan.

Meski baru beberapa hari ikutan Meyra, sejak sehari setelah Meyra pulang dari rumah sakit. Sus Rini cekatan sekali merawat kedua bayi Meyra. Tentu saja Meyra sangat terbantu dengan kehadiran Sus Rini.

Sesampai di kafe, police line masih terpasang di sana.

"Kafenya kenapa atuh nyonya?" tanya sus Rini dengan heran.

"Habis kerampokan, makanya aku tutup akhir-akhir ini," jelas Meyra.

"Wealah nyonya, kok apes sekali nasib nyonya," tanggap sus Rini.

"Ujian sus, kurang sedekah kali akunya," balas Meyra.

"Yang sabar nyonya, pasti ada hikmah di balik kejadian ini," ujarnya dengan maksud menguatkan Meyra.

"Aamiin,"

Beberapa mobil kepolisian berhenti tepat di depan kafe.

"Kebetulan anda ke sini nyonya, ada yang perlu kita sampaikan keterkaitan kejadian," ternyata beberapa penyidik menyambangi kafe Meyra untuk mencari barang bukti tambahan untuk menjerat pelaku dan juga merek ulang kejadian malam itu.

"Hasil penyelidikan kami, mengarah ke orang-orang anda sendiri," imbuhnya.

"Maksud anda tuan?" dahi Meyra mengkerut.

"Kami sudah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus ini. Dan sebentar lagi akan kita adakan reka ulang," penyidik itu menambahi keterangannya.

"Sus, ajak masuk Rafa dan Rafi ke dalam," suruh Meyra.

Meyra tak ingin kedua bayinya terganggu tidurnya.

Meyra kaget saat Bayu dan kedua temannya turun dari mobil polisi dengan tangan terborgol.

"Apa ini?" ucap Meyra dengan rasa kaget.

"Benar nyonya, merekalah pelaku itu," tutur penyidik memberi penjelasan.

"Tak mungkin tuan, mereka karyawan aku sendiri," Meyra masih belum bisa menerima.

"Tapi itu kenyataannya,"

"Maafkan kami nyonya, kami memang sangat membutuhkan uang itu," ujar Bayu yang pertama kali minta maaf diikuti kedua temannya.

"Kami berdua hanya membantu kak Bayu nyonya, nenek kak Bayu sakit keras dan butuh biaya banyak untuk operasi," jelas teman Bayu.

Meyra memandang penyidik dan dijawab gelengan olehnya.

"Hhhmmm aku maafin atas perbuatan kalian. Tapi maaf proses hukum harus berlanjut," ulas Meyra membuat ketiganya bertekuk lutut di depan Meyra.

Setelah itu, maka diadakanlah reka adegan kejadian malam itu.

Kejadian di mana bersamaan dengan Meyra sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan kedua anaknya.

"Mereka melakukannya untuk berjudi nyonya," jelas sang penyidik sekaligus pamitan.

Kini hanya ada Meyra dan Sus Rini serta Rafa dan Rafi.

"Aku harus cari orang lagi sus agar kafe ini bisa jalan," Meyra duduk di depan suster anaknya.

Padahal rencananya Meyra mau buka keesokan hari. Tapi mana bisa jika separuh karyawannya dibawa oleh penyidik tadi.

Meyra berpikir keras agar bisa cepat mendapatkan uang untuk biaya hidup sehari-hari. Apalagi ada kembar dan sus Rini yang musti Meyra pikirkan juga.

"Apa sebaiknya aku melamar kerja ke restoran depan yang ada hotelnya itu aja ya? Lumayan biar bisa buat nambahin income. Pulang kerja bisa langsung ke kafe," pikir Meyra.

"Hhhhmmm akan aku coba," ucap Meyra yakin.

Apa Meyra akan seyakin itu jika seandainya tahu siapa pemiliknya?

Emang siapa pemiliknya? Author juga belum tahu...he...he...

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

To be continued, happy reading guyyssss

💝

Episodes
1 Kesibukan Kerja
2 Tragedi Semalam
3 Garis Dua
4 Fasilitas Mewah
5 Manager Cantik
6 Kenyataan Pahit
7 Terjebak
8 Bertahan atau Lepaskan
9 Sidak Tuan Besar
10 Akal Bulus Kakek
11 Resign
12 Kepulangan Suami
13 Divorce
14 Launching Si Kembar
15 Kenyataan yang Sebenarnya
16 Kepo
17 Pemilik Restoran
18 Dilema Meyra
19 Pertemuan Tak Sengaja
20 Jebakan
21 Siapa Alea
22 Kondisi Kakek
23 Anak Siapa?
24 Maaf Tertolak
25 Pengusiran
26 Kepingan Masa Lalu
27 Kepingan Masa Lalu (2)
28 Ancaman buat Meyra
29 Tamu Tak Diundang
30 Pergi Bersama
31 Kecewa
32 Tak Sesuai Harapan
33 Keraguan
34 Hujatan
35 Terjebak di Rumah Sendiri
36 Klarifikasi
37 Ikuti Alur Saja
38 Durante Operasi
39 Tidak Ada Yang Mirip
40 Buaya kok Dikadalin
41 Leo versus Reynand
42 Reynand dan Alea
43 Sabotase
44 Tak Ada Yang Tak Mungkin
45 Masih Saja Ditolak
46 Tak Berbelit
47 Orang Dalam Pengkhianatnya
48 Musang Berbulu
49 Belah Durian
50 Jalan-jalan
51 Konspirasi
52 Disorientasi
53 Tiga Bulan
54 Gravida
55 Belum Ingat
56 Masih Sama
57 Dua Kosong Sembilan Belas
58 Pulang atau Mampir?
59 Empat Tahun Kemana?
60 Tak Mampu Mengingat
61 Masih Di Rumah Sakit
62 Kebenaran Yang Diyakini
63 Ingat Nama Lupa Muka
64 Membuat Bahagia
65 Sendirian Pergi
66 Ular Betina
67 Ular Betina (1)
68 Emesis
69 Drama Sarapan
70 Main Game
71 Perangkap
72 Penyergapan
73 Penyergapan (2)
74 Rasa Bersalah
75 Psikiater
76 Again
77 Rawat Jalan
78 Semakin Baik
79 Muter-muter
80 Harap Cemas
81 Sehat
82 Promo 'Lost Memory'
83 Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84 Mampir guyssss @SECOND WIFE
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Kesibukan Kerja
2
Tragedi Semalam
3
Garis Dua
4
Fasilitas Mewah
5
Manager Cantik
6
Kenyataan Pahit
7
Terjebak
8
Bertahan atau Lepaskan
9
Sidak Tuan Besar
10
Akal Bulus Kakek
11
Resign
12
Kepulangan Suami
13
Divorce
14
Launching Si Kembar
15
Kenyataan yang Sebenarnya
16
Kepo
17
Pemilik Restoran
18
Dilema Meyra
19
Pertemuan Tak Sengaja
20
Jebakan
21
Siapa Alea
22
Kondisi Kakek
23
Anak Siapa?
24
Maaf Tertolak
25
Pengusiran
26
Kepingan Masa Lalu
27
Kepingan Masa Lalu (2)
28
Ancaman buat Meyra
29
Tamu Tak Diundang
30
Pergi Bersama
31
Kecewa
32
Tak Sesuai Harapan
33
Keraguan
34
Hujatan
35
Terjebak di Rumah Sendiri
36
Klarifikasi
37
Ikuti Alur Saja
38
Durante Operasi
39
Tidak Ada Yang Mirip
40
Buaya kok Dikadalin
41
Leo versus Reynand
42
Reynand dan Alea
43
Sabotase
44
Tak Ada Yang Tak Mungkin
45
Masih Saja Ditolak
46
Tak Berbelit
47
Orang Dalam Pengkhianatnya
48
Musang Berbulu
49
Belah Durian
50
Jalan-jalan
51
Konspirasi
52
Disorientasi
53
Tiga Bulan
54
Gravida
55
Belum Ingat
56
Masih Sama
57
Dua Kosong Sembilan Belas
58
Pulang atau Mampir?
59
Empat Tahun Kemana?
60
Tak Mampu Mengingat
61
Masih Di Rumah Sakit
62
Kebenaran Yang Diyakini
63
Ingat Nama Lupa Muka
64
Membuat Bahagia
65
Sendirian Pergi
66
Ular Betina
67
Ular Betina (1)
68
Emesis
69
Drama Sarapan
70
Main Game
71
Perangkap
72
Penyergapan
73
Penyergapan (2)
74
Rasa Bersalah
75
Psikiater
76
Again
77
Rawat Jalan
78
Semakin Baik
79
Muter-muter
80
Harap Cemas
81
Sehat
82
Promo 'Lost Memory'
83
Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84
Mampir guyssss @SECOND WIFE

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!