Sidak Tuan Besar

Hoek.... Hoek....,

Terdengar oleh semua yang ada di sana.

"Muntah lagi?????" kata Leo bengong.

"Kenapa Meyra?" ucap Leo lirih.

Semua yang di sana diam mematung.

Dona menyusul Meyra, karena hanya Dona yang pernah ke kediaman Meyra.

"Kakak nggak kenapa-napa kan?" tanya Dona sembari memijat pelan tengkuk sang bos.

"Don, bisa minta tolong ambilin minyak angin di dekat tivi," pinta Meyra.

"Tentu kak," Dona bergegas mengambilkan apa yang diminta olah Meyra.

Meyra menghirup aroma minyak angin itu dalam, dan mualnya pun berkurang.

"Bos, kita pamit ya. Semoga lekas sembuh dan bisa segera gabung. Kantor sepi, nggak ada yang bawain camilan," kata salah satu staf.

Meyra tersenyum menangggapi.

"Kak, Dona juga. Pamit bareng mereka. Daripada musti bayar taksi online," seru Dona.

"Dasar pelit," sela yang lain.

Leo dan Adnan telah balik duluan karena musti ada rapat di resto yang tak jauh dari kediaman Meyra.

.

Tak sengaja Leo dan Adnan bertemu dengan Dirga di resto.

"Selamat siang tuan," sapa Dirga sembari berdiri membungkuk saat Leo dan Adnan melewatinya.

Leo menepuk bahu Dirga pelan.

"Lanjutin aja, bukannya ini jam istirahat siang," kata Leo menyapa manager pemasarannya.

"Iya tuan, sekalian ketemu klien," jelas Dirga.

"Siapa mereka?" tanya teman Dirga yang masih terdengar oleh Leo.

"Bos aku, bos istri kamu juga," jawab Dirga. Leo tak memperdulikan itu.

"Adnan, di mana tempatnya?" seru Leo.

"Di ujung tuan, ruang VVIP," jelas Adnan.

Leo melangkah menuju ruangan yang ditunjuk Adnan.

Belum juga kolega bisnisnya datang, ponsel Leo berbunyi.

"Issshhh selalu saja menelpon di saat yang tak tepat," gerutu Leo sembari melihat layar ponsel miliknya.

Adnan sudah tahu kalaulah yang menelpon adalah kakek tuan mudanya. Siapa lagi kalau bukan tuan besar Armando.

"Kenapa tak diangkat tuan?" tanya Adnan.

"Kamu kan sudah tahu jawabannya, pasti kakek nanya kapan gue nikah," sejak kecil Leo memang tinggal dengan kakek sejak kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan di perlintasan kereta.

"Ha...ha..., memang sudah waktunya tuan," timpal Adnan.

"Kamu mengolokku?" tukas Leo.

"Mana aku berani," elak Adnan.

Rapat berlangsung lama, hampir dua jam Leo dan Adnan berada di sana.

Leo keluar bersama Adnan.

"Adnan, gue mau langsung pulang. Capek banget badan gue," kata Leo.

"Apa itu artinya aku juga boleh pulang awal tuan?" Adnan antusias.

"Owh, tentu saja boleh," jawab Leo.

"Siap, makasih tuan," Adnan merasa senang.

"Asal kamu rela gajian separuh bulan ini," lanjut Leo membuat Adnan tertunduk lesu.

"Diktator," gumam Adnan.

Mereka berdua menuju mobil masing-masing dengan raut muka yang berbeda. Leo dengan wajah puas, sementara Adnan dengan bibir mencebik. Semua nama binatang telah disebutkan Adnan di dalam hatinya.

Di dalam mobil Leo menelpon sang kakek, sementara Adnan telah melajukan mobil kembali ke perusahaan.

"Halo kek," sapa Leo.

"Heh, dasar cucu laknut. Bisa jamuran kakek nungguin kamu telpon balik. Kapan pulang? Sudah dua bulan kamu tak mengunjungi kakek. Kaki kakek sakit nih," omel kakek Armando.

"Kali ini kaki yang sakit, kemarin bisulan. Besok apa lagi alesan kakek?" tukas Leo.

"Dasar cucu tak berguna, hari ini juga kakek tunggu kamu di rumah," umpat kakek.

"Jangan sering marah kek, ntar uban kakek di kepala jadi paripurna loh," balas Leo.

"Biarin, helai rambut kakek yang berwarna hitam tinggal satu doang," kakek membalas ucapan Leo.

Terdengar ketukan pintu mobil.

Leo menengok, dilihatnya sosok pria yang berada di samping mobil.

Leo turunkan perlahan kaca mobil, meski tak terbuka secara penuh.

"Kek, bentar. Nanti aku hubungi lagi," seru Leo.

"Jangan banyak alesan, nggak usah ditutup," tolak kakek.

Leo menaruh begitu saja ponselnya di dashboard mobil.

"Iya tuan," kata Leo sembari memperhatikan pria yang mungkin usianya hampir sama dengannya itu.

"Apa anda tuan Leo Armando?" tanya pria itu.

'Siapa dia? Dia mengenalku?' Leo mulai mode waspada. Apalagi Adnan sudah balik duluan tadi.

"Anda siapa?" tanya balik Leo.

"Aku temannya Dirga, yang tadi sempat ketemu anda," jelasnya.

"Owh, ada apa tuan?" Leo tak ingin berlama-lama dengan orang yang tak dikenal.

"Aku Reynand, suaminya Meyra. Karyawan anda juga," jelasnya.

"Terus?" alis Leo saling bertaut.

Dipandangnya wajah pria itu. Dia nampak ragu mengatakan sesuatu kepada Leo.

"Maaf tuan, aku buru-buru. Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," ucap Leo.

Leo meninggalkan pria yang masih termangu di tempat meski mobil Leo telah melaju.

"Pria aneh. Eh, kalau tak salah dengar bukannya dia tadi ngejelasin kalau dia suaminya Meyra?" gumam Leo dan melajukan mobil ke rumah kakek Armando.

.

Meyra masih menunggu kedatangan Reynand pulang.

Makanan yang dipesan online pun dibiarkan tergeletak dan dingin di atas meja makan.

Meyra tekan nomor ponsel Reynand beberapa kali.

"Apa nomor aku diblokir olehnya?" gumam Meyra.

Tak habis pikir dengan pikiran sang suami saat ini, membiarkan masalah berlarut-larut.

"Apa aku hubungin Dirga aja ya?" Meyra kembali bergumam.

Ponsel yang sedari tadi dipegang, kembali Meyra nyalakan.

Meyra cari nomor kontak Dirga.

"Reynand baik-baik saja. Biarkan dia berpikir Mey?" kata Dirga tanpa menyapa.

"Apa waktu beberapa hari tak cukup untuk berpikir Dirga? Setelah menghilang begitu saja saat aku terbaring di rumah sakit," ujar Meyra, jengah oleh keadaannya saat ini.

"Oke, aku coba hubungin Reynand," kata Dirga.

Hampir satu jam selepas Meyra menelpon, tak kunjung yang dinantinya datang.

Meyra merebahkan badannya.

Percuma menunggu orang yang belum pasti datang.

.

Pagi sekali Meyra sudah bangun.

Reynand memang tak datang semalam. Batin Meyra.

Meyra bersiap saja pergi ke kantor.

Meski sebenarnya lewat Adnan, Leo mengijinkannya istirahat untuk beberapa hari mendatang.

Meyra berpikir daripada bosan di rumah, mendingan kerja saja. Di kantor banyak teman, dan ada saja kekonyolan mereka yang mengundang gelak tawa.

Percuma menunggu orang yang belum tentu datang.

Meyra memesan taksi online untuk berangkat. Tak lagi setir mobil sendiri.

"Loh, kakak kok masuk?" sapa Dona terlihat kaget dengan kehadiran Meyra.

"Bosen di rumah Don, mendingan sama kalian di sini," ulas Meyra.

"Kak Reynand sibuk?"

"Hemmmm," tukas Meyra membenarkan.

Entah sibuk apaan, Meyra juga tak tahu.

"Gue pergi ke toilet bentar," sejak diketahui hamil, Meyra berasa sering beser.

Saat melewati koridor kantor, dilihatnya Dirga keluar dari ruang CEO.

Dilihatnya wajah Dirga yang tak seperti biasanya.

"Dirga," panggil Meyra.

"Kok sudah masuk? Nggak lemas lagi?" Dirga mencemaskan Meyra.

"Di rumah suntuk, bingung mau ngapain," kata Meyra.

"Rey belum pulang?" dijawab gelengan lemah Meyra.

"Sabar ya Mey," ucap Dirga.

"Gue musti sabar yang seperti apa Dirga? Aku juga nggak ada niat sama sekali menikung sahabat kamu itu," hormon kehamilan membuat Meyra emosinya fluktuatif.

"Rey sudah aku jelasin kok, cuman dia masih butuh waktu kayaknya," lanjut Dirga.

"Apa dia tahu? Siapa ayah bayi yang kukandung?" telisik Meyra.

"Pastinya sih enggak, Rey cuman nerka aja," balas Dirga.

.

Adnan datang tergopoh menghampiri Leo yang masih fokus dengan setumpuk berkas.

"Tuan... Tuan bos... Kita kecolongan," seru Adnan.

"Apanya?" Leo mendongak.

"Kakek... Kakek Armando sedang menuju ke sini," jelas Adnan.

"Kenapa tak kamu cegah? Dasar bodoh kamu Adnan," Leo ikutan membantu Adnan membersihkan mejanya.

"Mana aku bisa mencegah tuan besar datang ke perusahaannya sendiri?" Adnan membela diri membuat Leo menoyor kepala asisten yang dekat dari jangkauannya itu.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

to be continued, happy reading

Episodes
1 Kesibukan Kerja
2 Tragedi Semalam
3 Garis Dua
4 Fasilitas Mewah
5 Manager Cantik
6 Kenyataan Pahit
7 Terjebak
8 Bertahan atau Lepaskan
9 Sidak Tuan Besar
10 Akal Bulus Kakek
11 Resign
12 Kepulangan Suami
13 Divorce
14 Launching Si Kembar
15 Kenyataan yang Sebenarnya
16 Kepo
17 Pemilik Restoran
18 Dilema Meyra
19 Pertemuan Tak Sengaja
20 Jebakan
21 Siapa Alea
22 Kondisi Kakek
23 Anak Siapa?
24 Maaf Tertolak
25 Pengusiran
26 Kepingan Masa Lalu
27 Kepingan Masa Lalu (2)
28 Ancaman buat Meyra
29 Tamu Tak Diundang
30 Pergi Bersama
31 Kecewa
32 Tak Sesuai Harapan
33 Keraguan
34 Hujatan
35 Terjebak di Rumah Sendiri
36 Klarifikasi
37 Ikuti Alur Saja
38 Durante Operasi
39 Tidak Ada Yang Mirip
40 Buaya kok Dikadalin
41 Leo versus Reynand
42 Reynand dan Alea
43 Sabotase
44 Tak Ada Yang Tak Mungkin
45 Masih Saja Ditolak
46 Tak Berbelit
47 Orang Dalam Pengkhianatnya
48 Musang Berbulu
49 Belah Durian
50 Jalan-jalan
51 Konspirasi
52 Disorientasi
53 Tiga Bulan
54 Gravida
55 Belum Ingat
56 Masih Sama
57 Dua Kosong Sembilan Belas
58 Pulang atau Mampir?
59 Empat Tahun Kemana?
60 Tak Mampu Mengingat
61 Masih Di Rumah Sakit
62 Kebenaran Yang Diyakini
63 Ingat Nama Lupa Muka
64 Membuat Bahagia
65 Sendirian Pergi
66 Ular Betina
67 Ular Betina (1)
68 Emesis
69 Drama Sarapan
70 Main Game
71 Perangkap
72 Penyergapan
73 Penyergapan (2)
74 Rasa Bersalah
75 Psikiater
76 Again
77 Rawat Jalan
78 Semakin Baik
79 Muter-muter
80 Harap Cemas
81 Sehat
82 Promo 'Lost Memory'
83 Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84 Mampir guyssss @SECOND WIFE
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Kesibukan Kerja
2
Tragedi Semalam
3
Garis Dua
4
Fasilitas Mewah
5
Manager Cantik
6
Kenyataan Pahit
7
Terjebak
8
Bertahan atau Lepaskan
9
Sidak Tuan Besar
10
Akal Bulus Kakek
11
Resign
12
Kepulangan Suami
13
Divorce
14
Launching Si Kembar
15
Kenyataan yang Sebenarnya
16
Kepo
17
Pemilik Restoran
18
Dilema Meyra
19
Pertemuan Tak Sengaja
20
Jebakan
21
Siapa Alea
22
Kondisi Kakek
23
Anak Siapa?
24
Maaf Tertolak
25
Pengusiran
26
Kepingan Masa Lalu
27
Kepingan Masa Lalu (2)
28
Ancaman buat Meyra
29
Tamu Tak Diundang
30
Pergi Bersama
31
Kecewa
32
Tak Sesuai Harapan
33
Keraguan
34
Hujatan
35
Terjebak di Rumah Sendiri
36
Klarifikasi
37
Ikuti Alur Saja
38
Durante Operasi
39
Tidak Ada Yang Mirip
40
Buaya kok Dikadalin
41
Leo versus Reynand
42
Reynand dan Alea
43
Sabotase
44
Tak Ada Yang Tak Mungkin
45
Masih Saja Ditolak
46
Tak Berbelit
47
Orang Dalam Pengkhianatnya
48
Musang Berbulu
49
Belah Durian
50
Jalan-jalan
51
Konspirasi
52
Disorientasi
53
Tiga Bulan
54
Gravida
55
Belum Ingat
56
Masih Sama
57
Dua Kosong Sembilan Belas
58
Pulang atau Mampir?
59
Empat Tahun Kemana?
60
Tak Mampu Mengingat
61
Masih Di Rumah Sakit
62
Kebenaran Yang Diyakini
63
Ingat Nama Lupa Muka
64
Membuat Bahagia
65
Sendirian Pergi
66
Ular Betina
67
Ular Betina (1)
68
Emesis
69
Drama Sarapan
70
Main Game
71
Perangkap
72
Penyergapan
73
Penyergapan (2)
74
Rasa Bersalah
75
Psikiater
76
Again
77
Rawat Jalan
78
Semakin Baik
79
Muter-muter
80
Harap Cemas
81
Sehat
82
Promo 'Lost Memory'
83
Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84
Mampir guyssss @SECOND WIFE

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!