Kenyataan Pahit

Dirga masuk dengan memapah Reynand yang berjalan dengan terhuyung.

Bau minuman beralkohol langsung menyeruak di indra penciuman Meyra.

"Reynand mabuk?" tatap tajam Meyra ke arah Dirga.

"Seperti yang kamu lihat," bilang Dirga.

Sejak menikah dengan Meyra, Reynand diketahui telah meninggalkan kebiasaan buruk itu.

"Apa yang terjadi sama Rey, Dirga?" Meyra mengharap jawaban dari bibir Dirga.

"Aku juga tak tahu Meyra. Dia tadi cuman minta untuk aku jemput. Itu saja," kata Dirga tanpa menjelaskan apa yang dikatakan oleh Reynand di tempat hiburan tadi.

"Aneh?" tanggap Meyra.

Dirga mengedikkan bahu.

Dirga menurunkan lengan Reynand dan membantunya untuk tidur di bed penunggu pasien.

"Makasih Dirga, maaf merepotkan kamu," seru Meyra.

"Oke, sama-sama," ulas Dirga.

"Oh ya Mey, kalau kalian ada problem bicarakan baik-baik dech jangan pakai emosi," saran Dirga sebelum beranjak dari duduknya.

'Kenapa Dirga bilang seperti itu, aku merasa tak ada masalah dengan suamiku', batin Meyra.

Meyra masih menatap Dirga.

"Kali aja Reynand ada beban masalah dan dia belum sempat cerita ke kamu," ujar Dirga.

"Apa Rey tak cerita ke kamu? Kali aja?" seru Meyra.

"Enggak sih, cuman yang aku tahu Reynand pasti akan lari ke minuman jika merasa masalahnya terlalu berat," jelas Dirga.

"Oke Mey, gue balik dulu. Ingat kata aku, komunikasikan baik-baik," tandas Dirga sebelum pergi.

Meyra pun mengangguk.

.

Semalaman Meyra tak bisa memejamkan mata, memikirkan apa yang menjadi masalah sang suami.

Memang tiga bulan terakhir ini, Meyra merasa ada yang berubah dari sosok Reynand.

Reynand menjadi lebih pendiam dan lebih sering menghabiskan waktunya di sekolah.

Begitu juga Meyra, terlalu sibuk dengan kerjaannya sendiri.

Sampai rumah tinggal capeknya.

Istirahat malam bentar, taunya sudah pagi saja.

Hal itu membuat komunikasi keduanya menjadi tak seintens dulu. Sibuk dengan kerjaan masing-masing.

Meyra baru bisa tertidur setelah fajar menyingsing.

Di samping Meyra, Reynand memegangi kepalanya yang berasa pusing.

"Dimana ini?" Reynand membuka mata perlahan.

"Bau-bau rumah sakit?" alis mata Reynand saling bertaut dan kedua netranya memandangi sekeliling ruangan.

Pandangannya terhenti pada sosok tubuh sang istri yang tengah terlelap di ranjang pasien.

Reynand bangun dan duduk di tepian ranjang.

"Pasti kamu menungguku sedari kemarin? Maafkan aku," Reynand elus puncak kepala sang istri.

"Apa aku harus diam saja? Atau sebaiknya aku jujur saja?" pikiran Reynand berkecamuk.

"Aku tak siap kehilangan kamu sayang," batin Reynand bimbang.

"Tapi apa benar kamu mengkhianatiku? Tak mungkin kamu tega Meyra?" sangkal hati Reynand.

Di satu sisi Reynand sangat mencintai Meyra, sisi yang satunya Reynand tak bisa mempercayai kalau Meyra mengkhianati dirinya.

"Siapa kira-kira laki-laki yang berani tidur denganmu?"

"Seandainya aku tak punya kelemahan, pasti akan kuhajar dia sampai hancur berkeping-keping," kesal hati Reynand.

Meyra melenguh dan mengerjapkan mata membuat Reynand terkaget.

"Kamu sudah bangun?" tanya Reynand gugup.

Untung saja semua pikirannya tadi tak ada yang terucap. Sehingga Meyra tak tahu apa yang dipikirkan olehnya.

"Mau minum?" Reynand menawari dan Meyra hanya menggeleng.

"Seharian kemarin kamu kemana?" Meyra memeluk sang suami yang masih bau alkohol itu.

"Aku menunggumu. Kamu tega sekali sayang. Mana datang pake acara mabuk lagi," Meyra terisak.

Meski nampak ragu, Reynand merengkuh bahu Meyra ke dalam pelukan.

Ada rasa nyaman tersendiri bagi Meyra.

"Aku masih ada urusan kemarin, maafkan aku," seru Reynand.

"Oke, akan aku maafkan. Tapi ada syaratnya," balas Meyra.

"Apa syaratnya?" sela Reynand.

"Kamu tak akan meninggalkan aku sayang, apapun keadaannya," balas Meyra.

"Hah?" Reynand terbengong.

"Janji dulu!" Meyra mengangkat jari kelingking untuk ditautkan dengan kelingking sang suami.

Reynand mengangguk.

"Aku mau kasih ini untuk kamu sayang," Meyra menyerahkan sebuah amplop.

Reynand diam, dalam pikirannya dia kalut. Jangan-jangan ini surat cerai.

Efek kebanyakan sinetron kali ya?

"Apa ini?" seru Reynand.

"Buka aja" suruh Meyra.

Reynand membuka amplop berwarna putih itu.

Sebuah print out hasil pemeriksaan USG ada di sana.

"Apa ini?" tukas Reynand.

"Beneran nggak tahu?" Meyra menandaskan dan dijawab gelengan Reynand.

"Itu calon anak kita sayang," kata Meyra antusias, sementara Reynand masih tertegun.

'Andai itu bayiku,' pikir Reynand dalam hati.

'Tapi kenapa Meyra merasa seakan tak bersalah padaku?' Pikir Reynand.

'Gimana cara aku bertanya padanya?'

'Terus apa benar apa yang dibilang Dirga, kalau istriku ada main sama bosnya? Ah, aku harus selidikin itu diam-diam,' kata Reynand dalam hati.

"Sayang, kok melamun sih?" perkataan Meyra membuyarkan pikiran Reynand.

Reynand hanya tertawa, dan untuk selanjutnya dia peluk sang istri.

Entah apa yang akan terjadi, untuk sekarang Reynand tak ingin menganggu kebahagiaan sang istri.

Terdengar ketukan dari luar.

"Siapa sayang?" tanya Meyra dan Reynand hanya bisa mengedikkan bahu. Dia pun tak tahu.

"Aku lihat dech," Reynand beranjak dan membuka pintu.

Ternyata yang datang adalah kedua orang tua Reynand alias mertua Meyra.

"Aku dengar kamu hamil Mey?" tanya mama mertua dengan nada ketus kali ini.

"Iya Mah, setelah sekian lama. Akhirnya malaikat kecil itu datang," tukas Meyra dengan antusias.

"Bukan hanya satu Mah, malah diberi dua sekaligus," lanjut Meyra dengan tawa khasnya. Tawa lepas yang selalu dirindukan oleh Reynand.

Mama mertua masih menatap tajam dan sinis ke arah Meyra.

Tatapan yang tak seperti biasanya, tatapan teduh laiknya seorang ibu kandung.

Reynand berdiri mendekati sang istri.

"Mama dapat kabar darimana?" seru Reynand.

"Apa mama musti nunggu telpon dari kalian untuk datang?" ketus mama.

"Mama ini kesambet apa sih Pah, sedari tadi marah melulu?" kata Reynand bermaksud bercanda.

"Capek kali mama kamu," tukas papa seperti biasa. Santai kayak di pantai.

Tal berapa lama orang tua kandung Meyra pun datang.

Oleh mama, dipeluknya sang putri yang telah lama tak bertemu itu.

"Besan, kebetulan kalian juga datang. Ada yang ingin kubicarakan," seru mama Reynand.

"Ada apa? Serius sekali?" tukas mama Meyra.

"Meyra saat ini sedang hamil, dan itu bukan anak Reynand," kata mama Reynand dengan sangat yakin.

Semua yang ada di kamar itu tentu saja terkejut. Termasuk Meyra sendiri.

"Jeng besan ini bilang apa sih?" kata mama.

"Mama ini bilang apa?" tukas Reynand menanggapi.

"Reynand," seru mama mertua.

Meyra menangis, ucapan mama mertuanya sungguh menusuk hatinya.

"Meyra, jangan munafik kamu! Teganya kamu mengkhianati suami kamu. Apa sebegitu inginnya kamu ingin punya anak?" mama mertua terlihat sangat marah.

"Kenapa mama menuduhku seperti itu?" tangis Meyra luruh karena tuduhan sang mama.

"Reynand, apa kamu tak bilang yang sebenarnya pada istri kamu?" hardik mama dan dijawab gelengan kepala sang putra.

"Sayang," panggil Meyra dengan tangis berderai.

"Maafkan aku," lirih Reynand.

Meyra masih belum mengerti.

"Aku tak bisa memberi kamu keturunan Meyra," ucapan Reynand bagai petir di siang hari yang panas.

Meyra menutup mulut tak percaya dengan ucapan sang suami. Itu artinya bayi yang dikandung ini adalah anak Leo.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Terpopuler

Comments

Widi Widurai

Widi Widurai

ohh pasti djbak dirga

2024-12-07

1

Tania

Tania

kenyataan tak sesuai harapan?

2023-07-17

2

lihat semua
Episodes
1 Kesibukan Kerja
2 Tragedi Semalam
3 Garis Dua
4 Fasilitas Mewah
5 Manager Cantik
6 Kenyataan Pahit
7 Terjebak
8 Bertahan atau Lepaskan
9 Sidak Tuan Besar
10 Akal Bulus Kakek
11 Resign
12 Kepulangan Suami
13 Divorce
14 Launching Si Kembar
15 Kenyataan yang Sebenarnya
16 Kepo
17 Pemilik Restoran
18 Dilema Meyra
19 Pertemuan Tak Sengaja
20 Jebakan
21 Siapa Alea
22 Kondisi Kakek
23 Anak Siapa?
24 Maaf Tertolak
25 Pengusiran
26 Kepingan Masa Lalu
27 Kepingan Masa Lalu (2)
28 Ancaman buat Meyra
29 Tamu Tak Diundang
30 Pergi Bersama
31 Kecewa
32 Tak Sesuai Harapan
33 Keraguan
34 Hujatan
35 Terjebak di Rumah Sendiri
36 Klarifikasi
37 Ikuti Alur Saja
38 Durante Operasi
39 Tidak Ada Yang Mirip
40 Buaya kok Dikadalin
41 Leo versus Reynand
42 Reynand dan Alea
43 Sabotase
44 Tak Ada Yang Tak Mungkin
45 Masih Saja Ditolak
46 Tak Berbelit
47 Orang Dalam Pengkhianatnya
48 Musang Berbulu
49 Belah Durian
50 Jalan-jalan
51 Konspirasi
52 Disorientasi
53 Tiga Bulan
54 Gravida
55 Belum Ingat
56 Masih Sama
57 Dua Kosong Sembilan Belas
58 Pulang atau Mampir?
59 Empat Tahun Kemana?
60 Tak Mampu Mengingat
61 Masih Di Rumah Sakit
62 Kebenaran Yang Diyakini
63 Ingat Nama Lupa Muka
64 Membuat Bahagia
65 Sendirian Pergi
66 Ular Betina
67 Ular Betina (1)
68 Emesis
69 Drama Sarapan
70 Main Game
71 Perangkap
72 Penyergapan
73 Penyergapan (2)
74 Rasa Bersalah
75 Psikiater
76 Again
77 Rawat Jalan
78 Semakin Baik
79 Muter-muter
80 Harap Cemas
81 Sehat
82 Promo 'Lost Memory'
83 Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84 Mampir guyssss @SECOND WIFE
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Kesibukan Kerja
2
Tragedi Semalam
3
Garis Dua
4
Fasilitas Mewah
5
Manager Cantik
6
Kenyataan Pahit
7
Terjebak
8
Bertahan atau Lepaskan
9
Sidak Tuan Besar
10
Akal Bulus Kakek
11
Resign
12
Kepulangan Suami
13
Divorce
14
Launching Si Kembar
15
Kenyataan yang Sebenarnya
16
Kepo
17
Pemilik Restoran
18
Dilema Meyra
19
Pertemuan Tak Sengaja
20
Jebakan
21
Siapa Alea
22
Kondisi Kakek
23
Anak Siapa?
24
Maaf Tertolak
25
Pengusiran
26
Kepingan Masa Lalu
27
Kepingan Masa Lalu (2)
28
Ancaman buat Meyra
29
Tamu Tak Diundang
30
Pergi Bersama
31
Kecewa
32
Tak Sesuai Harapan
33
Keraguan
34
Hujatan
35
Terjebak di Rumah Sendiri
36
Klarifikasi
37
Ikuti Alur Saja
38
Durante Operasi
39
Tidak Ada Yang Mirip
40
Buaya kok Dikadalin
41
Leo versus Reynand
42
Reynand dan Alea
43
Sabotase
44
Tak Ada Yang Tak Mungkin
45
Masih Saja Ditolak
46
Tak Berbelit
47
Orang Dalam Pengkhianatnya
48
Musang Berbulu
49
Belah Durian
50
Jalan-jalan
51
Konspirasi
52
Disorientasi
53
Tiga Bulan
54
Gravida
55
Belum Ingat
56
Masih Sama
57
Dua Kosong Sembilan Belas
58
Pulang atau Mampir?
59
Empat Tahun Kemana?
60
Tak Mampu Mengingat
61
Masih Di Rumah Sakit
62
Kebenaran Yang Diyakini
63
Ingat Nama Lupa Muka
64
Membuat Bahagia
65
Sendirian Pergi
66
Ular Betina
67
Ular Betina (1)
68
Emesis
69
Drama Sarapan
70
Main Game
71
Perangkap
72
Penyergapan
73
Penyergapan (2)
74
Rasa Bersalah
75
Psikiater
76
Again
77
Rawat Jalan
78
Semakin Baik
79
Muter-muter
80
Harap Cemas
81
Sehat
82
Promo 'Lost Memory'
83
Promo 'Pelabuhan Terakhir Cassanova'
84
Mampir guyssss @SECOND WIFE

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!